Cinta Satu Malam Amyra

Cinta Satu Malam Amyra
Masalah Baru 2


__ADS_3

" Cepat katakan ! Dimana Adiputra menyimpan berkas berkas itu !" teriak Om Bagja seraya meluapkan amarah nya dengan menendang kursi itu hingga tubuh Amyra yang terikat disana pun ikut terjatuh .


Amyra dengan penuh luka dan air mata pun jatuh tak berdaya hingga tak sadarkan diri .


" Sialan !" umpat Om Bagja .


" Lebih baik aku segera bernegosiasi tentang harga yang akan di bayar Elvano untuk perempuan ini !" ucap Om Bagja kemudian berlalu meninggalkan Amyra yang sudah tak berdaya tergeletak terikat dengan kursi itu .


****


Vina yang merasa sudah sangat kesal karena menunggu Amyra yang tak kunjung kembali pun akhirnya turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung rumah sakit itu .


" Kemana tuh cewe ! Berani nya buat gua nunggu . " kesal Vina seraya berjalan memasuki lift menuju lantai 4 .


Vina berjalan menyusuri lantai 4 melihat dan mencari keberadaan Amyra . Namun tak ketemu .


Vina pun berjalan menuju ruangan Dokter Robert .


" Ada yang bisa saya bantu nona ?" tanya seorang perawat asisten dokter itu .


" Apa tadi ada wanita yang datang kesini untuk bertemu dengan dokter Robert ? " tanya Vina .


" Hari ini memang banyak sekali pasien intens dokter nona . " jawab perawat itu .


" Hari ini saya mau ambil hasil Tes DNA keluarga Reynard . " ucap Vina .


" Oh . Iya nona . Mohon ditunggu , saya akan segera mempersiapkan nya." ucap perawat itu .


Vina masuk ke ruangan Vip itu dan duduk di sofa tempat tunggu .


" Kemana tuh cewe ! Nyusahin aja . " kesal Vina .


Seorang Dokter paruh baya pun keluar membawa satu amplop berisi hasil Tes DNA dan menghampiri Vina .


" Ini hasil tes nya nona . " Ucap dokter Robert memberikan amplop itu .


" Memang tadi gak ada yang ambil kesini dokter ?" tanya Vina .


" Hanya nona yang datang kesini , memang kenapa ?" ucap Dokter itu .


" Oh tidak apa apa dokter . Terimakasih Dok , saya permisi . " ucap pamit Vina dengan wajah yang masih kesal dan juga bingung .


" Salam untuk tuan David dan Nyonya Rosa . " ucap Dokter yang memang sudah akrab dengan keluarga Reynard .


" Baik . " pamit Vina meninggalkan ruangan dokter itu .


Dengan wajah kesal dan juga penasaran Vina kembali ke mobil nya .


" Masa iya dia nyasar di rumah sakit ? atau nggak dia kabur lagi !" ucap Vina .


" Bikin masalah aja tuh cewek ! " dengan perasaan kesal Vina pun melajukan mobil nya meninggalkan rumah sakit itu .


****


Hari mulai sore , sudah berjam jam setelah Amyra di sekap oleh Om Bagja di rumah kosong itu .


Ruangan kosong berdebu yang mulai gelap tanpa cahaya .


Mata Amyra perlahan mulai terbuka , merasakan sakit fi sekujur tubuh nya .


Dengan posisi masih terikat di kursi yang tergeletak di lantai berdebu itu .

__ADS_1


" Perut ku . " Amyra merasakan sakit tak hanya di seluruh badan nya , perut nya pun kini terasa kram dan sakit .


Amyra mencoba melepaskan ikatan tangan nya di kursi itu .


Tangan nya yang sudah lecet berusaha dia gerakkan agar pergelangan nya bisa lepas dari tali tambang itu .


Beruntung nya Amyra karena ikatan di pergelangan tangan nya bisa terlepas walaupun memerlukan usaha yang sangat sulit .


Amyra kini berusaha melepas tubuh nya dari kursi itu dengan sisa sisa tenaga nya .


Amyra melihat ruangan kosong yang mulai gelap itu . Berusaha berjalan perlahan menuju pintu dan mendengarkan dari balik pintu . Amyra mengintip lubang kunci yang berada di pintu itu .


Terlihat ada 2 orang tengah duduk di kursi yang berada di ruangan depan tempat dirinya berada .


Amyra pun melihat sekeliling dan mata nya tertuju pada sebuah jendela yang cukup tinggi namun masih bisa di jangkau nya .


Amyra berusaha membuka jendela itu perlahan agar tak membuat suara yang bisa membuat para penjaga tau .


Amyra menaiki kursi yang tadi terikat pada nya dan naik ke jendela itu perlahan .


" Kamu pasti bisa Amyra . Kamu harus bisa . " Dengan menutup mata , Amyra melompat dari jendela itu ke rumput yang berada di bawah sana .


Kaki nya yang sakit dan gemetar berusaha berdiri , dengan sekuat tenaga berjalan berusaha berlari agar bisa pergi sejauh mungkin dari tempat itu .


Sepertinya para penjaga tak mrnyadati kalau dirinya telah berhasil kabur dari ruangan itu .


Dengan dress berwarna coklat muda yang terlihat lusuh dan kotor , bahkan ada beberapa bercak darah di sana . Tanpa alas kaki Amyra terus berjalan tak tentu arah mencoba pergi sejauh mungkin .


Rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi , namun dirinya tetap berusaha untuk berjalan . Amyra sengaja tak mrlewati jalan raya agar terhindar dari orang orang yang mungkin adalah anak buah Om nya itu .


Amyra sejenak duduk di bawah pohon karena kaki nya yang sudah terlihat banyak luka tak sanggup lagi untuk berjalan .


****


Sementara itu , Om Bagja yang merasa sudah mendapatkan tangkapan bagus pun mencoba menelepon Elvano .


" Berapa harga yang harus ku berikan untuk ini ?" ucap jahat Om Bagja menyeringai .


Om Bagja menelepon Elvano beberapa kali , namun tak mendapatkan jawaban .


" Sialan ! Dia malah gak angkat telepon !" umpat Om Bagja kesal .


Om Bagja pun mencoba mengetik sebuah pesan singkat .


- Saya sudah menemukan yang anda cari . Kita bisa mulai bernegosiasi .


Bagja -


" Dia pasti mengerti kan maksud nya . " gumam Om Bagja dengan santai nya .


****


Elvano yang sejak sore telah selesai dengan pekerjaan nya bergegas pulang dari luar kota karena sudah tak sabar ingin bertemu dengan Amyra calon istri nya .


Sejak pagi memang Elvano bahkan tak sempat mengecek ponsel nya karena sibuk .


Ketika dirinya hampir sampai di rumah , Elvano mampir ke sebuah supermarket karena ingat akan membeli eskrim strawberry kesukaan Amyra .


Elvano membeli cukup banyak makanan dan Eskrim dari supermarket itu .


Elvano kembali masuk ke mobil nya , kemudian mengambil ponsel nya untuk menelepon Amyra .

__ADS_1


Namun perhatian nya teralih pada sebuah pesan singkat yang tak lain kiriman dari Om Bagja .


Elvano sejenak berpikir .


" Apa yang dilakukan si tua bangka itu sekarang ?" Elvano mulai penasaran . Namun dirinya tak mencurigai apapun karena setau Elvano Amyra berada di tempat aman , yaitu rumah nya .


Elvano pun menelepon Om Bagja .


" Halo tuan Elvano . " ucap Om Bagja dengan tawa nya .


" Apa yang kamu temukan , dan apa yang akan kamu negosiasi kan dengan saya ?" tanya Elvano tegas .


" Hahaha , tenang tuan . Saya yakin anda pasti akan menyukai nya . " ucap Om Bagja tertawa senang .


" Saya tidak punya banyak waktu , sebaiknya anda tidak membuat saya marah . " ucap kesal Elvano .


" Bukan kah anda selama ini mencari Amyra ? Saya sudah menemukan nya . Dan sekarang berapa anda berani membayar untuk perempuan itu . " ucap Om Bagja .


Jantung Elvano terasa berhenti berdetak mendengar Om Bagja menyebut nama Amyra .


" Apa anda bilang kalau kini Amyra berada pada anda ?" tanya Elvano meyakin kan .


" Benar . Amyra sekarang ada pada saya . Dan saya harap anda bisa membayar dengan harga yang sesuai !" ucap Om Bagja .


Elvano seketika menutup telepon nya dengan kasar .


" Tidak mungkin ! Gua yakin Amyra ada di rumah sekarang , mungkin si bajingan Bagja hanya berbohong !" ucap Elvano masih merasa tak percaya .


Elvano bergegas menelepon Mama Rosa untuk memastikan keberadaan Amyra .


" Ma ?"


" Ya El . Ada apa ?" tanya mama Rosa .


" Amyra ada di rumah kan ?" tanya Elvano panik .


" Amyra tadi siang pergi sama Vina ke rumah sakit untuk ambil hasil tes DNA kalian , tapi masih belum pulang . Padahal udah malam . " ucap mama Rosa .


Elvano memukul kemudi mobil nya .


" Cepat cari mereka berdua ! Cari Vina dan juga Amyra . Sekarang !" Bentak Elvano pada mama nya .


" Ada apa El ? Apa yang terjadi ?" tanya mama Rosa yang masih kebingungan namun juga kaget karena bentakkan Elvano .


Elvano menutup telepon nya dan kini berusaha menelepon adik nya .


" Dimana kamu Vina !" teriak Elvano yang kini di penuhi amarah .


" Aku di jalan mau pulang . Ada apa ka ?" tanya Vina polos .


" Dimana Amyra ?"


" Mana ku tau . Tadi dia malah kabur di rumah sakit , aku tunggu dia malah ngilang . Yaudah aku pulang aja . " ucap Vina tanpa dosa .


" Kenapa bisa hilang hah ! " teriak Elvano kemudian mematikan telepon itu .


" Sialan !" amarah Elvano kini benar benar memuncak .


" Bagja ! Kalau sampai terjadi apa apa pada Amyra ! Jangan harap kamu bialsa melihat matahari besok pagi !" murka Elvano .


...****************...

__ADS_1


__ADS_2