Cinta Satu Malam Amyra

Cinta Satu Malam Amyra
Aku cape


__ADS_3

Langit sudah mulai mendung di pagi hari itu.


Amyra yang sudah tak sanggup lagi melangkah akhir nya terduduk di tepi jalan sebuah taman.


Rasa sakit di hati nya serasa menjalar menghabiskan semua tenaga nya , mengalir sederas air mata nya.


Yang sekarang Amyra pikirkan adalah bagaimana cara untuk menghilangkan bayangan Elvano di otak nya.


Satu satu nya cara adalah dengan pergi sejauh mungkin.


Sesaat Amyra merasa sunyi sepi beriringan dengan otak nya yang bergemuruh dan hati yang ber kecambuk.


Tiba tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan nya.


Tak lama kemudian turun lah sosok yang tak asing lagi bagi Amyra.


" Wah wah. Siapa ini yang sedang menangis di pinggir jalan. " ucap seorang pria dengan seringai jahat nya yang khas dan familiar .


Sontak Amyra menengok memastikan sosok pria itu.


" Om bagja! " Amyra benar benar terkejut.


Belum sempat Amyra berdiri. Tubuh nya sudah di pegangi oleh kedua anak buah Om Bagja.


" Om... " ucap Amyra lirih di sisa sisa tenaga nya.


" Masukan dia ke mobil. " perintah Om Bagja.


Tanpa perlawanan Amyra pun di bawa oleh Om Bagja.


******


Sementara itu, Elvano dan Bima masih berusaha mencari keberadaan Amyra.


Begitu pun dengan Theo.


Namun seperti nya nihil.


Mereka benar benar tidak bisa menemukan keberadaan Amyra yang seakan di telan bumi.


Elvano seharian mencari tau keberadaan Amyra.


" Kemana dia pergi? " ucap Elvano putus asa seraya memukul stir mobil nya. Begitu pun dengan Bima yang tak kalah putus asa nya.


" Kita tunggu kabar dari Theo . Sekarang lebih baik kita pulang dulu, ini udah jam 9 malam. " ucap Bima seraya melihat jam tangan yang memang menunjukan sudah cukup malam.


" Tapi, gua gak tenang . " resah Elvano.


" Gak ada gunanya lu cari dia kalo kondisi lu juga kaya gini. " ucap Bima seraya menunjuk Elvano yang saat ini memang terlihat lelah dan bahkan belum makan sejak pagi.


Elvano merenung sejenak. Dirinya memang sangat mengkhawatir kan Amyra saat ini, namun dirinya pun menyadari kalau kondisi badan nya sedang tak baik baik saja.


" Baiklah. " ucap Elvano seraya melajukan mobil nya untuk pulang ke apartemen nya bersama Bima.


" Theo bilang dia juga bakal nyusul ke apartemen. " ucap Bima.


*******

__ADS_1


Perlahan mata Amyra terbuka. Mata nya terasa perih karena terlalu banyak menangis hingga tertidur saking lelah nya.


Ketika Amyra terbangun, berusaha untuk duduk di ranjang . Sejenak Amyra melihat sekeliling ruangan itu.


Seketika Amura mengingat dengan jelas dimana dirinya berada saat ini. Yaitu di rumah peninggalan almarhum orang tua nya, yang dia tau kalau rumah itu sudah di jual oleh Om nya.


Amyra pun sadar kalau saat ini dirinya tengah berada di tangan Om Bagja. Bukan nya takut, kini Amyra terlihat pasrah. Tak ada perlawanan sama sekali.


Setidak nya dirinya masih hidup, begitu pikir nya.


" Minum. " ucap Om Bagja yang baru saja datang dan duduk di tepi ranjang itu.


Amyra pun mengambil gelas yang di sodorkan oleh Om nya dan langsung meneguk habis air itu karena memang tenggorokan nya sudah terasa sangat kering.


Om Bagja memperhtikan Amyra dengan seksama, lalu menghela nafas panjang.


"Kenapa kamu tidak melawan? " tanya Om Bagja yang heran dengan sikap Amura saat ini yang terkesan pasrah.


" Aku cape. " jawab Amyra putus harapan.


Bima tercengang mendengar jawaban Amyra.


" Bukan nya kamu ber tekad untuk membalas dendam pada ku? " tanya Om Bagja.


" Sekarang sudah nggak, aku udah cape. " jawaban Amyra benar benar membuat Om Bagja heran.


" Apa yang Om mau? Berkas harta ayah kan? " tanya Amura dengan tatapan kosong.


" Ya. " jawab Om Bagja singkat.


" Apa mau mu? " Om Bagja serius saat ini mendengar kan.


" Aku mau pergi dari kota ini, sejauh mungkin. Om bisa ambil semua nya. " pinta Amyra.


Om Bagja benar benr tercengang mendengar ucapan Amyra.


" itu mudah. " ucap Om Bagja.


" Janji? "


" Iya Om janji bakal penuhi. " janji Om Bagja.


Om Bagja yang biasa nya memaksa dan menggunakan kekerasan pada Amyra saat ini justru terlihat sangat baik pada Amyra.


Sesaat Om Bagja terbayang ketika tadi Amyra yang tengah menangis dalam tidur nya , selintas teringat wajah adik nya yaitu ibu dari Amyra yang telah meninggal akibat perbuatan nya . Entah mengapa seketika hati Om Bagja terasa sakit dan menyesal.


Awal nya memang Om Bagja berniat untuk kembali memaksa Amyra untuk memberikan berkas berkas aset peninggalan orang tua nya. Namun setelah hati nya tersentuh, Om Bagja justru ingin meminta maaf dan ingin memperbaiki segala nya.


Namun tak di sangka, justru Amyra dengan pasrah nya menawar kan tanpa paksaan.


" Berkas itu ada di rumah ini. " ucap Amyra.


Om Bagja kaget mendengar nya. Karena rumah ini sudah sering dia geledah namun tak pernah mendapat kan apapun.


" Om pernah bilang kalau rumah ini sudah Om jual kan? " ucap Amyra datar.


" Tak mungkin Om menjual rumah ini. Bagaimana pun ini rumah adik kandung Om kan. Dulu Om hanya menakuti mu agar kamu memberi tau Om tentang berkas itu. " jawab Om Bagja.

__ADS_1


" Om tidak tau kalau selama ini berkas itu ada di rumah ini? " tanya Amyra datar.


" Om sudah sering geledah rumah ini. Namun tak pernah menemukan petunjuk apapun.


Amura tersenyum ketir.


" Itulah kehebatan ayah. " ucap Amyra. Om Bagja terdiam memaku .


" Di sana. " ucap Amyra seraya menunjuk sebuah lantai di kamar itu. Om Bagja sontak memperhatikan nya.


Lantai marmer berwarna putih tertata rapih di bawah pijakan kaki . Sekilas memang tidak ada yang mencurigakan.


Perlahan Amyra turun dari tempat tidur itu dan berjalan ke sudut kamar nya. Amyra berdiri di petak pertama lantai marmer itu.


" Om tau ulang tahun ku? " tanya Amyra. Om Bagja menggelengkan kepala nya.


" tanggal 20 " jawab Amyra seraya berjalan menghitung setiap petak lantai itu mengikuti pola sudut kamar nya.


" Tau bulan apa aku lahir? " ucap Amyra. Om Bagja masih menggelengkan kepala nya.


" Bulan 5 yaitu mei. " ucap Amyra seraya kembali menghitung petak lantai yang dia pijak satu persatu.


Hingga saat ini Amyra berdiri di atas sebuah petak lantai marmer yang memang terlihat sama dengan petak lantai yang lain.


Om Bagja terlihat bingung dan juga penasaran dengan apa yang akan Amyra lakukan.


" Apa Om tau berapa nilai peninggalan aset ayah seluruh nya? " tanya Amyra. Om Bagja hanya terdiam .


" Oh iya aku lupa. Gak mungkin Om mati mati an mencri nya kalau Aset itu gak ada harga nya kan ya . " ucapan Amyra mampu membungkam mulut kakak dari ibu kandung nya itu.


Amyra kemudian berjongkok di lantai yang saat ini ia pijak itu. Perlahan Amyra menyusuri setiap sisi petak lantai marmer itu.


Hingga terdengar suara "Klik" dari salah satu sisi petak marmer itu. Om Bagja masih sangat memperhati kan nya.


Amyra menekan sisi marmer itu hingga bergeser dan akhir nya lantai marmer itu pun terbuka .


Om Bagja terlihat sangat kaget.


Amyra mengambil sebuah kotak seukuran buku tulis dari dalam lubang yang selama ini tertutup lantai itu .


Om Bagja bergegas menghampiri Amyra karena rasa penasaran nya yang begitu besar.


Amura mengangkat kotak itu di depan mata Om Bagja.


" Ini adalah surat wasiat ayah dan ibu, dan Ini hanya sebagian kecil peninggalan ayah. " ucap Amyra seraya membuka kotak berwarna hitam itu.


Amyra menyodorkan beberapa lembar kertas yang ada di dalam kotak itu pada Om Bagja.


" Ingat janji Om. Kalau Om bisa penuhi, aku bakal kasih tau semua aset ayah. " Amyra menegaskan.


Om Bagja tak langsung mengambil kertas itu.


Om Bagja perlahan meraih kertas kertas itu dari tangan Amyra.


Rasa penasaran yang sudah lama menghantui Om Bagja kini sudah ada di depan mata nya.


***********

__ADS_1


__ADS_2