
Pelangi nan cantik menghiasi pagi ini. Sudah beberapa hari berlalu setelah bertemu sang Papa.
Olivia yang menatap sebuah pohon yang masih basah, bulatan-bulatan bening menetes lembut, dan mengenai bebatuan.
"Sekeras apapun hati ini, pasti akan rapuh juga." Lirihnya dengan perasaan mendalam.
Olivia sudah setengah jam berdiri di dekat jendela kamar, dia yang awalnya ingin merasakan percikan air hujan, namun dia juga melihat ada pelangi yang begitu cantik setelah hujan mereda.
"Mama, Olivia akan menikah." Ucapnya dengan tersenyum.
Saat dia berteman dengan keheningan, saat dia berteman dengan kesepian, setelah sang Mama pergi, hanya itu teman Olivia, namun sekarang akan berbeda.
"Olivia sayang, kamu sudah bangun."
"Iya Mama, tadi hujan deras. Olivia jadi ingin melihat hujan."
"Sayang, kamu mandi dan bersiap. Kita harus berangkat ke Hotel."
"Iya Mama." Mama Virda memeluknya dan Olivia merasakan pelukan hangat dari Mama Virda.
Sudah 3 hari setelah dia dari kantor sang Papa waktu itu. Olivia masih ingin tinggal bersama Mama Virda.
"Ya sudah, kamu lekas mandi. Mama tunggu di bawah."
"Oke Mama. Olivia akan segera mandi."
Mama Virda sangat tahu apa yang Olivia rasakan saat ini.
Beberapa saat kemudian, Olivia mulai melepas gaun malamnya. Gaun ungu berbahan satin dengan renda bermotif kupu-kupu. Olivia berdiri tanpa balutan kain, berjalan masuk ke kamar mandi, tangan kirinya mulai menekan keran stenlis.
Butiran-butiran air bening yang segar mulai menjatuhi rambut panjangnya, tangan kirinya mulai menggosokan puff ke keseluruh kulit halusnya. Shampo beraroma vanilla dan sabun beraroma bunga lavender. Begitu menyegarkan dirinya, Olivia mengibaskan rambut panjangnya dan kembali memijat lembut bagian kepalanya. Perlahan mengelus rambutnya sampai ke ujung. Jari-jari lentik itu, berlanjut mengaluskan kulit kakinya dan setiap sela jari dia bersihkan dengan sabun beraroma buah.
Setelah setengah jam mandi, Olivia yang memakai kimono merah muda. Tampak duduk di depan meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdyer.
Tatapannya menuju cermin dan tampak senyuman tipis.
"Semua akan baik-baik saja." Ucapnya dengan tersenyum.
Olivia mulai berhias, dan dia cukup mengerti apa yang harus dia lakukan. Perlatan make-up, sudah di depan mata. Ini untuk pertama kalinya dia berhias. Beberapa waktu lalu dia sudah belajar dengan Dinda. Sekarang saatnya dia kembali menjadi seorang Tuan Putri.
"Olivia, kamu pasti bisa."
Jari-jari itu mulai menari diwajahnya. Sentuhan demi sentuhan dan perlahan menjadikan dia lebih cantik.
Setelah cukup lama di depan cermin, dia bisa menghias wajahnya sendiri. Rambut panjangnya juga sudah tertata rapi, tampak rambut di curly gantung.
Olivia tadi sudah menyiapkan gaunnya, jadi setelah merias wajahnya dia siap untuk berpakaian.
"Lumayan." Setelah menatap dirinya dari standing mirror.
Tampak bergaun putih selutut dan sepatu hak tinggi berwarna silver.
Begitu bergaya di depan cermin, dan akhirnya dia keluar dari kamar itu.
Langkah demi langkah saat menuruni anak tangga, dengan pandangan ke depan, begitu tampak percaya diri.
"Pagi semua, maaf Olivia terlambat."
Semua yang duduk dan menunggu di ruang makan, tampak terpana melihat Olivia dengan penampilan berbeda.
Mama Virda mendekati Olivia "Sayang, kamu cantik sekali."
Deffo dan Vicco tampak tidak berkedip, biasanya terlihat polos dengan dadanan remaja dan memakai kaos atau dress biasa. Kali ini Olivia memang sangat berbeda.
"Kak Olivia?" Vicco yang masih ternganga.
Olivia hanya tersenyum dan Mama Virda mengajaknya ke kursi.
"Vicco, makan. Kenapa bengong?" Olivia yang duduk disampingnya dan Vicco mengunyah makanannya dengan cepat.
Deffo masih menatap ke Olivia "Olivia, kamu mau ke pesta."
Olivia tersenyum lalu dia berkata "Iya Kak Deffo, nanti ada acara di Hotel sama Mama."
Papa Benny, lalu bertanya "Kalian mau ke pesta pagi-pagi begini?"
"Iya, kita mau ke pesta pernikahan." Ucap Mama Virda dan mengambilkan sarapan untuk Olivia.
"Terima kasih Ma." Ucap Olivia.
"Serius ada pesta?" Deffo yang begitu penasaran, dan dirinya juga sudah rapi dengan jas warna biru tua.
"Emmz, Olivia dan Zenno mau menikah." Ucap Mama Virda yang tampak santai.
"Mama, ini serius?" Tanya Papa Benny.
"Kamu kan yang mau cepat punya menantu, jadi lebih cepat lebih baik. Nggak perlu ditunda lama-lama." Ucapnya dengan santai dan mulai mengambil cangkir putih yang berisi teh hangat.
"Ada apa ini? Pernikahan itu hal sakral. Kenapa Papa tidak dikasih tahu?" Papa Benny tampak bingung.
"Ini hanya pernikahan biasa Papa. Tidak ada pesta. Nyonya Sellia sudah tiba di Hotel Megan. Julia juga sudah disana. Hanya pernikahan biasa, bukan pesta mewah."
"Mama, jadi Deffo harus ijin? Padahal Deffo ada meeting pagi ini."
"Kamu nggak perlu datang, kecuali bawa calon istri kamu." Mama Virda tampak mengolok Deffo dan Olivia tersenyum.
"Lalu Papa gimana Ma? Papa udah mau berangkat ke luar kota. Mama kenapa baru bilang."
"Kalau lebih penting pekerjaan, nggak perlu mikirin anaknya. Zenno juga tidak masalah, kalau Papanya tidak datang."
"Ya sudah, Papa mau telepon Renata dulu." Papa Benny menghubungi sekretarisnya untuk membatalkan jadwal ke luar kota. Padahal dia akan pergi ke Bali, untuk pertemuan penting.
"Deffo sudah chat asisten. Jadi, Deffo bisa menyaksikan moment special."
__ADS_1
"Kamu wajib bawa pasangan."
"Ada Dinda buat temen, dia juga nggak ada pasangan."
"Kata siapa Dinda nggak ada pasangan. Dia lagi honeymoon di Bali."
Olivia tersenyum dan Deffo merasa ketinggalan info penting.
"Olivia, memang Kakak kamu sudah menikah?" Tanya Deffo yang tampak penasaran.
"Iya Kak, sudah hari jum'at lalu."
"Kok cepet gitu, balikan sama Gery?"
Olivia menggeleng, "Bukan, tapi pria sejati. Melamar, terus menikah. Kak Deffo juga harus begitu."
"Wah, nggak bisa gitu dong. Ada kabar pernikahan kenapa nggak ada yang kasih tahu."
"Telefon aja Kak Dinda dan tanya sendiri, orang aku aja nggak dikasih tahu." Olivia tersenyum dan kembali menikmati sarapannya.
Deffo beranjak dari ruang makan dan langsung menghubungi Dinda.
Vicco kembali melihat ke arah Olivia, dan berkata "Vicco nggak mau ikut ke Hotel. Vicco kalau nggak ke sekolah, nggak bisa ketemu gadisnya Vicco."
"Emmh, Adik kecil. Hayo.. Udah berani deketin gadis."
"Vicco berangkat dulu Kak Olivia, salam buat Kak Zenno." Vicco yang merasa senang setelah bercerita dengan Olivia. Dia berlari dan memang benar, ada gadis satu sekolah yang selalu dilihat dari kejauhan.
Dua jam kemudian.
Zenno yang tidak tahu menahu akan rencana pernikahan ini. Dia hanya diminta ke Hotel Megan untuk menjemput Olivia.
"Aku udah di lobby hotel, kamu dimana?"
"Aku di ruang dansa."
Zenno yang memakai pakaian casual dan mulai berjalan menuju ruang dansa.
Padahal pagi ini, ada Dosen killer, tapi Olivia tetap ijin, karena Mama Virda sudah mengatur semua.
Begitu pintu ruang dansa terbuka, Olivia yang duduk di tengah ruangan itu. Jari-jarinya telah menari diatas tuts piano.
Sebuah lagu classic dan Zenno masih mematung, dia belum tahu apa yang saat ini terjadi. Yang dia lihat, hanya Olivia Sada Amarta, yang memainkan sebuah musik dengan jari-jari lentiknya.
Perlahan langkah kaki Zenno melangkah dan tatapan mata itu hanya tertuju pada Olivia yang tersenyum manis.
Olivia berlanjut memainkan lagu yang kedua, dengan irama lebih romantis.
Zenno yang tampak mendekat dan dia mulai tersenyum manis dihadapan Olivia.
"Zenno, kamu datang."
"Iya, aku datang." Ucapnya dengan rasa gugup. Perasaan yang aneh, dan ini bukan mimpi.
"Zenno, apa kamu tahu, siapa aku?"
"Kamu, Olivia" Rasanya bedebar dan begitu tidak nyaman.
"Terus apa lagi yang kamu tahu?"
"Kamu, calon istri aku."
"Lalu?"
Zenno masih terdiam, rasanya menjadi beku, tapi dia memiliki sebuah rasa "Kamu, perempuan yang aku cintai."
Olivia tersenyum dan mulai memeluk Zenno. Keduanya saling memeluk erat dan Olivia bertanya "Kamu cinta sama aku?"
"Iya, aku cinta kamu, Olivia."
Keluarga Amarta dan keluarga Brata Perwira, akhirnya mendekati mereka berdua. Deffo dan Papa Benny memberi tepuk tangan. Papa Dion dan Pak Roni juga melakukan hal yang sama.
Mama Virda bersama Oma Sellia dan Julia. Mereka tampak terharu, bahkan Oma dari tadi sudah menangis.
Setelah Mama Virda menjelaskan kepada Zenno, mereka akhirnya resmi menikah.
Zenno juga tidak masalah tentang dirinya yang masih kuliah, bahkan dia juga sudah berjanji. Akan menjaga dan bertanggung jawab atas diri Olivia.
Ucapan selamat dan restu dari kedua keluarga. Mereka tampak manis dan begitu bahagia. Terlihat dari senyuman Zenno dan juga Olivia.
Kedua keluarga sudah menyatukan janji mereka. Papa Dion dan Papa Benny saling mengucapkan selamat, mereka sudah resmi menjadi besan.
Mama Virda yang meneteskan air mata, dia ingat akan janjinya kepada Amelia Yumna yang sudah tenang di surga. Janji mereka sudah terpenuhi dan terikat menjadi satu keluarga.
Setelah acara pernikahan selesai, kedua keluarga itu meninggalkan mereka berdua di Hotel Megan.
Keluarga Amarta akhirnya berkunjung ke rumah keluarga Brata Perwira. Kedua keluarga itu, masih membahas tentang Olivia dan Zenno. Mereka tetap akan memantau pengantin muda itu.
Olivia memandangi kedua buku nikah, lalu berkata "Zenno, ini buku nikah kita."
"Iya, hanya buku. Tapi maknanya begitu besar." Balasnya.
Mereka berdua bebaring di lantai ruang dansa itu. Karena Mama Virda, menyewa ruangan itu seharian penuh.
Zenno menyangga kepala Olivia dengan lengan kanannya dan Olivia merasa nyaman.
"Aku tidak menyangka akan menikah muda." Olivia menoleh ke arah Zenno.
"Sama, akupun juga masih seperti mimpi."
__ADS_1
"Sampai kapan kita akan disini?"
"Sampai aku sadar, kalau ini bukan mimpi."
Olivia, menatapnya dan menarik hidung Zenno "Kita tidak bermimpi, ini nyata. Apa kamu tidak cinta sama aku?"
Zenno menoleh ke wajah Olivia "Iya, aku cuma bercanda."
"Aaah."
"Olivia, cinta tidak hanya diucapkan, tapi dari sini." Tangan Zenno menarik tangan Olivia dan menempelkan di dada Zenno.
Olivia berkata "Kamu benar, lalu kapan aku bisa cinta sama kamu."
"Kamu tadi berdebar?"
"Iya, aku deg-degan waktu kamu buka pintu."
"Sama, aku juga begitu."
"Ya udah, kita jalani aja."
"Iya, biarkan cinta muncul dengan sendirinya."
"Zenno, ayo kita pergi."
"Kemana?"
"Kemana saja, yang penting kita berdua."
"Oke, ayo kita ke base camp."
"Emhz, aku maunya berduaan."
"Semua pada kuliah, mereka baliknya nanti sore."
Olivia lalu bangun dan Zenno menariknya untuk berdiri.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan ruang dansa itu, dan saling menggenggam tangan.
Tampak manis dan seperti pasangan yang sedang jatuh cinta.
Sesampainya di base camp FGFC, dan kedua tangan itu tidak terlepas.
Zenno yang mulai perhatian, dan Olivia sudah merasa nyaman.
"Ini ruang kerja kamu. Lumayan rapi." Ucap Olivia
"Ayo kita ke lantai atas, ada yang mau aku tunjukin sama kamu."
Mereka menuju lantai atas, lalu Zenno berkata "Disini, tempat pertama kali aku berani chat kamu, si tikus kecil."
Zenno yang tampak gemas saat mengelus rambut Olivia.
"Hemz... Kucingku mulai nakal." Ucap Olivia dan mencubit kedua pipi Zenno dengan gemas.
Kedua tangan Zenno sudah berani kepinggang Olivia, lalu berkata "Iya aku nakal, tapi cuma kamu yang aku nakalin."
"Kamu berani sama wanita berkuasa?"
"Kamu berkuasa atas diriku."
Olivia, yang pernah menyebut dirinya wanita berkuasa. Tapi Zenno selalu menyebutnya tikus kecil.
Kedua tangan Olivia mengalungi leher Zenno, kedua mata itu saling menatap.
Olivia merasa ada debaran dalam jantungnya dan Zenno menjadi lebih gugup.
"Olivia, aku mencintaimu." Ucapan itu berubah nakal, bibir yang menggoda dan begitu tipis di serang dengan lembutnya. Zenno merasakan manisnya bibir mungil itu, begitu lembab dan aroma pappermint menjadi satu. Olivia mulai mengikuti gerakan bibir Zenno yang semakin liar.
Cekrek!!
Mereka tampak terhentak, dan terlepas sudah bibir menggoda itu.
"Piiss, gue nggaak sengaja." Ucap Vasya dan mendapatkan foto terbaper seantero jagad kampus.
"Zenno, dia." Olivia yang merasa kaget, saat Vasya memotret lantas pergi begitu saja.
"Baby, kamu tenang ya."
Zenno mengelus rambutnya. Suara Zenno saat memanggilnya Baby, begitu lembut dan membuat Olivia semakin berdebar.
Padahal bukan hanya foto, tapi juga video. Lantas video itu hanya dikirim ke Zenno dan Olivia, akhirnya Olivia mengamuk.
Vasya sudah menghapus video aslinya. Zenno malah menyimpannya dan akan dijadikan album tersendiri. Karena itu ciuman pertama mereka.
"Aaah... Aku malu."
"Wajah kamu nggak kelihatan,..." Zenno mengelus rambut Olivia dan mereka duduk di sofa sambil bersandar satu sama lain.
Di kampus sudah heboh akan foto ciuman itu, dan FGFC mulai kepanasan.
"Sialan, base camp kita dijadikan tempat mesum."
"Master, awas saja nanti."
"Ayo kita balik, kita grebek mereka."
Loudy berkata "Lebih baik, kita mencari Vasya. Gue yakin dia orang yang fotoin mereka."
__ADS_1
"Ayo kita kejar Vasya."