Cinta Sebatas Udara

Cinta Sebatas Udara
episode 86


__ADS_3

Masih ada satu masalah lagi yang mengganjal pikiran kami berdua yaitu bagaimana cara menyampaikan masalah ini ke orang tua dia yang justru jelas dekat dengan kita. Setelah aku mengakui ke orang tua ku di kampung aku sudah lega mau terima ngga nya semua sudah terjadi walaupun marah dan kagetnya orang tua ku mendengar berita itu. Nasi sudah menjadi bubur. Kini kami harus menghadapi orang tuanya yang bahkan belum tau kami menikah ditambah aku sudah mengandung hasil hubungan kami. Namun bismilah kami harus menghadapinya.Hari Minggu pagi aku dan dia janjian untuk mengatakan ini ke ibunya rasa takut sudah dari semalam aku rasakan. Bahkan Sampai tak bisa tidur. Setelah aku tau aku mengandung perubahan ku sudah terlihat. Aku sering pusing jika matahari terbit rasanya luar biasa. Kami berangkat lebih pagi karena jelas butuh waktu tak sebentar untuk menjelaskan semua itu.


Sesampainya dirumah orang tuanya dia langsung tanpa basa basi.


" Bu , aku mau ngomong sama ibu ." kata Boy kepada ibunya


" Ada apa Boy kok serius sekali?" tanya ibu


" Ya Bu aku mau ngomong sesuatu hal dan sebelum ngomong aku minta maaf dulu kalau aku mengagetkan ibu serta semua keluarga di sini."


Aku hanya diam namun aku melihat ibu dan adik laki lakinya bingung.


" Ibu maaf atas kesalahan ku dan Ipeh. Kami telah melangkah terlalu jauh dan disini kami ingin memberi tahu bahwa aku dan Ipeh sudah menikah siri dan sekarang Ipeh sedang mengandung anak aku."


" Apa ...?" ibunya hanya menjawab singkat namun sudah memberikan arti yang begitu dalam dari jawaban itu.


" ya Bu...aku dan Ipeh sudah menikah siri dan sekarng dia hamil anak aku. kami salah Bu namun kami sudah berusaha menahan hasrat kami namun kami hanya manusia yang punya rasa saling menyayangi dan ibu pun sudah tau dari jaman kami masih ditinggal di negara yang berbeda. Kami salah dan salah besar namun apa kami salah juga jika kami saling punya rasa sayang dan rasa nyaman. kami percaya Allah telah mengatur semua tanya campur tangan beliau kami tidak akan mungkin bertemu kembali." kata Boy menahan sedih.


" Tapi ibu sudah pernah bilang jauh sebelum Ipeh datang kesini bahwa kalian ada tembok pemisah dan jaga keluarga kalian." kata ibu menahan marah juga


" ya Bu aku tau dan kami sudah menjaga ini semua namun semakin lama rasa nyaman dan saling membutuhkan tidak dapat kami hindari."


" Kapan kalan menikah siri?" tanya ibu

__ADS_1


" lebih dari 4 bulan yang lalu."


"Dan berapa bulan Ipeh mengandung ?"


" hampir 2 bulan." jawab Boy dan aku tak mengeluarkan satu kata pun karena aku melihat ketegangan diantara Meraka dan aku menghormati itu daripada memperkeruh suasana.


" Kenapa sudah lebih dari 4 bulan kalian bisa baru cerita ke ibu ? apa nunggu Ipeh hamil dulu ?"nada ibu sudah meninggi


" Maaf Bu kami bingung harus memulai dari mana? karena kami salah ."


" terus kalian mau bagaimana dan kalian minta ibu juga harus apa ?"


" Kami ngga minta apa apa dari ibu hanya kami ingin jujur dan menerima keadaan ini." kata Boy


" Kenapa semua yang sudah terjadi kalian baru cerita. kalian masih punya orang tua dan anggap kami sebagai orang yang lebih tua. kami pasti akan memberikan solusi yang paling tidak bisa menjadi bahan pertimbangan kalian."


"sekarang keadaan kamu bagaimana Ipeh ?" tanya ibu kepada aku


" aku baik baik saja Bu palingan keadaan aku yang sudah mulai ngerasa mual dan lain lain sewajarnya orang hamil." jawab aku


" semua sudah terjadi ibu emang marah namun bagaiman pun kita ambil hikmahnya dan kita harus menjalani semuanya. Jaga kandungan mu Peh dan kalau ada apa apa kamu hubungi ibu saja." kata ibu


" terima kasih Bu dan saya juga minta maaf karena saya juga tidak bisa menjaga kepercayaan yang ibu beri kepada saya." kata aku

__ADS_1


" Sudahlah semua sudah ada garis nya dan kita hanya perlu menjalani dan berusaha menjadi lebih baik lagi dan belajar dari ini semua."


Akhirnya sebagian masalah kami teratasi walaupun itu belum selesai. paling tidak ibu telah tau dan kami sudah plong. keadaan sudah mulai kembali ceria dan kami mengobrol dengan obrolan yang lain. Setelah sore menjelang Maghrib kami pamit untuk pulang. Dalam mobil aku hanya terdiam menikmati perjalanan kami.


" yank jangan diam lah." kata dia


" aku cape yank juga pusing."


" kamu pingin makan apa yank?" tanya dia


" pusing ma mual yank saat ini ngga pingin apa apa sih ."


" beneran?"


" iya yank, cuma pusing ma pingin muntah aja."


" apa mau turun istirahat aja dulu."


" nggalah yankk mending di kos aja lah jadi dah tenang."


" apa kamu masih bisa nahan?"


"masih yankk tenang makanya dirimu fokus supir aja jadi aku kan ngga ngomong ngga tambah pusing."

__ADS_1


" ya ya ok ok."


kami melaju dengan kecepatan lambat. kekhawatiran dia sudah mulai terlihat. Rasanya sudah tak tertahan sekali. Ingin muntah tapi tak bisa dan ingin rebahan badan ini. Sesampai di kos aku langsung meluruskan badan aku tanpa aku pedulikan dia dibelakang aku. Mungkin dia paham bahkan aku tak sempat menganti pakaian aku.


__ADS_2