
"sayang...kamu beneran nggak apa apa kan jika semua orang tahu tentang hubungan kita?aku khawatir kamu kenapa napa sayang...aku khawatir...ada yang akan menerormu sayang..." ucap arif dengan sedikit nada khawatirnya, dimana ia khawatir tentang fans nya yang ada di rumah sakit dan yang ada di luar rumah sakit.
Nana tidak tahu bagai mana khawatirnya suaminya jika sampai ada seseorang yang akan membuatnya nggak nyaman.
"aaaah...mas bisa aja deh...nggak apa apa mas...mana ada seseorang yang berani membuatku menyesal sudah mencintai mas seperti ini...nggak akan ada maaas...mas jangan khawatir lagi ya..." Ucap nana dengan tangan yang menusuk masuk celah celah antara tangan dan pinggang samping suaminya, tangannya memeluk lengan kekar tersebut dan turut menggandengnya menuju tempat parkir mobil nya yang ada di bagian terbawah bangunan tempatnya kerja.
"aaah...astaga...kenapa aku jadi cinta banget sama kamu sih sayang....pernah nggak kamu nyesel gitu nerima cinta aku?" tanya arif yang sudah berada dekat pada mobilnya dan berlalu membuka pintu mobilnya disana untuk nana.
"makasih mas..." ucap nana setelah ia masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh suaminya itu.
Lalu arif pun berlalu berjalan menuju ke arah pintu mobil nya dan masuk kedalam menuju kursi kemudi dan duduk di sana.
"sayang kok pertanyaanku nggak di jawab sih?" Tanya arif yang penasaran pada jawaban istrinya itu.
"ouh ia mas...mas mau aku jawab jujur apa jawab yang biasa aja?" Tanya nana dengan pandangan menatap wajah suaminya, tepatnya menatap lekat lekat ke arah manik mata suaminya.
"Sayang...aku beneran ingin tahu..
nggak kasihan ya kamu nyiksa aku kaya gini terus?" Ucap arif sambil meraih jemari sang istri lalu saling menatap satu sama lain...
"ouh...sayang...kamu udah penasaran ya sayang....naiklah aku akan memberi tahu mas yang sesungguhnya...tapi nanti malam ya..kalau kita hanya berdua dan suasana mendukung...kalau di sini...suasananya sangat nggak enak sama sekali...nggak bisa mendukung...nggak romantis sama sekali mas...aku takut nggak bisa baperin mas nanti kalau aku bilang disini...jadi...sekarang mari kita lanjutkan perjalanan saja ya mas...ayo...nanti kita kemalaman loh..."
ucap nana sambil menepuk nepuk jemari suaminya dan mengarahkan tangannya memegang pada setir mobil.
"iya...iya...baiklah...mari kita berangkat sayang...sekarang..."
ucap balik arif pada istrinya. dan istrinya langsung menurut...keduanya lalu melanjutkan perjalanan nya.
Mobil yang di kendarai arif dan nana melaju membelah jalan yang lengang siang menjelang sore itu, hingga sampailah keduanya pada sebuah bangunan lumayan megah dengan tembok pagar yang lumayan tinggi, rumah bersebelahan dengan tetangga dan begitu terlihat tidak tetawat.
"mas aku nggak mau yang ini..."ucap nana seketika setelah ia tahu dari luar tembok saja sudah seperti iti, hatinya sungguh tak ada minat sama sekali.
"oke...baiklah...mari kita lihat rumah yang lain ya...jika kali ini nggak terpikat juga..sepakat beli tanah aja dan bangun rumah ya sayang...habisnya ini udah yang ke sekian kali...kamu nggak mau terus...udah yang ke tiga kali lo sayang...bayangkan itu..."ucap arif yang serasa tulang tulangnya sudah hampir copot karena kelelahan.
__ADS_1
"mas nggak ngerti aja sih...rumah itu ibaratnya istana kan mas...lah kalau dari awal saja aku nggak sreg ama rumahnya...gimana mau nempatinya sih sayang...ya sudah atau gini saja...kita beli tanah aja...nanti bangun gitu ya..."
ucap nana dengan seriusnya...
"baiklah sayang...aku akan minta bantuan temanku untuk buat denah nya...kamu yang pilih ya...sekalian aku minta bantuan dia untuk segala keperluan nya...kita udah tinggal beres aja ya sayang...gimana kamu mau kan sayang??"
ucap arif yang kini sudah mengajak nana untuk masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju pulang ke rumah.
"baiklah mas...begitu jauh lebih baik lagi...aku lebih senang jika seperti itu...kenapa nggak bilang dari tadi sih mas...tau gitu nggak usah lihat lihat aja mas...langsung kaya apa yang mas barusan ucapkan aja lebih baik..." ucap nana sambil tersungging senyum di bibirnya.
hingga pukul tujuh malam mobil keduanya baru sampai di area pelataran rumah ayah dan bunda. Terlihat ayah dan bunda sedang bersantai di teras depan rumah di temani teh hangat dan cemilan yang sudah hampir habis.
"bund...ayah...,sapa keduanya saat nana dan arif baru turun dari mobilnya dan menghampiri bunfa dan ayah.
"sayang...baru pulang?...sudah makan malam di luar kan?"
tanya bunda seketika, karena bunda dan ayah sudah makan malam duluan, bunda dan ayah mengira bahwa anak dan nenantunya itu sudah makan malam di luar.
karena biasanya sore sudah pada kumpul di rumah.
ucap arif dengan binar senangnya meski baru sebuah rencana saja.
"syukurlah kalau kalian sudah memutuskannya sayang...bunda dan ayah hanya bisa mendoakannya saja supaya semuanya lancar seperti apa yang kalian harapkan. "lhoh kok belum pada makan malam sih?bunda kira kalian sudah makan malam di luar...makanya kami makan duluan...ya udah masuk dulu gih...biar di siapin makan malam nya sama bibi..." Ucap bunda yang lalu di turuti anak dan menantunya itu. leduanya pun bergegas masuk ke dalam, di susul bunda yang ikut serta mengikuti keduanya, namun ayah masih tinggal di tempatnya semula dan tidak ikut serta. Terlihat bunda meminta asisten rumah tangga nya untuk menyiapkan makanan di meja makan, dan arif serta istrinya yang terlihat sudah duduk di kursi meja makan sedang asyik berbincang,
"maaas...aku bantuin bibi dulu ya...mas tunggu disini aja...oke?" ucap nana sambil beranjak dari duduknya, namun di cegah oleh arif yang ada di sampingnya.
"biarin napa sih sayang...tungguin di sini saja..."
ucap arif yang membuat nana menyunggingkan senyum.
"nanti pasti aku temenin kok sayang...tunggu disini dulu ya...nggak enak ah kalau nggak ikut bantuin bibi...bunda aja yang masih sedikit sakit kakinya bantuin tuh...biarkan aku bantuin juga ya sayang..." Rengek nana yang lalu di angguki oleh suaminya, nana oun berdiri dari duduknya dan menyusul bundanya yang terlihat ikut sibuk itu dari arah meja makan, dan bibi pun ikut serta memanaskan makanan. sejenak nana tertegun menatap keduanya yang tengah sibuk di depan matanya, langkahnya terhenti dan menatap ke arah bunda dan bibi asisten rumah tangha.
"apakah kelak saat aku dan mas arif sudah punya rumah sendiri ada hal semacam ini?pasti ini akan sangat membuatku rindu...apakah aku akan merindukan kalian?merindukan saat saat seperti ini...aku sangat sangat beruntung memiliki kalian setelah nenekku...teeimakasih ya tuhan...semoga hidupku yang begitu bahagia ini akan bertahan lama...akan bertahan hingga akhir hayat...aku tidak mau sendiri lagi...aku tidak mau di tinggal sendirian lagi...kesepian lagi...aku tidak mau..."ucap nana dalam hati nya,lalu ia pun berhambur ke dapur sesegera mungkin...menghampiri bundanya lalu tanpa aba aba memeluk bundanya dari belakang.
__ADS_1
"bunda..."ucap nya sambil memeluk tubuh bundanya.
"astaga nak...iya sayang...kenapa?kamu begitu manja seperti ini pada bunda...mau apa sih?minta apa sayang?ayo ngomong..."ucap bunda sambil memeluk balas kedua tangan menantunya yang ada di perutnya.
"bund...kelak kalau nana sama mas arif jadi sendirian...kami pasti akan merindukan bunda...rindu masakan bunda...rindu cara bunda ngerawat kami seperti ini. "dasar anak bodoh...bunda kura kenapa....bunda sempat berpikir bahwa tadi arif menggodamu sampai kamu jadi manja seperti ini...eh...nggak tahunya udah mikir macam macam aja sih...sayang...kalau gitu makannya datang ke rumah bunda aja kan beres sayang...gimana?
udah ah ayo kalian makan dulu...ini sayurnya sudah di panasin bibi...ayo..."ajak bunda menuju ke meja makan sambil mengendurkan pegangan tangan nana. dengan cara mengelusnya lembut di punggung tangan menantunya itu. nana pun akhirnya menuruti apa kata ibu mertuanya itu dan mulai mengikuti apa yang di sarankan ibu mertuannya kini.
"bund...niatnya nana ingin bantuin bunda loh tadi...kenapa jadi gagal lagi sih bund...akh...maafkan nana ya bund..."
ucap nana sambil berjalan bersama dengan bundanya beriringan di sampingnya,lalu ia duduk di bangku sebelah siaminya pas.
"udah kamu jangan mikir macam macam ya sayang...ayo cepat di makan mumpung masih anget ayo..."ucap bunda yang meminta nana untuk menikmati makan malamnya. dan nana serta arif pun ikut turut apa yang di katakan bundanya.keduanya membalik piring piring yang ada di depannya yang tadinya tengkurap kini membuatnya terbuka dan mengambil beberapa makanan disana.
"sayang...tadi kamu sama bunda lagi ngomongin apa sih sayang?kok serius sekali sih...angnya kalian ngobrolin apaan?aku penasaran sayang...?" tanya arif di sela sela makannya, matanya melirik ke arah istrinya yang tengah menikmati makanan nya di piring depan nya.
"mas ini mau tau aja sih...itu tadi urusan wanita ya sayang...laki laki di larang ikut campur!dilarang tahu...dilarang kepo...oke..."ucap nana tanpa menoleh dan tanpa menatap ke arah suaminya, ia hanya menikmati setiap suapan makanan yang ia nikmati malan itu.
"sedangkan bunda sudah ikut ayah lagi di teras depan,sedangkan nana dan arif masih betah berlama lama disana karena masakan bunda yang luar biasa nikmatnya, hingga beberapa saat dan makanan di piring keduanya sudah habis tak bersisa.
"mas...aku mau ke kamar dulu ya...mau mandi...badan aku udah lengket...capek...aku nggak tahan ini..."ucap nana sambil mengusung piring kosongnya ke arah dapur lalu mencucinya sekalian. sedangkan arif yang masih belum habis pun hanya bisa menikmatinya saja dan mengiyakan kemauan sang istri.
"ake baiklah sayang...kamu duluan...ya...nanti aku nyusul deh..."ucap adif yang mungkin sudah tidak di dengar nana dan istrinya itu sudah berlalu pergi begitu aaja, naik tangga menuju ke atas ke arah kamar tidurnya.
sampai di dalam kamar...nana langsung melempar tas yang ia bawa ke atas sofa,lalu ia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi, hingga beberapa saat terdengar suara air yanh mengguyur tubuhnya, nana terlalu lelah untuk hari ini, mungkin juga bisa karena aktivitas padat nana yang selalu menuntutnya untuk tetap tegar menjalani hidup.
sedangkan di bawah di meja makan,terlihat arif sudah menghabiskan sisa makanan nya dan mulai membereskan piringnya di sana.namun si bibi sudah menungguinya disana dengan setia, hingga arif membiarkan nya begitu saja dan meninggalkannya di meja.
"makasih ya bi...maaf merepotkan bibi..." ucap arif sebelum ia benar benar meninggalkan piringnya di meja makan dan berjalan menuju ke arah luar, dimana di sana ayah dan bundanya masih asyik ngobrol berdua saja.
"bund...ayah...arif masuk dulu ke kamar ya nyusul nana...arif sudah nggak betah gerahnya bund..."ucap arif sambil keluar mendekat ke arah ayah dan bundanya.
"iya sayang...sana sudah di tungguin istrimu itu lo nak..."ucap bunda yang langsung di lanksanakan putranya itu.
__ADS_1
.