CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
sensai baru


__ADS_3

nana beranjak dari atas ranjang dan sedikit berlari masuk kedalam kamar mandi,


"huuufttt....."dengusnya dengan lega.


"apa semua pasangan itu langsung melakukan gitu?nggak ada pemanasan apa gitu?aku beneran tegang banget....aaakh...dadaku seperti mau meledak...jantungku..."ucapnya sambil menunduk dan membekap dadanya dengan kedua tangan.


"rolercoster ma lewaaat kalau sikond nya kayak gini...aaakh....aku bisa apa?aku sudah terlanjur janji sama mas arif...hmmmz..."lagi lagi dengusnya dengan hentakan hentakan kecil di kedua kakinya.


"aaakhhh...."dengusnya lagi,hingga ia melepas pakaiannya dan mulai mengguyur air ke tubuhnya.


hampir setengah jam nana di dalam kamar mandi,lalu ia putuskan untuk keluar dari dalam kamar mandi,


ia sengaja hanya mengenakan pakaian dalam atas bawah dan hanya membiarkan handuk melilit tubuhnya.


Ia sengaja melakukan itu,karena yang ia pikirkan pastilah suaminya akan membuka paksa pakaiannya jika ia menggunakan bajunya lemgkap.


perlahan ia membuka pintu kamar mandi lalu membukanya sedikit mengintip,kepalanya menyembul keluar dan tatapan matanya menatap ke arah sekeliling,


seketika pandangan matanya menatap ke arah sosok gagah nan tampan yang sedang berdiri mengaca di depan cermin,ia telihat memakai pakaian yang lengkap dan terlihat tergesa gesa,tangannya yang terampil mengancingkan semua kancing bajunya,membenahi rambutnya,hingga....memasukkan semua pakaian termasuk pakaian nana yang baru ke dalam koper menjadi satu.


"lhoooh....kok...."ucap nana yang tertahan saat mengamati suaminya yang seperti tergesa gesa akan pulang.


"ada apa ini?jangan bilang dia ngambek gara gara nggak aku kasih langsung ya..."gumamnya lagi dengan mengeratkan handuk di dadanya.


"mas...ada apa mas?kenapa sepertinya mas mau pergi?"


tanya nana yang baru keluar dari dalam kamar mandi,


"anu sa.....yang...."ucap arif saat menoleh ke arah istrinya dengan tubuh hanya berbalut handuk,


"cegluk..."suara arif menelan ludahnya seketika.


"aaaakkkh...tidak tidak...bukan saat nya arif...ingat...ada yang lebih penting."ucap arif dalam hati dengan kepala yang menggeleng geleng hingga membuat rambut yang ia tata tadi berantakan kembali.


"maaaas....ada apa sih?"ucap nana sambil mendekat ke arah suaminya lalu menarik kemeja depan suaminya agar suaminya menunduk,kedua tangannya tanpa sadar sudah refleks membenahi rambut arif dan mengaturnya kembali,


nana tidak melihat jika saat itu suaminya sedang memandanginya dari tadi,dengan tatapan yang penuh kasih sayang bercampur hasrat disana.


sesaat tatapan keduanya bertemu,sontak nana menghentikan aktifitasnya,namun tangannya masih terangkat.Lalu pelan pelan nana yang sudah kembali sadar itu pun menurunkan tangannya,


"tidak se mudah itu sayang..."ucap arif yang sudah merasakan perasaan yang menyerangnya hingga di ubun ubun.Tangan kekarnya mengambil jemari nana dan membimbingnya hingga melingkari lehernya,dengan satu tangan yang berada di pinggang nana,mengeratkannya hingga menempel padanya.


seketika nana merasakan sesak di dadanya,matanya tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


nana masih terus saling menatap ke arah mata suaminya.


tangan nana yang melingkar di leher arif makin menguat hingga sedikit terasa seperti menggaruk ringan yang arif rasakan,seperti istrinya sudah mulai memberi tanda untuk segera memulainya.


"dag dig dug,"suara jantung keduanya yang begitu terasa keras mereka dengarkan,tanpa pikir panjang...arif pun langsung menyusupkan tangannya ke tengkuk nana,mengambilnya hingga mendekat ke arahnya,


keduanya saling mencium,hingga beberapa saat tanpa sela,mata saling terpejam dengan dentuman suara di dada keduanya yang terasa saling berlomba bersahutan.


nana yang merasakan tubuhnya semakin erat di peluk suaminya pun tanpa bisa menolaknya membiarkan ciuman itu sepuasnya.

__ADS_1


"aaakh.....huuuh...huuuh...."dengus keduanya terengah menyudahi ciuman.


"ke...kenapa mas?"tanya nana seketika,dengan suara yang terbata bata.


"emb...sayang...kita harus pulang...sekarang..."ucap arif sambil mengatur nafasnya.


"pulang?sekarang?mas yakin?"tanya nana dengan nada terbata batanya.


"haiiiz...jangan bilang kamu mau lanjutkan ya sayang???"


tanya balik menggoda istrinya,dengan tangan sudah mengacak ngacak ringan pucuk kepala nana.


"emmmb nggak gitu juga mas...tadi kan mas sendiri yang ngotot...eh...jadinya mau pulang...terus...kenapa?aku penasaran dong..."ucap nana sambil membenahi handuknya,dan tangan arif memberikan pakaian yang sudah ia siapkan untuk istrinya,sedangkan pakaian nana semua sudah masuk ke dalam kopernya.


.


"emb...tadi ayah telephone sayang...kalau bunda jatuh terpeleset...nggak parah...cuma keseleo dikit...tapikan tetep aja kita harus pulang...karena bunda nggak mau minum obat kalau bukan aku yang ngasih..."ucap arif dengan nada tenangnya,namun berbeda dengan nana,ia terlihat sangat gugup dan khawatir...


"gimana mas keadaan bunda sekarang?"tanya nana pada suaminya,dan tanpa sungkan karena tergesa gesa ia melepas handuknya dan mulai meraih pakaiannya satu persatu lalu mengenakannya.


"hei....hei....jangan seperti ini juga sayang...ini namanya menggodaku tahu..."ucap arif yang sudah tidak di gubris nana saking terburu burunya,ia terus memakai sampai...tinggal baju atasannya saja yang baru masuk ke kepala dan dua tangannya,terasa tangan yang sedikit dingin merayap di perut sampai pinggangnya.


"hiiiyyyaaaaa..."ucap nana sontak membuat terkejut arif yang memeluknya dari belakang dengan tanpa aba aba,nana melonjak hingga berjingkat,dan saat kakinya menapak ke lantai...tanpa sengaja langsung menghujam kaki suaminya.


"blaaaarrr."perasaan arif seperti tersambar petir.


sontak ia pun langsung jongkok dan menekan jari jari kakinya,bibirnya meringis hingga menggertakkan gigi gigi nya.


"sayang...kalau nggak mau,bilang...jangan nyiksa aku sampai kayak gini...!"dengus kesal bercampur sakit yang arif rasakan.


"sudahlah...nggak apa apa...ambilkan obat anti nyeri di tasku,kita pulang nanti setelah ini reda."ucap arif dengan nada lemah dan pasrahnya.


nana lalu menurutinya dan beranjak dari tempatnya menuju koper arif dan membukanya,setelah ia temukan kotak obat yang sengaja arif bawa kemana mana jikala ada keadaan darurat...ternyata memang kepakai saat ini.


arif meminum obatnya kemudian mengompres jari jari kakinya dengan kaleng kaleng dingin kopi yang ada di lemari pendingin.nyeri yang ia rasakan berangsur angsur membaik,hingga ia ketiduran di sofa.


nana menatap wajah arif yang tertidur,ia lalu mengambil selimut dan menyelimutinya hingga menutupi sampai ke dadanya,dada bidang yang setiap kali nana melihatnya jantungnya selalu berdebar tidak karuan.


"maaf mas...aku beneran tidak tahu...kalau mas ada di belakangku tadi...mas nggak ngomong...aku paling geli jika pinggangku tersentuh...namun sebelum aku jelaskan...mas sepertinya sudah tidak ingin dengar penjelasanku...aku bisa apa??"ucap nana sambil duduk berjongkok di depan sofa yang arif tiduri.


"aku benar benar menyesal mas...sudah menghambatmu pulang,manghambat perjalanan kita untuk bertemu dengan bunda yang sakit dan ayah...maaf..."


ucap nana lagi,dan kini matanya sedikit berkaca kaca.


"nggak apa apa sayang..."ucap arif tiba tiba dengan mata terbuka lebar,


"aku yang salah...aku sudah mengagetkanmu...aku nggak bilang bilang dulu tadi...maafkan aku ya sayang..."


ucap arif sambil terduduk dari sandarannya,tangannya membuka selimut yang ada di tubuhnya,


lalu tangannya menarik maju dagu istrinya sampai arif pun ikut menunduk tepat di depan wajah nana.


"sekarang aku sudah tidak bisa menahannya lagi,bantu aku pelepasan...karena hanya kamu yang bisa melakukannya."ucap arif dengan wajah sayu dan sendu,sedetik kemudian ciumannya mendarat sedikit lebih lama,dan tangan jahil arif mulai beraksi di semua tempat.

__ADS_1


dengan cepat arif menaikan nana di atas sofa sampingnya.


"maaas tunggu!!mas yakin mau detik ini juga?kita bukannya harus pulang sekarang?"tanya nana yang menghentikan aksi suaminya.


"nggak malam ini untukmu...aku ingin menyiksamu...aku ingin kau merasakan juga bagaimana aku menahannya...aku hanya ingin kau membantuku mencapai pelepasanku..."ucap arif seketika dengan bibir lincah menyerobot semua yang tersaji di depannya tanpa terkecuali.


wajah keduanya memerah,nana sudah seperti cacing kepanasan,sedangkan arif sudah tidak bisa menahannya lagi,kini ia benar benar mencapi apa yang di pendamnya selama ini,meski hanya dia yang bisa merasakan,dan dengan mulut menganga nana menyaksikannya,


sesuatu yang benar benar beda saat ia menyaksikan tubuh suaminya mengejang.


"huuuuuhhhhfffttt...."ucap arif setelah apa yang sudah ia selesaikan dengan lancar,kini ia benar benar lega,meski belum plong sepenuhnya,ingin ingin sekali mencoba dengan istrinya,namun waktu sudah sangat mepet bagi keduanya.


"kenapa?kenapa nganga?bukankah kau sudah sering lihat juga?"tanya arif pada istrinya,dan nana dengan wajah merah melengos membenahi pakaiannya dan menurunkan kakinya yang berada di pangkuan suaminya.


"lihat juga mas...tapi meriksa penyakit...bukan yang begitu tadi...toh itu tuntutan kerjaan...jadi nggak ada rasa apapun,tapi tadi...rasanya beda saat melihat mas...karena mas...adalah orang yang nana cinta."ucap nana dengan terbata batanya,


"cup,"kecupan arif mendarat di bibirnya seketika.


"kau nggak kecewa bukan?aku tadi sungguh sungguh sudah nggak tahan...dan untukmu...jika kita lakukan saat ini...mungkin kamu nggak akan bisa jalan pulang,karena kamu pasti kesakitan!sudah nanti aku puasin kalau dirumah...kita pulang dulu aja,"ucap arif sambil beranjak berdiri dari duduknya,menyahut kemeja yang tadi ia tanggalkan,membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


di atas sofa tubuh nana masih gemetaran,gemetaran untuk yang pertama kalinya,bukan karena ketakutan...tapi karena kaget dan bercampur aduk dengan perasaan penasarannya,


"aaakhhh....aku malu....sungguh...apakah dia nggak malu ya?dia ngeliatin aku hal semacam itu...aku...aku benar benar belum sanggup namun akhirnya aku bisa...apakah pasangan yang sebenarnya seperti ini?tanpa malu satu sama lain?"ucap nana dalam hatinya,kata kata berkecamuk disana,membuatnya sangat tertekan saja.


"itu bukan apa apa sayang...kau akan tahu lebih jauh nanti...sekarang jangan mikir macam macam...ayo segera pulang..."ucap arif tiba tiba dari belakang nana,sontak membuat nana terkejut,dan menegapkan posisi duduknya.


"haaaah...apa yang dia bilang?dia...apakah dia bisa membaca pikiranku?aneh...benar benar aneh..."ucapnya lagi masih dengan kondisi linglungnya.


"cup,"kecupan di puncak kepala nana dari belakang,


"ayo...kenapa bengong sih?"ucap arif yang kemudian langsung membuat nana berdiri dari duduknya dan berjalan mengekor di belakang arif.


"kok ngikut?"tanya arif sambil menghentikan jalannya,


"aaah...bukannya mas ngajak aku ya?emang aku nggak di ajak gitu?"tanya nana dengan keherananya.


"yakin mau langsung ikut?yakin nggak mau ke toilet dulu?


coba di cek...basah apa tidak?perlu ganti daleman nggak?"


tanya arif dengan mata menyipit menyelidiknya menatap ke arah nana.


"aaaah....iya...aku sampai lupa..."ucap nana dengan nada **** nya,tubuhnya berbalik akan menuju ke kamar mandi,dengan wajah yang benar benar malu.


satu tangannya menoyor noyor keningnya ringan,


"aaaakh...malu maluin aja sih..."gerutunya sambil berjalan menuju kamar mandi.


"emmmb sayang...yakin nggak butuh ini?"


ucap arif sambil mengambilkan satu daleman buat istrinya,mengacungkannya ke arah nana.


nana menoleh sambil menatap dalaman merah tua yang ada di tangan suaminya,langsung saja ia berjalan mendekat dengan menunduk dan menyahut paksa benda miliknya tersebut.

__ADS_1


"makasih mas...maaf...ngerepotin mas..."ucap nya sebelum ia benar benar masuk ke dalam kamar mandi.


"aaaaakkkkh.....maaaaallluuuu...."ucapnya dalam hati.


__ADS_2