CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
pengakuan tanpa rencana


__ADS_3

"iya bund...mau ngantar nana ke tempat temannya kumpul,"


ucap arif seketika.


dan betapa berbinar mata bundanya atas apa yang di ucapkan puteranya itu.


seketika arif hampir melongo...menatap bidadari yang baru turun dari lantai atas itu,


dengan jumpsuit celana panjang dan sedikit longgar,


dengan kerah berbentuk jas yang elegan tanpa lengan,


berwarna coklat susu yang membuat kulit nya tampak makin putih bersih,


tidak lupa sepatu heels atau hak tinggi dengan warna hitam.


dan dompet tangan yang senada dengan bajunya ber merk chanel yang lagi hits.


"benar-benar bak dewi yang baru turun dari kayangan"


gumam arif tanpa sadar yang diam-diam bundanya dengar.


"terimakasih nana..."


ucap syukur bunda dalam hatinya.


"ayo mas...."


ajak nana dan tidak lupa ia pun berpamitan dengan bundanya itu.


bunda mengiringi menuju pintu utama,


tangannya melambai-lambai sambil melihat mobil yang di naiki keduanya itu menjauh.


di dalam mobil,


arif sesekali melirik ke arah istrinya yang dengan sibuk nya memainkan ponselnya tanpa melihat ke arah manapun.


"kenapa juga aku jadi keranjingan meliriknya."


ucap arif seketika di dalam pikirannya.


hening...selama perjalanan menuju kafe taman yang akan mereka kunjungi.


"apa...selama menempuh kuliah...banyak kendala?"


tanya arif pada nana.


"bukan hanya banyak...namun amat sangat banyak..."


ucap nana seketika masih tanoa menoleh.


"lalu...apa kah kehidupanmu disana sangat bebas?ku dengar disana laki-laki dan perempuan terbiasa tidur bersama dalam satu ruangan?"


tanya arif dengan tiba-tiba.


"ah...tidak perlu kau jawab jika kau tidak ingin mengatakannya,"


ucap arif tiba-tiba saat di rasa pertanyaannya seperti seorang yang sedang menyelidik cemburu.


"ya...disana cukup bebas...hey...tapi apa pedulimu?"


tanya nana seketika.


karena dia teringat selama sembilan tahun ia di luar negeri...tidak ada sekalipun kabar atau tanya kabar dari suaminya itu.


dan...arif yang mendengarnya pun begitu malu...memang benar...saat nana belum se populer sekarang...karir belum ada wajah masih pas-pasan dan bentuk tubuh yang masih datar.arif tidak pernah melirik atau bahkan memandang nana ada.


dan sekarang setelah semuanya...dia benar-benar malu.


ternyata ia memandang seseorang hanya berdasarkan status mereka,


"baik lah...itu terserah kamu,"


ucap arif seketika.dan sebenarnya ia mulai penasaran...bebas itu seperti apa?namun ia tidak ada hak untuk bertanya.


sedangkan nana pun juga tidak ada niat untuk menjelaskan lebih jauh,


mobil yang di tumpangi keduanya pun kini memasuki area parkir cafe taman,

__ADS_1


dimana di sebut kafe taman karena cafe itu bertemakan taman...tidak di dalam ruangan.dan ketika hari hujan...cafe itu hanya buka di dalam ruangan saja.


arif pun memarkirkan mobilnya dengan segera,


lalu keluar mobil,sedangkan nana langsung keluar begitu saja saat mobil sudah benar-benar berhenti.


ia juga tidak menginginkan arif membukakan pintu mobil untuknya karena memang tidak berharap seperti puteri raja,


"apa akan baik-baik saja saat aku ikut masuk ke dalam?"


ucap arif pada nana yang masih berdiri di parkiran dekat dari mobilnya.


"tentu...baik-baik saja..."


ucap nana menegaskan.


lalu mereka pun masuk...nana melihat sekeliling...dimana teman-temannya berada,


namun tidak juga ada yang kelihatan,akhirnya ia putuskan untuk menelphone salah satu temannya,


nana membuka dompetnya...dan akan mengambil ponsel dari dalam nya,


tapi tiba-tiba...dari belakang nana merasakan rangkulan tangan seseorang.


"hey cantik...."


kata seorang laki-laki yang lumayan tampan yang sekarang berada di samping nana dengan tanggan yang masih merangkul pundaknya.


"hey henri...dimana yang lain?"


ranya nana pada laki-laki di sebelahnya itu.


"ini...."


tanya henri saat melihat laki-laki di samping nana yang tidak begitu dekat pada posisi berdirinya,namun ia sangat tampan.


"kenalkan...ini dokter arif...kenalkan mas...ini henri teman satu kamar ku dulu,"


ucap nana memperkenalkan arif dengan laki-laki yang merangkul pundak nya itu.


"sssst....boleh dong minta nomer telephone nya...cakep banget,"


bisik henri dengan intens nya di telinga nana,bermaksud menginginkan nomer telephon arif.


"awas kau berani menggodanya...kuhajar kau,"


ucap nana dengan menyikut perut henri.


"ehem...."


dehem arif yang tanpa sadar refleks seketika.


"aku ke toilet dulu na,"


ucap arif seketika dengan nada datar nya dan berlalu pergi begitu saja.


"kamu kesana...anak-anak berkumpul disana,"


kata henri dengan menyurung pundak nana ke depan menuju tempat dimana dua orang lainnya dengan pasangan mereka masing-masinh berkumpul.


"aku tinggal sebentar,"


ucap henri dengan cepat meninggalkan nana.


di dalam toilet,


"aku ini kenapa sih...jelas-jelas selama ini aku tidak pedi dan tidak ingin peduli...namun kenapa...kenapa...aku merasa tidak suka melihat laki-laki dekat dengan nya.apa lagi saat ia bilang dia adalah teman se kamar nya."


ucap arif dalam hatinya sambil membasuh wajahnya dengan air dari keran wastafel.


dia terlihat begitu tampan dengan wajah basahnya dan rambut sedikit basah yang menutup sebagian keningnya.


tiba-tiba dari belakangnya...


"kau siapanya nana?kenapa dia bisa datang denganmu?"


ucap laki-laki yang ada di belakangnya dengan tangan yang bersedekap di dadanya dan dengan satu kaki menjejak di dinding yang ia sandari.


seketika arif pun menoleh ke arah suara tersebut.

__ADS_1


"oh henri...aku suami nana,"


ucap arif seketika.


lalu bersandar pada wastafel di belakangnya.


lalu henri pun menghampiri arif dan menuju wastafel di sebelah arif.


henri menyalakan keran wastafel dan menggosok-gosok tangannya di sana.


"kamu tidak halu bukan?aku yang selalu ada di sampingnya selama ini,kemanapun ia pergi...disitu pula ada aku di dekatnya,dan itu sudah berlangsung selama sembilan tahun...suka duka kita lewati bersama.dan aku pasti tahu jika ada seseorang yang dekat dengannya selain aku,tapi hari ini kau datang dan tiba-tiba bilang adalah suaminya,hanya membuat ku ingin tertawa saja,"


kata henri sedikit mengejek.


dan saat itu pula...arif tahu...laki-laki di sampingnya ini menyukai istrinya.


"itu terserah kamu...mau percaya atau tidak,"


ucap arif sembari berjalan beranjak pergi,


namun saat sebelum sampai pintu keluar toilet.


"aku pastikan tidak ada laki-laki yang bisa merebut nana dari tanganku,jika dia tidak setuju...aku akan terus berada di dekatnya dan membayanginya."


ucap henri begitu saja.


namun arif terus saja melangkah pergi,meski dengan jelas arif mendengar perkataan laki-laki yang baru di kenalkan nana itu.


henri pun menyusul arif dengan cepat nya,berjalan beriringan seperti tidak terjadi apa-apa.


malah terlintas senyum merekah palsu di bibir henri sepanjang perjalanan menuju meja nana.


keduanya menuju satu meja kotak dengan empat kursi panjang di sisi-sisinya,di sana terlihat nana yang duduk sendiri di kursi panjang yang muat di duduki dua orang itu.


dengan dua orang pasangan si sebelah-sebelahnya.


henri bergegas duduk di samping nana yang sedang mengaduk-aduk teh tarik susu kesukaannya.


henri duduk menghadap nana sambil berbisik tepat di tinga nana.


"coba tebak...aku dari mana?"


tanya henri,lalu nana mengkerutkan dahinya menatap wajah henri yang berada di depan wajahnya,


"berani menggoda nya..ku bunuh kau,"


canda nana.


"eheem"


tiba-tiba terdengar deheman dari sebelah tempat duduk nya,berdiri di sana dan belum duduk,menatap lekat ke arah nana dan henri yang sedang berbisik-bisik.


ia menunggu nana memperkenalkanya pada ke dua temannya yang berpasangan dengan pasangan masing-masing itu.


seketika nana pun mengerti.


"perkenalkan semua...ini dokter arif...spesialis kandungan di rumah sakit wijaya,"


ucap nana memperkenalkan laki-laki tampan itu meski berwajah dingin dan terkesan cuek.


"halow...aku mirna...teman sekamar nana dulu...dan ini pacarku...andrew,"


ucap satu wanita yang berkulit hitam manis.


"hey...aku rosi...teman se kamar mereka juga...dan ini teman ku...reyhan,"


ucap wanita yang berkulit kuning langsat.


"ooohh...kirain sekamar nana cuma ada henri...ternyata...mereka memakai kamarnya berempat."


gumam arif yang entah mengapa merasa begitu leganya.


lalu arif bersalaman pada ke empat orang tersebut.


"aku arif...suami nana yang selama ini di sembunyikannya,"


ucap arif yang lalu menuju kursi sebelah nana dan menggeser henri di sana.


henri pun dengan senyum kecutnya terpaksa menghindar dan bangkit dari duduknya,kemudian ia duduk di kursi samping yang hanya sendirian.

__ADS_1


seketika nana benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di lakukan arif barusan.


dan apa lagi dengan kedua temannya itu...mirna dan rosi begitu kagetnya sampai melongo tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.


__ADS_2