
arif terduduk di lantai dengan lutut tertekuk ke atas dan kepala menunduk.
sesekali tangannya mengacak rambutnya.
"konyol...sangat konyol....kamu kak...kau tahu aku tidak akan dan tidak mau jatuh cinta lagi...cukup almarhum sika yang ada di hatiku untuk selamamya..aku tidak akan mencintai siapapun lagi kak...meski kamu yang sudah mengaturnya di sisa hidupmu untuk ku."
ucap dalam hati arif,
lalu bangkit dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
dua hari sudah berlalu...
hari ini adalah harinya...hari di mana nana akan bersanding.
tepat pukul setengah lima pagi,supir yang di minta bunda menjemput nana pun sampai...
dan sebelumnya bunda sudah memberi tahu nana untuk bersiap sebelum supir datang.
nana sudah menunggu dengan bahagia di depan hotel tempatnya menginap.
dia benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan rama...calon suaminya itu.
lalu tibalah mobil yang menjemputnya tepat di depannya berhenti.
sebelum supir turun untuk membukakan pintu untuknya...dia sudah masuk duluan dengan antusiasnya.
"pak...mas rama apa sudah siap?"
tanya nana pada supirnya itu.
yang membuat bulu kudu si supir berdiri.
karena ia tahu...almarhum tuannya itu sudah di kebumikan lima hari yang lalu,
dan si supir sendirilah yang ikut acara pemakamannya di kampung halaman tuannya.
"anu non....anu....saya belum melihat tuan muda non..."
ucap si supir dengan terbata-bata.
"oooh..."
dengus nana.
lalu mobil pun terus melaju hingga kediaman surya wijaya.
di depan sana nana di sambut bunda farida dan om surya yang berwajah sangat ramah dengan senyum merekahnya
"bunda...ayah..."
sapa nana saat keluar dari dalam mobil dan berlalu mendekat ke arah calon mertuanya itu.
"bund...kemana mas rama?apa aku masih belum bisa melihatnya sekarang?"
ucap nana ingin tahu sebelum masuk ke dalam rumah keluarga surya wijaya.
bunda dan ayah hanya saling menatap dan tidak membalas perkataan calon menantunya itu.
"sayang...ayo masuk dulu biarkan perias melakukan tugasnya terlebih dahulu,"
ucap bunda yang langsung menggiring masuk nana ke dalam rumah.
sesampainya di rumah...nana di ajak masuk ke kamar arif,
saat itu nana benar-benar tidak merasa heran sama sekali.
tepat pukul delapan pagi nana pun menunggu calon suaminya itu di pelaminan dengan bahagianya.
sambil menunggu penghulu tiba.
sedangkan para undangan pun sudah memenuhi tempat.
nana menundukkan wajahnya dengan kain penutup putih berenda di kepalanya,matanya tak henti menatap kedua tangannya yang salung memijat satu sama lain,
ia cemas...ia bahagia ia haru...
hanya itu yang di rasakannya saat itu juga.
tepat pukul setengah sembilan akhirnya penghulu tiba,
namun...rama benar-benar telat.
__ADS_1
"dimana ia sebenarnya?apakah berjam-jam jika hanya mencapai rumahnya ini?"
tanya nana dalam hati.
penghulu pun sudah mulai memberi aba-aba agar mempelai laki-laki segera tiba.
satu kali peringatan...dua kali peringatan...
hingga tiga kali peringatan...juga namun mempelai laki-laki tidak juga muncul....maka penghulu akan meninggalkan tempat pernikahan karena jadwalnya pun tidak hanya di acara pernikahan ini.
nana mulai tidak karuan...hatinya benar-benar seperti akan hancur...
"kenapa mas rama belum sampai?"
desah nana yang sudah ingin beranjak berdiri.
sedangkan di tempat arif,
bunda dan ayah membujuknya mati-matian.
"bunda mohon nak...jangan buat kami malu...dan nana jadi bahan tertawaan...rif...bunda dan ayah mohon rif..."
ucap bunda yang benar-benar lelah membujuk arif.
lalu bunda sudah lunglai di tempat dengan bersandar ayah,
dan saat penghulu sudah mengumumkan akan pergi nya dari tempat itu.
nana terlebih dahulu berdiri dari tempat duduknya,
ia benar-benar sudah tidak bisa di permainkan seperti ini.
sebelum dia benar-benar di permalukan karena penolakan...lebih baik dia yang pergi terlebih dahulu dari tempat ini.toh mas rama tidak menginginkan nya.
namun saat ia baru saja berdiri...
dari belakang pundaknya di tekan tangan yang akhirnya dia pun kembali duduk.
nana hanya bisa melirik dari sepatu dan setelan jas nya saja.karena kepalanya masih tertutup cadar penutup.
lalu laki-laki itu pun duduk di kursi sebelah nana,
dan mulailah...penghulu menanyai sang laki-laki,
"apa kau bersedia menikahi wanita ini dan menerimanya menjadi istrimu?"
ucap penghulu...
"saya terima"
ucap laki-laki itu.
"tunggu!"
kata hati nana saat merasakan suara itu begitu familiar di telinganya.
"yang pasti itu bukan suara mas rama."
gumamnya.
dan nana pun langsung membuka cadar nya...melihat siapa yang sedang bersanding dengannya itu.
"tidaaaakkk"
teriaknya dalam hati.
saat di lihatinya itu bukan mas rama...melainkan calon adik ipar nya,
"ini gila...benar-benar gila..."
ucap nana dalam hatinya.
dan saat penghulu berganti menanyai nana.
"apa kau bersedia menikah dengan laki-laki ini?"
nana hanya terdiam dan akan beranjak berdiri dari duduknya,
namun tangan arif mencekalnya.
arif mendekatkan wajahnya pada wajah nana,
__ADS_1
hingga membuat semua mata terpaku...
mereka mengira arif akan mencium calon istrinya itu.
"pikirkan nama baik keluarga ini,atau paling tidak bunda...bagaimana malunya jika kau pergi sekarang di depan semua saudaranya,"
bisik lirih arif namun gergetan di telinga nana
lalu nana pun tanpa memikirkan apapun ia menjawab.
"saya bersedia,"
ucap nana
bunda dan ayah yang melihat nya pun sangat bahagia di samping anak nya dan calon mantunya itu.
"ini yang bisa di berikan nana untuk bunda yang sangat baik beberapa hari ini."
ucap nana dalam hati dan tanpa terasa air mata menetes deras membasahi tangannya yang menggenggam satu sama lain itu.
"kamu benar na...kamu sudah benar...kamu harus kuat...mas rama pasti punya alasan kenapa ia melakukan ini."
kata nana untuk menghibur dirinya sendiri...
dan akhirnya...
"saya terima nikah dan kawin nya mina sina binti almarhum bachri dengan maskawin tersebut tunai,"
ucap arif dengan satu kali tarikan nafas dengan lantang dan fasihnya.
dan akhir nya...
"saaaaahhh....
saaaah....
saaah...."
suara saksi dan semua orang yang menghadiri pernikahan ini.
namun nana tidak bisa membuka cadarnya,
karena entah seperti apa bentuk makeup nya saat ini.
dan bunda pun tahu...seperti apa perasaan nana saat ini.
nana pun langsung di ajak masuk ke dalam kamar arif.
bunda memapahnya dan bunda merasakan betapa bergetarnya tubuh nana saat ini.
"sayang...maafkan bunda...sayang...bunda akan memberi tahu mu yang sebenarnya setelah selesai acara."
ucap bunda."
nana pun mengerti...bunda pasti punya alasan tersendiri...
ia pun juga harus membantu mertuanya itu.sebelum ia tahu apa yang sebenarnya terjadi,
"bund...tinggalkan nana sebentar sendiri bund...nana mohon."
ucap nana bergegas masuk ke dalam kamar arif yang kini menjadi suaminya.
dan setelah nana di dalam...nana melepas cadarnya...mencari bedak nya dan ia pun membenahi riasannya.
jangan sampai ke egoisannya itu membuat malu mertuanya yang sudah begitu baik padanya itu.
sepuluh menit kemudian.
nana turun dengan sumringahnya dengan makeup yang ringan namun sempurna di wajah cantiknya yang baru terpancar itu.
semua mata tertuju pada paras cantik yang sedang menuruni anak tangga menuju kerumunan orang yang sedang bersenda gurau bahagia di hari yang menurut mereka bahagia itu.
bunda terperanjat menatap ketegaran menantunya itu...dan ayah...sangat bahagia nana menantunya itu menyelamatkan kecanggungan yang jadi pertanyaan para tamu tadi.
sedangkan arif...tanpa sadar...ia terpesona oleh kecantikan nana yang baru tersentuh itu.
dan nana berlalu begitu saja melewati para tamu dengan senyum sumringah menuju suaminya kini,
menghampirinya...lalu menyelipkan tangannya seketika tanpa tanya dan tanpa aba-aba ke sela lengan arif.
dan mencoba memperlihatkan kemesraan di depan para tamu-tamunya
__ADS_1