CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
aroma lemon segar


__ADS_3

tiba-tiba ponsel nana berbunyi,


seketika ia meraih ponselnya lalu menatap layar ponselnya tersebut,


"henri,"


"halo henri....ada apa?"


tanya nana,


"besok jadi minta antar le salon tidak?"


tanya henri dari seberang telephone.


"jadi dong...ketemu di luar saja kali ya..."


sahut nana.


"baiklah sampai ketemu besok..."


ucap nana lagi sambil mematikan telephone nya.


tanpa sadar...arif sedari tadi sudah mendengar pembicaraan nana dengan seseorang di telephone tadi.


namun arif tidak tahu...siapa yang di ajak nana bicara di telephone tadi.


arif setelah mandi dan sudah berganti dengan pakaian tidurnya itu pun langsung merangkak naik dan merebahkan tubuhnya di samping nana yang masih sibuk dengan laptopnya.


tanpa sadar nana pun melirik arif yang sudah rebahan itu.


"eeeeh....mas arif...bangun-bangun...masih basah tahu..."


teriak nana dengan menarik satu tangan arif agar ia terduduk.


"ada apa lagi sih na...kamu mau apa?"


tanya arif yang keheran-heranan.


"tunggu jangan tidur dulu..."


kata nana saat arif sudah terduduk.


dengan cepat nana berlari menuju kamar mandi dan mengambil handuk yang masih tergulung di laci atas di dalam kamar mandi.


kemudian ia menuju ranjang tempat arif sekarang.


nana membuka handuknya lalu meraih kepala arif dan langsung menggosok-gosokkannya ke rambut basah arif.


arif hanya terdiam merasakan gosokan yang seperti pijatan kasar di kepalanya itu.


sambil menggosok rambut arif,


"apa kamu kebiasaan tidak langsung mengeringkan rambut saat akan tidur?ya bisa basah lah bantalnya.. gimana sih mas!"


gerutu nana di sela gosokannya.


lalu arif pun mendongak menatap ke arah nana,


"maaf...aku tadi lupa..."


ucap arif seketika.


tanpa terasa tatapan keduanya bertemu,entah kenapa arif suka berlama-lama menatap manik mata milik nana,


"deg...deg...deg..."


suara jantung nana tidak beraturan seperti habis lari maraton.


"ini...kamu gosok sendiri,"


ucap nana sambil mengalihkan handuk ke tangan arif.

__ADS_1


dan dengan cepat ia berjalan menuju kamar mandi.


di dalam kamar mandi.


"kau berulah lagi hah..."


sambil memukul-mukul ringan dada nya.


"kenpa berbeda sekali..."


ucap nana dalam hatinya,henri sering juga membantu nana mengeringkan rambutnya,tapi perasaannya tidak seperti saat ini.


"jelas-jelas dia tidak peduli padamu...dia tidak akan pernah peduli...masih saja kau bersikap baik padanya,"


ucap nana lagi.


"kita hanya teman sekamar,tidak lebih,"


ucap nana untuk menegaskan sikapnya yang akan datang.


lalu ia mulai mengguyur badannya dengan air,


namun ia lupa membawa masuk sabun kesukaannya,di kamar mandi ia hanya melihat sabun,syampo dan facial wash untuk laki-laki semua.


nana menyembulkan kepalanya keluar pintu kamar mandi.


"mas...mas arif...tolong ambilkan peralatan mandiku di dalam koper,kopernya aku taruh di rak sepatu bagian paling atas pojok,"


ucap nana sedikit lebih keras.


"aku ngantuk na...ambil saja sendiri."


sahut arif sambil memiringkan tubuhnya memunggungi pintu kamar mandi di mana kepala nana menyembul itu.


"dasar brengsek...di mintai tolong begitu saja tidak mau..."


gerutu nana yang langsung memakai handuknya dengan melingkarkannya pada tubuh bagian atasnya sampai bawah se atas lututnya.


ia mencari kursi kecil yang tadi ia pakai sebagai pijakan,karena rak sepatu itu begitu tinggi dan tangannya hampir tidak bisa menjangkaunya.


"sial"


gumamnya.


"kemana sih pijakan itu?seingatku aku taruh disini...kok tidak ada sih..."


gerutu nana,


lalu ia sudah lelah mencari...nana hanya berjinjit-jinjit untuk meraih gagang kopernya,


karena tidak mungkin ia akan meloncat...situasi dan kondisi sedang tidak mendukung...handuk yang di pakainya bisa melorot atau terlepas.


"kenapa bisa sial sekali sih aku?"


gumam nana lagi.


arif yang tidak mendengar suara nana meminta bantuannya lagi itu pun lalu terbangun,


"apa dia sudah mendapatkan alat mandinya?"


gumam dalam hati arif.


lalu ia menoleh ke arah sosok seksi yang berisi di hadapannya itu sepertinya butuh bantuan.


arif pun kemudian bangun dari duduknya dan mendekat ke arah nana yang masih berjinjit-jinjit di hadapannya dengan leher sampai pundak mulusnya,serta paha sampai kaki jenjangnya yang begitu menarik perhatian arif seketika.


tanpa terasa ludahnya terkumpul lalu ia menelannya.


tepat di belakang nana dan sedikit menekannya,arif mencoba meraihkan koper milik nana tersebut.


dan betapa terkejutnya nana saat merasaakan tubuh tinggi itu menekannya dan tangannya melewati tangan nana menjangkau koper miliknya.

__ADS_1


seketika dengan refleksnya nana berbalik menghadap tubuh tinggi di belakangnya itu,dan tanpa sadar wajahnya hampir tertekan dada bidang laki-laki yang membantunya meraih koper,tanpa terasa tubuhnya menekan rak sepatu di belakangnya.


"dapat,"


suara arif saat tangannya sudah menyentuh gagang koper yang ia akan tarik.


dan mengambilnya,manyangganya pelan agar tidak menjatuhi kepala nana.kemudian meletakkannya di lantai.


sesaat wajahnya menatap air yang masih menetes di wajah nana dan turun ke leher sampai dada yang menggunung hingga hilang meresap ke dalam handuk.


lagi-lagi...pemandangan yang seperti ini tersaji.


lau tiba-tiba...


"brak,"


kepalan tangan kirinya menghantam rak sepatu di samping pundak nana.


sontak nana pun terkaget-kaget di buat nya.


"kau...cepat ambil alat mandimu dan pergilah ke kamar mandi sekarang,jangan menggodaku!"


ucap arif dengan suara bergetarnya dan berlalu menuju ranjang tempatnya semula,ia terduduk di tepian ranjang itu,kepalanya tertunduk,dan matanya mengamati lantai di bawah kakinya.


"sial...sial...sial..."


umpatnya lagi lagi dan lagi.


"aneh sekali kau,aku minta bantuan tadi tidak mau...sekarang kau sendiri yang membantuku malah kau yang marah...dikira aku yang menggodamu,kurang kerjaan banget aku sampai menggodamu,"


gerutu nana sambil membawa satu tas anti air berukuran sedang yang di dalamnya lengkap peralatan mandinya.


lalu ia pun masuk ke dalam kamar mandi lagi untuk menyelesaikan acara mandi nya,ia terbiasa sebelum tidur mandi terlebih dahulu.


di tepi ranjang.


"brengsek...apa aku akan menjilat ludahku sendiri?kenapa kini ia begitu menggoda,laki-laki mana yang tidak akan tertarik dengan hal semacam itu?aku laki-laki normal aku takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri,"


gumam arif sambil beranjak naik ke atas ranjang,merebahkan tubuhnya miring memunggungi ranjang bagian nana lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


bagi nana...arif hanyalah teman sekamarnya tidak lebih,karena nana tahu...ia tidak akan melabuhkan hatinya pada orang seperti arif itu.


nana keluar dari dalam kamar mandi,seketika menyeruak wangi lemon segar....yang memuat mata arif terbuka lebar,


bagi arif...itu adalah wangi baru yang menawan,tanpa terasa arif pun membalikkan badannya menuju ke sumber aroma,


dengan mata terpejamnya,arif mendekat mengendus ke arah nana seketika tanpa sadar.


lalu ia pun membuka matanya...dengan gelagapan ia melihat sepasang mata menatap lekat ke arahnya,


"kau mau apa mas?'


tanya nana seketika saat merasakan tubuh arif yang beringsut kian mendekat ke arahnya,


"wangimu segar na...aku ingin menciumnya terus,"


ucap arif tanpa sadar,


"kalau kau mau...pakai saja sabunku tidak apa-apa,"


ucap nana seketika tanpa mengartikan dalam pada perkataan arif.


"tidak jelas banget,dasar..."


gerutu nana sambil memalingkan tubuhnya memunggungi arif yang masih menatapnya.


lalu aruf pun menelentangkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


"kenapa...kenapa harus seperti ini...ini sudah sangat salah dari awal,"


ucap arif dari dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2