
Entah kapan aku akan disini. Dirumah ibu, atau lebih enaknya mertua namun apa aku pantas?
secara hukum memang bukan namun jika agama aku punya hak. Maaf jika aku mengakui ini sebagai mertua ku. Jujur saja aku merasa nyaman karena ibu tak membedakan aku namun rasa kaku tetap ada. Setiap hari aku selalu makan masakan ibu, setiap aku repot ini juga lah yang menjaga disaat Boy tak ada. sesekali aku membantu ibu bersih bersih saat si junior sedang tidur.
Bersyukurnya aku, walaupun aku akui ada kalanya ini semua akan kembali kepada yang berhak. Aku disini Hanya kontrak bukan sebebas aku tak punya ikatan di negaramu sendiri. Aku sudah merasa was was saat aku memikirkan hal ini. Bagaimana pun sebagai seorang ibu pasti sayang anak nya namun tidak mungkin aku bawa pulang. Namun kalaupun aku tinggal terlalu berat dan separo hidup aku hilang. Itu buah cinta kami dan aku tak rela.
" Peh ..." panggil ibu
" ya Bu....sebentar lagi menyusui junior."
" kalau sudah selesai makan lah selagi masih panas." kata ibu
" iya Bu sebentar lagi keluar."
saat menyusui belum selesai muncul sosok yang aku sayangi yaitu Boy
" Anak ayah lagi mau bobo yah ?" tanya Boy ke junior
" jangan berisik lah yank aku mau makan dulu ngga enak ibu panggil aku terus."
" ya sana makanlah nanti aku jaga junior buat kamu ."
__ADS_1
" lah ayo temani aku makan sekalian ..kan lebih enak." aja aku
" Bentar lah yank aku baru aja masuk, aku mainan dulu ma junior nanti aku nusul."
" Laah ayo yank."
" Bentar sayang masa junior mau ditinggal ngga ada yang jaga ?"
" Halah alasan aja ....nanti pasti ibu masuk gantiin jaga ." kata aku manja
" hmm mulai manjanya keluar nanti kalau belum besar junior ada adik nya jangan salah aku yah ? karena kamu yang menggoda."
"ih siapa juga yang minta adik buat junior yank he....." kata aku
Kami keluar kamar disaat junior sedang tertidur. Semua tengah kumpul diruang keluarga entah apa yang sedang mereka obrolkan. Aku mengajak makan ternyata mereka sudah makan dahulu. Aku akui memang masakan ibu enak dan ciri khas masakan kampung asal kami masih terasa.
Setelah makan kami duduk sebentar ikut ngobrol bersama keluarga. Rasa kekeluargaan masih terasa dan aku serasa seperti tak di negara orang. Saat itu ibu bertanya kepada aku
" Peh ..kamu sudah tinggal bersama junior disini saja. Kamu sendirian disana dan lebih baik kamu disini juga Boy tiap hari pulang kesini tidak memakan waktu."
" iya yank lebih baik kamu disini aja lagian nanti aku kan lebih gampang juga ada yang menjaga junior kalau kamu lagi repot." kata Boy
__ADS_1
" Tapi nanti merepotkan Bu ."
" Jangan ngomong seperti itu peh kamu ibu anggap juga sudah jadi anak ibu, kamu memberikan ibu seroang cucu yang lucu itu adalah kebagian bagi ibu."
" Tapi kalau nanti istri Boy kesini bagaimana? kata aku
" Tenang yank pasti aku atur dan suatu ketika aku akan jujur agar bisa menerima junior sebagai bagian kelurga aku." kata Boy
" Yah bagaimana pun kamu harus jujur, bagaimana pun hasilnya adalah yang terbaik." nasehat ibu
" ya aku akan jujur Bu, cuma aku juga harus menata bagaiman cara ngomong nya agar Samapi tanpa harus begitu menyakitkan walaupun memang menyakitkan tapi bisa menerima."
"Ya ibu tau maka nya itu kamu harus cepat bertindak daripada lama lama tetap menyakitkan."
" ya Bu kalaupun dia tak mau menerima junior itu hak dia aku ngga memaksa namun ini adalah anak aku. "
Aku hany terdiam tanpa bisa berkata kata. perih sekali hati ini namun hanya diam dan diam. Andaikan engkau tahu aku pun menanggung ketakutan itu. Rahasia yang besar yang masih aku genggam entah Sampai kapan. Ingin aku.menangis namun masih aku tahan. perih mata ini. Akhirnya aku pamit dengan alasan takut junior bangun.
" permisi maaf saya masuk kamar dulu takut junior Ngombol atau bangun."
" ya ngga apa, istirahat dan jaga junior."
__ADS_1
Aku masuk dan aku tumpahkan tangisnya di bekapan bantal agar tak terdengar oleh kuping diluar kamar. Ingin menjerit sekencang kencangnya. Diluar masih terdengar samar samar mereka masih mengobrol namun tak aku dengarkan. Aku merasa bersalah dengan kedatangan aku semua berubah menjadi serumit ini. Namun aku melihat mereka bahagia dengan bertambahnya junior diantara kami. Perih dan sakit aku tutupi dengan melihat senyum dan tangis si junior. Aku pasti bisa melewati ini karena itu pilihan aku .