
Olivia Sada Amarta, gadis berusia 18 tahun yang baru lulus SMA, sekolah swasta di sebuah kota yang terkenal dengan asinannya.
Putri kedua pasangan Dion Jody Amarta dan Amelia Yumna. Olivia, yang sebenarnya blasteran Jawa, Belanda dan Tiongkok. Walaupun lahir di kota penghujan itu, Olivia tetaplah gadis blasteran dan itu keturunan dari keluarga sang Papa. Kalau sang Mama, dia asli dari Jawa Tengah dan tepatnya kota Surakarta.
Gadis berkulit kuning, dengan rambut halus dan lurus, begitu manis di usia yang kala ini baru menginjak 18 tahun.
Inilah kisah Ovilia Sada Amarta yang akan dimulai.
Akankah ada cinta atau seorang pria tampan yang mendekatinya?
Ataukah seperti cerita cinderella?
Atau ada sahabat rasa cinta?
Selamat Membaca para pembaca tercinta 🤗
Kala pagi dengan rintik hujan mengantarkan kepergian Olivia, ke sebuah kota besar.
"Selamat pagi Nona Olivia," sapa Pak Roni, dia adalah sopir keluarga Amarta yang akan mengantarkan Olivia ke luar kota.
"Pagi Pak Roni" senyuman menyelirit ke sisi kanan dan itu sudah biasa bagi Olivia. "Emms...sepertinya ada yang berubah dari Pak Roni." ledek Olivia sambil manggut-manggut dan Pak Roni yang sudah mulai membuka pintu belakang mobil sedan hitam itu, tampak menatap Olivia dengan santai.
"Maksud Nona Olivia, rambut saya?" Senyuman Pak Roni juga terkesan menawan. Walaupun hanya seorang sopir, dia juga berpakaian layaknya seorang manager sebuah perusahaan besar.
"Emss, iya. Pak Roni terlihat lebih keren!" kedua jempol cantik itu memang mengisyaratkan penampilan Pak Roni pagi ini, dan senyuman Olivia begitu imut.
"Nona bisa saja." balas Pak Roni yang memang terlihat lebih menawan.
Oliva pun mulai masuk ke dalam mobil berplat B itu, dan Pak Roni menutup pintu mobil dengan senyumannya, lanjut ke tempat dia mengemudi.
Saat ini, baru pukul 8 pagi dan Olivia akan segera bergegas untuk pergi meninggalkan kota kelahirannya.
Suasana begitu damai, udara pagi ini dengan rintik hujan yang tidak begitu deras. Mobil sedan mewah itu, sudah mulai pergi meninggalkan halaman rumah keluarga Amarta.
"Pak Roni, apa nanti Olivia akan tinggal di rumah Papa?" Tanyanya sambil melihat ke arah luar, dan memandangi jalanan kota hujan itu.
"Apa Nona Olivia belum diberi tahu Nona Dinda?" Pak Roni yang fokus mengendarai dan sesekali melihat ke arah spion atas dan memastikan kalau Olivia tampak senang akan kepergiannya itu.
"Kak Dinda nggak bilang apa-apa, dia cuma bilang, kalau pagi ini Olivia harus ke Jakarta." Dengan rasa tidak nyaman dan itulah yang dirasakan Olivia.
__ADS_1
Sejujurnya di Jakarta, dia akan lebih dekat dengan Papanya, tapi disana ada ibu tiri yang tidak bisa dekat dengan dirinya.
Dalam hati Olivia dan masih memandangai jalanan luar. "Seandainya Mama masih ada."
"Nona tidak perlu cemas, nanti Nona tidak akan tinggal dengan Pak Dion dan Nyonya Monica." ucap Pak Roni dan ada rasa yang tidak nyaman.
Pak Roni usianya sudah 40-an, tapi terkesan awet muda dan banyak yang mengira usianya sekitar 30-an. Bahkan putra pertamanya saja mulai duduk di bangku SMA.
Olivia tersenyum manis, saat melihat isi chat dari seorang pemuda manis dan emoticon itu menggelitik perasaannya.
"Dasar Kucing, awas aja kalau genit lagi." Ocehan Olivia terdengar manis dan Pak Roni sangat tahu siapa yang mengirim pesan itu.
"Apa Den Zenno sudah tahu Nona pergi hari ini?" tanya Pak Roni.
"Iya Pak Roni, dia tahu. Lagian kita juga akan satu kampus." ucap Olivia dengan manis dan masih melanjutkan chatnya.
"Iya, nanti ada Nona Dinda juga."
"Ems, Kak Dinda. Tapi dia udah mau wisuda dan bentar lagi menikah." Olivia yang tersenyum dan mengelus gambar pada layarnya. Sebuah foto dirinya dengan sang Kakak dan dirinya terlihat begitu menyayangi sang Kakak perempuannya.
Setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan, mobil itu sudah tiba di sebuah jalanan perumahan.
Pagar yang cukup tinggi tapi masih bisa dilihat dari luar. Kalau rumah itu memang seperti rumah biasa. Bukan seperti rumahnya yang bak istana dan yang dia tinggali selama ini.
Pak Roni turun lebih dulu dan berjalan ke arah pintu belakang mobil, tapi Olivia lebih dulu keluar dari mobil itu. Tampak raut wajah yang tidak senang dari Olivia, terlihat dari cara dia menghembuskan nafasnya dan mulai membulatkan bibir imutnya.
"Aku akan tinggal disini? Apa rencana Papa?" Pikiran Olivia yang bertanya-tanya dan seolah ini bukan dunianya. "Papa tega sama Olivia?" hatinya sudah merancu kemana-mana, ada rasa was-was saat dia menatap rumah itu.
Benar, dunia Olivia seakan-akan sudah mulai berubah dan ini tidak terbayangkan sebelumnya.
Pak Roni yang sudah di dekatnya dan Olivia hanya menatap rumah itu. Walaupun rumah cluster itu, cukup terlihat modern dan terawat, tetap saja ini bukan seperti bayangan Olivia.
Apalagi, dari luar terlihat halaman yang sempit dan tidak terlihat luas. Meskipun bangunan sudah tampak dua lantai, sangat jauh dari kesan mewah, itupun dari cara pandangan Olivia yang selalu serba lux.
"Nona Olivia..." Panggil Pak Roni yang tersenyum tipis saat menatap Olivia.
"Pak Roni, apa ini rumah Olivia?" Sambil menunjuk dan tampak kikuk. Hal ini sangat tidak ada dalam gambarannya. Padahal sang Kakak tinggalnya di apartemen mewah. Kenapa bisa berbeda tempat tinggal dan ini sangat jauh dari bayangannya.
"Ini bukan rumah Nona Olivia." lugas Pak Roni dan masih menatap Olivia dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
"Benarkah?!" Sedikit rasa lega setelah mendengar itu dan Olivia mulai merasa ada bunga sakura yang berjatuhan di sekelilingnya.
"Iya, ini bukan rumah Nona. Tapi...." Pak Roni sedikit mengusap dahi dan Olivia mulai curiga.
"Tapi?? Tapi kenapa Pak?"
"Tapi... Nona Olivia harus tinggal disini."
"Disini?" Rasa mencekik kembali dan Olivia masih bertanya "Olivia harus tinggal di rumah itu??"
Dengan rasa tidak nyaman, meski Pak Roni menahan dirinya, sambil tersenyum manis dan berkata "Benar Nona. Untuk sementara Nona Olivia akan tinggal di rumah ini." Sambil jempol Pak Roni mengode dan mengarah ke rumah yang ada di belakangnya itu.
"Emsz...Olivia mengerti." Desisnya dan mulai berjalan mendekati pintu pagar rumah itu.
Pak Roni mulai menekan bel yang ada di sisi kanan pintu pagar rumah itu. Tak lama ada seorang pemuda yang membuka pintu pagar itu.
Pemuda yang sepertinya tidak dikenal oleh Olivia Sada Amarta dan dari tampangnya saja, terlihat kalau dia bukan tipe pria pujaan Olivia.
Pemuda yang memakai kaos putih bergambar spiderman dengan celana pendek dan tampak wajah bangun tidur.
"Owh.. Pak Roni."
Saat dia membuka pintu dan hanya menatap Pak Roni. Padahal ada gadis manis dan manyun manja dari tadi sudah menatapnya.
"Dia? Siapa? Dekil!" Dalam hati Olivia yang melihat tampang pemuda itu. Memang sangat tidak karuan bentuknya, tapi sebenarnya dia sosok yang manis.
"Selamat pagi Den Zenno." Ucap Pak Roni dengan senyuman manis.
Senyuman manis sudah tersirat dari bibir Zenno, tapi dia belum melihat ke arah Olivia yang mematung dan hanya manyun-manyun cantik.
"Zenno??? Zenno Brata Perwira???" lirih Olivia, dan dia sangat tidak percaya dengan apa yang diihatnya saat ini.
Kedua wajah itu bertemu dan Zenno tampak tersenyum pahit saat melihat Olivia yang mematung dan tidak mulai menghampiri dirinya.
"Nggak mungkin!!!" gejolak perasaan Olivia dan mulai meremas tas yang di pakainya saat itu.
Dengan senyuman menggoda, Zenno memandangi Olivia yang terlihat kesal.
__ADS_1