COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Mama Virda Bersama Calon Menantu


__ADS_3

Mentari menyapa dari balik jendela, suara burung kenari milik tetangga selalu membangunkan Olivia. Burung kenari itu sudah bagaikan alarm untuknya.


"Emmh, aku masih malas." Dia masih memeluk gulingnya dan rasanya begitu enggan meninggalkan kasur.


Semalam begadang di rumah Pak Roni. Zenno juga tampak asyik menonton bola bersama Pak Roni dan temannya Pak Roni, tapi Olivia tidak keberatan. Jarang sekali merasakan moment seperti itu, mulai sekarang kertas putihnya juga harus terisi coretan kehidupan sekitarnya. Karena Olivia, harus bisa membuat dirinya bisa hidup apa adanya. Bukan lagi tuan putri yang beranjak dari ranjang, sudah ada yang memakaikan sandal lantainya dan menyiapkan segala sesuatunya. Bahkan, Bibi yang merawatnya dari kecil, tidak mau berpisah dengannya dan sering menangis. Tapi, demi Olivia agar belajar dewasa, Bibi itu harus merelakan Olivia hidup tanpa dirinya.


"Aku masih ingin tidur." Semakin erat memeluk gulingnya, apalagi semalam Zenno sudah bersikap manis padanya.


"Zenno kenapa begitu manis. Aku harus bagaimana?" Olivia yang gemas dan meremas gulingnya dengan senang.


Olivia yang dari kecil bersikap lembut dan feminine, itu karena sang Mama yang memperlakukannya bagaikan putri istana dan selalu memakaikan dress juga gaun. Tapi sekarang, Olivia begitu tampil apa adanya dan dia sudah mulai terbiasa.


Terdengar suara pintu di ketuk dan Olivia beranjak dari ranjangnya, lalu berteriak "Tunggu sebentar."


Olivia merapikan tempat tidurnya dan ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Setelah membuka pintu dan tampak senyuman aneh dari Olivia.


"Emh, ada apa?"


"Aku mau pergi dulu."


"Kemana? Ini hari minggu."


"Vino telfon, Ibunya masuk rumah sakit."


"Owh, gitu."


Zenno tersenyum dan memegang kepala Olivia "Jangan nakal, kalau mau pergi-pergi, bilang sama aku."


"Apa kamu bakalan lama?"


"Iya, di luar kota."


"Ya udah, tapi nanti malam kamu pulang kan?"


Zenno meraih tubuh Olivia, dan memeluknya.


"Iya aku akan pulang, aku nggak akan ninggalin kamu lagi."


"Emh, janji ya."


"Iya aku janji."


Zenno lalu melepaskan pelukannya dan Olivia menatapnya, lalu berkata "Hati-hati."


"Iya." Zenno yang sudah berpakaian rapi, lalu pergi meninggalkan Olivia. Dia harus mengantarkan Vino pulang kampung. Sekitar 4 jam untuk perjalanannya. Bukan hanya Zenno, tapi yang lain juga ikut menemani Vino.


Zenno kembali ke rumah orang tuanya, untuk meminjam mobilnya Deffo, dan langsung menjemput semua temannya yang ada di base camp. Lalu mereka akan berangkat ke luar kota.


"Aku tidur lagi aja." Gumamnya dan merasa ingin bermalas-malasan di tempat tidur.


Setelah beberapa jam Olivia tidur dan terbangun sudah siang. Dia benar-benar menikmati tidurnya.


"Emz... Sudah siang." Ucapnya saat melihat layar ponselnya.


Olivia, keluar dari kamar dan berjalan ke lantai bawah untuk mengambil minum.


"Tante..." Ucapnya yang masih memegang gelas bening di tangan kirinya.


Mama Virda mendekat dan mengelus rambutnya "Kamu sudah bangun."


"Tante sudah lama?"


"Iya, sudah 2 jam Tante nungguin kamu."


Olivia tersenyum, "Maaf Tante, Olivia nggak tahu kalau Tante datang ke rumah."


"Ini, tadi Zenno memberikan kunci ini dan Tante disuruh menemani kamu."


Olivia lalu berkata "Emm, Tante Virda."


Olivia tersenyum dan memeluknya, merasa diperhatikan.


Mama Virda yang sudah menyiapkan makanan di meja makan dan itu khusus untuk Olivia.


Mama Virda, mengajaknya duduk di kursi lalu berkata "Kamu makan dulu, terus nanti kamu harus ikut Tante."


Olivia yang sudah duduk dan menoleh ke Mama Virda. "Kita mau kemana Tante?"

__ADS_1


"Ke acara resepsi pernikahan. Tapi, sekarang kamu makan dulu."


Olivia juga sudah lama tidak menghadiri acara pernikahan, kalau dulu sering ikut sang Mama. Lalu dia menikmati makan siangnya dan Mama Virda tampak bahagia melihat Olivia yang lahab makannya.


"O iya Tante, nanti acaranya jam berapa?"


"Acaranya masih nanti malam jam 7, di Hotel Megan. Tapi, kita harus cari gaun dulu dan di make-up."


Setelah selesai makan, Olivia bergegas untuk mandi. Sudah hampir jam 2 siang. Olivia cukup lama mandinya, tapi Mama Virda begitu sabar menunggu dia.


Setelah setengah jam menunggu, lalu Olivia sudah tampil manis dengan dress siluet X selutut, warna putih tulang dan memakai highheels silver.


"Kamu sangat manis." Ucap Mama Virda.


Mereka lalu ke sebuah butik terkenal dan itu langganan Mama Virda.


Hampir satu jam perjalanan mereka, karena tempat acara nanti tidak jauh dari butik itu. Disana juga ada MUA ternama dan jadi satu dengan butiknya.


Mereka tiba di Butik, Olivia berjalan begitu anggun. Mama Virda juga sangat menyukai penampilan dan style dari calon menantunya ini.


"Madam Virda. Apa kabar?" Sapa pemilik butik itu.


"Kabar baik Madam Selina." Mereka saling menyapa dengan pelukan.


"Madam Virda bersama siapa ini?" Tatapan lembut dan tersenyum kepada Olivia.


"Olivia kenalan sama Madam Selina."


"Nama saya Olivia." Begitu lembut dan memancarkan keanggunan Olivia.


"Gadis yang cantik." Pujinya dan masih melihat wajah Olivia.


"Berarti, saya tidak salah pilih calon menantu." Ucap Madam Virda dan Madam Selina tersenyum.


"Benar Madam, Olivia memang cantik, dan parasnya begitu menawan." Ucapnya.


"Kalau begitu, tolong bantu saya pilihkan gaun yang cocok buat Olivia. Kita mau ke resepsi."


"Baik, silakan Madam Virda." Mereka lalu menuju ke lantai atas.


Tadi sebelum datang ke butik ini. Mama Virda sudah membuat janji dengan pemilik butik itu. Jadi, wajar dia sendiri yang menyambut kedatangan Mama Virda.


"Tante, apa kabar?" Sapa Bella yang tiba-tiba, dan Mama Virda yang memegang gaun cukup terkaget dibuatnya.


"Iya, nak Bella. Kabar Tante baik." Balasnya dengan tersenyum.


"Tante lagi cari gaun?"


"Iya, tante sedang mencari gaun."


Bella melihat kalau Mama Virda memegang gaun untuk gadis. Tidak seperti untuk ibu-ibu.


"Tante sama siapa? Apa sama Zenno?"


"Tante sama calon menantu Tante."


"Owh, begitu." Ucap Bella dengan rasa tidak nyaman, tapi dia berfikir kalau itu calon Kakaknya Zenno, karena dia melihat foto keluarga Zenno di ruang tamu itu. Ada Kakak laki-laki.


Lalu asisten Bella mendekat dan berbisik kalau sudah waktunya pemotretan.


"Tante, maaf. Saya harus pergi. Ada pemotretan di lantai atas."


"Iya silakan." Balas Mama Virda.


Olivia keluar dari ruang ganti dan Mama Virda tampak menyukainya.


"Olivia, kamu sangat cantik."


Mama Virda mengajak Olivia untuk dimake-up. Begitu pula dengan Mama Virda dan mereka ada di ruangan khusus.


Bella memang ada pemotretan di butik itu, tapi berbeda ruangan.


Setelah pemotretan selesai, Bella mencari Mama Virda, tapi tidak bertemu. Padahal Mama Virda masih dirias.


"Ya sudah, kita pulang. Nanti malam masih ada pemotretan." Ucap Bella kepada asistennya, lalu pergi meninggalkan butik.


Setelah beberapa jam, dan sudah tiba di Hotel Megan. Penampilan Olivia dan Mama Virda tampak memukau. Begitu cantik dan glamour.


__ADS_1


"Olivia, apa semalam kalian jalan berdua?"


"Iya, Tante." Olivia tersenyum dan Mama Virda ikut bahagia. Mereka berdua masih ruang khusus tamu VIP, jadi sambil menunggu acara dimulai, masih ada waktu berbincang dulu.


"Apa saja yang kalian lakukan?" Mama Virda begitu penasaran.


"Emh, kita nonton, beli cincin terus beli kaos couple. Habis itu ke tempat Pak Roni."


Olivia yang begitu polos dan memang begitu adanya.


"Cincin?" Olivia menunjukan jari manisnya dan Mama Virda tampak bahagia. Tidak sia-sia membuat mereka saling mengenal dekat.


Setelah obrolan manis dengan calon menantunya, mereka masuk ke ballroom Hotel Megan.


Semua tampak glamour dan berkelas. Banyak sosialita dan pengusaha kaya di ruangan itu.


Mama Virda mengenalkan Olivia kepada teman-temannya dan Olivia juga tampak menyapa para Madam itu.


"Tante, Olivia mau ambil minum."


"Iya sayang." Balasnya dan kembali mengobrol dengan temannya.


Suasana begitu romantis, dengan nuansa gold dan pantulan cahaya seperti berada di pesta dansa.


"Hai, Olivia."


"Hai, Kevin."


Kevin memancarkan senyuman, dan berpakaian rapi dengan jas abu-abu.


"Loe disini, sama siapa?"


"Gue sama Tante." Jawabnya dan Olivia masih memegang flute glass di tangan kirinya.


"Kalau loe?"


"Itu, yang menikah sepupu gue." Jawab Kevin dengan tersenyum, lalu dia juga mengambil minuman.


Mama Virda tampak melihat Olivia yang mengobrol dengan pemuda tampan, lalu dia mengingat seperti yang di supermarket waktu itu.


"Sepertinya, aku harus segera menikahkan Olivia dan Zenno." Batinnya.


Mama Virda membiarkan Olivia bersama temannya, dan dia masih bersama para Madam itu.


Kevin dipanggil saudaranya.


"Gue pergi dulu."


"Gue juga mau menemani Tante."


Setelah sekitar 1 jam berada di pesta pernikahan itu, Mama Virda mengajak Olivia pulang. Karena, Zenno juga sudah dalam perjalanan pulang.


Di dalam mobil, Mama Virda memegang tangan Olivia, lalu berkata "Olivia, kamu sudah mulai dekat dengan Zenno. Tante ingin, kalian segera menikah."


Olivia tiba-tiba berdebar, dan rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya. Dia belum genap 19 tahun, tetapi sudah harus menikah. Apa yang akan terjadi nantinya, bahkan perkuliahaan juga baru dimulai.


"Tante, kenapa harus dipercepat pernikahannya?"


"Olivia."


"Tante, Olivia masih harus kuliah dulu."


"Tidak ada larangan menikah di kampus kamu. Jadi tidak masalah, yang penting kalian sudah resmi di catatan sipil."


"Apa maksud Tante Virda?" Batin Olivia yang masih tidak mengerti.


"Tante tidak bermaksud untuk menyulitkan kamu."


"Lalu, kenapa harus dipercepat?"


"Lebih cepat lebih baik, Olivia. Lagian, kalian juga sudah tinggal bersama. Ya, Tante tidak memaksa kamu, untuk secepatnya jadi seorang istri. Hanya saja, pernikahan lebih baik, dari pada hanya sedekar bertunangan."


Olivia memandang ke arah jalan dan Mama Virda kembali memegang tangan Olivia, lalu berkata "Olivia, jadilah putri Tante dan kamu bisa memanggil Tante dengan sebutan Mama. Kalau sudah menikah, kamu bisa tinggal dengan kita kalau tidak mau bersama Zenno. Sampai kamu selesai kuliah."


Olivia hanya mengangguk pelan dan rasanya begitu sulit untuk berucap.


Mama Virda juga berfikir kalau Bella sepertinya gadis yang bisa berbuat nekat. Dia juga memikirkan putranya. Karena dulu, keluarga merekalah yang membuat janji dan meminta perjodohan ini, kalau ini sampai gagal, Mama Virda merasa bersalah.


Setelah berfikir tenang, Olivia memeluk Mama Virda dan memanggilnya "Mama Virda."

__ADS_1


Mama Virda terlihat bahagia.


__ADS_2