
pagi itu di meja makan...betapa riang nya hati bunda ayah serta nana,mungjin arif pun sama.
sejenak arif pun tertegun saat ia dapati bundanya tertawa lepas...ayah nya tersenyum seperti sepuluh tahun lampau dimana ayah nya jarang menampilkan senyumannya yang ternyata sangat arif nantikan,dan di tambah lagi istrinya yang membuat suasana menjadi se menyenangkan seperti ini,keluarga....ya...keluarga yang arif kira benar benar sudah kembali lagi seperti dulu ketika rama masih sehat dan berkumpul bersama. sejak rama menderita awal sakit...jangan kan tawa...senyum pun tak ada...semua orang khawatir...was was...dan cemas...takut sesuatu terjadi...dan sesuatu itu nggak di inginkan oleh semua anggota keluarga yang lain lagi.
"syukurlah...rama kini engkau hidup di hati nana di hati kami dan membangkitkan keceriaan ini lagi dengan adanya nana disini dan menyadarkan kami akan perlunya hidup bahagia dan lebih baik lagi.
hingga tanpa sadar air matanya hampir menetes namun cepat cepat ia tepis ia usap dengan jari telunjuknya.
dan bundanya pun tertegun sejenak menikmati setiap lebahagoaan kecil yang timbul dan baru mereka rasakan setelah sekian lama tenggelam dan bahkan hampir siena.
matanya menatap ke arah arif, puteranya yang dulu dingin...yang dulu sangat cuek pada orang di sekitar nya,yang dahulu jarang sekali menampilkan senyumnya apa lagi tawanya, kini malah membuat orang tersenyum karenanya...membuat orang tertawa karena ulahnya,dan tidak pernah marah atau pun kesal pada orang lain.
bunda diam diam pun sangat bersyukur akan perubahan dari puteranya itu,sungguh hal langka dan luar biasa buatnya bisa melihat lagi senyum ceria arif dan juga tawa ramah nya pada semua orang, tidak marah lagi saat ada yang mengatainya...bunda sudah mengira itu adalah karena menantu bunda...bunda sangat yakin padanya sedang pandangan pertama...gadis itu pasti bisa merubah arif kelak...dan ternyata terbukti sudah memang benar adanya,
"terimakasih sayang nya bunda...terima kasih nana untuk semua...kau telah mengembalikan arif kami seperti semula...kau mampu mengubahnya...kau hanya kau yang mampu menantuku...terima kasih sayang...bunda berhutang banyak padamu yang tidak ternilai harganya...tapi sekarang bunda malah menginginkan cucu darimu...perpaduan arif dan nana...bunda ingin cucu bunda...serakah kah bunda sayang...maaf jika memang begitu kenyataan nya..."ucap bunda dalam hatinya dan dengan perasaan senang, hingga bunda enggan menyudahi acara sarapan bersama pagi itu.
__ADS_1
namun terlihat piring menantu dan puterinya itu kosong dan sudah bersih,makanan yang tadi ada disana kini sudah habis tak bersisa, tinggal lah senyum yang terpancar dari keduanya.
"bunda...ayah...beneran ya...nanti malam luangkan waktu...kita makan bersama dan jalan jalan bersama ya ayah bunda..."ucap arif saat ia sudah membereskan sarapannya.dan terlihat nana pun sama sudah selesai pula.
"iya nak...nanti pasti kita luangkan waktu untuk jalan jalan ke taman dan makan malam bersama ya sayang...ayah juga ikut ya yah...jarang jarang moment seperti ini lo yah...nyesel lih kalau ayah nggak ikut sekaluan nanti..."
ucap bunda dengan nada berharapnya agar suaminya mau meluangkan waktunya untuk ikut serta dengan anak dan menantunya itu.
"tentu bunda...ayah pastikan ikut dong...ayah kan jarang jarang ngajak bunda keluar karena sibuk...baiklah...nanti sore berkumpul di rumah...mari kita pergi makan malam bersama..."ucap ayah yang langsung di setujui semua anggota keluarga.
"eh tapi kenapa bunda dari tadi nggak ngikut nimbrung masalah tanah sih bund?apa bunda nggak sreg atau nggak suka atau mungkin kurang cocok bund?nana nggak mau bunda nggak mau tapi kami malah melaksanakannya..."ucap nana sebelum ia beranjak dari duduknya, dan baru menyadari bahwa bundanya itu ternyata dari tadi diam saja...dan tidak ikut nimbrung bersama sama saat membahas tanah tersebut.
"aaah...bunda ma nurut aja sayang...bunda nanti yang nyumbangin perabotannya ya sayang...ayah yang belikan tanah nya...bunda nggak mau kalah dong sama ayah kalian...makanya bunda diem aja...bunda hanya memantau nya saja..."ucap bunda dengan senyum senang nya...dan tawa terkekeh bangga pada puteranya yang sudah akan membangun sendiri rumah tangganya dan suatu ke banggaan tersendiri lagi untuknya jika ia akan memiliki cucu dari puteranya dan juka menantunya itu.
hingga ia terdiam karena otaknya sudah merancang perabot apa yang akan ia isi di dalam kamar bayi di rumah menantu dan juga puteranya itu.
__ADS_1
"ouh...syukurlah bunda...nana sangat senang...nana lega...makasih ya bunda...la nana terua nyumbang apa bund kalau semua sudah ada dan tersaji bund?"
tanya nana dengan bodohnya,dan ia tidak menyadari apa yang suami dan juga kedua mertuanya itu.
"tentulah boneka hudup dong sayang...jika tuhan menghendakinya...semoga di segerakan ya sayang...agar bunda nggak kesepian...bunda juga ingin sekali menggandeng cucu bunda berjalan jalan ke taman...ke jalanan komplek sekitar...dan mengajak cucu bunda bermain sepuasnya..."ucap bunda dengan bersungguh sungguh...dan ia sudah membayangkannya terlalu jauh jauh dan lebih jauh lagi.
"aaah....baiklah bunda doa bunda dan ayah selalu kami harapkan...nantikan...makasih bunda...sekarang arif mau ngajak nana pergi kerja dulu ya bund...ayah..."ucap arif sambil menggandeng tangan istrinya agar berdiri dari duduknya dan bergandengan menuju ke arah pintu setelah keduanya berpamitan pada ayah dan bundanya.
"iya sayang...kalian hati hati ya sayang...jangn sore sore pulangnya...ingat kencan kita ya nak..."ucap bunda yang mengingatkan keduanya saking bahagia nya bercampur haru disana. setelah apa yang terjadi di hati bundanya benar benar begitu was was dan getir di hatinya takut rumah tangga putera nya yang sudah berpisah cukup lama hingga bertahun tahun itu akan kandas begitu saja karena ke egoisan puteranya.dan juga karena menantunya sudah lebih dari mampu meski tidak bersama puteranya, membuatnya sempat frustasi di buat nya.
"ayah..." rengek bunda dengan berhambur ke pelukan suaminya,dan suaminya pun menyambut pelukan iatrinya itu dengan pelukan yang sama.
"ayah...bunda sangat bersyukur...keluarga kita kembali lagi yah...kembali seperti dulu lagi ayah...bubda sangat senang ayah...hingga tidak mampu mengungkapkan nya dengan kata kata lagi ayah...cubit bunda yah...benarkah ii hanya mimpi bunda saja ayah?bunda ingin sekali berteriak jika ini nyata...bunda masih tidak percaya ayah...sungguh..."
ucap bunda dengan nerocosnya dan sedikit isakan di dada suaminya,dan ayah hanya membalasnya dengan pelukan yang begitu erat nya menenangkan di hati bunda dan juga ayah.
__ADS_1