CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
membekas


__ADS_3

arif pun berlari mencoba mengejar nana yang berada di depannya.


"kenapa kau lari?apa kau malu padaku?"


tanya arif pada nana.


"mana ada...aku lari karena sudah siang...sudah setengah tujuh...memangnya kamu tidak kerja?"


tanya nana mencoba mengalihkan perhatian.


"kenapa?kenapa kau jadi peduli padaku?"


tanya arif.


"oke aku tidak peduli kalau gitu..."


kata nana sambil terus berlari hingga memasuki gerbang besar dengan pagar menjulangnya.


tidak butuh waktu lama...ketika nana sampai di depan pintu besar rumah bunda.


lalu keduanya masuk beriringan menuju bundanya yang sedang menata makanan di meja makan.


"bunda..."sapa nana pada mertuanya itu.


"hey honey...kamu pulang..."ucap bunda sambil meraih tangan menantunya itu,


namun nana hanya terdiam sesaat.


"hey...ada apa?apa arif menyakitimu?bilang sama bunda..."


ucap bunda dengan menggoyang-goyangkan pundak menantunya.


"ooh...aku baik-baik saja bund..."


jawabnya dengan senyum manis di bibir tipisnya.


"sepertinya...dia dejavu bund,"


goda arif pada nana yang seketika itu pula lirikan maut nana tepat menatapnya.


"ups"


kata arif.


"dejavu apa sih nak?ouh...jadi tanpa sepengetahuan bunda...kalian...sudah honey-honey an untuk menyebut satu sama lain?"


tanya bunda pada keduanya.


"bukan arif bund...."


kata arif sambil mengangkat kedua tangannya dan berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya.


namun nana hanya tersenyum kecut menatap bundanya itu.


"bunda seneng deh nak...kapan ya bunda dapat cucu...rasanya rumah akan sepi...jika lalian sudah mulai gila kerja,"ucap bunda sambil meraih jemari nana dan di elus-elusnya.


"bund...bagaimana aku harus egois...dan memikirkan perasaanku sendiri...sedangkan aku tidak memikirkan perasaanmu dan keinginanmu...padahal aku bisa seperti ini karenamu bund...aku berhutang banyak padamu...bahkan jika harus ku berikan nyawaku...itu tidak akan ada artinya,


kau salah bund...jika menganggap aku yang tidak bisa menerima mas arif,mas arif lah yang tidak akan menyukaiku sampai kapan pun...meski penampilan fisik ku sudah berubah...tapi aku tahu...ia sampai kapanpun tidak bisa menerimaku,meski aku mencoba masuk pun tidak bisa,"


desah tak berdaya nana dalam hatinya,


tiba-tiba dari arah samping ruang makan,


"lhoh kok sendiri arif mana nak?"


tanya ayah sambil berjalan mendekat ke arah bunda dan nana.


"baru...saja naik ke atas ayah..."


jawab nana.


"baiklah nak...cepatlah mandi...dan turun bersama suamimu...mari makan sarapan sama-sama,"


ucap bunda.


lalu nana pun menuruti bundanya itu,ia mulai beranjak pergi menuju kamarnya,setelah ia sampai di dalam kamar...terdengar guyuran air dari dalam kamar mandi,


nana tahu...suaminya lah yang sedang mandi itu.


lalu ia pun menuju balkon...cuacanya tidak seterik kemarin...karena sekarang memasuki musim penghujan,


nana mulai melepas kaos kuning nya...dan menyisakan tank top hitamnya,kini ia hanya memakai celana pres hitam dan tank top hitam...tubuhnya menyandar pembatas balkon...tatapannya menjurus menatap ke arah depan.


dengan rambut yang di gulung ke atasnya hingga membuat kulit putih mulusnya dari leher sampai punggungnya terhampar menggoda.

__ADS_1


arif baru saja keluar dari kamar mandinya,matanya tak kuasa menolak keindahan yang terhampar di hadapannya itu,


tanpa sadar ia menatap nya cukup lama lalu menghampiri nana yang masih berdiri mematung.


seketika tanpa sadar arif mengecup pundak mulus yang ada di hadapannya itu tanpa rasa canggung.


lalu memeluk tubuh indah itu dari belakang,wajahnya tepat di sebelah pipi nana,dengan dagu arif di atas telinganya,


nana tahu itu suaminya,ia tidak menolak atau pun berontak...ia mengalah...untuk bunda nya,


"apa kau mencoba menggodaku?"


bisik arif pada telinga istrinya.


seketika nana ganti berbalik dan menyedekapkan tangannya di bawah dadanya,


arif pun seketika beringsut ke samping nya


"lalu...apakah kau sudah tergoda padaku?"


tanya nana balik.


namun arif tidak bisa menjawabnya,ia malah mendekatkan wajahnya dan akan mencium nana,


mamun...nana belum siap akan hal itu...ia masih menyimpan ciuman pertamanya itu,kemudian dengan refleks ia pun melengos,


arif yang merasakan tingkah istrinya itu pun menjadi geram,


"duak",


kepalan tangannya mengenai pembatas balkon


"maaf...aku belum siap beri aku waktu,"


ucap nana sembari beranjak pergi dari kamar nya,


namun...arif merasa tidak terima,


ia kemudian menyusul nana dari belakang,menarik tangannya hingga terlentang di atas tempat tidurnya,


kedua tangannya mengurung tubuh nana di bawahnya.


"kenapa?kenapa kau menolakku?apakah kau tidak bisa melepaskan henri?atau kau tidak bisa melupakan kekasih-kekasihmu yang ada di luar negeri sana?atau kau takut aku tidak bisa memuaskanmu?"


"plaaak...."


suara tamparan yang mendarat di pipi arif.


"brengsek...bajingan kau...menyingkir dari atasku,"


ucap nana seketika.


namun arif pun dengan sangat marahnya yang membabi buta,menundukkan kepalanya dan mulai mencium lalu menggigit di jenjang leher nana,


"bajingan...brengsek..."


ucap nana di sela isakannya.


lalu arif beranjak pergi setelah meninggalkan bekas di sana.


sudah dua puluh menit nana di posisinya itu tanpa beringsut sama sekali,


arif hanya sekilas menatapnya saja lalu memakai pakaian kerja nya,


lalu terdengar bunyi dering ponsel nana,


nana mencoba meraih ponsel di sampingnya itu dan mengangkatnya,


"halo..."


ucap nana dengan suara parau nya,..


"kita jadi kan?aku sudah siap-siap akan berangkat...kamu sudah siap kan?"


tanya henri.


nana melirik jam di dinding kamar nya,sudah hampir pukul delapan pagi rupanya.


"jadi hen...tapi jangan sekarang...mungkin nanti sore...akan aku kabari lagi,"


ucap nana dengan nada masih sama.


"kau kenapa na?apa arif melukaimu?ia menyakitimu?"


tanya henri begitu khawatir.

__ADS_1


namun sebelum nana menjawabnya,arif sudah meraih ponsel itu dan menyahutnya.


"kau...urus saja urusanmu sendiri...dan jangan mengurusi istri orang,dia tidak bisa pergi sekarang...dia masih


kelelahan,"


ucap arif seketika.


"hey kau...berani menyakitinya sedikit saja...aku akan membunuhmu!"


ucap henri namun panggilannya sudah terputus.


"sial",


umpat nya benar-benar kacau.


"lihatlah...dia begitu khawatir padamu...kau bilang dia tidak punya perasaan terhadapmu?kau masih belum bisa membuka mata lebar-lebar hah...!"


ucap arif seketika.


lalu nana pun bangkit dan berdiri dari tempatnya,


"akui saja jika kau sudah terbakar api cemburu...jangan melampiaskannya padaku."


ucap nana seketika lalu berlari menuju kamar mandi,


ia mengurung dirinya di sana.


arif pun tak mau ambil pusing,ia turun tanpa menunggu istrinya,


sesampainya ia di bawah...ayah dan bundanya terlilat kebingungan.


"rif...nana kenapa belum turun?"


tanya bunda.


"nanti ia menyusul bund..."


ucap arif sambil duduk di kursi meja makan.


"rif...nanti ayah nitip berkas kamu sampaikan ya karena...ayah dan bunda akan ke luar kota,saudara bundamu sedang sakit...jadi mungkin malam ini kami belum bisa pulang..."


ucap ayah.


"baiklah yah nanti aku sampaikan...aku makan dulu yah..."


ucap arif seketika lalu menyuap nasi goreng yang sudah di ambilkan bundanya.


lalu selesai makan...arif bergegas mengambil berkas ayah nya itu kemudian berlalu pergi begitu saja.


karena arif pasti sangat canggung ketika bertemu dengan nana,karena tanpa ia sadari cemburu sudah menelan akal sehat nya,


ia bergegas menancap mobilnya menuju ke tempat kerjanya,


sepuluh menit kemudian,nana turun dengan pakaian santai nya,


"bunda...ayah..."


sapa nana pada kedua mertuanya itu,


"maaf bund...ayah...sudah membuat kalian menunggu..."


ucap nana sambil duduk.


"sayang...katanya mau ke salon?kok belum ganti baju?"


tanya bunda.


"mood nya lagi jelek bund...mungkin nanti sore kalau jadi,"


ucap nana.


"lhooh...ini leher kamu bisa merah kecoklatan gini nak...kena ini sampai begini?"


tanya bunda ingin tahu.


"bund...kamu ini seperti tidak pernah muda saja...ayo lanjut makannya,"


ucap ayah yang membuat nana malu sambil membekap bekasnya dengan telapak tangan,


"bajingan gila brengsek iblis setan...."


semua umpatan di lontarkan nana untuk arif.


namun ia hanya manpu melontarkannya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2