
"ddddrrrrt...dddrrrttt....."getaran yang di sertai bunyi pada ponsel bunda,sesaat bunda meliriknya lalu menoleh menatap ponselnya yang ada di samping bantalnya,
bunda meraih ponselnya dan melihat siapakah gerangan yang mencoba menelephone nya.
"Arif...." Gumamnya seketika sambil menerima panggilannya dan menempelkan ponselnya di telilinga.
"ada apa sayang?apa kau ada masalah di jalan?kenapa baru pamitan sudah menelephone? kau tidak apa apa kan nak?"
Tanya bunda yang penasaran,jantungnya berdegup tidak karuan,ia takut terjadi sesuatu pada putra semata wayang nya...dimana ia telah kehilangan Rama putra tertuanya,hatinya sangat kalut menerima telephone tersebut saat itu,dimana terlintas dan teringat jelas...bahwa baru saja sang putra berpamitan padanya,dan jika di pikir...pasti belumlah kalau sampai ke kantor nya.
padahal suaminya pun baru saja pamit untuk berkunjung ke hotel milik keluarganya pula. Dan saat ini bunda benar benar sedang khawatir tanpa ada yang tahu.
"bunda...arif nggak apa apa bund...aku masih di jalan ini bund...arif hanya lupa tadi bilang sama bunda...kalau nana tadi masih tidur saat arif berangkat...tapi arif udah menulis pesan kok bund...cuma..arif khawatir aja...pasti dia nggak akan minum jamu pereda nyeri...bunda...nana sedang kram perut gara gara arif bund...bunda bisa bantu kan?"
Tanya arif pada bundanya,dan bunda dengan cepat langsung mengerti apa yang di maksud putranya dengan "kram perut gara gara dia itu".
"Astaga....Arif...kamu mau bikin jantung bunda berhenti ya...aaakh...jangan gitu kenapa nak...tega sekali sama bunda...kamu tuh..."Gerutu bunda dengan nada yang khas bunda...lembut dan empuk suaranya meski sedang menggerutu perkataan yang pedas bagi yang menganggapnya.
"haiiiz bunda sayang...maaf...Arif langsung teringat bunda kalau soal menjaga anak...bunda kan nomer satu bund..."
Ucap Arif yang memuji bubdanya,ia berharap bundanya menjaga nana istrinya itu dengan baik,karena walau bagaimanapun...arif masih merasa bersalah, Karenanya nana jadi seperti itu.
"Iya sayang...jangan khawatir...bunda akan menjaga istrimu dengan baik...gini gini bunda juga sudah pingin cucu nak..."Ucap bunda dengan terkekehnya, Dan Arif pun ikut terkekeh senang pula.
"Baiklah bund...Arif tutup telephone nya ya bund..."
ucap Arif lalu bunda menutup panggilan telephone nya.
musim hujan,ya....musim yang paling di gemari pengantin baru, Katanya...tapi untungnya memang begitulah kenyataannya, Dimana nana masih merasa malas untuk membuka mata, Meski nyeri di perutnya sudah berkurang banyak.
"Aduuuh...kepalaku kenapa ini?? Kenapa berat sekali..."
Dengus nana di sela sela tangannya memegangi keningnya yang sedikit merasa pusing berputar putar.
Kedua tangannya menggenggam di kedua sisinya,
"Akh...perutku juga sakit..."keluhnya dengan meringkuk menekan perut.
"tok tok tok....non...apakah sudah banhun?bibi masuk ya non..."ucap bibi sambil tangannya mengetuk di luar pintu.
"iya bi...masuk aja...aku udah bangun kok bi..."sahut nana dengan suara yang tidak begitu nyaring,namun terkesan lemas,perutnya terasa nyeri saat ia mengeluarkan suara.
"Siang non...bibi nganterin susu jahe non...nyonya besar yang minta..."ucap bibi sambil membawa segelas susu jahe hangat di atas nampan kecil di tangannya.
bibi berjalan mendekat ke arah meja kecil di samping tempat tidur nana,meja yang melekat dengan tempat tidurnya.
"makasih bi...pasti aku minum...ucapkan makasih buat bunda ya...maaf aku belum bisa turun bi..."ucap nana sambil mencoba bangun dari tempat tidurnya,ia sedikit beringsut mencoba duduk dan menyandarkan punggungnya ke belakang,ke ujung atas tempat tidurnya.
Tangannya meraih gelas yang berisi susu jahe di sebelahnya,menghirup aroma wangi jahe nan segar disana serta gurih nya susu yang membuat hati nana senang seketika.
"aakh....aku nggak ngapa ngapain tapi capek...berasa kayak nyetorin aer galon ke pedagang pedagang..."
ucap nana sambil mengenang kenangan dulu dimana ia pertama kali bertemu bunda saat ia tanpa sengaja menubruk mobilnya dengan dua buah air kemasan galon besar yang ia bawa,saat itu rasanya tidaklah se remuk saat ini, saat itu dia sangat tomboi...sangat berani...hingga kala itu statusnya hanya seorang buruh pabrik, Dan statusnya jadi pengangguran setelah satu hari menjelang pernikahannya, Pernikahan yang ia impikan akan berlangsung membahagiakan bersama Rama.
"Astaga...."Gumamnya seketika saat nama Rama ia kenang lalu tanpa sadar air mata meleleh di pelupuk matanya,
__ADS_1
"Aku sudah pernah bilang...kau ingin membuat kenangan bersamaku dan akan membawanya pergi tidak kembali...sedangkan kau tidak tahu...aku dan hanya aku seorang yang mengenangnya...hingga detik ini...kau laki laki pertama yang memperlakukan sampah ini bagai ratu...kau yang membuat hati ini yang layu menjadi berseri...namu setelah itu...kau pangkas habis tak tersisa...
Aku rela melewati semua demi ayah dan bunda...aku juga rela...menerima cinta Arif sedangkan hatiku masih tidak mampu mengalahkan rasa benciku yang dulu...sakit..."
ucapnya dalam hati lalu memegangi perutnya.
nana meminum habis susu jahe nya,namun entah mengapa ia begitu merindukan rama,
"Tuhan...dosakah aku jika mengingatnya? Aku teringat akan suaranya saat pertama kali ia memanggilku...aku teringat pada senyumnya...saat ia bersama ku,hingga pelukannya...yang begitu menenangkan setelah nenekku...
kenapa tuhan??harus teringat Rama?"ucapnya sambil terisak isak di atas ranjang.
tangannya mencoba menaruh gelas yang berisi susu jahe itu ke atas meja samping tempat tidurnya.
tatapannya tiba tiba terhenti menatap selembar kertas yang di atasnya ada sebuah bolpoin.
Sontak nana pun meraih ya, Ia mengambil kertas tersebut
lalu membacanya.
"sayang...aku pergi kerja dulu,maaf aku tidak membangunkanmu...aku pikir kau butuh istirahat...maafkan aku...i love you..."Ucap isi pesan yang tertulis disana.
"astaga...tuhan...kenapa aku berharap Rama yang menulisnya...jelas jelas sekarang di hadapanku adalah Arif...dia kini sangat mencintaiku...aku tidak tahu hatiku kenapa sakit sekali saat membaca isi pesan ini..."
ucap nana dalam hati,lalu ia pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya.
"tuuuut....tuuuut...tuuuut...."suara telephone nana yang tersambung namun belum di angkat,dan saat nana akan menutup panggilannya,suara Arif terdengar nyaring disana.
"halo sayang...kamu sudah bangun?sudah baca isi pesanku bukan yang aku tulis di atas meja?"
tanya arif pada istrinya,dan nana pun langsung tersenyum mendengarnya.
tanya nana dengan jujur,karena saat ini benar adanya ia sedang teringat almarhum Rama.
"kenapa aku harus marah jika istriku teringat cinta pertamanya? Mungkin saat ini...rama pun sedang memikirkanmu dari sana...kau adalah cinta pertama kakakku nana...aku tidak bisa mengungkirinya...jadi aku tidak ada alasan untuk marah padamu...aku bisa mengerti sayang...aku juga tidak melarangmu untuk menggantikan posisi rama di hatimu,aku tidak bermaksud ingin menggeser tempatnya...tapi...aku hanya ingin sepojok saja hatimu terukir namaku disana,karena karma ini...sudah menjangkitku...dan hanya namamu yang sedang memenuhi hatiku saat ini nana..."ucap arif kemudian menutup panggilan telephone nya.
"Sial!!!" Umpatan arif yang ia tujukan pada diri sendiri.
"Kenapa juga aku harus merasa tidak suka saat nana menyebut almarhum rama?aku lah yang salah padanya...aku yang mengambil nana darinya...setelah aku membuangnya." Ucap arif dengan punggung yang bersandar pada kursinya,dan menengadahkan kepalanya disana.
"dokter arif...silahkan...anda ada rapat hari ini menggantikan dokter bayu..."ucap asistennya dan arif mulai membenahi rambutnya yang sudah acak acakan karena ulahnya tadi,dan kini ia bersiap untuk ikut rapat.
nana melangkah pergi menuju kamar mandi kemudian mulai membersihkan dirinya,selesai mandi...ia mematung di depan kaca besar dalam kamar mandinya, Ia mematung sejenak disana, Mengamati di setiap lekuk tubuhnya terdapat bekas ciuman Arif, Suaminya itu tertinggal...hingga tanpa sadar ia pun menyunggingkan senyumnya,senyum getir yang hanya ia yang tahu.
Tanda ia sudah menjadi milik Arif seutuhnya.
Ia bahagia...ia pula mengiyakannya...ia yang menyetujui...dan ia pula tidak akan menyesalinya sama sekali. Cukup sekali ia membuat kesalahan...dan ia akan sebaiknya memperbaiki meski bukan demi dirinya sendiri atau perasaannya sendiri,melainkan demi orang orang yang mengasihinya....Bunda dan ayah, Serta almarhum Rama.
"Aaaakkkhh...mas Arif...kenapa kau memberi bunga bunga tanda cintamu di tubuhku...bagaimana kalau bunda tahu...ih nyebelin mas arif...aku malu keluar kalau kaya gini kan..." Lagi lagi dengus nana dan mencoba mengusap usah bekas yang sekiranya terlihat saat ia memakai baju,dan membiarkan yang tertutup pakaiannya.
lalu ia pun keluar dengan pakaian sudah lengkap, Nana mengambil pita...sebuah pita yang ia kenakan di lehernya,menutupi bagian yang masih terlihat tanda disana.
"astaga...gimana aku bisa nemui bunda kalau seperti ini...?"ucap nya dengan pandangan menunduk membiarkan imajinasinya menguasai pikirannya.
"tok tok tok..."suara ketukan pintu dari luar kamar nana,
__ADS_1
seketika nana berjalan mendekat ke arah pintu lalu membukanya.
"bibi....ada apa bi?" Tanya nana seketika saat melihat bibi sudah mematung di depan pintu kamarnya.
"Itu non...nyonya besar mau anda menemuinya non..."ucap bibi sambil melebarkan senyumnya.
"ooh...iya bi...ini mau nemui bunda kok...makasih ya bi..."ucap nana kemudian ia pun menutup pintunya dan berjalan menuruni anak tangga menuju kamar bundanya.
"tok tok....bund...nana masuk ya..."ucap nana dari luar pintu kamar bundanya sambil jemarinya mengetok ngetok pintu.
"iya sayang...masuk...bunda udah kangen nih..."
ucap bunda masih dalam keadaan baring setengah duduk di atas ranjangnya.
"bundaaaa....."ucap nana sambil berhambur mendekat ke arah bunda dan memeluk erat tubuh bundanya.
"maaf bund...nana baru lihat bunda...bagaimana keadaan bunda??bunda udah baikan?lalu ayah kemana bund??kok nggak nemani bunda?"tanya nana yang begitu banyaknya membuat wanita setengah tua itu hanya membalasnya dengan senyumannya saja.
"astaga...kamu ini sayang...bunda nggak apa apa...bunda juga bisa jalan kok...cuma ini masih rehat...kamu pasti masih capek kan?"tanya bunda sambil menyisihkan ke samping rambut nana yang menutupi sebagian wajahnya.
sontak bundanya terdiam saat melihat sesuatu yang sangat membuatnya bahagia di umurnya yang sudah hampir berkepala lima itu.
"dasar Arif...nggak kira kira..."dengus bunda sambil senyum dan memiringkan wajahnya menatap ke arah nana.
tatapannya sangat menenangkannya.
"bund...nana izin ke makan mas rama boleh bund??nggak tahu kenapa...tiba tiba nana tadi teringat mas rama bund..."ucap nana sambil menatap bundanya dengan tatapan penuh harap disana.
"kamu sudah bilang sama suami kamu?apa katanya?percuma kan kalau bunda ngijinin tapi arif ngeyel nggak boleh pergi?"ucap bunda dengan nada kalem dan lembutnya.
"ouuh...itu sih tadi udah bund...aku udah bilang mas arif kok bund...dan mas arif ngebolehin...jadi nggak apa ya aku kesana mumpung hari ini libur bund..."ucap nana yang di sambut anggukan oleh bundanya.
"nanti pulangnya biar di jemput ayah ya...ayah ada di hotel dekat sana,tadi ayah ada kerjaan sedikit...nanti biar bunda yang kasih tahu ayah..."ucap bunda yang membuat nana tersenyum senang.
"nggak usah bund...nana bisa pulang sendiri kok...lagian nana naik taksi aja...mobilnya kan ketinggalan di kantor...kemarin berangkat waktu ikutan posko bund..."ucap nana yang membuat bundanya manggut manggut mengiyakan.
"ya sudah...hati hati ya sayang...nanti kalau bunda udah sembuh...kita sama sama kesana ya..."ucap bunda yang langsung di angguki oleh nana.
nana meninggalkan rumah dan menunggu taksi online yang sudah ia pesan,
terlihat mobil taksi menghampirinya yang sedang berdiri di samping trotoar jalan. Ia masuk kedalam mobil dan menuju ke sebuah area pemakaman umun yang tempat ya lumayan jauh...dari rumahnya.
sampai di tempat tujuan, nana memutuskan untuk membeli sebongkok bunga dan juga air mineral.
ia membawanya menuju makam.
Jalan setapak yang lumayan panjang yang di kanan kiri jalan tertata makam makam yang rapi dan berjajar,
hingga ia dapat arah ke makam Rama, Nana berjalan perlahan menuju kesana,dimana disana terdapat foto serta tanggal kematian Rama.
setelah sampai makam Rama, Nana duduk berjongkok di depan makam. Tangannya tampak mengusap usap nisan makam yang ada foto Rama disana,terlihat senyum Ramah Rama terukir disana.
"hai Kakak iparku...apa kau senang sekaran? Apa kau bahagia meninggalkan adik iparmu ini?sampai sekarang hatiku masih bertanya tanya...kenapa? kenapa? kenapa kau lakukan ini padaku mas rama?, Kau mendekatiku hanya karena ingin menjodohkanku dengan adikmu...apakah kau sudah senang?kau tega rama...kau memberikan sejuta harapan untukku...aku sudah berandai andai bahagia denganmu...kenapa...kenapa kau malah meninggalkanmu dengan senyuman itu...senyuman yang tidak mungkin aku lupakan..."ucap nana dengan isakannya.
rintik rintik hujan mulai turun mengguyur,namun nana tidak bergeming dari tempatnya,ia memilih terus memandang senyum yang membuat teduh hatinya,
__ADS_1
"Kau tahu...kini aku sudah milik Arif seutuhnya...namun di hatiku tetap kosong...kosong seperti kehampaan setelah kau tiba tiba pergi tanpa kabar padaku...tanpa satupun pesanku yang kau balas...dan kosong seperti saat aku tahu di hari pernikahan kita dengan bodohnya aku menerima begitu saja pasangan yang sudah aku tahu itu bukan kamu...kau senang rama? Hingga kini aku menyimpan pertanyaan pertanyaan yang tidak bisa aku tanyakan karena kau sudah pergi untuk selamanya...lalu kenapa?...kenapa saat itu kau menemuiku?kau menalikan tali sepatuku?membuatku bahagia seperti seorang ratu?hingga aku benar benar mencintaimu sejak saat itu."
ucap nana lagi dengan isakannya dan air mata yang jatuh bersamaan dengan air hujan,keduanya menyatu hingga tidak bisa di bedakan,mana air hujan dan mana air mata.