CINTA MEMILIH TUANNYA

CINTA MEMILIH TUANNYA
siaga


__ADS_3

arif merangkul pundak nana dengan lembut,mengiring nya menuju kerumunan para para medis yang terlihat berbisik bisik,mungkin membicarakannya,dan terlihat dokter muda juniornya itu merasa tidak suka seketika pada kedekatan keduanya.


"dokter...kenapa kau terlihat mengkhawatirkan dokter nana?apa lagi...kalian terlihat sangat akrab sekali."ucap salah seorang dokter yang menyapa arif duluan.


"oooh...maaf...membuat kalian jadi bertanya tanya...kenalin...ini istriku...nana..."ucap arif dengan tatapan lembut nan hangat ke arah istrinya dan kemudian menatap ke arah semua yang berdiri seketika di hadapannya.semua orang di buat terkejut oleh pengakuan arif barusan.


"dokter jangan bercanda...miss na baru pulang dari luar negeri...dan kami juga tidak pernah mendengar anda terlihat dekat atau menikah."ucap dokter cantik yang menyimpan rasa pada arif,ia se akan tidak terima dengan yang arif ucap kan dan dia berusaha menyergah nya.


"aku sungguh sungguh...aku menikahinya...sembilan tahun yang lalu...karena aku sudah melukai perasaannya...hingga ia kabur...dan kuliah kedokteran di luar negeri...sampai...rumah sakit membutuhkannya."


ucap arif seketika tanpa malu atau pun ragu...ia berharap...kejujurannya kali ini...bisa membuka pintu hati istrinya.


sesaat semua terperangah menatap sekaligus mendengarkan cerita dari arif barusan.


"kamu benar benar tidak apa apa mas bicara seperti itu?"tanya nana ingin tahu...karena menurutnya yang suaminya katakan itu sangat privasi.


"nggak apa apa sayang...kenapa?kamu sudah jatuh cinta padaku?"tanya arif dengan sedikit berbisik,tangannya masih menggenggam jemari nana,sampai...


mobil ambulans datang dan semua bersiap menyiapkan pasien untuk masuk ke dalam nya.


dua mobil ambulans yang muat dua orang pasien dan dua orang pengantar.


"sayang...kamu istirahat saja...biar aku yang lakukan."


ucap arif sambil menggantikan nana menangani pasien yang akan naik ke dalam mobil ambulans.


nana menatap suaminya yang sangat cekatan dalam pekerjaannya.tiba tiba di bibir nya tersunghing senyum lembut.


kini hanya tersisa tiga pasien saja yang butuh di bawa ke rumah sakit,itu pun tidak terlalu serius.


setelah semua usai...arif terlihat celingukan mencari istrinya,


matanya mencari ke segala arah,sampai...lengannya di cekal seseorang.


"aku ingin bicara padamu dokter..."ucap dokter junior cantik yang kini mencengkeram lengannya.


"silahkan..."ucap nya langsung.


"dokter...saya tidak percaya bahwa dokter dan dokter na sudah menikah..."ucap dokter cantik itu pada nya.


sontak arif pun tak ingin apa apun saat ini menjadi kerikil kecil dalam hubungannya dan istrinya.


terlihat tangannya mulai merogoh saku celananya,mengambil ponselnya dan menyalakan nya,terlihat di layar fotonya dan nana sedang berdandan dengan baju pengantin.berpose sangat indah dan terlihat serasi.baru lah dokter cantik itu mengerti dan terlihat mohon diri.


ia pergi dengan tangan sesekali mengusap air matanya,namun arif tidak peduli.


ia terus saja mencoba mencari istrinya,dan langkahnya terhenti tatapannya menatap punggung yang ia kenal.


istrinya tengah duduk di kursi kayu dengan sandaran setengah tidur,namum nana hanya duduk dan tidak bersandar.


"sayang...aku mencarimu dari tadi loh...kok di sini ternyata."


ucap arif sambil ikut duduk di kursi depan istrinya.

__ADS_1


"hemmmz...ada apa mas?kayaknya tadi sedang ngobrol serius tuh ama dokter cantik ya kaaan...?"


ntah kenapa nana bisa bilang seperti itu,tiba tiba mulutnya bicara dengan sendirinya.


"nana kamu bodoh."umpatnya yang mengumpati dirinya sendiri.


"kenapa sayang?jangan bilang kamu cemburu ya sekarang?"ucap arif yang menohok untuk nana.


dan nana pun menyembunyikan wajahnya yang bersemu semu itu di balik telapak tangannya.


"heeez...kamu tidur dimana malam ini sayang?tenda kamu yang mana?"tanya arif lagi sambil meraih jemari nana dan menggenggamnya.


"mas...ini di cam bencana ya...jangan macem macem deh mas..."ucap nana seketika dengan raut wajah sedikit khawatir.karena hatinya memang belum mantap sepenuhnya untuk arif suaminya itu.


"iya...aku tahu ini di cam...nggak macem macem kok...cuma tanya...nggak boleh ya?nggak mau ngasih tahu nih?"tanya arif lagi sambil menatap lekat wajah cantik di depannya.


"tuh...aku di tenda itu mas..."ucap nana sambil menunjuk tenda kecil yang muat satu orang saja disana di pojok tempat,karena tempat itu paling kering.


"waaaah...kenapa bisa kebetulan begini ya sayang?sikond juga mendukung...hemmmz...malam ini...."ucap arif tertahan karena selaan dari suara nana.


"mas...kebetulan gimana?disini banyak orang loh mas...jangan macem macem ah."gerutu nana yang khawatir suaminya akan berlaku berani di tempat nya saat ini.


"sayang...kamu kira aku saking nggak tahu malu nya ngelakuin itu di tempat seperti ini...pikiran kamu tuh menjurusnya kesana aja."ucap arif dengan nada meledek pada nana,


"habis nya...kamu jauh jauh kemari bukannya untuk itu mas?"tanya nana lagi yang masih dengan nada yang sama.


"dasar...kamu ini sayang...emangnya kamu kira di otakku hanya itu aja apa yang aku pikirkan."ucap arif lagi...


"jadi...setelah aku pikir pikir...ada baiknya loh kata kamu itu sayang."ucap arif dengan mata menggodanya.


"duuuuaaaar...."tiba tiba tiada hujan petir menyambar pohon di samping mereka,keduanya pun langsung terkaget begitu juga semua orang yang ada di dekatnya,saling berlarian menjauh.


nana tanpa sadar memeluk arif sekuatnya,merangkul leher arif dengan kuat nya.


"sayang...sudah sudah...ayo kita ikut ke kerumunan orang orang."ucap arif sambil mengajak nana berjalan meninggalkan tempatnya,arif merasakan tubuh gemetaran istrinya.


"hey....sayang...bukankah kau dulu tomboi?pertama aku melihatmu...saat kau mengantarkan air galon galon itu bukan?sampai...kau menubruk mobil bunda...benar tidak?masak iya...sekarang...hanya karena petir ringan saja...kau memelukku sampai seperti ini...apa bukan modus ini namanya?kau sengaja kan?"ucap arif yang terkesan menggoda istrinya namun sebenarnya ia ingin membangun jiwa nana yang sekuat baja dulu.


sontak nana pun malah mengeratkan pelukannya,ia tidak menghiraukan ucapan suaminta,membuat arif...makin tak karuan,


"sayang...kenapa sih?sudah..."ucap nya di sela sela jalan yang makin ribet karena ulah istrinya yang bergelayutan.arif langsung mengangkat tubuh nana,membopongnya dengan berjalan sedikit lebih cepat ke arah orang orang.


"dokter arif...dokter na gimana?kenapa?"tanya salah satu dokter yang melihat tingkah arif.


"dia sedikit syok...karena sambaran petir terlalu dekat tadi...bisakah kami ke tenda sekarang?"


ucap arif yang sontak membuat mata nana terbelalak lebar dan melonjak dari gendongan arif.


"mas...aku nggak apa apa kok."ucap nya sambil mencoba berdiri dan diduk di tepian pendopo kecamatan yang di pakai orang orang untuk merebahkan tubuh mereka.


dengan senyum senang arif menatap istrinya.membuat sang istri salah tingkah di buat nya.


malam kian larut dan nana pamit untuk masuk ke dalam tenda,terlihat arif mengikutinya membuatnya jadi bertanya tanya dalam hatinya.

__ADS_1


"sayang..."ucap arif yang tertahan karena nana lebih dulu menyela perkataannya.


"maaas...jangan malam ini...aku mohon...tunggulah sampai kita pulang paling tidak..."


ucap nana seketika yang membuat arif tertawa sedikit terbahak.


"sayang....kamu mikirnya kejauhan...bukan itu maksudku sayang...aku mau bilang...ini roti buat kamu...sengaja aku beli tadi..."ucap arif sambil menyerahkan sekantong kresek roti dari tangannya.dan nana dengan wajah merahnya pun langsung berbalik mencoba menyembunyikannya di balik senyum kecut yang tertahan.


"tunggu..."ucap arif sambil mencekal tangan nana dan menariknya ke arah nya.


"cup."kecupan arif mendarat di bibirnya membuatnya makin malu...nana takut di lihat para medis lain.buru buru ia pun masuk ke dalam tendanya.


nana tertidur dengan senyum merekah di bibir nya.


ia lupa akan kejadian sembilan tahun lalu,dimana arif mati matian menolaknya,yang ia tahu dan rasakan...kini arif mencintainya...mengejar cintanya,dan nana sangat bahagia serta bersyukur akan hal itu.


sampai ia pun terlelap dalam tidur nya.


nana terbangun ketika ia dapati suaminya tertidur di kursi lipat di depan tendanya,nana begitu terkejut melihat nya.


"apakah...dari semalam dia berjaga di sini?"


tanya dalam hatinya yang begitu resah dan merasa tidak karuan.


lalu segera saja ia menuju toilet dekat dapur umum...mencuci mawajah dan menggosok giginya di toilet yang tersedia.kemudian ia menuju samping toilet agak jauh,dimana disana sudah banyak para warga yang bergotong royong membuat makanan.semua sangat menyambutnya,dan nana pun merasa senang dengan kedekatan ini.


"bu...bisakah saya meminta kopi dua cangkir saja?"


ucap nana seketika yang di sambut hangat para ibu ibu di dapur.


"tentu dokter...bisa bisa...ini kami sedang membuat kopi juga...ini untuk anda."ucap salah seorang ibu ibu yang mengulurkan dua gelas kopi padanya.


"terima kasih banyak ya bu..."ucap nana sambil beranjak pergi dari dapur.


"dokter...apakah dokter muda di depan tenda anda itu pacar anda?dia siaga sekali dokter...beruntung sekali anda memilikinya."ucap salah seorang ibu ibu yang membuat nana tersenyum senang.


"dia bukan pacar saya bu..."ucap nana yang sontak membuat para ibu ibu itu sangat terkejut mendengarnya.


"tapi dokter...kalian terlihat sangat serasi."


ucap salah seorang lagi.


"dia...suami saya bu..."ucap nana lalu beranjak pergi berlalu meninggalkan para ibu ibu yang saling melempar pandangan dan tersenyum senang.


nana berjalan perlahan mendekat ke arah suaminya,di kedua tangannya terlihat membawa dua kopi di dalam cangkir.


setelah sampai di depan tendanya...ia terlihat menatap kesana kemari mencari suaminya yang tidak berada di tempatnya semula tadi saat ia baru bangun dan melihatnya.


"heeemmmz....istriku sayang...kamu baik sekali...pagi pagi membawakanku kopi."ucapnya dari arah belakang dan memeluk nya dari belakang serta mengecup pipi nya yang sudah wangi sabun disana.


nana tidak bisa mengelak atau menolak perlakuan suaminya,karena di tangannya masih memegangi kopi panas yang jika goyang siap membakar hingga melepuh kulitnya.ia hanya berharap semoga tidak ada yang melihat sikap suaminya itu.


"maaaas...ingat...ini tempat apa...jangan seperti ini..."ucap nana karena merasa risi...oleh sikap suaminya.

__ADS_1


"cup."tiba tiba kecupan arif mendarat cepat di bibir nya sambil tangannya mengambil satu kopi dari tangan nana dan menyeruput menikmati sambil melihat orang orang lalu lalang mulai sibuk.


__ADS_2