
hingga pukul dua belas siang saat semua staf paramedis mulai istirahat dan berduyun bergerombol menuju ke kantin rumah sakit yang khusus untuk semua staf, dimana disana berjubel para staf yang sudah mengantri dan yang sudah mendapatkan makan siangnya, ditambah lagi para staf paramedis yang baru tiba pula. ber kumpul jadi satu,
terlihat arif masih nyantai di kursinya...meluruskan kedua kakinya yang sudah dari tadi ia tekuk di bawah meja kerjanya,meregangkan kedua tangannya ke atas gingga hampir ke belakang.
"aaakh...akhir ya selesai juga..."ucap arif sambil melepas jaz kedokterannya dan beranjak berdiri dari kursi duduk nya,ia bermaksud akan menghampiri istrinya di ruangannya. perlahan arif berdiri dari kursi dan segera saja ia pun pergi keluar setelah terlihat semua staf paramedis siang itu begitu sepi tidak seperti pagi tadi yang begitu heboh dan lalu lalang kesana kemari dengan tugas dan tanggung jawab masing masing di tangan mereka.
arif tanpa pikir panjang langsung menuju ke ruangan istrinya, dimana sebelumnya arif lupa memberi tahu istrinya bahwa ia akan menghampirinya setelah makan siang.
"tok tok..."terlihat arif mengetok pintu ruang kerja nana dari arah luar, dimana nana tidak menyahut atau pun tidak ada satu sahutanpun di sana dari dalam. suara hening yang seperti tidak ada seseorang satupun dari arah dalamruang kerja istri nya.
lalu tanpa aba aba...ia pun membuka pintu ruang kerja nana, dimana disana tidak ia dapati satu orang pun yang tengah berada di dalam ruangan tersebut.
arif pun langsung menutup pintunya kembali, dia berniat memberitahukan pada istribya bahwa mulai lusa jika sudah di sepakati...kontrak tor yang ia kenal tersebut akan menyurvei tempat yang akan di jadikan rumah oleh nana dan arif. arif sudah di beri kabar oleh ayah nya kalau tanah tersebut sudah sah menjadi hak nya...karena diam diam ayah sudah melunasi semua uang yang di gunakan untuk membeli tanah tersebut.
arif lumayan bahagia...karena ia belum mengeluarkan uang sepeserpun, ia hanya akan mengajak nana nanti sepulang kerja untuk mampir ke arsitektur kenalan ayahnya,dimana dulu perusahaan arsitek tersebut...pernah mendisain rumah ayah dan bundanya.
arif ingin mengajak sang istri supaya turut serta karena agar nana sendiri yang memilih disain untuk rumah keluarga kecil mereka.
seketika arif langsung mengeluarkan ponsel dari dalam kantong nya.di lihatinya pada layar ponsel tersebut tidak ada satupun pesan dari istrinya, yang membuatnya khawatir...adalah nana tidak pernah berlaku seperti itu.
__ADS_1
dalam hatinya mulai cemas...dimana ia takut...jika si henri yang sudah di blok oleh arif di ponsel istrinya tersebut...datang menemui nana tanpa sepengetahuannya.
"nana kamu di mana sayang?"ucap dalam hati arif, lalu ia pun mencoba menghubungi nana,dimana keadaan nana saat ini,entahlah...hari ini...begitu banyak kesibukan...hingga ia pun lupa untuk memberi kabar satu pesan pun pada istri nya.
arif mencoba menghubungi istrinya,ia masih berdiri mematung di luar pintu ruang kerja istrinya.
terlihat dan terdengar...suara sambungan telephone yang tersambung, namun belunm juga di angkat oleh pemiliknya, yaitu...nana istrinya itu.
"sayang...kamu ini kemana sih?kok nggak kelihatan?telephone aku juga nggak kamu angkat...apa kamu hanya buat ponselmu sebagai hiasan saja?bisa bisanya mengabaikan panggilanku!" gerutu arif sambil terus mencoba menghubungi, karena tadi...ia sudah menolak untuk di ajak bayu ke kantin dengannya,namun ia menolak dan memilih bersama istrinya saja, tapi kini malah sebaliknya...dimana saat arif mencoba menemui sang isyri dan akan mengajak nya...malah...tidak di hiraukannya...karena nana sudah terlebih dahulu pergi dan tidak memberinya kabar satu kalipun.
lagi lagi ia harua mengulang panggilannya untuk be erapa kali panggilan.
arif lalu berjalan mendekat masuk ke dalam ruang kerja nana,ia pun mengambilnya lalu memasukkannya ke dalam kantong pakaiannya.ia tidak tahu lagi harus mencari sang istri kemana,
"mungkinkah rapat?pasti tidak..."ucap arif sambil menggeleng geleng kan kepalanya,karena jika ada rapat...meski dia tidak ikut...semua dokter yang berada di rumah sakit tersebut pasti dapat pemberitahuan, itu pun terjadi setelah arif ketiduran di brangkar pasien di dalam ruang kerja istri nya.
di tempat lain...terlihat nana dan dua asisten nya ikut berjubel nimbrung bersama para staf para medis lain yang tengah mengambil makanan di sana.
hingga beberapa saat sudah nana ikut mengantri disana...dan akhirnya kini ia mendapatkan makanan yang lumayan enak dan berfariasi di atas piringnya...dengan teh hangat yang sudah di sediakan oleh pihak kantin nya.
__ADS_1
nana dan asisten nya pun berjalan menuju ke arah bangku kosong, dimana saat ia akan merogoh ponsel nya yang menurutnya tadi ia bawa dari dalam ruang kantornya.
betapa terkejutnya ia saat ia dapati pinsel tersebut tidak ada di sana, dika tong baju nya.
"aaakh...ponselku ketinggalan..."dengua nana dengan nada sedih nya.
"kenapa dokter na?apa ada yang bisa saya bantu? tanya salah satu asisten nya yang tengah duduk di depan nya fi seberang bangku yang ia tempati.
"aaah nggak apa apa kok...ini loh...ponsel aku ketinggalan...jadi...sekarang mau ngasih kabar dokter arif jadinya nggak bisa gitu lo..."ucap nana dengan nada seriusnya. sungguh di sayang kan padahal ia ingin mengajak suaminya itu untuk turut serta makan di kantin.
terlihat matanya celingukan menatap ke penjuru arah, niat nya untuk mencari keberadaan suami...mungkin tanpa sengaja ada di antara orang orang yang tengah menikmati makanan nya.
"aaakh...mana ada...mana mau mas arif itu makan di kantin seperti ini...yang ada kemarin aku yang mendorong nya mengajak nya kemari untuk turut makan sama sama semua staf para medis.
"eh...aku tinggal sebentar ya...aku mau nemui dokter arif dulu sambil bawain makanan ke ruang kerjanya..."
ucap nana ke pada dua asisten yang ada di hadapa nya tersebut.
"aaah...la terus dokter na kenapa anda tidak makan terlebih dahulu?" tanya salah satu asistennya yang sedang penasaran.
__ADS_1
"aaah...ini akan aku bungkua saja nemani dia makan ntar..."ucap nana sambil beranjak berdiri dari duduk nya dan tidak lupa membawa serta piring yang ada di mejanya menutu ke arah tempat yang tadi ia tuju waktu mengambil makanan tersebut.