COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Perubahan Posisi Para Staff


__ADS_3

"Cicilan?" Sepintas sang Mommy mendengar hal itu, lalu membalikan badan.


Shaun menatap serius wajah Manda.


Manda masih berdiri dan berkata "Cek saja kalau tidak percaya. Nanti saya akan berikan lagi setelah gajian."


Shaun jadi tertawa dan Manda bingung.


Madam Olivia menatap kedua orang ini.


"Tuan menertawakan saya?"


"Ambilah itu dan bekerjalah dengan baik."


Manda tanpa mengambil dan berkata apapun. Ia pergi meninggalkan sebuah amplop dan juga buku rekening tabungannya.


Setelah menghembuskan nafas kasarnya, ia mengambil buku rekening itu. Berkata "Hem, dia memang teliti soal uang."


"Shaun??" Sang Mommy yang menatap dari meja kerjanya.


"Emh, bukan apa-apa."


Shaun lantas memasukan buku rekening milik Manda, ke dalam saku jasnya. Ia berdiri dan mengambil amplop itu.


"Mommy, punya staff yang bisa dipercaya."


"Maksud kamu?" Sang Mommy tidak mengerti.


"Amanda Naomi."


"Mommy nanti akan melihatnya."


"Melihatnya?"


"Beri tempat khusus buat aku. Jangka sebulan ini, aku akan membantu Mommy memilih siapa yang akan menjadi penerusnya Mommy."


"Apa maksud kamu?"


"Mommy tadi ingin mencari penerus? Aku yang akan menyeleksi calon penerus Mommy."


Sang Mommy tersenyum, lalu berkata "Apa kita bisa percaya orang luar?"


"Tentu saja." Shaun dengan percaya diri.


Amanda Naomi, gadis jutek dengan suara lantang. Bertanggung jawab dan tidak pantang menyerah. Tidak ada salahnya, Shaun menggiring Amanda Naomi untuk menjadi penerus sang Mommy.


"Kamu bilang, tidak mau bantuin Mommy?"


"Untuk meneruskan perusahaan Mommy. Aku harus bisa menilai kemampuan seseorang."


"Apa dia tadi?"


"Sepertinya memang begitu."


"Kamu mengenalnya?"


"Emh, aku belum mengenalnya."


"Terus tadi? Apa itu cicilan?"


"Ini rahasia Shaun."


"Wuuu, putra Mommy melupakan Freya dan berganti kekasih?"


"Emh, ini bukan seperti yang Mommy pikirkan."


"Baiklah, Mommy masih ada pekerjaan. Kamu mau tetap disini?"


"Iya, hanya untuk menikmati kopi ini." Shaun yang sudah memegang cangkir kopi buatan Manda.


"Oke, terserah kamu saja."


Kedipan mata Shaun membuat sang Mommy gemas. Anak nakalnya sudah tampak dewasa. Tidak seperti biasanya, yang membantah dengan lantang. Tutur kata Shaun juga lebih sopan dan tidak kekanakan.


Setelah jam makan siang, ada rapat mendadak. Madam Olivia meminta pada seluruh kepala bagian, datang ke ruang rapat utama, yang tampak bersebelahan dari ruang kerjanya.


"Selamat siang semuanya." Madam Olivia dengan wajah berseri.


"Selamat siang Madam."


"Kalian semua pasti sudah menikmati perjamuan saya."


Demi menyambut putra tercinta, menu ala hotel disiapkan untuk makan siang para staf dan karyawan. Semua telah menikmatinya dengan senang.

__ADS_1


"Iya Madam." Celetuk salah satu kepala bagian.


Madam Olivia lantas menatap dengan senyuman, lantas berkata "Saya tidak ingin basa basi lagi."


Semua menatap Madam Olivia dengan tenang.


"Bu Yolanda, tolong rubah struktur team Manager satu. Pastikan para Manager, bekerja baik untuk bintang-bintang kita."


"Baik Madam." Balas Bu Yolanda.


"Mr. Jovanco." Panggilan gemas kepada kepala bagian yang necis ini.


"Yes Madam Olivia."


"Pastikan para tallent berlatih dengan giat dan selalu cek kesehatan mereka sebelum melaksanakan tugas berat mereka. Saya tidak mau lagi mendengar keluh kesah para tallent."


"Siap Madam. Saya selalu memperhatikan para tallent kebanggaan kita."


"Ingat, jangan pilih kasih sebelum memastikan bintang utama."


"Pasti Madam. Saya tidak akan lupa. Mereka memiliki porsi yang sama."


"Baguslah."


Lalu Madam Olivia beralih tatapannya kepada kepala bagian kantor.


"Bu Metta."


"Iya Madam."


"Bu Metta sudah memilah para staff magang tadi?"


"Sudah Madam."


"Bagus. Tempatkan mereka pada bidang yang sesuai jurusan mereka. Meski kita tidak tahu kemampuan mereka. Berilah mereka ruang khusus setiap jam makan siang. Mereka sudah seperti tamu kita."


"Baik Madam."


"Mr. Rio."


"Ya Madam."


"Pastikan, kontrak kerja kita selalu bersih. Jangan sampai ada noda yang tidak nampak dimata. Oke." Suara yang seolah menggigit mangsa. Namun, kepala bagian ini selalu mengerti perkataan Madam Olivia. Tampak senyuman manis diantara mereka berdua.


Dialah orang yang bertanggung jawab menangani semua kontrak kerja para artis. Baik dari pihak luar, maupun untuk para tallent itu sendiri.


"Bu Franda."


"Iya Madam."


"Saya dengar. Staff anda ada yang bekerja sangat teliti dan cekatan."


"Iya Madam."


"Sebentar, saya lupa namanya." Lantas Madam Olivia melihat dari sebuah file.


"Owh, ini dia."


"Siapa?" Ada yang penasaran.


Madam Olivia berkata "Amanda Naomi."


"Iya Madam."


"Saya minta dia bekerja untuk saya. Saya butuh asisten untuk menemani putra saya."


"Menamani putra Madam?" Tanya Bu Franda dan yang lainnya menatap wajah Madam Olivia yang tersenyum gemas.


"Iya, maksud saya. Putra saya nanti yang akan meneruskan perusahaan ini. Jadi, dia harus belajar dulu dan melihat seluk beluk Starlight One."


"Bukannya dia tidak mau." Batin mereka semua, yang ada di ruang rapat.


"Ya seperti itu, selama putra saya bekerja disini. Saya ingin menyiapkan asisten untuknya dan saya memilih dari staff Bu Franda. Amanda Naomi." Ulasnya dengan luwes dan memang begitu adanya.


"Maaf Madam. Saya baru saja menempatkan Amanda untuk menggantikan pekerjaan Mariska."


"Bu Franda menolak saya??" Tatapan penuh misteri, namun tersenyum gemas.


"Bukan begitu maksud saya. Karena di bagian keuangan, telah kekurangan staff. Manda, staff yang saya andalkan untuk menghitung gaji kita semuanya." Senyuman Bu Franda begitu aneh. Lantas, di sebelah Bu Franda menepuk paha Bu Franda. Lalu berbisik "Lebih baik patuh."


"Berarti, saya tidak bisa memberikan asisten untuk putraku."


Bu Franda berkata "Kalau Madam ingin begitu. Saya harus membuka lowongan staff keuangan."

__ADS_1


"Membuka lowongan baru?" Ia berfikir akan ada resiko bila keuangannya tidak mendapat staff yang handal. Seorang asisten bisa ditunjuk siapa saja. Tapi, sang putra menginginkan Amanda Naomi.


"Ini hanya untuk sementara. Shaun harus bisa meneruskan perusahaanku. Demi Shaun, aku tidak masalah."


"Bu Franda, saya setuju untuk merubah stuktur jabatan dan membuka lapangan pekerjaan baru."


Semua menatap Madam Olivia dengan serius.


Madam kembali berkata "Kalian semua juga harus bersiap."


"StarLight One, butuh penerus muda yang berwawasan tinggi dan yang mampu berkerja keras."


Madam Olivia, akhirnya meminta semua kepala bagian untum bersiap. Akan ada lowongan besar-besaran. Staff HRD dan pengacara perusahaan juga tampak senang mendengar hal ini.


Bukan hanya bagian akuntan. Namun ada posisi lainnya yang akan dicari, termasuk audisi tallent baru.


Madam Olivia sudah lama memikirkan hal ini. Namun, waktu saja yang belum tepat untuk merubah Starlight One.


Setelah rapat selesai. Raut wajah Bu Franda nampak lesu. Staff andalannya harus pergi sementara waktu. Karena permintaan dari sang pemilik perusahaan.


"Meski aku kepala bagian. Di atas sana masih ada direktur dan sang pemilik perusahaan. Apa boleh buat." Keluhnya.


Tok tok, pintu telah diketuk. Dua gadis yang memasuki ruangannya.


"Saya tidak akan basa basi."


Kedua wajah itu, tampak gugup dan ada rasa yang tidak dimengerti.


"Mariska tunda cuti kamu, atau posisi kamu akan tergusur."


"Apa maksud Bu Franda?" Mariska yang menggerakan jari-jarinya, dan menyentuh sisi dress yang ia kenakan.


"Akan ada pekerja baru. Para atasan akan membuka lowongan baru. Kalau ini terjadi, posisi kamu sedang tidak aman."


"Lalu saya harus bagaimana?" Tanya Mariska.


Manda juga ada di ruangan itu, ia hanya mendengarkan saja. Kalau dirinya nanti akan tergeser dari posisinya. Lalu, gimana nanti membayar perbaikan mobil Tuan muda itu.


Manda yang gugup bertanya "Bu Franda, apa ini serius? Lalu saya?"


"Owh, iya ada kamu Manda. Hari ini sebaiknya kamu lembur dan selesaikan pekerjaan akhir bulan ini. Besok, kamu akan ditempatkan di posisi lain."


Mendengar hal itu, Mariska binggung. Dengan spontan ia berkata "Bu Franda, saya tidak akan ambil cuti dalam waktu dekat. Iya, saya tidak ingin posisi saya tergeser."


Mariska yang tidak pikir panjang. Menikah bisa kapan saja. Atau, tanpa acara apapun dirinya bisa menikah. Kalau untuk pekerjaan, akan sulit bila harus mencari lowongan lain. Apalagi, ini posisi nyaman selama dirinya bekerja.


"Mariska kamu yakin?" Bu Franda sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Mariska, dia tidak ingin mengorek pribadi Mariska dan lebih mementingkan pekerjaannya.


"Saya yakin."


Manda bertanya "Bu Franda, saya akan dipindah ke bagian apa? Apa masih di akuntan?"


"Saya belum pasti. Besok pagi, kamu akan tahu dimana kamu bekerja."


Manda dan Mariska kembali ke ruangan. Mereka berwajah masam. Seolah tidak ingin menyetujui perintah atasannya. Tapi, mereka tidak bisa mengelak. Karena, mencari pekerjaan baru tidaklah mudah.


"Manda semangat." Ucap Mariska saat berjalan menuju ke ruang kerja.


"Kamu juga. Terus, gimana pernikahan kamu?"


"Entahlah. Nanti malam aku akan membahasnya dengan Edo."


Manda yang tersenyum, meski terlintas nama Edo dalam benaknya. Ia hanya bisa membayangkan, bila dirinya memiliki kekasih seperti Edo. Pastinya, dirinya akan lebih semangat bekerja.


Seharian bekerja dan harus lembur. Sudah jam 9 malam, akhirnya selesai sudah pekerjaannya.


Berjalan ke halte dan melihat ke jam tangannya "Aku sudah tertinggal bus."


Menghembuskan nafas kasar, lalu meraih ponselnya dan membuka sebuah aplikasi. Ia memesan taxi online untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


"Aku lelah." Sembari menanti taxi online yang ia pesan. Memijit tangan dan jari. Punggungnya juga terasa pegal, sudah lama dirinya tidak kesalon untuk merasakan rileksasi pada punggungnya ini.


"Aku mau spa." Gumamnya dan tiba sudah taxi online yang ia pesan.


"Kak Manda." Ujar sang sopir yang tampak usia 40an.


"Iya Pak." Balasnya, lantas menaiki taxi online itu.


"Kak Manda, saya akan mengantar anda ke Perum. Pesona Jl. Kenari Blok J 15." Sang sopir memastikan tujuan penumpangnya.


"Iya." Manda yang sudah lelah bekerja, tampak duduk bersandar.


"Amanda Naomi." Seseorang telah mengintai Manda dan tampak tidak senang padanya.

__ADS_1


__ADS_2