
Sudah siang dan ini pertama kalinya Olivia tertidur di atas ranjang putih itu. Zenno yang sudah tiba melihat Olivia yang tidur memeluk guling. Terlihat begitu manis dan Zenno menutup pintu kamar itu dengan pelan.
"Tadi takut, ternyata bisa tidur pulas."
Zenno menuju dapur dan segera menyiapkan makan siang untuk Olivia. Zenno belum tahu, apa saja kesukaan Olivia dan terpaksa kali ini membeli beberapa menu makanan siap saji dari restoran Barat dan Jepang.
Suara langkah mendekat dan Olivia ternyata sudah bangun dari tidurnya.
"Sudah bangun." Zenno yang masih menyiapkan beberapa menu di atas meja makan.
"Emh, kamu lama sekali." Balasnya dan mendekati meja makan.
"Duduklah, aku ambilin minum." Zenno kembali berjalan ke dapur mengambil teko kaca dan gelas bening.
Setelah menuang air minun ke dalam gelas, Zenno tampak memberikan dengan sikap yang manis.
"Makasih." Balasnya dan masih sedikit ketus. Zenno hanya menggeleng atas sikap asli Olivia. Tidak heran, bila saat chat selalu menggerutu dan kesal terhadap Zenno.
Setelah meletakan gelasnya, Olivia bertanya "Kamu beli makanan sebanyak ini?" Pandang keduanya dan Zenno yang masih berdiri, menata menu makanan, hanya tersenyum kecil.
"Aku lagi diet, kenapa kamu beli banyak makanan?" Tatapan itu terlihat menyeramkan. Ternyata makanan itu seperti mengacaukan dirinya dan itu gara-gara Zenno.
"Diet?"
"Hems, aku progam diet. Kalau kamu beli banyak begini, siapa yang akan makan?"
"Aku bisa kasih ke orang lain, kalau kamu tidak mau memakannya."
"Bukan tidak mau, tapi aku diet. Aku juga tidak pernah membuang makanan."
"Ya udah, nggak usah makan. Ini masih bisa bungkus lagi. Masih banyak orang yang butuh makanan." Zenno sedikit dongkol. Dia sudah capek-capek membeli semuanya, ternyata jadi sia-sia saja.
"Bukan gitu maksudku. Harusnya kamu tanya aku dulu." Olivia merasa tidak enak hati, tapi dia juga kesal terhadap Zenno.
Zenno menuang kembali makanan itu ke dalam kotak makanan dan Olivia meliriknya dengan rasa tidak nyaman. Bukan bermaksud untuk menolak apa yang sudah disiapkan. Tapi memang beberapa hari ini, Olivia menjalani program diet.
"Zenno, kamu marah?"
__ADS_1
"Nggak."
"Terus, kenapa muram begitu?"
"Mungkin aku harus belajar mengenal Nona Olivia Sada Amarta."
Olivia hanya tertegun saat mendengar ucapan Zenno barusan. Zenno sudah membungkus semua makanan dan dia berjalan pergi ke luar rumah sambil menenteng semua bungkusan makanan itu dengan perasaan kecewa.
"Dia marah sama aku?" Baru kali ini Olivia merasa gelisah. "Aku nggak bermaksud begitu sama dia."
Padahal baru beberapa jam Olivia tinggal di rumah Zenno, tapi sudah ada saja masalah diantara mereka berdua.
Olivia beranjak dari ruang makan dan menuju ke kamarnya, dirinya masih bingung akan keadaan saat ini.
"Ini aja begini, gimana nanti jadi suami aku." Olivia yang mondar-mandir di dekat jendela dan masih menggerutu "Apa dia akan memasang wajah begitu terus?"
Zenno sebenarnya bukan sosok yang kejam, tapi dia juga tidak suka tinggal bersama seorang gadis. Dengan terpaksa dia menerima Olivia, karena itu adalah tekanan dari sang Papa.
"Aku sudah pergi dari rumah, tapi Papa masih saja memaksaku. Kenapa bukan Deffo saja yang menikahi Olivia. Aaaaaa...." Kebiasaan Zenno mengacak rambutnya, seperti orang gila yang melantur sendiri, untung saja jalanan di perumahan Allencia tampak begitu sepi. Kalau tidak, dia pasti sudah dikira tidak waras.
"Aku tidak bisa begini. Itu rumahku dan aku yang berkuasa, mau dia mau makan atau tidak, ya udah terserah saja. Aku akan biarkan dia hidup dengan dirinya sendiri." Dengan tampang sedikit celengekan dan tampak cuek, tapi itulah Zenno. Dia juga bukan orang yang suka basa-basi.
Zenno yang sudah tiba di rumah dan dia juga langsung masuk ke kamarnya.
"Olivia, aku tidak akan mengalah sedikitpun. Kamu bisa saja tinggal disini sesuka hatimu dan aku tidak akan peduli lagi." Zenno mulai menjutuhkan tubuhnya ke tempat tidur dan mengambil bantal, menutup wajahnya dengan batal itu. Rasanya tidak senang, tapi dia tetaplah tuan rumah, yang harus bisa menjaga perasaan tamunya.
Di tempat lain, Dinda berusaha untuk tegar dan saat ini hanya rumahlah tempat dia kembali untuk mengibur diri.
"Oma..." Dinda yang sudah masuk ke ruang santai dan memeluk sang Oma dari samping. Oma yang duduk di kursi goyang, tampak menikmati kenyamanan saat ini.
"Yang kecil pergi, dan yang besar kembali. Ada apa sayang? Tumben kamu pulang?" Oma sangat tahu sifat para cucunya.
"Oma tidak suka kalau Dinda pulang?"
"Bukan begitu. Pasti ada sesuatu, Oma sangat mengenal kamu." Tangan yang sudah mulai keriput itu, memegang pipi kiri cucunya dan Dinda masih memeluknya.
__ADS_1
Oma Sellia Amarta memiliki 3 cucu, dan cucu pertamanya ada di luar negeri. Dia adalah cucu laki-laki satu-satunya dan sudah menikah. Hanya anak laki-laki atau cucu laki-laki yang boleh kuliah dan tinggal di luar negeri, dan anak perempuan harus di jodohkan, itulah aturan turun temurun di keluarga Amarta.
Seperti Julia Vena Amarta yang mengelak perjodohan, akhirnya tidak menikah dan masih tinggal dengan sang ibu. Walaupun dia sangat cantik dan menawan, tapi dihatinya hanya ada pria cinta pertamanya.
"Oma, soal pernikahan Dinda...." Air mata Dinda tidak terbendung lagi, dan dia belum sampai hati untuk bercerita dengan sang Oma.
"Kenapa kamu menangis? Ada apa dengan pernikahan kamu?" Oma yang tadinya masih duduk santai dan mengelus pipi Dinda, jadi bangkit dari kursi goyang itu dan melihat air mata Dinda yang masih mengalir lembut.
"Oma, Dinda tidak ingin menikah." Ucapnya dengan hati yang menyakitkan, tapi dia masih bisa menahan dirinya.
"Apa maksud kamu? Kamu sendiri yang meminta untuk menikah dengan Gery." Oma tampak tidak senang, karena dua tahun lalu dan waktu itu sang Mama masih ada, Dinda dan Gery berbuat ulah, agar membatalkan perjodohannya.
"Oma, Dinda tidak bisa menikah dengan Gery." Dinda tampak tertunduk dan tidak bisa menceritakan apa yang sudah terjadi padanya.
"Dinda, kamu jangan main-main dengan perkataan kamu. Kita semua sudah setuju dan keluarga besar sudah mengatur pernikahan kamu." Oma tampak kecewa dengan apa yang Dinda katakan.
"Oma, Dinda serius. Dinda nggak bisa menikah dengan Gery, karena Dinda punya alasannya."
"Alasan? Apa? Bukannya kamu sendiri yang meminta kita untuk mengalah dan semua sudah setuju."
Oma yang tampak kecewa dan Dinda hanya bisa menangis. Dinda juga tidak bisa mengungkapnya, dan lagi-lagi dia membuat masalah untuk keluarga Amarta.
"Oma, Dinda sudah menyesal. Oma harus bantu Dinda. Dinda mohon Oma. Dinda juga akan menuruti perkataan Oma. Kalau perlu, Dinda akan tinggal disini menemani Oma."
Oma menatap Dinda dengan sorot mata yang tajam, tapi dia juga sangat menyayangi Dinda. Tangan kanan Oma mulai mengusap air mata Dinda dan memandangi Dinda dengan teduh. Tidak seperti biasanya Dinda begitu pasrah akan dirinya.
"Ceritakan sama Oma, apa yang sudah terjadi." Oma dan Dinda saling memeluk dengan rasa bercampur aduk. Ada rasa sedih dalam penyesalan, tapi Dinda tetap harus bisa mengendalikan dirinya. Hanya Oma, yang saat ini bisa membantunya. Kalau Dinda cerita dengan sang Papa. Pasti tidak ada hal baik yang dia dapatkan. Apalagi sang Papa selalu berada disisi Monica, bahkan wanita penggoda yang merampas calon suaminya adalah adik dari Monica.
Dinda mulai menceritakan tentang video yang dia lihat dan dia tidak bisa menahan perasaannya.
"Kalau itu benar terjadi. Kali ini, kamu harus menurut sama Oma."
"Iya Oma, Dinda akan menurut sama Oma."
Untuk pertama kalinya, seorang Dinda bisa disakiti oleh lelaki. Bahkan saat sang Papa menikah lagi, dia tidak peduli akan perasaan Mamanya.
__ADS_1