Cinta Satu Malam Amyra

Cinta Satu Malam Amyra
Rencana


__ADS_3

" Udah siap? " tanya Bima.


" Udah dong. " jawab Amyra seria seiring dengan cerah nya pagi itu.


" Yaudah, tunggu di mobil. Aku ambil jaket dulu. " ucap Bima seraya kembali ke kamar nya untuk mengambil jaket.


Amyra berjalan dengan penuh senyum menuju luar sanggar tempat dimana mobil Bima terparkir disana.


Amyra dan Bima pagi ini berencana untuk pergi ke apartemen Elvano, bukan tanpa alasan. Setelah mendapatkan kepastian akan perasaan Amyra pada nya, Bima pun ingin segera memastikan kejelasan perasaan Amyra dan Elvano.


Bima tak mau mengulur ulur waktu untuk segera menyatukan kembali Elvano dan Amyra agar segera bersama.


Bima juga berencana untuk membicarakan masalah perjodohan Elvano dan juga Alisha yang harus segera di batal kan.


Bima tak mau melihat Amyra bimbang dengan hubungan nya dengan Elvano.


" Yuk. " Ajak Bima seraya masuk ke jok kemudi lalu menyalakan mesin mobil berwarna hitam milik nya itu. Amyra pun bergegas ikut masuk ke mobil.


" Semangat banget yang mau ketemu Elvano. " canda Bima.


" Bimaaaa,, " jawab Amyra tersipu malu.


Hati Bima seakan damai melihat senyuman indah yang kini terpancar dari wajah cantik Amyra yang tersipu.


Bima pun melajukan mobil nya meninggalkan sanggar itu.


Sepanjang perjalanan terlihat Amyra yang begitu berseri . Bima semakin tenang di buat nya.


Di tengah perjalanan, Bima menghentikan mobil nya di sebuah apotek.


" Tunggu di mobil. " ucap Bima seraya membuka pintu mobil. Amyra mengangguk.


Bima pun turun sendiri, Amyra hanya menunggu di mobil menuruti perkataan Bima.


Hanya butuh beberapa menit sampai Bima kembali lagi ke mobil dan kembali memposisikan dirinya di balik kemudi.


" Beli apa? " tanya Amyra penasaran dengan barang yang ada di dalam tas kertas berwarna putih yang baru saja Bima beli dari apotek.


" oh ini. Theo bilang semalam El minum banyak, jadi sekalian aku beliin obat pereda mabuk buat dia. " jawab Bima sambil kembali mengemudikan mobil nya.


" Ohhh... Hmmm, perhatian banget. " ucap Amyra heran.


" Sejak dulu emang kaya gitu. Tiap kali si El mabuk karena di ajak Theo, aku yang selalu urusin dia. " ucap Bima tertawa kecil ketika sekilas mengingat masa masa kebersamaan mereka.


" Emang dari dulu udah suka minum minum kaya gitu? " tanya Amyra penasaran.


" Nggak juga sih, Yaa tapi sekali nya minum dia gak pernah bisa kontrol. " ucap Bima.


" Apalagi pas dia ditinggalin sama Alisha. Seminggu dia gak pulang, full time dia minum minum di tempat Theo. Sampai akhir nya drop karena Usus dan tenggorokan nya terbakar akibat terlalu banyak minum alkohol. " jelas Bima seraya pandangan nya fokus ke jalanan yang di lewati nya itu.


Deg!


" Alisha? " ucap Amyra sontak membuat Bima tersadar kalau dirinya telah salah bicara, Bima tak ingat kalau Alisha adalahmsa lalu Elvano.


" Udah jangan di pikirin. Eh " ucap Bima mencoba mengalihkan topik.


Bima hampir saja menceritakan tentang Alisha pada Amyra. Bukan karena apa, Bima hanya ingin menjaga perasaan. Karena Alisha hanya masa lalu Elvano.


Amyra sangat tau kalau Bima berusaha menjaga perasaan nya. Amyra pun mencoba berusaha tetap tenang agar Bima tak menjadi merasa bersalah.


" Gak beli makanan? " tanya Amyra.


" Oh iya. Lupa, kita mampir beli makanan dulu ya. " jawab Bima seraya tersenyum lega melihat sikap Amyra .


" Iya. " senyum Amyra.

__ADS_1


Setelah membeli beberapa makanan, Bima pun melanjutkan perjalanan nya menuju aprtemen Elvano.


Sepanjang perjalan Amyra terlihat bahagia, senyuman nya merekah di pagi itu. Hati Bima yerasa damai melihat pemandangan indah wajah cantik Amyra.


" Melihat mu bahagia seperti ini cukup membuatku bahagia. " gumam Bima.


Setelah hampir satu jam melewati macet ibukota . Mobil Bima pun kini telah sampai di parkiran apartemen Elvano.


Amyra dan Bima pun turun seraya membawa beberapa barang yang tadi di beli nya.


Mereka mulai memasuki gedung apartemen itu.


Ketika kendak memasuki lift. Bima teringat kalau handpone nya tertinggal di mobil.


" Ah, aku lupa handphone ku ketinggalan di mobil. " ucap Bima seraya meraba saku celana nya.


" mau aku ambilin? " tanya Amyra.


" Kamu duluan, tau kan password apartemen nya? " ucap Bima seraya berbalik ke arah parkiran.


" Ah iya. " jawab Amyra kemudian melanjutkan langkah nya memasuki lift. Hingga lift pun tertutup .


Lift itu pun kini naik menuju lantai tempat apartemen Elvano berada.


Pintu lift terbuka, Amyra pun keluar lalu berjalan menuju apartemen Elvano yang memang sudah pernah dia datangi.


" Huuhhh.. " hembus nafas Amyra menyiapkan diri untuk masuk ke dalam apartemen Elvano.


Amyra memasukan pasword di pintu itu. Hingga terdengar suara digital pertanda pintu sudah berhasil terbuka.


Dengan ragu Amyra masuk ke apartemen Elvano dengan perlahan.


" El... " panggil Amyra pelan. Namun tak ada jawaban.


" Apakah masih tidur? " pikir Amyra.


Apartemen mewah nan luas itu terasa sepi. Semua tampak elegan dan rapih khas dengan kepribadian Elvano.


Amura berjalan menuju dapur, namun tak ada siapapun.


Amyra pun memberanikan diri untuk melihat ke beberapa ruangan di sana.


Hingga kini kaki nya berhenti tepat di depan pintu kamar Elvano.


" El.? " panggil Amyra pelan seraya mengetuk pintu kamar itu . Namun tak ada jawaban.


" Kaya nya emang masih tidur. " gumam Amyra.


Amyra bingung harus lakukan apa.


Apakah harus diam menunggu Bima, atau memberanikan diri mencari Elvano ke kamar nya.


Beberapa kali Amyra mengetuk pintu kamar seraya memanggil Elvano. Namun tetap tak ada jawaban.


Hingga tiba tiba terbesit pikiran buruk.


" Apa Elvano baik baik saja? Atau mungkin dia jatuh? atau belum sadar? Jangan Jangan... " pikiran buruk terus membayangi Amyra hingga dirinya pun memberanikan diri perlahan membuka pintu kamar Elvano.


Kmr Elvano yang memang luas dengan desain nya yang elegan dengan beberapa ruang di dalam nya.


Hal yang pertama terlihat oleh Amyra adalah sebuah sofa besar di sudut sana . Sofa yang pernah dia duduki saat itu.


Mata nya kini mulai mencari keberadaan Elvano seraya perlahan melangkah lebih dalam masuk ke kamar itu.


" El.. " panggil Amyra pelan.

__ADS_1


Perasaan nya kini campur aduk. Antara penasaran dan juga khawatir.


Amyra memberanikan diri untuk semakin masuk .


Amyra kini berdiri tepat di depan tempat tidur Elvano.


DEG!


Pemandangan yang kini di lihat Amyra sukses membuat otak Amyra berhenti bekerja.


Jantung Nya seakan terjatuh. Seakan mendapat dentuman keras sebuah bom di dada nya.


Sesak. Itulah yang ia rasakan saat ini.


Mata nya seakan tertusuk duri tajam. Seakan mimpi.


Kaki nya bergetar, kepala nya terasa pusing.


Tangan nya meremas erat baju di dada nya.


" Elvano. " suara Amyra lirih.


Bagaimana tidak, dirinya kini berdiri tepat di depan sebuah ranjang besar nan mewah . Sebuah ranjang yang kini tengah terbaring sepasang manusia . Dengan setengah badan tanpa busana dan setengah badan tertutup oleh selimut.


Amyra yakin kalau laki laki itu Elvano. Dan ketika mata nya mencari tau siapa wanita yang berada di ranjang bersama Elvano, hati nya kini semakin hancur.


" Alisha. " ucap nya lirih dengan nada rendah.


Pemandangan ini sukses membuat Amyra bahkan tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.


Amyra berusaha sekuat tenaga menahan air mata dan amarah nya.


" Elvano. " Panggil Amyra cukup tegas dengan nAda ketar.


Bukan Elvano yang bangun, melainkan Alisha.


Alisha membuka mata nya.


Bukan nya kaget, Alisha justru tersenyum pada Amyra.


Alisha justru memeluk Elvano.


Amyra terdiam. Bungkam .


" Satu batu ku lempar, 2 burung langsung mati . " ucap Alisha merasa menang.


Dada Amyra seakan terhantam ombak.


Air mata nya pun tak bisa terbendung lagi. Kini butiran bening itu mulai lahir dari sudut mata indah nya.


Perlahan Amyra mundur dari langkah nya dengan pikiran dan perasaan yang hancur.


Amyra berbalik dan kemudian berlari secepat mungkin keluar dari sana. Berharap busa sejauh mungkin pergi dari sana.


Deraian air mata kini sudah tak bisa tertahan lagi. Amyra menangis sejadi nya seraya tangan nya terus menekan tombol lift itu. Berharap segera meninggalkan tempat itu.


Pintu lift pun terbuka.


" Amyra. " ucap Bima yang baru saja keluar dari lift sebelah nya . Di apartemen itu memang di sediakan dua lift berbeda , satu untuk turun dan satu lagi untuk naik.


Kaget bukan main, Bima melihat Amyra yang kini wajah nya dipenuhi air mata.


" Heiii, kenapa? ada apa? " tanya Bima panik. Namun Amyra melepas tangan Bima kemudian masuk ke dalam lift lalu segera menutup pintu lift itu.


Bima mematung sejenak melihat Amyra yang pergi dengan tangisan.

__ADS_1


" Elvano! " ucap Bima geram seraya tangan nya mengepal keras. Bima yakin kalau ini pastu ulah dari Elvano.


********


__ADS_2