CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
berangkat berdua dan pulang bertiga


__ADS_3

canggung....ya satu kata yang tepat untuk dua insan yang sudah tidak muda lagi dan baru bersatu kembali setelah sekian lamanya,nana butuh penyesuaian diri untuk bisa menerima Arif menjadi suami yang seutuhnya,karena di benaknya sosok Arif yang melekat dalam ingatannya tidaklah se sempurna saat ini,saat dimana Arif terlihat begitu mencintainya,dan nana ingin secepatnya menyesuaikan perasaannya itu.


Hingga beberapa saat sudah keduanya hanya saling bertukar pandangan dan sedikit saling melirik satu sama lain.


"tuan...nona...ini pakaian yang tadi anda laundrykan...sekarang sudah siap..."ucap seseorang yang baru saja datang dengan membawa pakaian nana yang sudah rapi,Arif lalu menerimanya dengan memberikan upah yang harus ia bayarkan,


"Nih pakaian kamu sayang...ayo secepatnya ganti pakaian...lalu kita kencan..."ucap Arif dengan nada yang bersemangat,sambil menyerahkan pakaian yang baru ia terima tadi,dengan senyum nana menerima pakaiannya dan segera masuk kedalam kamar nya dengan berganti pakaian,sedangkan Arif masih setia menunggui istrinya di luar,Arif belum berganti pakaian...karena ia mengira istrinya akan berganti di dalam kamar dan bukan di kamar mandi,


"lhoh maaas....tadi ngajak ayo...kok sekarang malah nyantai nyantai belum ganti pakaian sih mas??"tanya nana saat ia baru saja keluar dari dalam kamarnya dan ia dapati suaminya masih dengan pakaian yang sama.


Pakaian kemarin yang masih ia kenakan.


"loh...aku nungguin kamu kan sayang...ya sudah...tunggu sebentar ya aku ganti pakaian dulu,"ucap Arif sambil masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.


beberapa saat nana menunggui Arif di luar kamar dengan santainya,hingga....


"dddddrrrrtttt....ddddrrrttt...."ponselnya berbunyi dari dalam tasnya.Seketika nana pun membuka tasnya dan meraih ponsel yang ada di dalam nya kemudian ia menatap ke arah layar ponsel tersebut,


"emmm...bunda...apa kabar bund..."ucap nana saat ia mengangkat panggilan bunda farida di ponselnya.


"sayang...kenapa rumah ini jadi sepi sekali saat kalian tidak di rumah...bunda kesepian nih...ayah juga lagi ke luar kota sayang...hemmmz...bunda berharap...saat pulang nanti...kalian jadi bertiga ya sayang..."ucap bunda dengan nada menggoda namun juga serius ia ucapkan.


Namun nana tidak mengerti ucapan bundanya tersebut dan hanya membalasnya dengan senyuman yang bundanya tidak tahu.


"sayang suamimu mana?"ucap bunda dan refleks nana pun beranjak membuka pintu kamar dan ingin menyerahkan ponsel yang menempel di telinganya itu pada suaminya.

__ADS_1


"Astaga!!!"dengus nana seketika dengan terkagetnya saat menatap punggung suaminya tanpa pakaian yang menutupinya,entah kenapa saat menatap nya degup jantungnya meningkat dengan sangat drastis.


Padahal hal seperti itu hampir setiap hari ia lihat,namun saat itu belum tumbuh perasaan di dalam hatinya.


berbeda dengan Arif,ia malah membuatnya terbiasa agar ia bisa menarik hati sang istri.


"oh...ada apa sayang?aku masih belum selesai lo ganti bajunya...kamu nggak sabaran sekali ya..."ucap Arif sambil berbalik menatap dan berjalan mendekat ke arah nana dengan perut rata dan dada bidangnya.


Nana hanya mendengus sedikit dalam menarik nafasnya lalu menghembuskannya yang tanpa sengaja di dengar oleh bunda yang ada di seberang telephone.


"emmmb...ini mas...bunda pingin bicara sama mas,"ucap nana sambil menyerahkan ponsel yang ia pegangi pada suaminya,sedangkan Arif sambil menerima telephone istrinya lalu memberi isyarat nana agar membantunya memakai kemeja yang satu lengannya sudah masuk ke dalam satu tangannya,nana pun mengerti lalu membantu Arif memakai kemejanya,


"ada apa bund?Arif mau ngajak nana keluar cari udara segat nih bund..."ucap nya sambil menatap sang istri yang berada di depannya sedang mencoba mengancingkan kancing bajunya satu persatu.


"cup,"kecupan Arif mendarat di bibir nana dengan cepatnya yang tanpa nana sadari,mungkin bundanya pun mendengarkan suaranya yang sangat dekat dengan telephone yang menempel di pipi Arif.


nana hanya melengos dan pergi begitu saja dengan wajah yang bersemu semu merah di kedua pipinya.


sedangkan Arif yang merasa senang itu pun hanya bisa berkata dengan cerianya pada bundanya,tanda ia sedang senang saat ini.


Beberapa saat sudah berlalu Arif dan bunda ngobrol di dalam kamar,sampai....


"sayang...nih bunda mau ngomong sama kamu..."ucap Arif yang baru keluar dari dalam kamar dan menghampiri sang istri yang sudan berada di teras luar.Arif menyerahkan ponsel istrinya itu yang masih tersambung panggilan telephonenya dengan bundanya.


"oooh...."sahut nana dengan menerima ponsel tersebut lalu menempelkannya pada telinganya.

__ADS_1


"halo bund..."ucap nana mencoba menahan malunya yang entah kenapa timbul begitu saja saat ia mengingat kejadian barusan.


"sayang...ingat ya...pulangnya bertiga ya..."ucap bunda lalu menyudahi panggilan telephone nya.


"bunda dari tadi kok bilang pulang bertiga terus...maksudnya siapa yang akan ikut nebeng saat pulang ya?"gerutu nana dengan lirihnya,namun tetap saja suaminya mendengarkannya.


"hmmmz....sayang...gitu aja mikirnya dalem banget sih...nggak apa apa kok nggak harus bertiga...aku bisa nunggu kok...nggak usah dengerin bunda."ucap Arif sambil menggandeng tangan istrinya untuk menuruni tangga.


"tunggu mas...apa sih maksudnya bunda tadi?beneran deh aku nggak bisa mendevinisikan perkataannya gitu lo..."


ucap nana sambil menahan langkahnya satu tingkat tangga di atas tangga yang di pijaki suaminya,sontak Arif yang menggandeng tangan istrinya itu pun menghentikan langkahnya.


"beneran kamu nggak tahu maksud bunda sayang?atau...kamu mancing aku ya biar aku menjelaskan detailnya padamu?kalau memang seperti yang pertanyaan pertama...aku akan dengan senang menjelaskannya,dan jika peetanyaan yang nomer dua...aku pasti milih praktek langsungnya."ucap Arif sambil menghadap ke arah istrinya,dan benar benar membuat nana bingung di buatnya.


"mas...aku beneran...nggak lagi bercanda..."ucap nana yang membuat Arif gemas mendengarnya.


hingga tanpa sadar...Arif merengkuh tubuh istrinya dan memeluk pinggang ramping nana di depannya hingga menempel padanya,kini Arif dan nana menjadi sejajar dan tatapan keduanya bertemu.


"baiklah...akan aku jelaskan sekarang...kita saat ini berdua kan?dan kita akan jadi bertiga saat..."ucap Arif tertahan saat jemari telunjuk nana tepat menutup mulut Arif agar tidak melanjutkan lagi kata katanya,nana baru menyadarinya dan itu membuatnya makin malu...jelas saja perkataan sepele seperti itu pun anak SD juga tahu,namun dia begitu bodohnya sampai sampai menunggu Arif menjabarkannya untuknya.


Bukan karena suaminya adalah Dokter kandungan,tapi memang harusnya itu ungkapan yang begitu mudah di tebak.


"oke....oke....aku yakin kamu sudah mengerti sekarang maksud bunda sayang...kalau begitu...nanti malam saja ya prakteknya...tapi jika kau mau sekarang...aku juga selalu siap kok."canda Arif pada istrinya,dan senyumnya tersungging dengan tampannya.


"oooh...jantungku...tuhan...saat melihat senyum itu...kenapa bisa meningkatkan detak jantungku?"ucap nana dalam hatinya sambil mengelus elus dadanya.

__ADS_1


"udah ah mas...ayo jalan...kesiangan loh ntar..."ucapnya untuk menutupi kegugupannya saat ini.


__ADS_2