CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
yang pertama dan terakhir


__ADS_3

arif terkekeh dengan senyum tertahannya,lalu ia membawa koper miliknya pergi meninggalkan ruangannya.


kini ia duduk di teras sambil menikmati sekaleng kopi susu dingin yang baru ia ambil dari dalam lemari pendingin.


malam cerah yang di hiasi bintang bintang dan semilir angin malam yang cukup menyejukkan saat itu.


"aaaakh....hmmmz..."dengus arif menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan sekali hembus saja.


"bunda...kenapa ada insiden jatoh segala sih...aaakh...malam pertamaku gagal lagi bund...tanpa terasa ternyata hanya aku yang nungguin malam pertama sama istri sendiri aja sampai sembilan tahun lebih...hampir sepuluh tahun malahan,apakah ada orang pemecah rekor baru selain aku?haiiiz..."dengusnya lagi di sela sela menunggu sang istri,dan di temani sekaleng kopi susu instan.


nana baru keluar dari dalam kamar mandi,perasaannya campur aduk...ia hanya mondar mandir di depan pintu kamarnya,seakan ia akan keluar...atau tidak...keluar...atau ia urungkan lagi,wajahnya masih memerah,rasanya malu...urat malunya sangat berperan aktif di sekujur tubuhnya,membuatnya ingin terjun ke dasar bumi dan tidak muncul lagi.


"haruskah aku bersikap biasa saja?tapi aku malu...apa lagi saat menatap wajahnya yang seperti itu...aaaaakkh...!!!"gerutu nana dengan sedikit teriakan kecil,


terdengar pintu terbuka dari luar dengan cepat,


nana hanya menoleh menatap kepala yang menyembul dari luar pintu mengintip ke dalam.


"lhoooh...kok belum keluar sih kalau udah selesai...perjalanannya sedikit jauh...nanti kemalam loh...


aku nggak mau kamu gantiin aku nyetir karena aku ngantuk..."ucap arif yang terkesan biasa dan seperti tidak terjadi apa apa.


"oooh....okay..."sahut nana lalu berjalan menuju ke pintu dan keluar menyusul arif.


keduanya berjalan menuju tangga turun dari kamar hotelnya,arif sibuk membawa kopernya hingga tidak bisa menggandeng tangan nana.


"nih orang...kirain bakal canggung apa malu...eeeh...kenapa yang canggung malah aku...yang malu malah aku...gimana ceritanya sih..."gumam nana dalam hatinya,keduanya turun bersamaan lalu berjalan melewati jalan setapak menuju ke bagian administrasi hotel,


"sayang...tungguin di lobi ya...aku ntar nyusul..."


ucap arif lalu meninggalkan nana dengan kopernya disana,nana pun menyeret koper suaminya yang juga ada barang barang nya di dalam,menuju ke lobi hotel,


di tempat duduk bulat besar yang bergerombol dengan satu meja di tengahnya,terlihat beberapa terdapat di ruangan tersebut.


pandangan mata nana menatap ke segala arah.Terdapat orang lalu lalang begitu ramai saat itu,hingga terlihat arif yang berjalan mendekat ke arahnya.


"ayo sayang..."ucap arif saat sudah sampai di dekat nana,


nana pun langsung mengangguk mengiyakan ajakan suaminya itu.


"udah beres mas?"tanya nana pada suaminya sambil berdiri dari tempatnya,arif hanya mengangguk sambil mengambil koper dari tangan nana lalu menyeretnya menuju tempat parkir mobilnya.Keduanya berjalan bersama,sesekali nana menatap ke arah samping suaminya,wajahnya tiba tiba saja merona merah,membayangkan wajah tampan itu yang seperti tadi.


"jedar..."ternyata tatapannya bertemu dengan pandangan mata arif,nana segera mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain dan berlagak ****,tangannya mengusap usap rambutnya sedikit menggaruk padahal kepalanya sedang tidak gatal,


"aaakh....kenapa aku malah salah tingkah sih saat di tatap balik sama dia?"gumam dalam hati nana sambil menyembunyikan wajahnya.


"nggak usah ngalihin pandangan...kamu suka natap aku?kamu kira dari tadi aku nggak lihat,gitu?lihat lah..."


ucap arif sambil mengambil jemari nana dan menggenggamnya,nana hanya terdiam dengan menyembunyikan wajahnya,wajah yang masih merona tanpa ia bisa kendalikan dengan sendirinya.


"aaah....apa?ada apa?"tanya nana keheranan saat menatap suaminya yang mematung menatap ke arahnya,

__ADS_1


"kamu tu ya...ngelamun aja...liat tuh...masuk gih..."kata arif yang ternyata sudah sampai di parkiran dan sudah sampai arif membukakan pintu mobil untuk nana,


"aaah...makasih mas..."ucap nana sambil berlalu masuk ke dalam mobil,dan arif langsung menutup pintu mobil ya,ia juga tidak lupa memasukkan koper yang ia bawa tadi kedalam mobil bagian jok belakang.


"akkkh...ngelamun sampai nggak ngerasa udah di dekat mobil...parah na kamu..."gerutu nana sambil menoyor kepalanya.


"deg...."lagi lagi jantung nana saat arif mendekat ke arahnya,sontak ia mepet menegapkan tubuhnya ke arah belakang dengan mata menyipit,


"pasti mau masangin sabuk pengaman lagi kan...?"ucap nana dalam hatinya,ia sudah nggak mau ngarep apa apa.


"cup...."ternyata kecupan arif di bibirnya,sontak nana pun menatap wajah yang masih mematung di depan wajahnya itu.beberapa saat tatapan keduanya bertemu,nana menatapnya dengan penuh tanya disana.


"kenapa?"


"ada apa?"


"apa lagi sih maunya?"


"oooh jantungku!"pertanyaan pertanyaan yang muncul seketika di dalam benak nana.


"cup,"lagi lagi nana kecolongan,arif menghujani ciuman di bibirnya,dan anehnya ia suka...ia tidak mampu menolak pesonanya.


"kenapa?suka?manis?"tanya arif sesaat setelah menciumnya.dan dengan bodohnya nana pun membalas perkataan suaminya hanya dengan anggukan saja.


nana baru tersadar saat sabuk pengamannya berbunyi.


"cklik."lalu terlintas senyuman yang mengembang di bibir suaminya.


dengus nana seketika dalam hatinya,lalu pandangannya menatap ke luar jendela mobil yang baru di jalankan suaminya,wajahnya yang merah makin merona cantik.


sesekali arif masih melirik ke arah nana,ia merasa kali ini perjalanan cintanya semakin seru untuk mendapatkan cinta sang istri,apa lagi saat nana sudah mulai membuka hatinya untuknya dan mulai mengakui cintanya.


"sayang..."kata arif sambil menatap ke arah nana.


"hemmmz...iya...ada apa mas??"tanya nana pada suaminya,tatapannya kini menatap ke arah ponsel arif yang menyala,ternyata arif mengisyaratkan nana harus mengangkat ponselnya.


nana meraih ponsel suaminya di samping kemudi,


lalu menatap pada layar ponselnya,


"ini bunda mas...angkat ya..."ucap nana dan langsung mengangkat panggilannya.


"halo bunda...ini nana bund...mas arif nya lagi fokus nyetir nih bund..."ucap nana dengan mengeraskan volume loudspiker ponselnya,hingga arif yang ada di sampingnya pun mendengarnya.


"loh...kalian keluar mau nyari makan malam ya sayang?"


tanya bunda pada keduanya.


"loh...mas arif bilang bunda jatuh??"tanya nana pada bundanya.


"loh bund...kata ayah bunda jatoh di kamar mandi...arif dan nana perjalanan pulang ini bunda...udah setengah jalan loh..."ucap arif pada bundanya.

__ADS_1


"sayang aduh...bunda lagi jatoh aja...nggak kenapa napa nak...kalian kenapa bisa percaya aja sih sama ayah?"


ucap bunda dengan mencak mencaknya,nana dan arif tidak tahu sekarang bundanya sedang saling cubit dengan ayahnya di tempat bundanya.


bunda menyalahkan kebodohan suaminya yang mengganggu anak dan menantunya dalam proses pembuatan cucu mereka.


"lalu...arif harus apa bund?bunda yang bener nggak kenapa napa?jangan bilang bunda nggak mau minum obat makanya arif dan nana nggak boleh pulang...bener nggak bund?"tanya arif lagi lagi yang memojokkan bundanya.


"arif...bunda nggak apa apa...kalian ini...sudah malam loh...kalau kalaian pulang...sampai rumah juga kemalaman sayang...nurut deh sama bunda...besok aja pulang nya..."ucap bunda lalu tanpa aba aba menutup panggilannya.


sesaat nana dan arif saling menatap satu sama lain,


berpandangan dengan pemikiran sama.


"hotel."ucap keduanya bersamaan,lalu tertawa renyah hingga tiba tiba terhenti lalu canggung lagi.


"kita...cari hotel lagi nih?nggak mungkin balik lagi kan sayang?setuju nggak?atau...apa kita pulang aja sayang?"


tanya arif sambil pandangannya fokus menatap ke arah depan.


"emb...mas...kayaknya bener ucapan bunda deh...pulang besok saja...nih aku lihat sekarang sudah pukul delapan malam loh...nanti kemalaman mas ngantuk di jalan gimana?"ucap nana yang memang benar,


arif hanya mengangguk ngangguk untuk membalas perkataan istrinya.


"baiklah...fix kita nyari hotel buat nginap ya...okay..."


ucap arif dengan tegasnya,dan nana suka,hingga tanpa sadar nana senyam senyum menatap ke arah suaminya.


"ada apa sayang...kenapa jadi natap akunya gitu amat?


udah sadar kalau aku ganteng ya?"canda arif dengan bangganya.


"iya mas...kamu benar...kamu memang mempunyai wajah yang sangat tampan."ucap nana seketika dan tanpa ragu ragu sama sekali.


arif hanya tersenyum dengan senangnya oleh perkataan istrinya itu,sontak satu tangannya meraih jemari nana lalu menggenggamnya,dan arif menyetir hanya dengan satu tangan saja.nana tersenyum malu sambil membuang muka menatap ke luar jendela,kini ia merasakan jemari suaminya begitu hangat menggenggam tangannya.


"apa kau suka?"tanya arif di sela sela tatapan fokusnya beralih sesekali menatap ke arah istrinya.


"hemmmz...suka apa mas?"tanya nana dengan polosnya,


"nih..."kata arif sambil mengangkat jemari yang dari tadi menyatu saling merapatkan.Nana hanya mengangguk pelan,tanda ia menyukainya,dan arif pun membalasnya dengan senyum tampannya.


hingga mobil keduanya memasuki kota baru,dan masih ada satu kota lagi setelah kota yang akan menjadi tempat singgah keduanya sebelum mereka sampai ke kota dimana mereka tinggal.


"sayang...pokoknya...nanti kalau melewati hotel di tepi jalan...kita langsung berhenti saja ya...soalnya...takut kemalaman kalau harus pilih pilih hotel lagi..."ucap arif menerangkan,dan terlihat nana mengangguk,ia selalu menyetujui apapun yang arif ucapkan.


"sayang...beneran...mau?nggak apa apa?atau...kau ingin kita menemukan hotel termewah untuk upacara malam pertama kita?gadis gadis kan suka tuh selimut yang di bentuk angsa di atas tempat tidur dengan taburan kelopak bunga yang banyak dan di bak mandi juga di taburi bunga bunga yang banyak...kamu nggak pingin malam pertama kita ala ala sinetron dan drama drama gitu?nggak nyesel?"tanya arif dengan sungguh sungguh sungguh.Jika saat itu juga nana menginginkan hal yang baru saja di ucapkan oleh arif...pasti sebisanya arif akan mengabulkan keinginan sang istri.


"nggak mas...nggak masalah kok buat aku...mau tidur dimnapun okay...mau malam pertama dengan tempat apapun juga aku nggak nolak...asal jangan di kerumunan orang banyak aja..."ucap nana dengan sungguh sungguh.


"hemmmz...kenapa nana nyahutnya enteng banget ya...nggak mungkin kan aku jadi yang ke sekian kali untunya ngelakuin itu?nggak mungkin kan nana di luaran sana berbuat macam itu dengan laki laki lain?semoga tidak...meski saat itu...aku tidak menyukainya...mungkin lebih tepatnya membencinya...tapi sungguh...aku menjaga selalu amanah Rama...dan aku selalu menjunjung tinggi ikrar sakral pernikahan aku dengan nana,aku harap...aku akan jadi yang pertama dan terakhir untuknya...karena...ia adalah yang pertama buatku...dan aku pastikan...dia yang terakhir untukku."ucap arif di dalam hatinya,dengan tatapan tetap lurus menatap ke arah depan.

__ADS_1


__ADS_2