
Hari hari aku disini sudah mulai terbiasa, aku sudah mempunyai banyak teman bahkan lingkungan sekitar sudah seperti tempat tinggal aku. Tawaran Boy supaya aku kos sudah aku pertimbangkan oleh ku. Aku berfikir ya mungkin lebih baik dari pada nanti banyak teman aku yang tau hubungan terlarang aku dan dia mending aku mengalah. Dan bukan berpikir yang aneh aneh namun menjaga saja yang terbaik bagi kami.
Hari Minggu adalah hari libur aku namun aku tak berani bertanya dia libur atau tidak karena bagiku yang aku takutkan itu waktu buat dia dan istri nya jadi aku mendingan diam. Aku hanya berdiam diri di dalam mes sambil melihat YouTube dan drakor. Benar apa kata hatiku mode diam dia untukku yang berarti ini waktu buat istrinya. Aku terima karena aku mencoba untuk menerima dengan lapang dada bahwa ini lah konsekuensinya bahwa mencintai suami orang. Pintu kamar mes terdengar ada yang mengetok pintu lalu aku berjalan membuka pintu ternyata Sri.
" Mba Ipeh ngga keluar?" tanya sri
" Ngga lah Sri, mau kemana lagi mager banget."
" Ooh ya udah kita santai aja di mes yah mba."
" ngga apa kita disini aja ngobrol ma santai aja cukup he.." kata aku
" sambil pesen makan yuk mba aku belum makan." kata Sri
" ok, tapi pesen apa yah?"
" Apa sih ya mba, soalnya kan kita belum paham makanan sini. Apa ayam ajalah yang jelas he..."
" ya sudah kamu pesen saja."
Akhirnya kami memesan makanan serambi kita ngobrol santai, walaupun dalam pikiran aku tak karuan. Aku hanya berusaha menutupi rasa cemburuku. Tak ada kabar dan tak ada berita namun aku sudah paham.
tak disangka hpku berdering
" yank."
" ya."
" Maafkan aku ya aku harus menemani istrinya jalan jalan." kata dia
" Ya ngga apa temani dia dan bahagiakan dia." kata aku
__ADS_1
" maaf yah yank jangan marah." kat dia
" Nggalah yank, itu dah kewajiban dirimu dan aku harus paham."
" Tapi sebenarnya aku pun ingin mengajak dirimu jalan kerumah ibu." kata dia
" gampang lah yank besok besok juga ngga apa."
" Lah kamu di mes sama siapa?" tanya Boy
" aku bareng temen kerja yank, mba Sri namanya.
" dah makan belum?"
" ini lagi pesen ayam."
" Aku pesen ayam buat dirimu yah?"
" Ya udah ya aku tinggal dulu, tapi dirimu ngga apa kan?
" ngga yank ngga apa. Ati ati dijalan yah Miss youu love youu."
walaupun sakit dan cemburu ngga mungkin aku melarang dia. Aku tak punya hak untuk itu, dan aku hanya bayang bayang dia sedangkan istrinya adalah Separo hati dia.
Mungkin jika tak ada Sri sudah tumpah air mataku. Namun alhdmulilah Aku ada teman yang saat ini masih bisa menghibur aku.
" mba ini ayam nya sudah datang ayo kita makan." kata Sri
" Ok ayo kota makan." kata aku
Makanan masuk kedalam mulut namun mata dan pikiran entah kemana. Menahan itu terasa sesak di dada meluapkan pun aku tak bisa.
__ADS_1
Aku berencana akan pindah mulai.minggi depan. Namun aku belum cerita ke Sri bahwa aku akan kos.
" Sri ."
" Ya mba ?"
" Aku mau kos mulai Minggu depan."
" ha...kenapa mba?"
" y ngga apa aku pingin supaya aku lebih leluasa seperti bisa masak dan kalau perlu MB keluar aku ngga enak ma satpam." kata aku
"Lah padahal buat Temen aku mba malahan mba Ipeh mau pindah."
"Maaf yah Sri kamu kan bisa main kalau kamu bete di mes."
" ya ok mba. Tapi dimana itu mba?"
" yang sebrang jalan depan Sri, nanti kita selesai makan kita keluar akan aku tunjukan."
" oh ya mba kita makan dulu aja." kata Sri
kami makan sambil mengobrol tentang pekerjaaan dan keluarga kami. Ternyata Sri adalah orang yang enak dijak berteman.
Alhamdulilah aku sudah mulai menemukan teman baik. Kami adalah senasib sepenanggungan di negara orang ini. suka duka jauh dari orang tersayang, harus kuat dan tahan banting baik mental maupun fisik.
Kami hanya manusia biasa mengadu nasib dengan modal Bismilah dan pasrah kepada yang kuasa dimana semoga rejeki kita selalu lancar, melimpah bahkan selalu dilindungi di setiap Langkah kami.
Bersyukurlah setiap rejeki yang diberi kan oleh Allah walaupun hanya seujung kuku karena jika kita bersyukur pasti akan banyak jalan dan kemudahan aminn.
Namun aku terkadang mencoba iklas dalam menjalin hubungan dengan Boy namun berat untuk melakukan nya. Mulut mampu berkata namun kenyataan tak semudah praktek.
__ADS_1