CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
hampir gila karena cinta


__ADS_3

sampai pukul satu siang nana menunggui suaminya untuk pulang,namun...arif juga tidak kunjung datang,lalu ia pun memutuskan untuk menelephone bunda farida untuk memberi kabar bahwa ia akan ikut serta posko menolong korban bencana.


nana seketika beranjak berjalan mendekat ke arah telephone rumah yang ada di meja kamarnya.


"tuuuuut.....tuuuut....tuuuuutt...."masih tidak ada sahutan,


hingga sampai lima kali nana mencoba menghubungi nomor ponsel bundanya yang sedang keluar dengan ayah mertuanya,


"bunda...kemana sih...kok nggak di angkat bund...?"keluh nana di sela sela dengusan rasa sedih,karena ia sudah sanggup akan pergi ikut posko sore ini,namun tidak ada orang yang bisa ia pamiti,tidak juga suaminya.yang mana nana memang belum hapal nomor ponsel suaminya.


nana memutuskan untuk membuat surat,ia mengambil secarik kertas dari tengah tengah buku yang ia sobek,buku dari laci meja kamarnya,ia menulis di kertas tersebut bahwa dalam beberapa hari ke depan ia akan ikut posko ke rempat korban yang terkena bencana alam banjir bandang,


lalu ia pun meletakkan surat itu di meja samping tempat tidurnya,ia menindih kertas itu dengan pulpen yang baru ia gunakan untuk menulis,setelahnya ia pun menyeret koper nya keluar dari dalam kamar,


sampai langkah nya terhenti ketika ia melihat asisten rumah tanga di dapur sedang mengerjakan pekerjaannya.


"bi...bisa minta tolong?"tanya nana pada asisten rumah tangganya itu.


"silahkan non...ada yang bisa bibi bantu?"tanya asisten rumah tangga pada nana dengan sedikit membungkuk dan berjalan mendekat ke arah nana.


"bi...tolong nanti kalau bunda pulang...bilangin ya...saya mau ke luar kota untuk beberapa hari ke depan,"ucap nana menerangkan pada bibi asisten rumah tangga.


"baik non...nanti akan bibi sampaikan kepada nyonya non..."ucap bibi yang sudah mengerti apa yang di katakan nona mudanya itu.


"terimaksih ya bi...saya pergi dulu."ucap nana lalu pergi begitu saja,ia keluar dari dalam rumah nya,menuju mobilnya yang tadi sudah ia parkir di depan teras tepat.


nana memasukkan kopernya ke dalam jok belakang mobil,lalu ia pun masuk ke dalam mobil nya,ia mengendarai mobilnya menuju ke tempat kerjanya lagi.


tiga puluh menit perjalanan ia sudah sampai ke tempat kerjanya,lalu ia pun bergegas turun,dan berkumpul bersama para dokter dan tenaga medis yang akan berangkat ke tempat tujuan.


setelah semua sudah siap...lalu...nana pun memasukkan kopernya ke dalam mini bus yang akan mengangkut mereka,nana masuk ke dalam bus dia duduk di sebelah dokter umum cantik yang mengajaknya ikut serta.


empat jam perjalan mereka lalui dengan mulus dan mudah nya,lalu...tibalah mereka di jalanan yang sedikit rusak akibat gerusan air,kanan kiri jalan terlihat pemandangan tumbuh tumbuhan yang semua condong ke satu arah,dan terlihat sedikit gelap karena sisa sisa pasir di atasnya yang sudah mengeras.

__ADS_1


hingga mini bus berhenti di sebuah cam penampungan korban bencana banjir.dimana mana terdapat lumpur yang masih menggenang....meski di dataran tinggi namun benar benar sangat mengejutkan setiap mata yang memandang.


"hebat kalian sekuat ini..."ucap dalam hati nana dari dalam mini bus,matanya berkaca kaca menatap orang orang yang bersatu berjejal di dalam tenda tenda darurat yang alakadarnya.lalu ia pun turun bersama rombongan,mengambil tas kopernya dan menentengnya berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan oleh para pengurus cam.


tibalah ia di sebuah tenda,tenda yang seukurannya saja,pas satu orang di dalamnya,para petugas medis perempuan tidak ada yang mau menempatinya,karena hanya muat seorang diri saja,semua petugas medis perempuan masih terlalu takut untuk menempati,sedangkan para petugas medis pria hanya tidur seadanya saja dan lebih ke berjaga siap siaga.


"baiklah...aku yang akan menempatinya."ucap serius nana yang mau menempati tenda tersebut,lalu ia pun masuk dan memasukkan koper berisi pakaiannya ke dalam tenda.


waktu menunjukkan sudah pukul tujuh malam,dimana...hujan lebat mulai turun mengguyur lahan yang terkena banjir bandang,air yang mengalir dari hulu sungai mulai naik makin naik...nana pun berlarian dari dalam tenda menuju tempat tinggi.


"tuhan...kami disini belum membantu satu orang pun dan baru tiba...semoga bencana ini cepat berakhir."ucap dalam hati nana yang berkumpul dengan para medis dan relawan relawan lainnya.


di rumah arif.


arif baru saja turun dari dalam mobil yang baru ia hentikan di garasi rumahnya,ia berjalan dengan kotak kecil berwarna biru tua yang ada di kantong jas nya,


dengan sebongkok besar mawar merah yang ada di kedua tangannya,arif mendekap mawar mawar itu.ia berharap malam ini akan menjadi malam yang paling indah dan tidak terlupakan oleh nya dan juga istrinya.hingga membuat hari hari berikutnya ia lalui bersama sama.


"bunda...ayah...."sapa arif yang terus berlalu dengan antusiasnya,ia bermaksud akan memberi kejutan pada sang istri di dalam kamarnya,seperti di drama drama tv romantis yang kadang ia lihat.


"pasti nana akan terkejut dan terharu oleh kejutan yang akan aku berikan untuknya kali ini."ucap arif dalam hatinya,dengan langkah yang terus berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.tidak lupa...perasaan senangnya yang begitu besar membuatnya terus tersenyum ceria.


"yah...arif kok pulang bawa mawar banyak gitu ya?apa arif nggak tahu kalau istrinya sedang ikut posko ke luar kota?"


tanya bunda pada suaminya.


"mestinya sih arif tahu lah...dia kan suaminya...mau kayak apa aja juga...pasti nana ngasih tahu suaminya bund...atau...mungkin itu mawar dari penggemar arif di tempat kerja bund."ucap ayah yang begitu saja malah membuat khawatir bunda farida.


"ayah ini ngomong apa sih...jelas jelas arif udah niat ngejar cinta nana kan...masak iya dia mau nerima mawar dari wanita lain...apa lagi sampai di bawa pulang segala yah."


ucap bunda yang sedang adu argumen dengan sang suami.


arif sudah cukup lama menunggu nana untuk pulang,ia juga tidak bisa menghubungi nana karena ponsel nana tidak sengaja lupa belum ia berikan.sesaat arif sudah mulai cemas.

__ADS_1


"kamu kemana sayang...ini sudah larut malam...harusnya jika kau makan makan atau kumpul dengan teman teman...nggak sampai jam segini juga kamu sudah pulang."ucap cemas arif,karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


ia lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur,arif juga belum makan malam karena ia bermaksud akan makan malam yang romantis dengan sang isti,namun sampai sekarang yang di harapkan tidak kunjung pulang.


lalu ia pun memiringkan tubuhnya menghadap lampu duduk yang ada di meja samping tempat tidurnya,


seketika matanya tertuju pada kertas putih yang sedikit menyingkap.ia lalu mengambilnya dan membaca tulisan yang ada di atas kertas putih tersebut.sontak arif terperanjat dan matanya terbelalak saking kagetnya.


ia pun bergegas menyahut jas dan mantel berbulunya,lalu...membuka lemari dan membawa beberapa pakaian,memasukkannya ke dalam tas ransel punggung miliknya yang baru ia ambil dari dalam lemari.


ia mengemas beberapa pakaian disana.tidak lupa ia juga membawa peralatan mandinya,dimana di dalam kamar mandi,peralatan mandi istrinya juga sudah tidak ada.


"sial..."gumamnya sedikit merutuki kebodohan dirinya sendiri,yang baru membaca lembaran surat yang di tinggalkan oleh sang istri untuknya.


arif bergegas sambil sedikit berlari menuju pintu keluar kamarnya.ia terlihat tergesa gesa sambil membawa tas ransel di punggungnya,sontak langkah kakinya terhenti saat melewati bunda dan ayahnya yang berada di ruang keluarga.


"ayah...bunda...apa kalian tahu...nana ikut posko ke luar kota?"tanya arif sambil sedikit tersengal sengal nafasnya.


"iya...kami tahu rif...bibi yang ngasih tahu...istrimu berpesan pada bibi karena kami tidak di rumah,masak iya dia nggak pamitan sama kamu rif?"tanya bunda balik.


"bund...masalahnya...arif baru pulang beli cincin untuk dia...dan sudah reservasi restoran untuk makan malam kita,dan bodohnya arif...tadi waktu arif ke kantornya...arif lupa bund ngasih ponsel nana yang nggak sengaja arif bawa."ucap arif menerangkan dengan nada sedihnya.


"lalu...sekarang kamu mau kemana nak?ini sudah malam...apa yang akan kamu lakukan dengan tas ransel sebesar itu?"tanya bunda ingin tahu.


"arif berniat akan menyusul nana bund...nana belum mengerti situasi dan kondisi tanah yang terkena bencana alam di negara kita ini,ia baru beberapa hari saja di sini bund...arif takut...terjadi apa apa padanya,dan arif akan menyesal untuk yang ke dua kalinya,arif tidak bisa menunda lagi bund..."ucap arif sambil akan melangkah pergi,meski bunda dan ayahnya melarang sekalipun ia tetap akan pergi ke tempat istrinya berada.


"nak tapi kamu belum makan malam...bagaimana kalau kamu pingsan di jalan?"tanya bunda dengan sedikit teriakannya.yang sudah tidak di dengarkan arif.


pikirannya sudah kemana mana...hanya ada satu nama di sana,ya itu...mina sina...atau...biasa ia panggil nana istrinya.


ia sudah tidak merasakan perutnya yang sudah keroncongan,ia terus menyetir mobilnya,hingga mobil itu berhenti di sebuah tempat pengisian bahan bakar mobil.ia memenuhi tangki mobilnya,lalu...ia menjalankan kembali mobilnya,hingga saking keroncongannya,arif pun memghentikan mobilnya di sebuah mini market yang buka dua puluh empat jam,ia membeli semua roti yang tersisa di sana.sambil mengemudikan mobilnya,sembari ia menyantap beberapa roti yang ia beli tadi dengan mata menatap lurus ke arah jalan di depannya.


ia sengaja membeli banyak roti dan juga air mineral di mobilnya,ia membawa semuanya ke tempat bencana.pasti istrinya saat ini pun belum makan...pikirnya yang mulai memenuhi otaknya hingga membuatnya hampir gila.

__ADS_1


__ADS_2