Cinta Satu Malam Amyra

Cinta Satu Malam Amyra
Murka nya ombak di laut tenang


__ADS_3

Setelah mengambil Handpone yang tertinggal di mobil, Bima pun kembali menuju apartemen Elvano. Bima memasuki lift menuju atas.


Pintu lift pun terbuka.


" Amyra. " ucap Bima yang baru saja keluar dari lift sebelah nya . Di apartemen itu memang di sediakan dua lift berbeda , satu untuk turun dan satu lagi untuk naik.


Kaget bukan main, Bima melihat Amyra yang kini wajah nya dipenuhi air mata.


" Heiii, kenapa? ada apa? " tanya Bima panik. Namun Amyra melepas tangan Bima kemudian masuk ke dalam lift lalu segera menutup pintu lift itu.


Bima mematung sejenak melihat Amyra yang pergi dengan tangisan.


" Elvano! " ucap Bima geram seraya tangan nya mengepal keras. Bima yakin kalau ini pastu ulah dari Elvano.


Bima benar benar murka. Tanpa pikir lagi Bima berlari menuju Aprtemen Elvano dan langsung masuk ke dalam .


" Elvano!!!! " teriak Bima terdengar menggema di ruangan itu.


Bima menendang pintu kamar Elvano dengan keras.


" Elvano! " Kemurkaan Bima semakin mendidih melihat Elvano yang kini tengah berada satu ranjang dengan Alisha.


Kini Bima tau mengapa Amyra menangis.


Teriakan Bima mampu membuat Elvano terbangun.


Kaget bukan main ketika Elvano melihat Alisha yang kini berada di tempat tidur nya.


" Pantas saja Amyra menangis. Ternyata dia melihat dua anjing yang sedang tertidur di ranjang yang sama. " ucap Bima penuh penekanan menahan emosi nya.


" Ngapain lu disini! " teriak Elvano seraya bangun dari tempat tidur nya.


" Kenapa lu bisa ada disini. Ah! " teriak Elvano marah seraya memegangi kepala nya yang masih terasa pusing.


Elvano menengok ke arah dimana kini Bima berdiri penuh amarah.


" Bima? " ucap Elvano pelan ragu.


Tanpa basa basi Bima langsung meninju wajah Elvano dengan sangat keras hingga Elvano tersungkur.


" Stop! Ah! Jangaaaan. " teriak Alisha histeris melihat Elvano yang kini tersungkur dengan hidung yang berdarah akibat pukulan Bima.


" Pergi lu dari sini sialan! " teriakan Bima yang terdengar menakutkan sontak membuat Alisha ketakutan dan langsung bergegas pergi dari sana.


" Elvano Anjing lu! Bangsat! " Bima benr benar murka tanpa henti meninju wajah Elvano hingga berlumuran darah.

__ADS_1


" Tunggu. " Elvano menahan tangan Bima.


" Gua bisa jelasin. " Elvano berusaha menjelaskan.


" Anjing lu! " Bima kembali meninju wajah Elvano. Dengan posisi Bima diatas tubuh Elvano.


" Bimaaaaaa! Stop! " Elvano benar benar menahan tangan Bima dengan sisa tenaga nya dengan nafas yang sudah tak beraturan. Darah segar masih mengalir dari hidung nya.


Elvano bangkit dan berdiri dengan sempoyongan.


Bima menjatuhkan tubuh nya duduk di tepi tempat tidur itu seraya mengusap kasar wajah nya dengan tangan nya yang terlihat banyak darah Elvano.


" Anjing lu El! Gua gak percaya lu bisa jadi se bajigan ini El! " ucap Bima merasa sesal.


" Bima! Gua gak tau apa yang terjadi! sumpah gua gak tau! " Ucap Elvano mencoba menjelaskan.


Bima kembali berdiri dan mencengkram leher Elvano.


" Lu bilang lu gak tau? Setelah Amura lihat lu dan Alisha tidur seranjang tanpa baju, dan lu bilang lu gak tau! Anjing lu El ! "


" Amyra? Dia lihat? " tanya Elvano kaget.


Elvano menghempaskan tangan Bima dari leher nya.


" Puas lu sekarang hah!!!! " bentak Bima.


" Amyra. " Elvano seketik teringat pada Amyra, Elvano bergegas memakai baju nya.


" Gua harus cari Amyra. Gua harus jelasin. " Elvano segera mencuci wajah nya yang penuh darah .


Bima terduduk di sana. Entah apa yang kini ada di pikiran nya.


Kecewa sudah pasti, namun lebih sakit melihat wanita yang dia sayangi di sakiti oleh sahabat yang juga dia sayangi.


Elvano mengambil kunci mobil nya dan langsung berlari keluar apartemen nya berharap segera menyusul Amyra.


" Amyra " gumam Bima lirih.


******


Suara tangisan terdengar pilu.


Hanya mendengar nya saja sudah sangat terasa rasa sakit yang kini tengah di alami oleh Amyra.


Kaki nya masih terus melangkah, berusaha pergi sejauh mungkin dari apartemen Elvano.

__ADS_1


Pikiran nya kacau. Hati nya hancur. Amyra berjalan menyusuri jalanan entah kemana. Deraian air mata lah yang menemani nya.


Sakit!


Hanya itulah yang dapat tergambar dari diri Amyra saat ini.


******


Elvano tak tau harus mencari Amyra kemana lagi.


Elvano masuk kedalam mobil nya dan duduk di jok pengemudi.


Sejenak Elvano terdiam. Tangan nya memukul keras kemudi stir di depan nya. Elvano memaki diri nya sendiri atas kebodohan nya yang baru saja terjadi dan suskse untuk menyakiti Amyra.


Tak lama kemudian Bima membuka pintu mobil Elvano dan langsung duduk di sebelah Elvano tanpa kata.


" Bima. "


" Jangan banyak bicara. Yang terpenting sekarang Amyra. " ucap Bima tegas .


Elvano pun hanya bisa menuruti perkataan Bima. Karena saat ini dirinya satu satu nya orang yang bersalah .


Elvano pun melajukan mobil nya keluar dari parkiran apartemen nya, walaupun dirinya pun tak tau harus mencari Amyra kemana.


Bima mengambil handpone yang dia simpan di saku celana nya kemudian menelepon Theo.


" Cari Amyra sekarang! " pinta Bima tegas.


" Ada apa? bukan nya dia sama lu kan semalem? apa yang terjadi? " tanya Theo penasaran di balik telepon itu.


" Jangan banyak tanya! Gua bilang cari dia! " teriak Bima emosi dan langsung melemparkan handpone nya ke kaca mobil di depan nya dengan keras hingga handpone nya pecah.


Elvano sangat tau kalau saat ini Bima benar benar murka.


Bima yang setiap hari tenang, kalem dan humble. Saat ini berubah menjadi seperti harimau yang menakutkan.


Ketika seorang pendiam murka, maka harimau lah yang terlahir.


*******


Langkah Amyra terhenti karena tenaga nya sudah hampir habis. Dirinya terduduk di tepi jalan dengan air mata yang masih mengalir.


Kaki nya sudah tak mampu lagi melangkah.


Tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan nya. Turun lah seseorang yang tak asing di mata Amyra.

__ADS_1


" Wah wah. Siapa ini yang duduk menangis di pinggir jalan. " dengan seringai jahat di wajah nya.


*********


__ADS_2