
Elvano malam ini benar benar mabuk . Theo mengantarkan Elvano sampai ke apartemen nya .
Theo merasa tidak kaget sama sekali melihat kehadiran Alisha yang tengah berada di Apartemen Elvano .
" Bert banget sih lu ! nyusahin gua !" gerutu Theo membaringkan Elvano di tempat tidur dengan sedikit kasar .
" Urus tuh !" titah Theo pada Alisha dengan nada kesal .
" Kenapa dia bisa sampai mabuk gini ?" tanya Alisha penasaran .
" Lu tanya aja sendiri , gua cape mu balik . Bye !" ucap Theo seraya meninggalkan apartemen Elvano .
Alisha duduk di samping Elvano yang masih mabuk terbaring di sana .
Alisha membelai lembut wajah tampan Elvano .
Alisha melepas sepatu yang di gunakan Elvano , kemudian melepas jaket dan membuka satu persatu kancing kemeja Elvano .
Kini tubuh kekar Elvano terpampang jelas dengan masih menggunakan celana jeans nya .
Alisha mencoba membuka ikat pinggang Elvano .
" Aku akan membuat mu puas malam ini , hingga kamu gak bisa melupakan malam ini . Ahh udah lama aku menginginkan tubuh ini . " batin Alisha yang terpesona meliht tubuh atletis Elvano yang kini ada di depan mata nya .
jari lentik Alisha mengelus lembut dada bidang Elvano .
Seketika tangan kekar Elvano menarik Alisha hingga jatuh di dada bidang nya . Alisha sukses di buat senang oleh perlakuan Elvano .
Elvano memeluk nya erat . Seakan tak ingin melepaskan nya .
Alisha menikmati pelukan hangat Elvano yang sangat di inginkan nya .
Elvano semakin mengeratkan pelukan nya dengan mata yang masih terpejam .
" Jangan tinggalkan aku . Amyra !" ucap lirih Elvano pelan , namun dapat dengan jelas terdengar oleh Alisha .
" Amyra ? Sialan ! " Alisha benar benar marah mendengar nama Amyra bahkan di saat Elvano mabuk .
Alisha melepas pelukan Elvano .
" Perempuan ****** itu benar benar harus lenyap ! kita lihat Apa Elvano masih bisa memanggil nama nya !" Tekad Alisha penuh kebencian seraya menatap Elvano yang terbaring di sana .
Alisha mengambil ponsel nya kemudian menghubungi seseorang .
" Elvina . Lu bener , perempuan ****** itu memang harus lenyap . " ucap Alisha serius .
" Sudah ku bilang , perempuan itu cuma bakal jadi duri . " ucap Elvina di balik telepon .
" Kita lakuin sesuai rencana . Dan jangan sampai gagal . " ucap Alisha penuh tekad dan kebencian .
Alisha menggenggam erat ponsel nya .
" Aku gak bakal biarin siapapun mengganggu rencana ku ! Elvano hanya milik ku !" batin Alisha kuat .
****
Hari hari selanjut nya Amyra lalui dengan lebih ceria , berusaha untuk tetap bahagia walaupun luka di hati nya masih terasa .
Bima yang selalu menghibur Amyra , dan membuat Amyra tak merasa sendirian .
Perlahan Amyra sudah dapat kembali ceria menjalani nya .
" Amyra , aku keluar dulu . Ada yang harus aku urus . " ucap Bima seraya merapihkan pakaian yang di kenakan nya .
" Mau kemana ? Pulang nya bawa makanan yaa , hari ini aku gak sempat masak . " ucap Amyra .
" Iya , aku usahain pulang sebelum jam 8 malam . " ucap Bima dengan senyum nya .
" Iya . Hati hati di jalan , jangan kebut kebutan . " ucap Amyra mengingatkan .
Bima hanya mengangguk dan tersenyum . Bima kemudian keluar dari sanggar . Terdengar suara mobil Bima yang telah meninggalkan halaman sanggar .
Amyra merapihkan beberapa alat alat melukis yang berserakan .
Tak lama kemudian ponsel Amyra berdering .
" Siapa ?" batin Amyra ketika melihat nomor tak di kenal tertera di sana .
" Hallo?" ucap Amyra ragu .
__ADS_1
" Gua Elvina . "
" Elvina ?" Amyra masih heran .
" Iya , gua Elvina . Dimana lu ? ada yang gua mau bicarain . " ucap Elvina terdengar serius .
" Bicara apa ? Kan bisa bicara lewat telepon . " ucap Amyra .
" Ini tentang kakak gua , Elvano . "
DEG !
Mendengar nama itu Amyra terdiam . Entah apa yang ada di pikiran nya saat ini . Khawatir , itulah yang saat ini jelas terasa di hati Amyra.
" Ada apa dengan Elvano ? Apa dia baik baik saja . " ucap Amyra cemas .
" Kakak bilang dia mau ketemu sama lu . " ucap Elvina bohong .
" Tapi .. " Amyra bingung .
"gua kirim lokasi nya . Lu datang sendiri ke sana sekarang . " ucap Elvina kemudian menutup panggilan itu .
Perasaan Amyra terasa kacau ketika melihat sebuah lokasi yang Elvina kirim lewat chat .
Amyra bingung harus bagaimana . Apakah dia harus pergi , atau tidak .
Semakin Amyra berusaha untuk tidak peduli , semakin batin nya meronta ingin pergi . Amyra tidak mungkin bilang pada Bima , karena sudah pasti Bima tidak akan mengijinkan nya .
" Aku gak bisa tenang . Aku harus pergi . " batin Amyra kemudian mengambil jaket dan tas nya .
" Maaf Bima , aku terpaksa harus pergi . " batin Amyra ketika menutup pintu sanggar .
Amyra memanggil taksi online untuk dia tumpangi . Beruntung jarak dari tempat Bima ke lokasi yang di kirim Elvina tidak terlalu jauh .
Hanya perlu 15 menit untuk sampai di sana .
Taksi yang di tumpangi Amyra telah berhenti di sebuah rumah yang terlihat kosong dengan halaman yang cukup luas . Amyra kemudian turun setelah membayar ongkos pada supir taksi itu . Taksi kemudian pergi meninggalkan Amyra yang masih terpatung berdiri di depan gerbang .
" Kenapa Elvano mengajak bertemu di tempat seperti ini . " batin Amyra merasa aneh .
Takut memang Amyra rasakan saat ini , namun mengingat nama Elvano membuat nya harus bisa melawan rasa takut nya .
Amyra mengetuk pintu rumah itu .
Kemudian seseorang yang dia kenal membuka pintu itu .
" Oh lu udah dateng , lu sendiri kan ?" ucap Elvina di ambang pintu .
" Iya . " jawab Amyra .
" Masuk . " ucap Elvina menyuruh Amyra untuk masuk .
" Sini tas lu . " ucap Elvina meminta tas kecil yang di bawa Amyra .
" Tapi buat apa ?" Amyra terlihat kebingungan .
" Banyak tanya lu , sini ! " ucap Elvina seraya merebut kasar tas Amyra .
" Lu tunggu aja di sini . Sebentar lagi kakak gua dateng . " Ucap Elvina kemudian berjalan keluar .
Namun terdengar suara kuncian pintu dari luar membuat Amyra kaget .
Amyra berjalan menuju pintu kemudian mencoba membuka pintu itu namun ternyata dugaan nya benar . Elvina dengan sengaja mengunci dirinya di sana .
" Vina ,, kenapa kamu mengunci nya . " teriak Amyra yang masih berusaha membuka pintu itu.
Namun Elvina tak bergeming sama sekali . Elvina kini tak terdengar lagi oleh Amyra karena telah pergi meninggalkan tempat itu .
" Apa yang harus aku lakukan . " batin Amyra mulai panik .
Amyra berjalan mencari jalan keluar dari rumah yang memang tidak terlalu besar itu . Namun nihil , hanya ada satu pintu masuk . Dan semua jendela tertutup rapat dengan papan yang dengan kuat terpaku . Rumah itu kosong tanpa ada barang apapun , hanya lantai berdebu yang terdapat di sana .
Amyra mulai putus asa melihat kondisi nya saat ini .
Amyra ingat kalau ponsel nya dia simpan di saku celana nya . Amyra bersyukur karena tidak menyimpan nya di tas yang telah di ambil oleh Elvina .
Amyra mengambil ponsel nya , mencoba menghubungi Bima beberapa kali . Namun tak ada jawaban . Bukan tanpa alasan , ponsel Bima yang tergeletak di meja dapur sanggar nya berdering berulang kali . Bima pergi tanpa membawa ponsel nya .
" Bimaaaa ,,,, !" ucap Amyra lirih dengan air mata yang mulai jatuh dari pelupuk mata nya .
__ADS_1
Amyra bingung harus menghubungi siapa lagi . Di ponsel nya hanya ada Bima , Elsa dan Elvano . Amyra tidak mungkin menghubungi Elsa yang tengah berada di luar kota .
Satu harapan terakhir nya adalah Elvano .
Dengan tangan yang bergetar , Amyra mencoba menghubungi Elvano .
Sekali dua kali Elvano masih tak menjawab nya . Hingga kesekian kali nya .
" Halo ?" ucap Elvano terdengar malas .
" El , tolong . Tolong aku !" ucap Amyra dengan suara yang serak di selingi isakan tangis nya .
Elvano yang semula berbaring langsung terduduk karena kaget .
" Ada apa ?" Tanya Elvano mulai cemas .
" Tolong ! aku takut , aku ... " Amyra menangis dan itu terdengar jelas oleh Elvano .
" Dimana kamu sekarang ?" tanya Elvano seraya menggunakan jaket nya , dengan ponsel yang ia loadspeaker kan .
" Kirim lokasi mu sekarang !" ucap Elvano tegas .
Dengan tangan yang bergetar Amyra mengirimkan lokasi nya .
" jangan tutup panggilan nya , tunggu aku !" ucap Elvano bergegas mengendarai mobil nya .
Terdengar isakan tangis Amyra yang pilu , tergambar rasa takut dari tangisan nya .
Tiba tiba suara kunci terbuka terdengar . Pintu itu perlahan terbuka . Amyra berharap seseorang yang akan menolong nya .
Namun ternyata kini 3 orang pria masuk ke dalam sana .
" Siapa kalian ?" ucap Amyra panik seraya berjalan mundur . Ponsel nya ia genggam kuat kuat dengan masih tersambung pada Elvano .
" Wah wah wah . Beruntung kita dapat bidadari kaya gini . " ucap nakal seorang pria dengan tatapan mesum nya .
" Tidak . Jangan ! Kumohon , lepaskan saya !" teriak Amyra ketika kini dua pasang tangan dengan kasar memegangi nya hingga ponsel yang di genggam nya jatuh namun masih menyala .
" Tolong !" teriak Amyra .
" Berteriaklah sepuas mu ! Tidak ada seorang pun yang bisa mendengar mu . Jadi lebih baik kau jadi kucing kecil yang menurut . ! " ucap satu pria yang kini mencekoki sebuah gelas berisikan air berwarna seperti teh .
Dengan paksaan karena wajah Amyra yang dipegangi agar minuman itu bisa masuk ke dalam mulut Amyra .
" Oho oho oho . " Amyra terbatuk batuk karena minuman itu kini telah berhasil masuk ke dalam tenggorokan nya .
Amyra tau kalau itu adalah minuman beralkohol karena bau nya yang tajam , namun entahlah apa yang sudah di campur kan ke dalam nya .
" Kini saat nya menunggu bidadari ini merangkak memohon ingin di puaskan . " ucap pria itu seraya tertawa puas .
Elvano dapat mendengar dengan jelas percakapan di dalam panggilan itu .
Rahang nya mengeras dengan tangan meremas kuat kemudi nya . Amarah nya kini benar benar meledak .
Elvano tau apa yang saat ini akan di alami Amyra , mendengar ada pria yang berada di sana dengan ucapan yang sudah bisa Elvano tebak .
Elvano menaikan kecepatan mobil nya .
" Tunggu aku Amyra !"
Tubuh Amyra mulai terasa lemah , kepala nya seakan berputar putar .
Tubuh nya terasa sangat panas dengan keringat yang mengucur deras .
Ada perasaan aneh yang kini di rasakan Amyra . Amyra berusaha menjaga kesadaran nya .
Namun sepasang tangan kekar kini berusaha membuka pakaian Amyra . Kekuatan Amyra tak bisa menandingi pria itu .
Baju Amyra robek karena tarikan dari tangan kasar pria itu .
BRUGH !
Pintu itu terbuka sempurna hanya dengan satu tendangan .
Ketiga pria itu melihat kearah pintu ketika sesosok pria tampan dengan tatapan elang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang murka .
" El . " ucap lemah Amyra sebelum kini kehilangan kesadaran nya .
...****************...
__ADS_1
...****************...