Cinta Satu Malam Amyra

Cinta Satu Malam Amyra
Jebakan


__ADS_3

Elvano malam ini benar benar mabuk . Theo mengantarkan Elvano sampai ke apartemen nya .


Theo merasa tidak kaget sama sekali melihat kehadiran Alisha yang tengah berada di Apartemen Elvano .


" Bert banget sih lu ! nyusahin gua !" gerutu Theo membaringkan Elvano di tempat tidur dengan sedikit kasar .


" Urus tuh !" titah Theo pada Alisha dengan nada kesal .


" Kenapa dia bisa sampai mabuk gini ?" tanya Alisha penasaran .


" Lu tanya aja sendiri , gua cape mu balik . Bye !" ucap Theo seraya meninggalkan apartemen Elvano .


Alisha duduk di samping Elvano yang masih mabuk terbaring di sana .


Alisha membelai lembut wajah tampan Elvano .


Alisha melepas sepatu yang di gunakan Elvano , kemudian melepas jaket dan membuka satu persatu kancing kemeja Elvano .


Kini tubuh kekar Elvano terpampang jelas dengan masih menggunakan celana jeans nya .


Alisha mencoba membuka ikat pinggang Elvano .


" Aku akan membuat mu puas malam ini , hingga kamu gak bisa melupakan malam ini . Ahh udah lama aku menginginkan tubuh ini . " batin Alisha yang terpesona meliht tubuh atletis Elvano yang kini ada di depan mata nya .


jari lentik Alisha mengelus lembut dada bidang Elvano .


Seketika tangan kekar Elvano menarik Alisha hingga jatuh di dada bidang nya . Alisha sukses di buat senang oleh perlakuan Elvano .


Elvano memeluk nya erat . Seakan tak ingin melepaskan nya .


Alisha menikmati pelukan hangat Elvano yang sangat di inginkan nya .


Elvano semakin mengeratkan pelukan nya dengan mata yang masih terpejam .


" Jangan tinggalkan aku . Amyra !" ucap lirih Elvano pelan , namun dapat dengan jelas terdengar oleh Alisha .


" Amyra ? Sialan ! " Alisha benar benar marah mendengar nama Amyra bahkan di saat Elvano mabuk .


Alisha melepas pelukan Elvano .


" Perempuan ****** itu benar benar harus lenyap ! kita lihat Apa Elvano masih bisa memanggil nama nya !" Tekad Alisha penuh kebencian seraya menatap Elvano yang terbaring di sana .


Alisha mengambil ponsel nya kemudian menghubungi seseorang .


" Elvina . Lu bener , perempuan ****** itu memang harus lenyap . " ucap Alisha serius .


" Sudah ku bilang , perempuan itu cuma bakal jadi duri . " ucap Elvina di balik telepon .


" Kita lakuin sesuai rencana . Dan jangan sampai gagal . " ucap Alisha penuh tekad dan kebencian .


Alisha menggenggam erat ponsel nya .


" Aku gak bakal biarin siapapun mengganggu rencana ku ! Elvano hanya milik ku !" batin Alisha kuat .


****


Hari hari selanjut nya Amyra lalui dengan lebih ceria , berusaha untuk tetap bahagia walaupun luka di hati nya masih terasa .


Bima yang selalu menghibur Amyra , dan membuat Amyra tak merasa sendirian .


Perlahan Amyra sudah dapat kembali ceria menjalani nya .


" Amyra , aku keluar dulu . Ada yang harus aku urus . " ucap Bima seraya merapihkan pakaian yang di kenakan nya .


" Mau kemana ? Pulang nya bawa makanan yaa , hari ini aku gak sempat masak . " ucap Amyra .


" Iya , aku usahain pulang sebelum jam 8 malam . " ucap Bima dengan senyum nya .


" Iya . Hati hati di jalan , jangan kebut kebutan . " ucap Amyra mengingatkan .


Bima hanya mengangguk dan tersenyum . Bima kemudian keluar dari sanggar . Terdengar suara mobil Bima yang telah meninggalkan halaman sanggar .


Amyra merapihkan beberapa alat alat melukis yang berserakan .


Tak lama kemudian ponsel Amyra berdering .


" Siapa ?" batin Amyra ketika melihat nomor tak di kenal tertera di sana .


" Hallo?" ucap Amyra ragu .

__ADS_1


" Gua Elvina . "


" Elvina ?" Amyra masih heran .


" Iya , gua Elvina . Dimana lu ? ada yang gua mau bicarain . " ucap Elvina terdengar serius .


" Bicara apa ? Kan bisa bicara lewat telepon . " ucap Amyra .


" Ini tentang kakak gua , Elvano . "


DEG !


Mendengar nama itu Amyra terdiam . Entah apa yang ada di pikiran nya saat ini . Khawatir , itulah yang saat ini jelas terasa di hati Amyra.


" Ada apa dengan Elvano ? Apa dia baik baik saja . " ucap Amyra cemas .


" Kakak bilang dia mau ketemu sama lu . " ucap Elvina bohong .


" Tapi .. " Amyra bingung .


"gua kirim lokasi nya . Lu datang sendiri ke sana sekarang . " ucap Elvina kemudian menutup panggilan itu .


Perasaan Amyra terasa kacau ketika melihat sebuah lokasi yang Elvina kirim lewat chat .


Amyra bingung harus bagaimana . Apakah dia harus pergi , atau tidak .


Semakin Amyra berusaha untuk tidak peduli , semakin batin nya meronta ingin pergi . Amyra tidak mungkin bilang pada Bima , karena sudah pasti Bima tidak akan mengijinkan nya .


" Aku gak bisa tenang . Aku harus pergi . " batin Amyra kemudian mengambil jaket dan tas nya .


" Maaf Bima , aku terpaksa harus pergi . " batin Amyra ketika menutup pintu sanggar .


Amyra memanggil taksi online untuk dia tumpangi . Beruntung jarak dari tempat Bima ke lokasi yang di kirim Elvina tidak terlalu jauh .


Hanya perlu 15 menit untuk sampai di sana .


Taksi yang di tumpangi Amyra telah berhenti di sebuah rumah yang terlihat kosong dengan halaman yang cukup luas . Amyra kemudian turun setelah membayar ongkos pada supir taksi itu . Taksi kemudian pergi meninggalkan Amyra yang masih terpatung berdiri di depan gerbang .


" Kenapa Elvano mengajak bertemu di tempat seperti ini . " batin Amyra merasa aneh .


Takut memang Amyra rasakan saat ini , namun mengingat nama Elvano membuat nya harus bisa melawan rasa takut nya .


Amyra mengetuk pintu rumah itu .


Kemudian seseorang yang dia kenal membuka pintu itu .


" Oh lu udah dateng , lu sendiri kan ?" ucap Elvina di ambang pintu .


" Iya . " jawab Amyra .


" Masuk . " ucap Elvina menyuruh Amyra untuk masuk .


" Sini tas lu . " ucap Elvina meminta tas kecil yang di bawa Amyra .


" Tapi buat apa ?" Amyra terlihat kebingungan .


" Banyak tanya lu , sini ! " ucap Elvina seraya merebut kasar tas Amyra .


" Lu tunggu aja di sini . Sebentar lagi kakak gua dateng . " Ucap Elvina kemudian berjalan keluar .


Namun terdengar suara kuncian pintu dari luar membuat Amyra kaget .


Amyra berjalan menuju pintu kemudian mencoba membuka pintu itu namun ternyata dugaan nya benar . Elvina dengan sengaja mengunci dirinya di sana .


" Vina ,, kenapa kamu mengunci nya . " teriak Amyra yang masih berusaha membuka pintu itu.


Namun Elvina tak bergeming sama sekali . Elvina kini tak terdengar lagi oleh Amyra karena telah pergi meninggalkan tempat itu .


" Apa yang harus aku lakukan . " batin Amyra mulai panik .


Amyra berjalan mencari jalan keluar dari rumah yang memang tidak terlalu besar itu . Namun nihil , hanya ada satu pintu masuk . Dan semua jendela tertutup rapat dengan papan yang dengan kuat terpaku . Rumah itu kosong tanpa ada barang apapun , hanya lantai berdebu yang terdapat di sana .


Amyra mulai putus asa melihat kondisi nya saat ini .


Amyra ingat kalau ponsel nya dia simpan di saku celana nya . Amyra bersyukur karena tidak menyimpan nya di tas yang telah di ambil oleh Elvina .


Amyra mengambil ponsel nya , mencoba menghubungi Bima beberapa kali . Namun tak ada jawaban . Bukan tanpa alasan , ponsel Bima yang tergeletak di meja dapur sanggar nya berdering berulang kali . Bima pergi tanpa membawa ponsel nya .


" Bimaaaa ,,,, !" ucap Amyra lirih dengan air mata yang mulai jatuh dari pelupuk mata nya .

__ADS_1


Amyra bingung harus menghubungi siapa lagi . Di ponsel nya hanya ada Bima , Elsa dan Elvano . Amyra tidak mungkin menghubungi Elsa yang tengah berada di luar kota .


Satu harapan terakhir nya adalah Elvano .


Dengan tangan yang bergetar , Amyra mencoba menghubungi Elvano .


Sekali dua kali Elvano masih tak menjawab nya . Hingga kesekian kali nya .


" Halo ?" ucap Elvano terdengar malas .


" El , tolong . Tolong aku !" ucap Amyra dengan suara yang serak di selingi isakan tangis nya .


Elvano yang semula berbaring langsung terduduk karena kaget .


" Ada apa ?" Tanya Elvano mulai cemas .


" Tolong ! aku takut , aku ... " Amyra menangis dan itu terdengar jelas oleh Elvano .


" Dimana kamu sekarang ?" tanya Elvano seraya menggunakan jaket nya , dengan ponsel yang ia loadspeaker kan .


" Kirim lokasi mu sekarang !" ucap Elvano tegas .


Dengan tangan yang bergetar Amyra mengirimkan lokasi nya .


" jangan tutup panggilan nya , tunggu aku !" ucap Elvano bergegas mengendarai mobil nya .


Terdengar isakan tangis Amyra yang pilu , tergambar rasa takut dari tangisan nya .


Tiba tiba suara kunci terbuka terdengar . Pintu itu perlahan terbuka . Amyra berharap seseorang yang akan menolong nya .


Namun ternyata kini 3 orang pria masuk ke dalam sana .


" Siapa kalian ?" ucap Amyra panik seraya berjalan mundur . Ponsel nya ia genggam kuat kuat dengan masih tersambung pada Elvano .


" Wah wah wah . Beruntung kita dapat bidadari kaya gini . " ucap nakal seorang pria dengan tatapan mesum nya .


" Tidak . Jangan ! Kumohon , lepaskan saya !" teriak Amyra ketika kini dua pasang tangan dengan kasar memegangi nya hingga ponsel yang di genggam nya jatuh namun masih menyala .


" Tolong !" teriak Amyra .


" Berteriaklah sepuas mu ! Tidak ada seorang pun yang bisa mendengar mu . Jadi lebih baik kau jadi kucing kecil yang menurut . ! " ucap satu pria yang kini mencekoki sebuah gelas berisikan air berwarna seperti teh .


Dengan paksaan karena wajah Amyra yang dipegangi agar minuman itu bisa masuk ke dalam mulut Amyra .


" Oho oho oho . " Amyra terbatuk batuk karena minuman itu kini telah berhasil masuk ke dalam tenggorokan nya .


Amyra tau kalau itu adalah minuman beralkohol karena bau nya yang tajam , namun entahlah apa yang sudah di campur kan ke dalam nya .


" Kini saat nya menunggu bidadari ini merangkak memohon ingin di puaskan . " ucap pria itu seraya tertawa puas .


Elvano dapat mendengar dengan jelas percakapan di dalam panggilan itu .


Rahang nya mengeras dengan tangan meremas kuat kemudi nya . Amarah nya kini benar benar meledak .


Elvano tau apa yang saat ini akan di alami Amyra , mendengar ada pria yang berada di sana dengan ucapan yang sudah bisa Elvano tebak .


Elvano menaikan kecepatan mobil nya .


" Tunggu aku Amyra !"


Tubuh Amyra mulai terasa lemah , kepala nya seakan berputar putar .


Tubuh nya terasa sangat panas dengan keringat yang mengucur deras .


Ada perasaan aneh yang kini di rasakan Amyra . Amyra berusaha menjaga kesadaran nya .


Namun sepasang tangan kekar kini berusaha membuka pakaian Amyra . Kekuatan Amyra tak bisa menandingi pria itu .


Baju Amyra robek karena tarikan dari tangan kasar pria itu .


BRUGH !


Pintu itu terbuka sempurna hanya dengan satu tendangan .


Ketiga pria itu melihat kearah pintu ketika sesosok pria tampan dengan tatapan elang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang murka .


" El . " ucap lemah Amyra sebelum kini kehilangan kesadaran nya .


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2