CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
uneg uneg selama ini yang tersimpan


__ADS_3

tatapan keduanya pun tanpa sadar bertemu,beberapa saat saling memandang,hingga nana memutuskan untuk menyerah duluan dan mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain.


"kau mau aku gimana lagi sayang?tapi untuk membantumu...akan aku lakukan jika kau meminta ku untuk menutup mataku."ucap Arif dengan tangan masih menggenggam tangan nana di pangkuan istrinya itu.


lalu Arif pun langsung menutup matanya dan mencoba perlahan mengikuti arahan istrinya di depannya,hingga semua pakaian nana yang bagian atas terlepas sempurna.


"Baiklah mas...sudah beres...eiiittts...jangan ngintiiip...keluar pelan pelan ya mas..."ucap nana sambil memutar tubuh suaminya menghadap pintu dan Arif pun perlahan lahan berjalan menuju pintu tanpa membuka matanya.


Sampai ia benar benar keluar dari dalam kamar mandi,


Arif menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan,lalu ia berjalan keluar dari dalam kamar nya,di teras depan pintu kamar hotel yang ia tempati,terdapat dua kursi dan di tengah tengahnya terdapat satu meja.


Ia menempati kamar di lantai paling atas hingga pelataran hotel terlihat indah di pandangnya pada malam hari.


Beberapa saat nana menikmati mandinya,lalu setelah selesai...ia pun kemudian memakai kemeja suaminya yang berwarna biru tua dengan lengan panjang yang ia singsing sampai siku nya dan bagian bawah nya sampai atas lututnya,begitu kontras dengan kulitnya yang putih mulus tanpa noda,bagi nana hal itu sudah biasa...namun tidak tahu lagi bagaimana reaksi suaminya jika melihatnya dengan pakaian seperti itu.


Rambut pendek dengan gaya kekinian membuatnya makin terkesan segar saat di pandang.


Nana keluar dari dalam kamar mandi,tatapannya menatap ke penjuru arah,ia terlihat mencari cari sosok suaminya berada,namun ia tak dapati di dalam ruangan tersebut.


Kemudian ia perlahan berjalan menuju ranjang dan duduk di sana,menyelimuti kakinya dan meraih ponsel yang berada di sebelah bantal tempat tidur,


terlihat ia memainkan jemarinya pada layar ponsel yang ia pegangi,ternyata ia berusaha mengirim pesan pada suaminya,hatinya tidak karuan...ia merasa bersalah atas pengaturan sepihaknya pada suaminya tadi,harusnya ia tidak bersikap demikian meski ia tidak menginginkan Arif melihatnya tanpa busana,walau bagaimanapun Arif adalah suaminya,sudah hak nya jika ia ingin melihat nya...dan bukan hak nana untuk menolaknya,kini pikiran nana semakin merasa bersalah dan bersalah,entahlah perasaan itu muncul kapan dan dimana ia tidak menyadarinya,yang ada sekarang perasaannya sudah berhianat pada dirinya sendiri dan memihak pada Arif suaminya.


"mas...kamu dimana?kenapa tidak ada di dalam kamar?"


tanya nana pada pesan yang baru ia kirimkan,


dan arif...dengan cengar cengir membaca pesan tersebut.

__ADS_1


"kenapa?apa kamu merasa bersalah pada suamimu?"


tanya Arif dengan isengnya dan nana hanya terdiam setelah membaca pesan dari suaminya tersebut.


"apa hubungannya merasa bersalah sama nggak ada di kamar?mas ngambek?"tanya nana pada pesan balasannya lagi pada suaminya.


"hmmmz...sayang...untuk semua kesalahanku padamu...mana bisa aku ngambek karena hal sepele yang istriku nggak suka,aku ada di teras...kamu mau ikut kesini?atau...kamu mau aku datang menggendongmu untuk kesini?"tanya Arif dengan nada menggoda pada istrinya lagi.


"mas...tangan aku yang sakit...bukan kaki aku...aku bisa jalan kok mas...mas yakin minta aku untuk keluar sekarang?nggak nyesel?"


ucap nana sungguh sungguh,karena nana sadar pakaian yang ia kenakan begitu tidak pantas untuk keluar apa lagi jika di lihat oleh orang lain,namun...berbeda dengan Arif...ia tidak tahu maksud dari perkataan istrinya itu.


"kenapa aku harus nyesel sih sayang di temani istri tercinta yang cantik...ya nggak lah..."ucap Arif begitu saja dan membuat nana menyibakkan selimut yang menutupi kakinya dan turun dari atas ranjang,perlahan ia melangkah berjalan menuju ke arah pintu kamar nya,lalu ia pun membuka pintu itu hingga terlihat suaminya sedang duduk di tetas dengan menikmati minuman cola kaleng di tangannya.


"Astaga!!!!sayaaaang...."ucap nya seketika saat nana berdiri tepat di hadapannya,jangankan jantungnya yang berdetak tak beraturan seperti mau copot saking terkejutnya,tapi juga matanya yang melotot hampir mencuat yang Arif rasakan.


Seketika Arif beranjak pergi dari tempatnya,ia begegas berjalan sedikit lebih cepat ke dalam kamar nya,lalu saat ia keluar...Arif membawa selimut di tangannya dan menutupkannya ke paha sampai kaki istrinya.


"kalau begini ceritanya....hanya aku aja yang boleh lihat sayang...ingat itu."ucap Arif memperingatkan istrinya,dan nana hanya tersenyum menanggapinya.


"mas...bagus ya ternyata di lihat dari atas sini...andai mas nggak ngambek...aku juga nggak bakal nyusul kemari."ucap nana dengan lirikan menatap ke arah suaminya.


"siapa juga yang ngambek...aku nggak ngambek...hanya nyari udara segar saja..."ucap arif dengan sungguh sungguh.


"ya...ya...baiklah...mas nggak ngambek..


aku percaya...okay....okay..."ucap nana lagi namun nadanya sedikit mengejek suaminya.


"awas ya...kalau nggak percaya...."ucap mengancam suaminya,dan itu membuat nana terdiam seketika.

__ADS_1


lalu...hening untuk beberapa saat,keduanya saling diam tanpa sepatah kata pun,sesekali Arif melirik ke arah istrinya namun bibir nya tidak mampu berucap,canggung...keduanya merasa canggung sesaat,sampai...nana membuka suara.


"mas...nggak pingin cerita kenapa mas dulu nolak aku mati matian?aku sangat menunggu mas cerita sendiri tanpa aku minta cerita...namun...mas nggak pernah ada niat untuk cerita bukan?"tanya nana seketika yang membuat tatapan Arif seketika berubah menjadi tajam dan raut wajah menyimpan sejarah kelam yang hanya ia dan kekasihnya terdahulu yang tahu,meski ia pernah bercerita pada ayah dan bundanya...namun kisah nya benar benar tidak mampu ia ungkapkan,namun...ia sadar...untuk bisa hidup berdampingan dengan istrinya sekarang,ia mau tidak mau harus memikul beban tersebut berdua dengannya,perlahan...ia akan membagi kisah kelam nya.


"apa kau yakin mau mendengar kisahku sayang?"tanya Arif terlebih dahulu pada istrinya.


"mas...jangan malah bertanya pada ku seperti itu...tapi tanya pada diri mas sendiri...apakah sudah siap membagi kisah itu denganku?"ucap balik nana yang membuat Arif menarik nafas nya dalam dalam lalu menghembuskannya seketika.


"dulu...aku punya kekasih...dimana ia selalu ada untukku...kami selalu bersama sama sejak sekolah menengah atas,dan ia sedikit sedikit selalu mengeluhkan perutnya sakit,namun...saat ia bersamaku...ia merasa kuat...ia bilang seperti itu...hingga...saat kelulusan kami...ia memaksa untuk turut serta dalam pesta kelulusan,dan saat itu adalah kondisi terparah dalam sakitnya,


aku hanya berpikir itu adalah sakit karena datang bulanannya saja,hingga melarangnya untuk pergi periksa setiap kali ia mengeluh sakit.


Ternyata...setelah beberapa hari kelulusan,dia tidak datang dan tidak menghubungiku,aku pun tidak bisa menghubunginya,aku pikir...dia sedang berlibur bersama keluarganya,hingga aku datang ke rumahnya dan rumahnya sudah di sita karena hutang keluarganya yang begitu banyak...yang lebih parahnya lagi...saat aku bertemu langsung dengan kedua orang tuanya...mereka bilang...dia sakit kista parah di rahimnya,dan itu sangat langka...kedua orang tuanya bilang...bahwa ia tidak mau periksa...karena ia mengira itu hanya sakit biasa...dan kabar buruknya...beberapa hari sebelum aku ke rumahnya...ia sudah meninggalkanku dan keluarganya untuk selama lamanya...itulah kebodohan terbesar yang aku perbuat...hingga menutup diriku untuk orang lain...dan tidak ingin mengulang kejadian sama seperti itu lagi...membuat orang yang aku cintai harus menderita lagi...aku tidak sanggup akan hal itu.sampai...kamu akan menjadi istri kakak ku...aku masih tidak percaya kamu tulus mencintai kakak ku...dan kakak ku pun begitu menyukaimu...sungguh aku sangat iri saat kakak punya seseorang yang menerimanya dengan keadaannya...karena aku...malah membuang cintaku dan membuatnya celaka karena penilaianku."ucap Arif dengan mata berkaca kaca di samping nana yang masih setia mendengarkan setiap kalimat yang Arif ucapkan.


"lalu...apakah itu menurutmu kesalahanmu saat kekasihmu tiada?"tanya nana seketika pada suaminya.


"Tentu itu kesalahanku...saat kami bersama...dia hanya mendengarkanku...tidak mendengarkan orang lain meskipun bapak dan ibunya yang berkata.Aku bilang itu penyakit biasa...aku bilang jangan khawatir...sampai aku belikan obat anti nyeri untuknya dan setiap sakit selalu ia minum...apa nggak bodoh punya kekasih sepertiku?apa aku pantas di cintainya?apa aku pantas mendapatkan cinta dari orang lain selain gadis bodoh itu?yang dengan bodohnya menurut saja apa pun perkataanku hingga merenggut nyawanya?sampai saat ini aku terlalu pengecut untuk mengakui kesalahanku pada kedua orang tuanya...sungguh aku sangat pengecut untuk di cintai atau pun mencintai...mungkin aku pun tidak pantas mendapatkan cintamu istriku...aku pun tidak muluk muluk memaksamu harus bisa menerimaku...karena aku sadar...aku tidaklah pantas mendapatkan apa yang aku mau."ucap Arif seperti sedang mengutuk dirinya sendiri.


Arif menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya untuk beberapa saat,ia memejamkan mata disana dan meresapi setiap perkataan yang terlontar begitu saja setelah sekian lamanya terpendam di dalam hatinya.


"mas...kamu sudah dapat karmamu bukan?jadi...anggap lah sekarang kau sudah melewati karma yang kamu lalui dengan jatuh bangun tidak mudah itu...sembilan tahun mas hidup dalam kesendirian tanpaku...dan entah sebelum itu berapa tahun mas tanpa kekasih...membentengi diri mas sendiri dengan duri duri tajam yang hanya menancap pada diri mas sendiri jika mas ingin dekat dengan seseorang,itu sudah hukuman buat mas...dan sekarang anggap semua sudah berlalu dan pergi mas...lihat kedepan dan jangan menoleh ke belakang,aku yakin...kekasih mas yang dulu pun ingin mas bahagia...dan tidak tenggelam dalam kesedihan yang berlarut larut."


ucap nana dengan tulusnya,lalu jemarinya meraih jemari suaminya yang masih menangkup itu kemudian menggenggamnya,erat sangat menenangkan.


"sekarang...tatap aku...aku nggak akan ninggalin mas...dan jika aku sakit...aku akan diagnosis sendiri tanpa bantuan mas."ucap nana mencoba menghibur suaminya,dan arif hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan istrinya yang memang benar...karena istrinya sekarang adalah seorang Dokter spesialis penyakit dalam.


"walau bagaimanapun...soal bagian itu...punyamu tak akan pernah luput dari pengawasanku sayang...mau coba?"


tanya Arif dengan sedikit goda pada istrinya,nana lupa jika suaminya adalah Dokter spesialis kandungan,otomatis semua bagian kewanitaannya tak akan pernah luput dari suaminya,dan itu benar adanya.

__ADS_1


__ADS_2