
tanpa terasa...waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore...nana mengambil telephone nya...ia mencoba menghubungi henri.
"henri...halo...ayo temani aku nyalon sekarang..."
ucap nana pada seseorang di seberang telephone.
lalu nana pun bergegas berganti pakaian saat seseorang itu menngiyakan ajakannya.
setengah jam kemudian...nana sudah berada di depan salon yang lumayan bagus untuk kalangan atas.
ia terlihat menunggu seseorang.
lalu muncullah orang yang sedang ia tunggui itu.
"maaf...apa kau sudah menungguku lama?"
ucap henri seketika.
"tidak...aku baru sampai..."
ucap nana.
lalu dengan kejelian mata henri itu...ia melihat sesuatu yang berbeda,
"cupangan?"
desah henri seketika di dalam hatinya.
"brengsek kau arif,"
teriak dalam hati henri.
"apa...ada yang ingin kau ceritakan padaku?"
tanya henri sambil mengajak nana duduk di kursi yang terpasang di depan salon.
"tidak hen...ini bukan seperti yang kau bayangkan ini hanya kecelakaan...dan lagi..."
sebelum nana meneruskan ucapannya...henri sudah terlebih dahulu memeluknya.
"ouh...bayi panda kecilku...kenapa kita harus terpisah...jika aku ada di sampingmu...akan ku patahkan kakinya,"
ucap henri dengan nada lembutnya.
namun sesaat nana memang membutuhkan pelukan itu.dan terpaksa ia pun membiarkannya untuk sejenak.
tanpa nana sadari sepasang mata dari tadi mengawasinya dari dalam mobil di dekatnya,tepat nya di pinggir jalan raya,
arif setelah pulang kerja,ia bergegas mengantarkan berkas yang di titipkan padanya oleh ayahnya tadi pagi.
namun tadi pagi ia lupa...akhirnya baru sore setelah pulang kerja ia bisa mengantarkannya.
"brengsek...kau tidak mau di sentuh suamimu...tapi kau membiarkan orang lain memelukmu begitu lama,"
desah arif dengan marahnya.
kemudian ia berlalu pergi begitu saja.
waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam,
saat hujan mulai turun dengan rintik teraturnya,
nana menatap dari dalam mobil taksi yang ia pesan,
lalu ia pun turun tepat di depan pintu gerbang.
pak satpam yang melihat nyonya mudanya turun dari taksi pun langsung membukakan pintu kecil di samping gerbang.
setelah itu ia pun bergegas lari menuju rumah,
"duaaar"
terdengar petir menyambar dan petir bersahut-sahutan.
nana berlari menaiki anak tangga bergegas menuju kamarnya dengan baju setengah basah nya,
ia masuk ke dalam kamar,namun masih sepi...lampu nya pun belum di nyalakan.seketika ia berpikir arif pasti belum pulang,
yang tanpa ia sadari arif sudah menunggunya duduk di sofa dengan bersedekap tangan di dada,
nana pun kemudian tanpa pikir panjang...melucuti pakaian basah nya dan menyisakan hanya dalamannya saja,saat ia akan menyalakan lampu karena ingin mengambil pakaian ganti,
ia sontak terkejut dengan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya,
seketika ia langsung berbalik menatap siapakah yang sedang melecehkannya ini.
arif menekan tubuh nana hingga membentur tembok samping sakelar lampu,
tangannya langsung menyalakan lampu tersebut,
sontak nana terperanjat...berusaha menutupi tubuhnya yang benar-benar berisi itu.
"kenapa kau begitu malu dengan suamimu?"
tanya arif.
"iya aku malu...pada suami yang baru beberapa hari aku temui,"
ucap nana dengan jujurnya.
__ADS_1
"tapi kau tahu...aku seorang laki-laki normal...bisakah menolak jika di suguhi hal seperti ini?"
tanya arif.
"aku masih marah padamu...jadi tolong biarkan aku malam ini,"
pinta nana,namun tidak di gubris oleh arif.
arif mencoba meraih dagu istrinya lalu menciumnya paksa,
nana yang terpaksa pun menikmati ciuman suaminya itu.
karena itu adalah yang pertama bagi nya.
"kau tahu...ini ciuman pertamaku,"
ucap nana.
lalu arif pun tidak peduli...ia melakukannya lagi,hingga membimbing tubuh istrinya menuju ranjang.
"mas...aku sungguh belum siap...jangan paksa aku?"
ucap nana.
"aku tidak memaksamu...tapi kau yang memaksaku melakukan ini,"
ucap arif dengan egoisnya.
"apa maksudmu?"
tanya nana.
"ku lihat...kau begitu menikmati pelukan hangat henri...tapi kau menolakku dan bilang belum siap untuk ini?
apa itu pantas kau ucapkan?"
tanya arif.
"itu tidak seperti yang kau bayangkan mas...kau benar-benar salah paham..."
ucap nana dengan meronta dari bawah suaminya.
namun kedua tangan arif makin mencekal kedua pergelangan nana.
"kau menyakitiku..."
teriak lirih nana.
"kenapa?apa kau takut padaku?sedang kan pada laki-laki lain kau memberikan tubuhmu!"
ucap arif dengan nada marahnya,
"brengsek kau...menyingkir lah..."
ia terus menciumi leher jenjang istrinya,meski istrinya meronta,hingga meninggalkan beberapa bekas disana,
"tidak...tidak...mas jangan lakukan itu...aku mohon..."
ucap nana,
"sial..."
umpat arif seketika.
seketika itu pula arif menyudahi aksinya,
ia terduduk di tepian ranjang,menatap ke lantai bawah sambil kedua tangannya mengacak-acak rambut nya.
"kau kenapa sih mas?kau lupa besok hari pertamaku masuk kerja huh?"
ucap nana,
"apa jadinya jika mereka melihat bekas gigitanmu barusan?"
terang nana dengan menarik selimut di sampingnya untuk menutupi tubuhnya,
"kamu brengsek arif...laki-laki brengsek..."
arif mengumpati dirinya sendiri karena kebodohannya,karena terbakar cemburu.
"maaf kan aku na....aku tidak bermaksud demikian...aku lupa besok kamu masuk kerja..."
ucap maaf arif.
"sudah lah mas...percuma juga minta maaf...sudah terlanjur juga,"
ucap nana.lalu ia beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi,meninggalkan arif yang masih terdudu disana.
di dalam kamar mandi nana meneliti area leher sampai dadanya,
ia melihat bekas-bekas itu dua di leher dan dua di atas dada nya.
"sial,"
gumamnya.
"semoga bekas ini besok pagi sudah hilang,"
desahnya.
__ADS_1
arif menyambar kemejanya hanya memakainya tanpa mengancingkannya,
ia menyandarkan tubuhnya di atas pembatas ranjang.
ia memainkan ponselnya disana saat nana keluar dari dalam kamar mandi dengan berbalut selimut tebalnya.
ia berjalan mendekat ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping arif.
"kau bohongkan...kalau kau tidak pernah punya pacar,"
tanya nana tiba-tiba.
lalu arif seketika melirik ke arahnya,
"kau tidak percaya padaku?aku tidak pernah berbohong dari kecil..."
ucap arif jujur.
"lalu kau belajar dari mana soal beginian?"
tanya nana sambil menunjuk bekas yang di tinggalkan bibir arif itu,
"itu.....itu...rahasialah...kenapa aku harus mengatakannya padamu?"
kata arif sambil melihat ponselnya lagi.
"baiklah...kalau kau tidak ingin bilang...tubuhku kupastikan tidak akan lagi kubiarkan jadi bahan percobaanmu oke,"
kata nana dengan tegas lalu memunggungi arif seketika.
"sejujurnya itu sedikit..."
ucapa arif belum sempurna.
"sudah lupakan jika kau tidak ingin bicara,"
ucap nana dengan seketika,mungkin saat ini...hatinya mulai kacau...atau mungkin sudah tumbuh sedikit perasaan cemburu disana,
nana mengira arif belajar dari para kekasihnya.
sembilan tahun adalah waktu yang sangat lama untuk laki-laki yang sudah matang...tidak mungkin ia tidak ingin melakukan pelepasan.
"oke sudah lah nana...urus urusanmu sendiri dan tidurlah..."
ucap nana dalam hati untuk menenagkan hatinya.
"sejujurnya...aku melihat iku dari koleksi video biru,"
ucap arif jujur,
"apa!kau menyimpan bahkan mengoleksinya?"
ucap nana dengan kagetnya.
"aku berkata jujur...aku punya akses untuk melihat video seperti itu semauku...jadi tidak perlu mendownload atau menyimpannya...ponsel dan komputerku laptop semua aman,"
ucap jujur arif.
"kau tidak malu mengatakannya padaku?"
ucap nana dengan canggung nya.
"kenapa aku harus malu?semua laki-laki pasti lah pernah melihat bahkan menyimpannya,dan lagi kau istriku...
tidak mungkin kau membocorkannya pada yang lain kan tentang ini?"
ucap arif menyelidik.
"enak saja...aku benar tidak bisa bercerita pada yang lain...tapi aku akan menceritakan pada ayah dan bunda,"
ancam nana dengan senyum devil nya.
seketika arif melempar asal ponselnya,berbalik mencengkeram kedua tangan nana dan menekannya ke tempat tidur,
"kau berani?"
tanya arif yang sudah berada di atas nya itu.
nana hanya menelan ludahnya dan sedikit khawatir disana,
"kenapa aku harus takut?"
balas balik nana.
"ini yang membentuk grup nya om candra...saudara nya ayah...ayah pun punya akses untuk melihatnya...apa kau masih ingin mengatakannya pada ayah sayang?"
ucap arif yang benar-banar membuat nana ingin berteriak...
"tuhan...kenapa selalu aku yang kalah?kenapa selalu aku yang di pojokkan oleh setan ini tuhaan...?"
teriak hati nana dengan bibir yang di tekuk ke dalam.
lalu arif yang melihat tingkah konyol nana itu pun ingin sekali tertawa,
"kau sudah kalah...menyerahlah..."
ucap arif seketika.
lalu...cup kecupan arif mendarat di bibir nana.
__ADS_1
"istirahatlah...selamat malam...ingat...jadilah baik...jangan mencoba melawanku,"
ucap arif lagi.