
Amyra terbangun dari tidur nya karena desakkan kantung kemih nya yang sudah tak dapat lagi di bendung .
Perlahan Amyra turun dari tempat tidur dan melirik jam dinding yang menunjukan pukul 4 pagi .
Amyra yang sudah tak tahan bergegas masuk ke kamar mandi hingga lupa menutup pintu .
" Ah akhir nya lega .. " rasa lega Amyra setelah selesai buang air kecil . Namun alangkah kaget nya dirinya ketika melihat sesosok tubuh kekar sedang berdiri menyandarkan tubuh nya di ambang pintu . Amyra mengucek mata nya agar bisa melihat wajah pria itu dengan jelas .
" El ?" panggil Amyra ketika mata nya dengan sempurna mengenali sosok yang kini tengah berada di depan nya .
Tanpa menjawab Elvano berjalan masuk mendekati tubuh Amyra yang justru perlahan mundur satu demi satu langkah ke belakang mencoba menghindari Elvano .
Hingga kini tubuh Amyra sudah tak bisa mundur lagi karena punggung nya sudah menempel di ujung wastafel . Elvano masih terus berjalan mendekati Amyra .
Tangan kekar Elvano menahan tubuh mungil Amyra di sana . Tangan kiri dan kanan Elvano bertumpu pada ujung wastafel .
" El , ada apa ?" tanya Amyra gugup mencoba menghindari tatapan tajam Elvano .
Amyra berusaha mengatur detak jantung nya yang sedari tadi terasa sangat tak beraturan .
Elvano menatap lekat wajah Amyra yang berusaha menghindari tatapan nya .
" Jawab satu pertanyaan ku . " ucap Elvano .
" Pertanyaan apa ?" Amyra mulai bingung .
" Apa kamu akan membatalkan pernikahan kita ?" tanya Elvano serius .
Amyra terdiam , Amyra berusaha sekuat tenaga memberanikan diri untuk menatap mata elang milik Elvano .
Tatapan elang nan tajam Elvano memang terlihat mengintimidasi . Tapi entah mengapa Amyra merasa tatapan itu mampu membius nya dalam damai .
" Apa ada alasan buat aku supaya gak batalin pernikahan kita ? nggak ada kan ? gak ada alasan buat aku lanjutin pernikahan kita . " ucap Amyra berusaha tenang .
Sakit memang , karena sebenarnya Amyra pun tak ingin pernikahan mereka di batalkan . Perasaan yang mulai tumbuh di pelupuk hati nya tak cukup untuk menjadi alasan menikah dengan Elvano , apalagi tanpa kehadiran bayi yang pernah di kandung nya . Karena bayi itulah satu satu nya alasan kuat Amyra menikah dengan Elvano .
Amyra tak mau terus menjalankan pernikahan hanya karena perasaan nya pada Elvano yang Amyra pikir kalau Elvano pun hanya menikahi nya karena bayi itu .
Elvano mengembuskan nafas nya Kasar .
" Aku gak perlu alasan lain buat kita menikah . Aku menginginkan mu , sangat . " ucap Elvano penuh arti .
" Dari sekian jutaan alasan kamu justru gak punya alasan apapun buat nikahi aku selain bayi yang kini sudah gak ada kan ?" pertanyaan Amyra mampu membungkam mulut Elvano .
Elvano memang pernah sekali menyatakan bahwa dirinya mencintai Amyra . Perasaan nya bercampur aduk ketika mengetahui kalau Amyra bersedia menikah hanya karena bayi itu . Elvano beranggapan kalau mungkin setelah bayi itu tidak ada , Amyra pasti tidak akan melanjutkan pernikahan itu .
Amyra dan Elvano berpacu dengan pemikiran nya sendiri .
Amyra yang merasa cinta nya bertepuk sebelah tangan . Begitu pun Elvano yang merasa demikian .
Mereka berdua tidak bisa saling menyatakan perasaan karena takut akan hasil nya .
Bodoh nya cinta !
Tubuh Elvano semakin menuntut untuk terus menghimpit tubuh mungil Amyra hingga .
Tangan kekar namun lembut itu membelai wajah cantik Amyra . Menyentuh dagu runcing Amyra dan memposisikan wajah Amyra agar menatap mata nya secara langsung .
__ADS_1
" Alasan apa yang kamu inginkan dari ku ?" tanya Elvano serius .
" Sebaik nya kita sudahi pembicaraan ini . Dan tolong jangan seperti ini El . Jangan buat aku bingung . " ucap Amyra gundah .
" Kenapa kamu harus bingung ? kamu tinggal jawab saja . Apa pernikahan kita akan di batalkan atau di teruskan . " ucap Elvano terus menuntut .
" Pernikahan kita batal ! Puas ! Sekarang aku gak punya lagi alasan buat terus nikah sama kamu . " ucap Amyra frustasi berusaha menyembunyikan perasaan nya yang hancur .
Amyra harus melawan perasaan nya sendiri . Hati nya merasa ingin selalu bersama Elvano . Tapi pikiran dan mulut nya malah berkata sebalik nya .
Amyra tak percaya kalau dia sendiri nya lah kini membatalkan pernikahan itu .
Tangan Elvano yang tadi mencekram ujung wastafel kini melemah .
" Terserah !" jawab acuh Elvano kemudian berlalu keluar dari kamar mandi itu meninggalkan Amyra yang masih terdiam terpaku di sana .
Perasaan Elvano bercampur aduk . Kesal , marah dan kecewa . Elvano sangat menginginkan pernikahan ini , namun ternyata Amyra tidak menginginkan nya sama sekali , pikir Elvano .
Elvano merasa kalau hanya dirinya lah yang saat ini terobsesi pada Amyra .
Terdengar suara pintu yang terbuka , kemudian tertutup dengan sedikit bantingan menandakan kalau kini Elvano telah pergi dari sana .
Amyra segera keluar dari kamar mandi dan melihat keluar jendela kamar nya .
Terlihat Elvano yang keluar dari sanggar dan langsung masuk ke dalam mobil nya yang terparkir di sana . Mobil Elvano pun pergi berlalu meninggalkan tempat itu .
Bima yang menyadari ada hal yang terjadi terbangun dan memperhatikan Amyra yang tengah berdiri menatap jendela .
" Ada apa Ra ? kemana Elvano ?" tanya Bima .
Entah mengapa justru kini perasaan Amyra terasa sakit melihat kepergian Elvano . Dirinya lah yang membuat Elvano pergi , tapi kini dirinya juga lah yang merasakan sesal .
Bima menyadari nya namun tetap seperti tidak tau apa apa , walaupun sebenarnya dirinya mendengar semua percakapan Amyra dan Elvano di kamar mandi .
Dengan lemas Amyra duduk di sofa dengan tatapan kosong . Bima memindahkan tubuh nya agar bisa duduk di samping Amyra .
Tak kalah gundah nya , Bima pun merasa demikian .
Perasaan nya memang nyata untuk Amyra , tapi Bima pun tak bisa menutup mata melihat Amyra dan Elvano yang sebenarnya saling mencintai namun masih tersesat mencari keberadaan mereka satu sama lain .
Apalagi setelah bayi yang di kandung Amyra tiada , Bima dapat dengan jelas merasa kan kekecewaan di antara Amyra dan Elvano .
" Amyra ?" panggil Bima lembut dengan nada yang serendah rendah nya seraya tangan nya mengusap rambut Amyra .
" Kamu tau perasaan ku pada mu ? " tanya Bima tulus .
Amyra hanya terdiam menatap wajah tampan Bima yang menyejukkan .
" Aku mencintai mu Ra , Aku tulus pada mu , sangat . " ucap Bima serius .
Itulah yang Amyra takutkan . Amyra takut kalau dirinya terus bersama Elvano , justru Bima lah yang akan tersakiti . Batin Amyra meronta .
" Dan sekarang aku mau tau perasaan mu pada ku ." ucapan Bima membuat Amyra gelisah , kebingungan dengan perasaan nya sendiri .
Amyra tidak dapat mengartikan perasaan nya sebagai cinta pada Bima . Namun ada perasaan yang mendalam yang ia rasakan pada Bima , itu karena selama ini Bima lah yang selalu ada untuk nya .
Bima tersenyum .
__ADS_1
" Aku tau Ra , aku tau yang kamu pikirkan . " ucap Bima .
" Kamu menolak perasaan mu sendiri karena takut aku terluka melihat kamu dengan Elvano kan ?" tepat sasaran semua ucapan Bima mampu membuat Amyra menunduk penuh sesal .
" Aku gak se egois itu Ra . Apapun yang buat kamu bahagia , aku akan terima . Walaupun aku tau bakal menyakitkan , tapi kalau itu membuat mu bahagia maka lakukan lah . Jangan bodohi perasaan mu sendiri . " ucapan Bima menyiratkan rasa sakit yang tak bisa di jelaskan .
" Aku ,, " ucap Amyra ragu .
" Aku takut . " lanjut nya .
" Apa yang kamu takut kan ?" tanya Bima serius .
" Aku takut kamu terluka , aku takut kamu tersakiti . Aku sungguh sungguh ingin bersama mu , tapi ,, " ucapan Amyra terhenti .
" Tapi kamu mencintai Elvano kan ?" ucapan Bima selalu tepat sasaran .
Amyra kembali terdiam .
" Aku tau aku pasti terluka , tapi aku juga tau kalau kamu gak bahagia maka aku pun terluka juga . Jadi aku lebih memilih terluka asalkan kamu bahagia , dari pada terluka melihat gadis yang ku cintai terluka karena tak bisa menggapai cinta nya . " ucapan Bima sangat menusuk hati siapapun yang mendengar nya .
" Aku memang mencintai nya Bima ! Tapi aku yakin kalau perasaan Elvano tak sama . " ucap Amyra akhirnya mengeluarkan semua isi hati nya .
" Elvano menikahi ku karena bayi itu , dan sekarang bayi itu sudah gak ada . Lalu apa alasan Elvano untuk terus menikahi ku , mungkin hanya rasa iba . " jelas Amyra dengan suara bergetar .
Bima memeluk tubuh mungil Amyra seraya tersenyum dan menggelengkan kepala nya pelan menandakan ketidak percayaan nya pada isi hati Amyra yang baru saja keluar .
Bima sungguh tidak mengerti mengapa cinta bisa membuat semua orang menjadi bodoh .
" Jangan jadi bodoh karena cinta ! " ucap Bima meledek .
" Bima ,,, " Amyra kesal karena Bima justru meledek nya .
Bima tertawa kecil .
" Aku tau sifat Elvano ! Dia tidak pernah sampai seperti ini , sifat angkuh dan dingin nya bisa berubah seketika ketika itu berhubungan dengan mu Ra . Aku tau sudah banyak wanita yang dekat dengan nya , Elvano yang dengan mudah nya mendapatkan apapun yang dia ingin kan hanya dengan satu tunjukan jari , namun baru kali ini aku lihat dia frustasi hanya karena gadis mungil seperti mu . Dan kamu tau artinya apa ? " ucap Bima menunjuk hidung Amyra .
Amyra masih terdiam .
" Itu artinya dia mencintai mu Ra . "
Ucapan Bima seketika membuat jantung Amyra seakan berhenti berdetak Wajah nya seketika memerah .
" Tapi ,, "
" Gak ada tapi , berbahagia lah dengan Elvano . Hanya itu yang membuat pengorbanan perasaan ku gak sia sia . " ucap Bima penuh arti .
" Aku percaya kamu pasti bahagia dengan Elvano , aku sangat mengenal nya . " ucap Bima .
" Benarkah ?" ucap Amyra masih merasa tak percaya kalau sebenarnya Elvano juga mencintai nya .
Bima mengangguk seirama dengan senyuman nya . Senyuman yang menyembunyikan rasa sakit nya .
Amyra memeluk Bima erat .
" Terima kasih Bima . " ucap Amyra terharu .
" Asal kamu bahagia , aku siap terluka . " batin Bima menjerit .
__ADS_1