
nana mengakhiri perbincangannya dengan nisan almarhum Rama...dimana ia sudah pastikan akan menerima Arif selamanya.
Perlahan ia pun berdiri dari jongkoknya, Tatapannya menatap ke arah sekitar dimana semua sudah kembali normal seperti semula,hampir satu jam lebih ia disana, Kedinginan dan sangat mencekam ia rasakan.
"akh...apakah mas Arif sekarang ada di dalam mobil? Apakah dia menungguiku selama ini?
Apakah mas arif sedang marah padaku?sudah cukup lama aku disini,aaakh...perutku...sakit...masih nyeri..."
ucap nana dalam hatinya sambil mencoba berdiri dan kedua tangan menekan perutnya.
"astaga...aku kenapa sampai seperti ini...akh...mas arif...kamu dimana mas?"ucap nana lagi dengan langkah cepat menuju ke arah mobil suaminya yang terparkir di tempat parkir yang tidak jauh dari area pemakaman,
nana dari jauh sudah memencet tombol kunci mobilnya,
langkahnya sedikit berlari hingga ke mobil arif,
cepat cepat ia membuka pintu mobilnya,dari depan...setelah ia tidak menemukan suaminya,ia beralih ke belakang...membuka pintu belakangnya,namun sama. Ia tidak dapati arif disana.
"maaas kamu dimana sekarang? Aku kura mas disini tadi...tapi nyatanya dimana mas?? Oooh....bodohnya aku...mana mungkin mas arif sudi menemaniku yang terlihat menyedihkan seperti ini...aakh...baiklah aku pulang..."ucap gerutu nana sambil membanting pintu belakang mobilnya.
lalu ia pun masuk kedalam ke belakang kemudi, Ia mengemudikan mobil suaminya menuju jalan besar, Jalan utama yang tergenang banyak air dimana mana,mobil yang dikemudikan Nana memecah jalanan menembus sedikit kemacetan ulah genangan air hujan.
"Mas...apa kau marah??mas dimana?" Dengus nana sambil meraih ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya,
namun sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi dan arif tidak mengangkatnya,
"maaas jangan bercanda aku mohon...jika kau tidak suka aku ke makam rama...pasti akan aku lakukan...tapi nggak kayak gini mas...kekanakan..."ucapnya lagi dengan pandangan yang terus menatap ke arah jalan di depan nya. Matanya fokus menatap ke depan dengan sangat tajam nya, Karena mobil mobil yang berdesakan di kemacetan membuat nana harus lebih teliti dan waspada pada kendaraan yang ia kemudikan.
"mungkin aku harus menelephone rumah...mungkin mas arif sekarang ada di rumah dan sedang menunggu kedatanganku bukan?" Ucap nana lagi sambil jemarinya menekan nomor rumah bundanya dan benar saja telephone nya terangkat.
"Halo...bibi...mas arif udah pulang ke rumah belum bi?"
Tanya nana sambil melekatkan ponselnya pada tempat telephone yang ada di depannya.
"non...tuan muda belum pulang non...apa perlu saya sampaikan ke nyonya?" Tanya balik bibi yang merasa mungkin telephone nona mudanya itu penting.
"ouh...nggak usah bi...saya sudah perjalanan pulang kok...kalau begitu...makasih ya..." Ucapnya sambil mematikan telephonenya.
"maaas...kamu kemana sih...?"ucap nya berkali kali dengan perasaan bersalahnya.
"harusnya tadi aku menghentikanmu mas...harusnya aku tadi mencegahmu pergi...harusnya aku mengikutimu mas...maaf...pantaslah kamu marah padaku seperti ini..
namun jika kau tidak memberi kabar seperti ini...ini namanya sudah kelewatan mas...aku khawatir...aku sungguh khawatir..." Ucap nana lagi lagi lagi dan lagi.
"ddddrrrt....ddddrrrttt...."ponsel nana berbunyi, Langsung saja nana mengangkatnya, Ia berharap itu adalah suaminya.
"Halo maaas...kamu ada dimana?kamu kemana maaas??kenapa nggak kasih aku kabar mas??" Ucap nana dengan nerocosnya dan tiada hentinya
__ADS_1
"Hei...ini aku na...kamu lupa sama aku?" Ucap Henri dengan nada bahagianya. Karena ia tahu sepertinya nana dan arif sedang dalam masalah percintaan, Dan itu adalah waktu yang tepat untuknya ikut masuk mengisi ruangan yang sudah retak, Bahkan ia berniat menghancurkannya.
"Aaah...kau hen...aku kira mas arif tadi...maaf aku nggak tahu hen...ada apa?" Tanya nana pada Hendri, Dan Henri pun menyahut dengan cepatnya pertanyaan dari nana tersebut.
sudah sekian lama ini henri tanpa kabar karena sibuk mengurus kepindahannya ke negara asalnya ini dari luar negeri.
"emb...nana...begitu ya rupanya...kau ini...sudah lama kita tidak saling menghubungi...tapi saat aku menghubungimu kau sepertinya tidak suka ya...?" Tanya Henri dengan nada sedikit menggodanya.
"Nggak Hen...bukan begitu...aku sekarang sedang mencari suamiku...dan aku...tidak menemukannya dimana mana..bisakah kita bicara nanti saja hen?aku sedang mengemudi saat ini..." Ucap nana yang hampir mematikan panggilannya.
"eeeeeh...tunggu na...aku akan ikut membantumu mencari suamimu...gimana? Apa kau setuju? Aku kira itu hal yang patut kau setujui nana..." Ucap henri yang membuat nana menjadi berpikir pikir.
"Nggak nana...suamimu tidak menyukai henri...kamu harus menolaknya..." Ucap dalam hati nana.
"Akh...sepertinya...aku sudah tahu dimana mas arif berada hen...sudah dulu ya...aku kesana dulu byeee...henri..."
Ucap nana sambil mematika panggilannya.
"Aakh...pasti nanti akan jadi perang kedua setelah perang dunia jika mas arif tahu henri bersamaku." Ucap nana dalam hatinya lagi.
"apa aku ke kantornya saja ya...mungkin mas arif kembali ke kantornya...meski bajunya basah kuyup...dia kan ada pakaian ganti di kantor...oke lah...aku kesana saja."
Ucap nana sambil mengarahkan mobilnya menuju ke jalan yang akan ke arah rumah sakit tempat suaminya bekerja, Juga tempatnya bekerja pula.
sampai disana...nana tidak langsung masuk kedalam, Ia hanya menunggui di parkiran mobil saja, Dimana dia sudah memanggil asistennya untuk mengecek apakah suaminya ada di ruang kerjanya saat ini.
"Ah...dokter na...sepertinya...saya tidak melihat dokter arif di ruangannya dok...dan saya tanyakan pada asistennya katanya sudah dari pukul dua tadi dokter arif pergi meninggalkan rumah sakit...hingga kini belum kembali dok katanya...apa saya perlu menungguinya dok? atau ada yang bisa saya kerjakan?" Tanya asisten nana setelah ia menerangkan panjang lebar.
"Nggak perlu...yasudah...terimakasih ya...saya mau pulang dulu...saya mau istirahat..." Ucap nana pada pasiennya dan lagi...ia merasa sangat gelisah di hatinya...arif tidak memberinya kabar sama sekali, Padahal ini sudah sore dan hampir petang...namun tidak kunjung ada kabar sekalipun.
nana masih duduk terdiam di jok mobilnya,ia bisa melihat asistennya pergi menjauh hingga tidak terlihat olehnya.
namun ia masih setia terbengong melamun disana, Menunggu kabar sang suami, Karena dari tadi tidak ada kabar darinya, dimana...ia merasa gelisah...ia takut jika ia pulang sekarang...apa yang harus ia katakan pada bunda dan ayah saat mereka tanya suaminya kemana...dan saat mereka tahu nana tidak pulang bersama dengan arif.
"aku harus nyari kamu kemana lagi mas??" Ucap nana sambil menyandarkan kepalanya ke belakang bersandar dengan jok belakang yang ia duduki, Wajahnya menengadah menatap langit langit atas mobilnya.
Ia menunggu keajaiban,dan ia pun sedang dilanda rasa bersalah,hingga ketakutan...cemas...sudah pasti...dan ia benar benar menyesali perbuatannya.
sayup sayup mata Arif terbuka, Ia menatap ke arah sekeliling dimana ia dapati semua serba putih...kini ia di dalam ruangan, Tangannya terdapat selang infus yang sedikit nyeri ia rasakan, Tubuhnya berkeringat meski ac menyala di tempat tersebut.
"Astaga...kenapa denganku ini? Aku di mana sekarang?
aakh...kepalaku sakit...sangat sakit..." Ucap arif sambil membuka matanya lebar lebar, Kini matanya terbuka sepenuhnya, Menatap sekeliling yang asing dan entah ia dimana saat ini ia tidak tahu.
"astaga...ini sudah petang...pasti nana mencariku...akh...ponselku...dimana ponselku..." Ucapnya dalam hati sambil tangannya mulai meraba raba di kanan kirinya.dimana di sana tidak ada ponselnya,
Arif menarik paksa selang isfus yang masih terpasang di tangannya, Lalu ia pun menekan bekasnya dengan turun dari ranjang, Ia melangkahkan kakinya dengan gontai menunu ke luar kamar rawat nya.
__ADS_1
"bruk..." Tubuhnya menubruk tembok jalannya sedikit sempogongan, Dengan lengan yang menyeret di tembok.
"oduh tuan...anda tidak bisa seperti ini...anda belum pulih benar...anda harus kembali ke ruangan anda tuan..." Ucap perawat yang sedang berjaga dan tepat sekali Arif melintas di depan ruangan perawat.
"Ah sus...ponsel saya mana?" Ucap arif yang pertama ia lontarkan setelah siuman.
"Ah...ponsel anda sedang habis batreinya tuan..saya sedang mengisinya." Ucap perawat itu lalu mencoba memapah Arif menuju kamar inapnya lagi.
"sus...bisakah saya pinjam ponsel atau telephone sebentar? Saya akan mengabari istri saya agar ia tidak khawatir sus...saya disini semua orang rumah belum tahu soalnya."
Ucap arif dengan wajah memelasnya.
"baik tuan...ini ponsel saya..." Ucap suster sambil menyerahkan ponselnya pada Arif, namun..
arif tidak hafal nomor telepone istrinya, Lalu ia pun memutuskan untuk menelephone rumahnya,
"halo bibi...tolong bibi kasi kabar istri saya...kalau saya sedang di rumah sakit Harapan...jadi...minta tolong supaya dia nemani saya kesini ya bi..." Ucap Pesan Arif pada bibi asisten rumah tangganya.
Pukul enam petang waktu setempat...saat nana memarkirkan mobil di garasi mobil rumah keluaraga ayah mertuanya,
Dengan langkah gontai ia berjalan meninggalkan garasi mobil dan masuk melalui pintu kecil yang langsung tembus ke dalam rumah.
"non...tunggu...tadi tuan muda berpesan...bahwa...tuan sekarang sedang berada di rumah sakit harapan non...dan tuan meminta...non untuk kesana menemaninya..."
Ucap bibi nerocos...namun nana tidak mempedulikannya, Ia langsung bergegas pergi ketika mendengar nama rumah sakit yang di tempati suaminya untuk berobat.
Langkah kakinya makin cepat menuju mobil yang baru saja ia parkirkan. Ia kemudian menancap mobilnya keluar dari dalam garasi, mengendarainya menuju rumah sakit yang bibi nya baru sebutkan tadi. Untungnya...ia sudah tahu dimana alamat rumah sakit tersebut, Jadi...nana pun langsung menuju ke rumah sakit tersebut.
sesampainya nana disana, Ia langsung berlari menuju bagian informasi rumah sakit, Setelah ia mendapatkan nomor kamar dan ruangan yang dimana suaminya di rawat disana.
"hosss....hoooos...."suara nafas nana yang sedikit ngos ngosan membuatnya harus berhenti sejenak di depan pintu ruang rawat inap. Barulah setelah ia merasa nafasnya normal kembali...ia bergegas masuk kedalam.
"maaas..." Teriaknya seketika saat ia dapati suaminya berbaring tanpa membuka matanya, air matanya menetes tak tertahankan. jemarinya menekan nekan wajah yang sedikit pucat lalu terduduk di sampingnya, Dikursi tunggu yang tersedia di samping tempat tidur pasien.
"mas....aku tahu semua ini terjadi karena salahku...aku tahu harusnya aku pamit saat akan ke makam mas rama...aku tahu kamu pasti sedih dan kecewa...tapi aku malah tidak memikirkan perasaanmu...aku malah membuatmu kedinginan dan sampai di rawat disini...itu pun aku tidak tahu...bibi yang memberitahuku...aku ini istri macam apa sih mas...aku benar benar nggak berguna...maaf maaas..."
Ucap nana dengan isakannya, Jemarinya terlalu kuat menggenggam jemari suaminya, Hingga nana mendongak dari wajah yang tadi ia tundukkan, Ketika ia mendengan tawa cengengesan dari bibir suaminya.
"sayang...kamu ini ngomong apa sih? Kamu kenapa nyalahin diri sendiri? Padahal aku yang bandel kan nekat hujan hujanan, Padahal aku tahu aku nggak betah hawa dingin...aaakh...sayangku...sini...maafkan suamimu ini ya sayang...nih lihat...udah dua kali coblosan infus di tangnku sayang...di kanan kiri...akh...baru kali ini aku di infus..
sakit ternyata rasanya..."ucap arif yang mencoba menghibur istrinya.
nana langsung berhambur menekan dan memeluk suaminya yang ada di pembaringan,pelukannya erat hingga arif terasa sesak merasakannya.
"mas tahu...aku sangat khawatir mas...mas...aku lega sekarang mas...mas nggak kenapa napa...dan aku belum memberi tahu bunda kalau mas di rawat disini mas..."
ucap nana lalu menyudahi pelukannya, namun arif malah menarik lengannya dan membuatnya menubruk ke dadanya lagi. Sesaat pandangan keduanya bertemu dan sedetik kemudian saling berciuman hingga pagutan pagutan yang tak bisa keduanya sudahi.
__ADS_1