
Sudah tiba saat nya Amyra bertemu dengan keluarga Elvano . Walaupun dirinya merasa belum siap , namun Amyra berusaha agar semua berjalan lancar.
Pagi itu Elvano datang untuk menjemput Amyra .
" Kamu yakin gak mau aku temani ?" tanya Bima yang merasa khawatir .
" Aku baik baik aja kok . Aku bisa . " ucap Amyra .
" Telpon aku kalau terjadi sesuatu . ok ?" ucap Bima . Amyra tersenyum .
" Gua pergi dulu bro . " pamit Elvano .
" Jaga dia !" ancam Bima . Elvano tak menjawab nya dan langsung masuk ke dalam mobil , begitu pun Amyra .
Bima terdiam melihat mobil Elvano yang kini telah pergi dari sana .
*****
Sepanjang perjalanan Amyra tak berbicara sedikit pun . Amyra hanya menyandarkan kepala nya ke jendela mobil , menikmati pemandangan yang sudah lama dia tidak lihat .
Karena memang semenjak kehamilan nya . Amyra tak pernah kemanapun .
" Stop ! Berhenti dulu . " ucap Amyra mendadak meminta Elvano untuk menghentikan mobil nya. Elvano kaget dan langsung menepi .
" Ada apa ?" tanya Elvano yang masih bingung .
Namun Amyra tak menjawab nya dan langsung turun dari mobil . Membuat Elvano semakin kebingungan . Bergegas Elvano ikut turun dan menyusul Amyra yang dengan cepat berjalan ke dalam taman .
Elvano mengira kalau Amyra akan kabur atau meninggalkan nya .
Namun langkah Elvano terhenti , Elvano tersenyum .
Terlihat Amyra yang sedang berada di depan sebuah pedagang gula kapas . Raut wajah bahagia Amyra terlihat ketika dirinya mendapatkan satu buah gula kapas berwarna merah muda .
Elvano memperhatikan tingkah Amyra yang seperti seorang anak kecil .
Amyra sungguh sangat senang mendapatkan sesuatu yang sangat dia sukai . Tapi raut wajah Amyra seketika berubah ketika dirinya sadar kalau dia tak membawa sedikit pun uang untuk membayar gula kapas itu .
" Biar aku yang bayar . " ucap Elvano memberikan uang pada penjual gula kapas itu .
" ini kebanyakan tuan . " ucap si penjual gula kapas itu .
" ambil aja . " ucap Elvano .
Wajah Amyra masih terlihat sedih .
" Apa gula kapas nya masih kurang ?" tanya Elvano .
Amyra menggelengkan kepala nya .
" lalu ?" tanya Elvano kemudian .
" Maaf , jadi kamu yang harus bayar . Nanti aku minta Bima buat ganti uang kamu . " ucapan Amyra membuat Elvano sedikit kesal. Karena terlihat kalau Amyra sangat dekat dengan Bima .
" Gausah . Ayo kita pergi. " ucap Elvano hendak pergi . Namun tak terdengar suara langkah Amyra . Elvano pun kembali berjalan menghampiri Amyra .
Amyra terlihat kesulitan ketika kini tali sepatu nya terlepas karena tadi berlari , namun tangan nya kini sedang memegang gula kapas . Dan memang semenjak hamil , Amyra tak bisa membungkukkan badan nya .
Elvano pun menyadari itu .
__ADS_1
Amyra kaget dengan tindakan Elvano yang langsung mengikatkan tali sepatu nya .
" Eh . " ucap Amyra .
" Udah . Ayo jalan . " ajak Elvano yang telah selesai mengikat tali sepatu Amyra , tapi Amyra tak langsung berjalan . Hingga membuat Elvano harus menggandeng tangan Amyra .
" Hey , Elvano ? " panggil Amyra .
Elvano terlihat senang , karena ini kali pertama nya Amyra memanggil nama nya .
" Ya ?" jawab Elvano menoleh kan kepala nya .
" Boleh duduk sebentar disana ? aku mau makan ini ." pinta Amyra menunjuk sebuah ayunan yang berada di taman itu .
Elvano pun menuruti keinginan Amyra .
Amyra duduk di ayunan itu dengan wajah berseri karena manus nya gula kapas yang dia makan .
Elvano memperhatikan dengan senyuman nya .
" Pantas saja Bima juga menyukai mu . Andai saja aku yang lebih dulu mengenal mu , Ra . " Gumam Elvano .
Amyra melihat keatas , dirinya melihat sebuah bunga di ranting pohon yang berada di atas ayunan itu .
Amyra berdiri dan mencoba mengambil nya . Namun tak sampai . Amyra berusaha melompat .
Tak di duga , Elvano justru mengangkat tubuh Amyra agar lebih mudah mengambil bunga itu .
Amyra terlihat salah tingkah karena Elvano .
Elvano benar benar tidak ingin melepas Amyra , Elvano benar benar ingin terus bersentuhan dengan Amyra .
" Ayo pergi . " Amyra bergegas berjalan menuju mobil . Elvano menghela nafas nya .
" Bisa gila gua terus terusan berada di samping nya , bisa bisa gua gak bisa nahan diri . " gumam Elvano .
Apapun yang di lakukan Amyra mampu membuat Elvano kehilangan akal . Namun Elvano masih berusaha menahan nya .
Elvano tak ingin mengingkari janji nya pada Bima untuk tak macam macam dengan Amyra .
Elvano pun masuk kembali ke mobil nya .
" Kita berangkat sekarang . " ucap Elvano . Amyra memalingkan wajah nya karena masih merasa canggung .
Elvano pun melajukan mobil nya melanjutkan perjalanan nya menuju kediaman keluarga nya .
****
Beberapa waktu kemudian mobil Elvano telah sampai di depan sebuah gerbang yang terlihat besar dan megah . Itulah gerbang rumah kediaman Reynard . Rumah yang layak nya istana bagi seorang Amyra .
" Ini rumah kamu ?" tanya Amyra . Elvano mengangguk kemudian membawa masuk mobil nya menuju halaman depan rumah yang sangat luas itu .
Amyra semakin merasa ragu untuk melanjutkan .
Tapi sudah terlambat , karena kini mobil Elvano sudah terparkir sempurna tepat di depan pintu rumah besar itu .
__ADS_1
Elvano turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Amyra . Namun Amyra terlihat ragu .
" Ayo . " ajak Elvano . Dengan ragu Amyra perlahan turun dari mobil itu . Berdiri tepat di depan pintu yang terlihat mewah dan besar .
" Ayo masuk . " Elvano menggandeng tangan Amyra untuk masuk . Elvano menuntun Amyra untuk duduk di ruang tamu rumah itu .
Mata Amyra melihat sekeliling ruangan yang sangat besar itu .
" Tunggu disini . " ucap Elvano kemudian masuk kedalam untuk memberi tahu keluarga nya kalau dia telah sampai .
Amyra semakin tidak percaya diri . Melihat dengan jelas perbedaan kasta antara dirinya dan Elvano .
Tak lama kemudian sepasang suami istri berjalan menuju ruangan itu .
Seorang pria berumur sekitar 45 tahunan , dengan badan tegap dan wajah dingin yang terlihat sangat mirip dengan Elvano . Amyra bisa langsung mengetahui kalau dia pasti ayah Elvano .
Pria itu bergandengan dengan seorang wanita cantik bergaun putih terlihat elegan . Dia adalah David dan Rosa . Orang tua Elvano .
Seketika Amyra berdiri dan menundukkan kepala nya .
Ayah Elvano langsung duduk berhadapan dengan Amyra terhalang oleh sebuah meja tamu besar .
" Duduklah ." ucap lembut wanita yang tak lain adalah ibu nya Elvano .
Amyra pun duduk dengan perasaan yang bercampur aduk .
" Jadi ini , perempuan yang akan kamu nikahi itu El ?" tanya Om David To the point .
" Iya Pah , Dia Amyra . Pacar El . " jawab Elvano bangga .
" Dia cantik . " bisik tante Rosa pada David suami nya .
" Siapa nama orang tua kamu ?" tanya Om David .
Amyra terdiam tak bisa menjawab nya karena dirinya sadar kalau dirinya hanya seorang yatim piatu .
Elvano melihat wajah Amyra yang terlihat sangat kebingungan .
Elvano pun menyadari kalau dirinya sama sekali belum tau tentang keluarga Amyra .
" Papah , jangan buat dia takut dong . " ucap lembut tante Rosa .
" Jadi kapan kalian akan menikah , Mama gak sabar pengen cepet buat pesta pernikahan yang meriah . " ucap Tante Rosa bersemangat .
" Ma , kita gak mau ada pesta . Kita hanya mau menikah se sederhana mungkin . " ucap Elvano .
" kenapa ? Mama kan mau nya bikin pesta buat pernikahan kamu . " ucap Tante Rosa .
" Nggak Ma . Amyra sedang hamil , jadi aku gak mau buat pesta pesta gak penting . " ucapan Elvano membuat kedua orang tua nya tercengang .
" Hamil ! " Tante Rosa benar benar kaget dengan ucapan anak nya itu .
" Jadi kamu sedang hamil ? Sebelum menikah ?" tanya Om David serius .
Amyra diam seribu bahasa . Dirinya kini merasa sangat tidak percaya diri . Dirinya takut kalau keluarga Elvano akan sangat menentang dan membenci nya .
" Jelasin sama papa El ! Elvano ! " Tegas Om David .
...*********************...
__ADS_1