CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
lagi-lagi kesedihan


__ADS_3

arif pun ikut serta dalam permainan yang istrinya itu buat.


"kau lebih dari sekedar licik,"


bisik arif di telinga nana yang membuatnya naik darah.


"pria brengsek...setan...mulutmu manis sekali,"


jawab balas nana di telinga arif namun lebih intens.


dan semua orang yang melihatpun menjadi sangat salah faham.


mereka kira keduanya sedang bermesraan di depan umum.


waktu sudah menunjukkan pukul lima sore,saat semua tamu berpamitan,


dengan tangan masih menggelayut di lengan suaminya nana tersenyum lebar sumringah terpancar di sana.


namun lagi-lagi itu hanya kedok agar bundanya dan ayah mertuanya tidak di gunjing oleh kerabat dekatnya.


"bund...nana pergi ke atas dulu bund...nana sedikit lelah..."


ucap nana saat di rasa semua tamu mereka sudah pergi.


"sayang...trimakasih untuk hari ini...dan maafkan kami semua ya..."


ucap bunda dengan nada lembut nya.


"bund...sama-sama..."


sambil berlalu naik dan masuk ke dalam kamar arif.


di bawah...bunda yang masih di liputi perasaan bersalahnya itu...benar-benar tidak tahu harus menceritakan pada menantunya itu mulai dari mana.


di temani suaminya dan juga arif di sofa ruang tamu.


"bund...dia ada di kamarku jelasnya...lalu aku harus tidur di mana?"


tanya arif ingin tahu.


"kau itu suaminya...jelas lah kau harus sekamar dan se ranjang dengannya,"


ucap bunda dan ayah serempak.


"ayolah bund...ayaah...kalian kenapa jadi seperti ini...almarhum kakak kan hanya ingin aku menikahinya...tidak lebih...jadi setelah pernikahan ini selesai...aku tidak mau tinggal satu kamar dengannya.


dan lagi...aku tidak ingin semua orang tahu aku sudah menikah ,"


ucap arif.


yang ternyata langsung di sahut nana yang baru turun dari atas tangga kamar arif.


"kamu kira aku juga mau orang-orang tahu kau suamiku,"


ucap nya sambil turun menuju meja makan dekat bunda.


"sini sayang...ayo makan sama-sama,"


ajak bunda.


"tidak bund ..sebelum aku bertemu mas rama dan aku ingin penjelasannya,"


ucap nana yang masih belum mengerti.


"baik sayang...ibu mengerti...ibu pasti akan menjelaskannya padamu...tapi...kamu makan dulu ya..."


ucap bunda sambil meletakkan piring berisi makanan di depan nana.


"tidak bund...aku mau mas rama sendiri yang menjelaskannya padaku,"


ucap nana.


dan seketika...seluruh mata menatap ke arah nana.

__ADS_1


"gimana caranya kakaku menjelaskannya padamu...sedangkan tanah pusaranya masih basah sekarang,"


celetuk arif yang sudah tidak bisa membendung lagi


seketika...nana terbelalak mendengarnya,


kata-kata arif.


"apa maksudmu?"


ucap nana suaranya datar namun bergetar.


"katakan apa maksudmu?'


kali ini dengan nada yang benar-benar melengking di dengar di telinga arif dan semuanya.


"kau tidak mau menjawabnya?apa kau pura-pura tidak ingin mendengar pertanyaanku?"


ucap nana sambil mendekat ke arah arif.


namun arif hanya terpaku terdiam.


"apa kau mencoba mempermainkanku?"


kata nana dengan lelehan air mata disana.


"jawab....jawab...brengsek...."


ucap nana dengan gebukan di dada arif yang hanya di biarkannya itu.


lalu bunda mendekat ke arah nana...sedangkan ayah hanya terpaku dan dengan lemas terduduk di kursi meja makannya.


"sayang...sudah sayang...kalian jangan seperti ini,"


sambil meraih paksa tangan nana lalu memeluk tubuh nana.


membimbingnya duduk di sofa sampingnya.


"sayang...ini semua kemauan rama...ini adalah permintaan terakhir rama...limahari yang lalu...setelah ia pulang dari mengajakmu makan...peralatan medis sudah tidak bisa menghalangi kepergiannya...dan rama berpesan...kami semua tidak boleh memberi tahu mu...dan ia juga ingin...arif yang menggantikannya menjadi suamimu...,"


dengan mata menggenang dan akan meleleh.


nana menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya.


airmata deras mengguyur disana.


"nenek...lagi-lagi seperti ini yang nana rasakan...mas rama yang nana kira adalah sandaran ter tepat...namun lagi-lagi nana harus merelakannya...


nenek...sampai kapan...nana harus merasa kehilangan...nana tidak mau berharap dan mengharapkan apapun lagi nek...nana takut...nana tidak sanggup seperti ini lagi...nana sudah tidak ingin lagi...merasakan kesakitan dan kehilangan nek..."


ucap nana dalam hatinya.


"cukup na...kamu harus bisa bangkit...bunda begitu baik...ayah juga sudah menganggapnya sebagai anak sendiri...namun arif tidak menginginkannya ada.


baiklah na...kamu harus berubah...kamu harus mandiri...kamu harus membuat dirimu di hargai...bagaimanapun caranya."


ucap nana dalam hati.


"bunda...nana ingin kuliah....yang jauh bunda...bunda apakah mau membiayai nana bund?"


ucap nana sungguh-sungguh...


ayah begitu gembira dengan keputusan menantunya itu.


"tentu nak...kau juga anak kami...pasti kami akan menuruti kemauanmu...apa lagi untuk menuntut ilmu."


ucap ayah seketika.


"tapi...apakah suamimu mengijinkannya?"


tanya ayah sambil menatap arif.


"kenapa kalian menatapku...aku menikahinya karena terpaksa...jadi itu terserah kalian lah..."

__ADS_1


ucap arif dengan nada terserahnya.


bunda pun sangat nahagia dengan keputusan menantunya itu...


"rama...nana sudah menerima kepergianmu nak...tenanglah kamu di alam sana sayang,"


ucap bunda dalam hatinya dan dengan elusan di kepala nana.


"bunda akan mengurus nya besok...sekarang mari kita makan dulu lalu istirahat ya nak..."


ucap bunda sambil mengajak nana ke meja makan."


nana pun makan dengan lahapnya...ayah dan bunda yang melihat nya pun ikut bahagia.


meski sejujurnya di hati nana sedang berteriak-teriak...


"aku tak sanggup...aku tak kuat...aku tak bisa..."


namun nana lagi-lagi harus kuat...di depan kedua mertuanya itu.


setelah usai dengan makan malamnya...bunda pun mengantar nana ke kamar arif.


bunda ikut masuk ke dalam dan mengajak nana duduk di tepian ranjang.


"sayang...ini kamarmu...kamu sekarang istrinya arif nak...mau tidak mau kalian sudah sah menjadi suami istri..."


ucap bunda dengan tangan yang menggenggam jemari nana.


nana hanya tersenyum menanggapi ucapan bundanya itu.


"nak...bunda harap...kamu ambil jurusan kedokteran ya nak...biar kelak...kamu bisa membantu ayah dan arif menjalankan klinik...


atau kuliah di perhotelan nak..."


ucap bunda.


"nana kuliah kedokteran saja bunda...nana ingin membantu menyembuhkan pasien yang menderita penyakit seperti mas rama bund..."


ucap nana yang seketika membuat jantungnya seperti berhenti berdetak.


"dheeeg,"


mata bunda terbelalak tidak percaya lagi-lagi menantunya akan menjalani hidup yang sama seperti putra keduanya.


arif.


karena orang tercintanya meninggal gara-gara penyakit tertentu...arif mendalami ilmu kedokteran dengan jurusan tertentu pula.


hingga ia mendapat gelar dokter spesialis kandungan termuda di usianya yang ke dua puluh enam tahun.


dan kini...menantunya di usia sembilan belas tahun...ingin menjalani kehidupan yang sama seperti arif suaminya itu.


bunda hanya bisa pasrah...inikah jalan takdir...


"baiklah nak...bunda dan ayah langsung urus besok ya nak...sekarang tidurlah dengan nyaman malam ini sayang..."


ucap bunda sembari meninggalkan nana yang masih terpaku.


"baiklah nana...mari kita sambut hari esok yang lebih cerah..."


sial kesialan dan kesedihan...bodo amat...sudah jadi makanan setiap harinya...terbang jatuh...terbang lagi...jatuh lagi...tak henti-hentinya takdir mempermainkannya.seakan ia sudah kebal dengan siksaan dan kesakitan itu.


nana menyambar bajunya yang ada di tas koper sofa yang di bawakan supir tadi pagi.


membawanya menuju kamar mandi.


sesaat terdengar guyuran air yang jatuh saling membentur.


arif pun sudah selesai mandi...dia akan masuk ke kamarnya...namun di urungkannya,ia ingin masuk lagi...tapi di urungkannya lagi.


hingga bunda melihatnya.


"sayang...kamu mau masuk kekamar saja seperti akan masuk kandang harimau saja...ini kamarmu...harusnya yang takut sekarang nana...bukan kamu,"

__ADS_1


ucap bunda yang di pikir arif ada benarnya juga.


__ADS_2