
Rasa cinta itu pernah ada, tapi kala cinta itu pergi, hanya ada kenangan yang tersisa. Luka hati belum terobati dan Dinda belum berani untuk membuka diri. Tapi malam ini, dia harus menemani seorang pria tampan.
"Dinda, ayolah ikut ke pesta."
"Kak Deffo, Dinda benar-benar malas."
"Apa kamu akan terus di kamar? Mau lihatin ombak pantai itu? Pantainya tidak akan pergi, besok pagi kamu masih bisa melihatnya." Deffo begitu cerewet ternyata.
"Ok, kalau gitu aku ganti baju dulu."
Deffo mengelus rambut Dinda, lalu berkata "Kamu harus tampil cantik, jangan permalukan Kakak di depan sahabat Kakak."
"Iya, iya, Dinda harus akting." Dinda yang masih enggan, tapi dia harus membantu Deffo.
"Adik Kakak memang pintar."
"Ya udah sana, tunggu di lobby."
"Jangan lama-lama."
Dinda menutup pintu kamarnya dan Deffo sebenarnya juga ingin menghibur Dinda. Tidak hanya minta bantuan Dinda, tapi dia tidak ingin Dinda terus menerus mengurung diri.
Setelah Deffo menunggu kurang dari setengah jam, Dinda tiba di lobby hotel. Tampak begitu cantik dan sangat anggun. Mengenakan gaun hitam dan cukup terlihat sensual dengan gaya Nona Eropa.
"Perfect." Ucap Deffo dan memberikan tangan kirinya.
"Let's go." Ucap Dinda dan tampak tersenyum manis.
Malam ini, ada pesta pernikahan teman SMA Deffo. Lalu ada seorang sahabat dari LA. yang ingin mengenal pasangan Deffo. Padahal, Deffo tidak ada gadis yang dekat, kecuali Dinda.
Semenjak Dinda tinggal di Jakarta, Deffo yang menjadi teman baik, dan sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Apalagi, mereka memang akan menjadi saudara. Dinda juga sangat tahu, alasan kenapa Deffo saat ini tidak bisa menyukai gadis.
Mereka menuju Hotel tempat acara di gelar, dan lumayan dekat dari Hotel tempat mereka menginap.
"Aku harus panggil gimana? Sayang? Honey? Atau Darling?"
"Terserah kamu, gimana enaknya."
"Ok." Dinda cukup menyiapkan kata-kata yang pas.
Mereka tiba di Hotel itu, tapi acara ada di outdoor dan menghadap ke pantai. Tamu undangan hanya rekan-rekan terdekat saja, dan begitu romantis, terlihat dari suasananya serta dekorasi yang begitu mendukung.
"Romantis." Ucap Dinda yang memegang lengan kanan Deffo.
"Kamu ingin konsep seperti ini?"
"Emz, bisa saja. Tapi yang penting cinta."
"Pasti akan ada cinta."
"Kakak benar."
Mereka sudah mendekati sang pengantin dan memberikan ucapan selamat. Deffo juga memperkenalkan Dinda, begitu dengan Dinda yang tampak anggun saat berbicara dan mereka terlihat seperti pasangan.
"Kemana dia? Apa belum datang?"
"Siapa?" Dinda cukup penasaran.
"Dia." Jawab Deffo.
Tidak lama, seorang wanita yang manis dan begitu anggun mendekati Deffo.
"Deffo,..."
"Hai,." Suara Deffo yang begitu berbeda.
"Lama sekali kita tidak berjumpa." Ucapnya, dan selalu tersenyum manis.
"Iya, sangat lama."
"Apa dia gadis itu? Yang membuat Kak Deffo begini?" Batin Dinda yang sedikit penasaran.
"Kamu sendirian?" Tanyanya.
Deffo lalu menarik tangan Dinda dan berkata "Aku sama pacarku."
"Hai,.. Kenalin aku Ardilla. Teman SMA Deffo."
__ADS_1
"Aku Dinda."
"Senang melihat kalian bersama. Sangat serasi."
"Iya, terima kasih."
Tidak lama ada suara imut dan berlari mendekat "Mommy,..." Begitu menggemaskan, ternyata anak perempuan berusia 4 tahun.
"Nancy sayang." Ardilla langsung menggendongnya, dan tampak tersenyum. Deffo hanya menatapnya dan tidak bisa berkata apapun.
"Sayang. Sayang!" Dinda yang memanggil ke Deffo.
"Iya, kenapa?"
"Aku mau duduk dulu disana. Kamu ngobrol saja sama teman kamu."
Deffo hanya mengangguk, dan Dinda tersenyum kepada Ardilla.
"Dia anak kamu?"
"Iya Def. Anak aku." Ardilla menciumi Nancy, lalu berkata "Nancy, sapa Om Deffo."
"Hallo." Hanya itu yang gadis kecil itu katakan.
Tangan Deffo menjadi begitu dingin, rasanya cukup tidak nyaman saat melihat semua ini.
"Emh, dimana suami kamu?" Tanya Deffo, karena ini pertemuannya dan waktu berlalu begitu lama.
"Dia, tidak ada." Jawab Ardilla.
Nancy tiba-tiba merengek dan minta minum.
"Deffo, aku tinggal dulu. Nancy minta minum."
"Iya."
Ardilla lantas pergi dan Deffo masih mematung. Dinda yang menyaksikan semua itu, dan sepertinya dugaan Dinda benar. Kalau wanita itu tadi adalah sang mantan yang tidak bisa Deffo lupakan. Dia cinta pertama Deffo, dari dulu dan sampai saat ini masih dalam perasaan Deffo.
Dinda yang memegang segelas minuman, lalu mendekati Deffo.
"Kakak kenapa? Apa dia?"
Dinda hanya mengangguk dan Deffo menggandeng Dinda untuk ke tempat duduk.
Dinda melihat pantai yang mempesona di malam hari, tampak sang rembulan yang memantulkan cahayanya.
"Cinta kenapa begitu sakit." Ucapnya dan Deffo yang memegang gelas menoleh ke arah Dinda.
"Iya, kalau tidak sakit, bukan cinta namanya."
"Kenapa dengan Kakak? Kalau masih cinta, kenapa harus diam saja."
"Dia punya dunianya sendiri."
"Setidaknya, Kakak cari tahu dulu tentang dia disana."
"Entahlah, susah rasanya."
"Kak, kalau memang cinta Kakak sebesar ini dan tidak bisa melupakan dia. Kenapa Kakak tidak mengejar dia?!"
"Kakak bingung. Dia punya anak, tapi dia tadi bilang suaminya tidak ada. Kakak tidak mengerti."
"Ya, setidaknya Kakak ngobrol sama dia. Cari tahu tentang dia. Tidak ada salahnya mengukir kembali cinta kalian."
"Tapi dia sudah berbeda."
"Lalu cinta Kak Deffo? Apa berbeda juga?"
Deffo menjadi diam dan Dinda juga tidak mengerti tentang Deffo. Padahal wanita itu ada disini. Sudah ada kesempatan, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tapi, sepertinya Deffo lebih memilih untuk menyimpannya saja.
"Ya sudah, Kakak pikirkan saja. Aku mau ke toilet dulu."
Dinda yang berjalan menuju toilet, dan melihat Ardilla yang tampak menidurkan anaknya, tidak lama seorang ibu paruh baya menggendong anaknya dan dibawa masuk ke Hotel.
"Ardilla, bisa aku bicara sama kamu?"
"Iya silakan."
Duduk di dekat taman, dan malam ini begitu cerah. Dinda yang mencoba ingin membantu Deffo, dan tidak ada salahnya dia berbicara dengan Ardilla.
__ADS_1
"Aku tahu kamu siapa."
"Apa maksud kamu?" Ardilla menoleh ke arah Dinda, yang duduk di samping kiri.
"Aku tahu masa lalu kalian."
"Kamu cemburu?"
"Tidak."
"Aku juga tahu, kalian bukan pasangan." Ucap Ardilla dengan tersenyum, tapi dia tidak bermaksud menyulitkan perasaan Deffo.
"Emh, kamu tahu."
"Aku sangat mengenal Deffo. Jadi aku tahu, dari cara kalian berdua saling memandang, dan itu bukan cinta Deffo."
"Kamu cintanya."
"Itu sudah masa lalu."
"Apa tidak bisa kembali?"
"Benang yang putus susah untuk bersatu dengan utuh."
"Tapi benang bisa diikat."
"Tidak Dinda, kamu tidak akan mengerti. Aku bukan lagi Ardilla yang dulu dikenal dekat dengan Deffo. Apalagi, aku sudah punya anak dan tanpa suami."
"Bisa jadi dia menerima keadaan itu."
"Tapi aku tidak bisa. Banyak hal yang tidak perlu kamu tahu, dan harus dimengerti." Ardilla yang tampak begitu dewasa.
"Apakah benar-benar tidak bisa?" Dinda begitu ingin mencari tahu.
Ardilla memegang tangan Dinda, lalu berkata "Bilang sama Deffo. Dia harus menikah dan aku menunggu undangannya. Besok, aku harus kembali. Mungkin, ini saja yang hanya bisa aku sampaikan sama kamu untuk Deffo."
"Baik, aku mengerti. Semoga kamu bahagia disana."
"Iya, terima kasih." Ucapnya dengan tersenyum.
Ardilla mulai berdiri dari kursi taman itu, lalu dia pergi meninggalkan Dinda.
Dinda mulai paham, kalau cinta memang susah dimengerti, butuh pengorbanan dan juga air mata.
Dinda lalu berdiri dan berjalan ke arah toilet.
Setelah dua jam berlalu, Deffo dan Dinda berjalan di pinggir pantai, Deffo membawakan highheels Dinda, dan mereka masih mengobrol tentang Ardilla.
"Lalu, apakah aku harus menikah?"
"Dia bilang begitu. Lantas, buat apa Kakak berkorban cinta dan hidup Kakak buat dia?"
"Kamu benar."
"Ayolah, coba Kakak berlibur dan berfikir tentang kehidupan."
"Kehidupan?"
"Kak Deffo, hidup hanya sekali, menikah juga sekali. Apa Kakak, hanya akan begini, mengorbankan kehidupan Kakak?"
Deffo hanya diam dan belum bisa menjawab soal itu.
"Kak Deffo, setidaknya sekali saja. Mengenal gadis lain, tidak ada salahnya mencoba."
"Emh,... Ini gadisku."
"Aaaa... Kak Deffo gitu." Dinda mulai berlari dan Deffo akan memikirkannya. Walaupun begitu sulit untuknya, setidaknya ini sebuah jawaban atas cinta pertamanya, yang memang sulit untuk bersatu.
"Kak Deffo, aku lelah."
"Hems, bentar lagi sampai Hotel."
"Kakiku capek."
"Mau aku gendong?" Deffo menggodanya.
"Nggak mau."
Deffo mulai tersenyum, Dinda juga bisa sedikit melupakan rasa sakitnya. Dari perkataan Ardilla, Dinda jadi bisa mengerti tentang cinta. Kalau cinta, tidak harus memiliki.
__ADS_1