CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
mulai melunak


__ADS_3

namun arif memberanikan diri...kini ia seorang laki-laki yang matang dan harusnya...nana kini pun sudah menjadi wanita yang dewasa.


arif mulai membuka pintu kamar nya,ia terkejut melihat ranjangnya yang tadi terhampar pemandangan kini kosong.


"pasti...tadi halusinasi saja bukan?"


tanya nya dalam hati.


lalu ia dengan pelan menaruh tas kerjanya ke tempat semula,melempar jas kerjanya ke atas sofa kamar,membuka dasinya beserta kedua kancing pergelangan tangannya.


di depan pintu kamar mandi.


saat ia akan melepas kemejanya,


"astaga!!"


arif begitu terkejutnya saat pintu kamar mandi di buka dari dalam.


dan yang ia kenal dengan sebutan miss na itu keluar dari dalam kamar mandinya.


"apa yang sedang kamu lakukan di sini miss na?"


tanya arif ingin tahu.


"jelas aku dari kamar mandi mas...masih juga tanya,"


terang nana


"aku tahu kamu dari dalam kamar mandi..,maksud aku...apa kamu mungkin salah masuk kamar ini?"


tanya arif yang memang benar-benar belum sadar.


"lalu...aku harus masuk kamar mana mas?"


tanya nana sambil menghadap ke tepat depan arif berdiri.


"kamu bisa tanya bunda...kamu mau kamar yang mana?"


ucap balik arif.


"oke...aku akan libatkan bunda dalam masalah rumah tangga kita ini,aku harus nya tahu...sembilan tahun ini kamu tidak mungkin bisa berubah...aku kira demi kedua orang tua yang sudah berkorban itu...kamu bisa sedikit tersentuh,namun aku salah mas...kamu bukan orang berhati lunak,"


kata nana dengan mata berkaca-kaca dan air mata menggenang di pelupuk matanya dan hampir meleleh.


ia bergegas menuju pintu keluar kamar,


namun...


saat nana sudah berhasil membuka pintu kamar itu dan akan melangkah keluar,


dengan cepat tangan arif menghadangnya,


"brak..."


suara pintu yang di paksa tertutup oleh tangan arif.


kini kedu tangan kekar itu mengurung nana yang menyandar di tembok.


dengan lekat mata laki-laki di depannya itu menatap sejurus ke arahnya,mengamatinya,namun nana memalingkan wajahnya menghadap ke arah lain.


ia enggan menatap mata laki-laki tampan di depannya itu.


hingga tanpa sadar,tangan kanan arif terangkat dan telapak tangannya dengan lembut meraih menyentuh wajah cantik di depannya itu.


menyusup semakin dalam hingga menembus belakan telinganya,


dan ibu jarinya mengusap pipi lembut dan mulus milik wanita cantik itu,


nana hanya membiarkannya saja,


dengan hati yang serasa akan meletup...karena ini baru pertama kalinya...wajah nya di jamah jemari sesrorang dengan lembutnya,dan rasanya tidak sama seperti saat ia menyentuhnya sendiri.

__ADS_1


terdapat debar di sana...desiran di aliran darahnya.


hingga tanpa sadar....arif mendekatkan wajahnya dan membimbing wajah yang ada di tangannya itu,


mendekat...dan saat bibir arif akan menyentuh bibir merah ceri itu,nana tersadar dan melengos menarik jemari tangan yang membimbing wajahnya tadi.


seketika nana ingin segera keluar...jantungnya sudah hampir meledak...ia tidak akan sanggup menyimpan lebih lama lagi jika hanya berduaan denga laki-laki tampan itu.


namun dengan cepat tangan yang di tepis nana itu pun menarik lengan nana hingga berhenti.


"maaf kan aku...aku tidak menyadari itu kamu na...aku kira...kamu bukan istriku...aku tidak mengenalimu setelah sembilan tahun ini,"


ucap maaf arif yang terdengar sangat tulus.


namun nana masih terdiam...bukan karena ia tidak ingin memaafkan...tapi karena irama jantungnya yang berdetak makin menjadi.


"apa kamu mau memaafkan sikap kasarku barusan?"


kata arif dengan nada melembutnya.


lalu nana pun berbalik menatap arif.


"apa jika aku memaafkanmu...kamu akan mau berbagi kamar dan ranjangmu denganku?"


kata nana tiba-tiba yang membuat arif tersipu seperti anak gadis sedang di ajak pacaran.


"iya...kita akan berbagi kamar dan ranjang,"


ucap arif seketika.


"jadi...aku tidak harus minta bunda menyiapkan satu kamar lagi untuk ku kan mas?"


tanya nana.


"iya...sudah tidak perlu...baiklah...aku gerah...aku mandi dulu sekarang,"


ucap arif yang lalu masuk ke dalam kamar mandi.


guman nana tiba-tiba.


arif berdiri terpaku di balik pintu kamar mandi,


tangannya mengepal terbalik di keningnya,


menekan nekannya di sana.


"bodah...kamu tidak tahu itu nana?mata kamu buta apa...kamu hampir membuat masalah besar arif...otak kamu pindah di dengkul (lutut) apa!"


gumam arif dari tadi.


"bodoh nya lagi...kamu hampir lupa diri...kamu hampir menciumnya....akal sehat mu kemana arif...dua belas tahun...kamu sanggup menahan wanita-wanita cantik itu...dan memantapkan cintamu hanya untuk almarhum kekasihmu...namun hanya sekejap mata kamu ingin mengingkarinya...bodoh...kamu rif...bodoh,"


umpatnya berkali-kali.


lalu terdengar air guyuran yang berjatuhan.


setelah selesai mandi,arif pun keluar dari dalam kamar mandi,dengan tubuh yang sudah fresh...dengan handuk yang masih mengalung di lehernya,


matanya langsung menatap...sosok cantik yang menyandarkan dagunya di atas lutut yang di tekuk ke atas,dan kaki satunya menyilang ke dalam.


rupanya nana sedang memangkas kuku-kuku jari kakinya.


karena ia belum sempat pergi ke salon kecantikan.


tanpa sadar mata arif menatap lekat ke arah pemandangan yang tersaji di depannya itu.


"huuufffh..."


desahnya menahan godaan.


ia selalu melihat bagian tubuh pasiennya dari bawah dada sampai atas kewanitaan,bahkan dia juga sering memasangkan alat kontrasepsi dan melakukan operasi di sekitar kewanitaan.namun...baru kali ini ia melihat paha istrinya saja sudah membuatnya menelan ludah dan aliran darahnya berdesir,

__ADS_1


"sial,"


gumamnya seketika.


"kamu sudah selesai mas?"


tanya nana karena melihat dengus kesal arif sekilas.


"iya...sudah...kamu mau pakai kamar mandinya?"


tanya arif seketika.


"tidak...tapi aku mau minta antar bisa tidak ya mas?"


tanya nana yang teringat akan terakhir kali saat ia di antar arif ke tempat kerjanya yang dulu.


ke pabrik sarung tangan tepatnya.


ada insident sampai di panggul arif segala.


"kamu mau di antar kemana?"


tanya arif seketika.


"beneran mau?tanpa insident panggul-panggulan kan jika mau?"tanya nana tiba-tiba.


"iya...mau di antar kemana sih memangnya?"


tanya arif lagi.


"reunian teman-teman yang satu universitas di luar negeri...yang tinggal satu kota mas,"


kata nana.


"dimana?"


tanya arif ingin tahu.


"di cafe taman mas...aku kan baru sampai...tidak tahu dimana tempatnya itu...makanya ngajak kamu mas,"


ucap nana.


"ouh...disana...memangnya ada berapa teman kamu yang se angkatan di kota ini?"


tanya arif lagi.


"ada tiga mas...dua cewek dan satu cowok nya,dan mereka bilang pada bawa pasangannya...nggak banget kan...aku tidak bawa gandengan...toh aslinya aku sudah bersuami...masak ia suamiku mau aku umpetin?"


canda jujur nana pada arif.


"ya...ya...baiklah...akan aku antar nanti...tapi tidak ada mabuk-mabukannya kan?"


tanya arif lagi.


"kalau aku sih tidak...aku tidak pernah seperti itu...tapi tidak tahu kalau mereka,"


ucap nana.


"iya sudah...aku mandi dulu,"


ucap nana sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


sedang kan arif berganti pakaian yang casual seperti anak muda pada umumnya.


karena memeang arif sudah tidak muda lagi,namun wajahnya masih seperti berumur dua puluh lima tahun.padahal kini ia sudah berumur tiga puluh empat tahun,"


arif keluar dari kamar terlebih dahulu...ia menunggu nana di ruang keluarga.


"sayang kok sudah rapi saja?"


tanya bunda yang melihat puteranya dengan baju kemeja lengan pendek putih bersih dengan garis hitam kehijauan di dadanya yang sebelah kanan dan di lengan pendek kanannya.celana panjang hitam yang kekinian,

__ADS_1


sepatu berwarna putih bersih dan tidak lupa jam tangan yang ia suka.


__ADS_2