
"oke...silahkan lanjutkan aku akan ke toilet dulu sebentar,"
ucap nana tiba-tiba yang langsung berdiri dan beranjak pergi dari tempat duduknya.
sedangkan arif hanya menatap punggung nana yang semakin menjauh itu tanpa ingin menjelaskan apapun pada nana.
seketika henri pun berdiri dan berjalan menyusul nana yang menuju toilet itu.
dengan cepat henri mengejar nana dan mencekal lengannya,
dan dengan seketika langkah nana pun terhenti.
"na...apa itu benar?dia suamimu selama ini?"
tanya henri tiba-tiba dan dengan berpura-pura tidak tahu nya.
"pantas saja aku tidak di bolehkan minta nomer ponselnya...ternyata suamimu..."
ucap henri lagi.
namun nana hanya terdiam,
nana ingin cerita...namun tidak pada henri...walau bagaimanapun...henri seorang laki-laki...meski selama sembilan tahun ini...henri lah yang selalu ada untuknya.
henri yang selalu membelikan makanan agar nana tidak telat makan...membantu mengerjakan tugas...dan masih banyak lagi yang ia lakukan...bahkan...sering kali henri yang membantu mencuci pakaian nana dan mengeringkan rambutnya.henri terlalu baik sudah seperti kakak bagi nana.
namun nana tidak tahu...isi hati henri sebenarnya,yang di kira henri itu seorang gay...hingga sering nana ketiduran di tempat tidur henri saat ia mengerjakan tugas.
dan begitu juga henri dengan dua teman yang lain...bergantian tidur di ranjang yang sama.bahkan tidur seranjang untuk beramai-ramai saking lelahnya dengan tugas-tugas kuliah pun pernah.
henri menarik tangan nana dengan lembutnya,
"apa kau butuh dadaku?"
tanya henri pada nana.
"jika aku butuh dada...aku lebih suka milih kepalamu untuk ku jitak,"
kata nana seketika untuk menyembunyikan ketidak sukaannya yang masih belum hilang.
"kau mau ikut ke toilet perempuan juga?"
tanya nana seketika.
"tentu...boleh juga..."
ucap henri.
"oplas dulu tu kelamin biar sekalian pakai rok baru sah masuk toilet perempuan,"
canda nana pada henri.
dan henri hanya tersenyum saat melihat nana mulai kembali ceria.
"cepatlah aku tunggui di sini...sambil melihat-lihat cowok ganteng,"
ucap henri yang di kira sungguhan oleh nana.
henri menyandarkan punggungnya di tembok dekat toilet,dengan tangan bersedekap di dadanya.
sejurus ia menatap arif yang sedari tadi menatap ke arah nya.
"brengsek...aku kira selangkah lagi untuk mendapatkannya...ternyata setelah pulang ke negara asal malah makin runyam,"
pikir henri dengan mata menyipitnya.
"woe...bengong saja...ayo kembali kesana,"
ucap nana yang baru keluar dari dalam toilet dan menepuk pundak henri sekali.
henri pun merangkul pundak nana beriringan melangkah menuju tempat di mana ia tempati tadi.
arif yang terus menatap nana itu pun menjadi pusat perhatian teman-teman nana yang duduk di sebelahnya.
"jangan cemburu dok...sama si henri...nana dan henri dari awal sangat lengket seperti saudara kembar..."
ucap mirna seketika.
"henri itu melambai dok...dia tidak suka wanita..."
ucap rosi menyela.
kedua sahabat itu tahu...bahwa saat ini suami nana itu sedang tidak enak hati melihat kedua orang yang baru dari toilet dan berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"hey na...punya suami ganteng gini kamu kacangin sih?"
canda rosi...
"sok tau deh...masak ia aku mau ke toilet harus angkut suami juga?"
canda nana.
"aku tidak keberatan..."
balas arif seketika.
dan nana langsung menaikkan tangannya,
ia kemudian menempelkan punggung tangannya ke dahi arif.
"kamu tidak panas mas kok bisa berubah seratus delapan puluh derajat gini ya?"
ucap nana asal-asalan.
namun dengan cepat tangan arif meraih jemari nana.
"entahlah...aku tidak tahu kenapa jadi seperti orang bego begini,"
ucap arif.
dan seketika henri menepis tangan keduanya.
"eh...ngobrol saja...ayo mulai makan..."
kata henri dengan alasannya agar tangan keduanya terlepas.
tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam,semua sudah pada kelelahan karena mengobrol.
"ayo kita pulang dulu...aku besok ada shift pagi,"
ucap arif mengajak nana pulang.
"oke baiklah...mari kita pulang,"
jawab nana.
lalu semuanya pun ikut berdiri dan berhambur beranjak pergi.
"kita kumpul-kumpul lagi ya sebelum benar-benar aktif bekerja,"
"oke...siiip"
sahut semuanya bebarengan.
lalu saling berpelukan satu sama lain bagi para wanita kemudian berpamitan dan pergi menuju kendaraan masing-masing.
"tunggu..."
kata henri saat nana akan masuk ke dalam mobil arif.
sedangkan arif sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
arif hanya mengamati nana yang sedang berbincang dengan henri di samping mobilnya.
"apa aku boleh tahu dimana kamu tinggal?"
tanya henri.
lalu seketika dengan cepat arif membuka kaca mobilnya,dan menyahut pertanyaan henri,
"dia pulang ke rumahku,"
ucap arif yang membuat henri sedikit tidak suka.
namun...henri dengan senyum palsunya terus mencoba menyembunyikan niat aslinya.
"tentu mas ganteng...niatku kan tanya alamatmu pastinya...,"
balas henri.
"ciiih...kenapa tidak tanya aku saja?"
jawab arif.
"sudah deh...kalian...dan kau..."
kata nana menunjuk henri...
__ADS_1
"jangan harap tahu alamatku ya...dasar...kamu itu tidak berubah...ubah dulu tu kelamin baru tanya alamat,"
ucap nana dengan polosnya yang masih belum sadar akan kelakuan henri.
"sudah ayo...nanti kita kemalaman,"
ajak arif pada nana.
lalu keduanya berpamitan pada henri,henri hanya mengepalkan tangan yang menggenggam kunci mobilnya itu.
"sial,"
umpat henri saat melihat mobil nana yang mulai menjauh pergi dari pandangannya hingga mobil itu lenyap dari pandangannya.
"mas...kamu tadi kenapa bersikap seperti itu pada henri?"
tanya nana pada arif.
"seperti itu apa maksudnya?yang bagaimana?"
tanya arif pada istrinya.
"aku lihat kamu seperti tidak menyukai henri mas,apa aku benar?"
tanya nana.
"jelas aku tidak menyukainya...aku laki-laki normal...jijik kalau sama yang begituan,jangan sampai deh dia tahu rumah kita,"
ucap jujur arif,namun tanpa nana tahu...arif sudah mendapat ancaman dari henri terlebih dahulu,tapi arif akan menyimpannya sendiri,ia tidak mau nana sampai kecewa karena sahabatnya itu.
dan entah mengapa...arif ingin menjaga apa yang sudah menjadi miliknya saat ia menyadari betapa sedih jika ia harus kehilangan lagi.
"henri itu...sudah aku anggap kakak mas...dia selalu mengusir laki-laki yang akan dekat denganku..henri selalu menggodanya sampai mereka jijik...sama seperti tadi saat ia menggodamu,"
ucap nana dengan kepercayaan bahwa henri seorang gay.
namun yang pasti...arif tahu...sebenarnya niatnya henri cuma satu...ingin memiliki nana seorang dan memagarinya dengan sejuta muslihatnya itu.
tanpa terasa tiga puluh menit sudah mobil berjalan menuju rumah wijaya,akhirnya sampailah di depan rumah megah tersebut.
nana turun terlebih dahulu karena memang nana tidak menunggu arif membukakan pintu mobil untuknya.nana hanya tidak mau berharap saja makanya ia selalu mendahului saat masuk atau keluar dari dalam mobil.
langsung saja nana masuk menuju ke dapur,
ia mengambil setoples keripik kentang dan sebotol air kemasan botol.
keadaan rumah bunda sudah begitu sepi,mungkin semua orang sudah pada tidur atau di kamar mereka masing-masing.
kemudian nana membawanya menuju kamar,setelah sampai kamar...ia pun mengambil laptopnya dan duduk bersila di atas kasur,
arif pun hanya mengawasi tingkah nana yang dari tadi tidak berhenti dan baru berhenti di depan laptop nya.
lalu arif pun ikut mengintip...sebenarnya apa yang membuat nana antusias ingin melihatnya.
"mau ikutan lihat?"
tanya nana saat ia menyadari arif yang sedikit mencuri-curi pandang pada laptop miliknya.
"memangnya mau lihat apa?"
tanya arif.
"video biru..."
canda nana.
namun seketika arif mendelik mendengarnya.
walau begitu arif pun laki-laki normal,sedikit pancingan saja membuatnya tegang.
"lagi lihat dokument yang nanti aku kerjakan...aku pelajari dahulu mas...hah...kamu sepertinya nanggepinya sangat serius...mana mungkin aku lihat video biru beneran...tidak lah..."
ucap nana.
"iya aku kira beneran...kalau kamu mau...aku punya banyak koleksi,"
canda balik arif namun dengan wajah dan suara seriusnya, sambil masuk ke dalam kamar mandi.
"makan itu candaan,"
gumamnya sambil menutup pintu kamar mandi.
sedangkan nana hanya mendelik dan menganggap itu serius.
__ADS_1
"gila itu mas arif."
ucap nana sebal.