COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Meminta Ijin Kepada Paman


__ADS_3

Sore dengan udara dingin, tampak suasana hening. Tempat yang begitu asing dan sunyi. Melihat ke sekitar halaman rumah itu, sangat asri.


Menatap ke arah cahaya senja, yang akan menghilang, lalu menoleh ke arah yang berbeda. Ia melihat sosok paruh baya berjalan mendekatinya.


Benz dengan wajah menawan langsung menghampiri Ayahnya dan Shaun dapat menyaksikan Benz bersama Ayahnya. Keakraban dengan penuh kasih sayang.


"Tidak bisa. Benny tidak boleh menjadi aktor." Suara itu begitu lantang dan sangat tegas.


Setelah 1 jam menjelaskan panjang lebar. Tetap saja, Ayahnya Benny menolak penjelasan Manda.


"Paman." Manda yang masih menatapnya dan Shaun duduk di sampingnya.


"Manda. Paman tidak tertarik dengan kontrak kerja semacam ini. Paman sangat tahu permainan ini. Semua ini hanya membuat Benny semakin susah hidupnya."


Manda terdiam dan Shaun tampak sungkan. Dia dari tadi malah santai dengan tatapan tenang. Tidak seperti biasanya yang seolah menekan Manda.


"Tuan Shaun malah diam saja. Percuma juga, Benz memintanya kemari." Batin Manda yang kesal.


Benz tampak tersenyum, ia berkata "Ayah memang benar. Manda itu yang ada-ada saja. Menyetujui pekerjaan barunya. Akhirnya malah begini."


Ibunya tersenyum, lantas berkata "Bukannya kamu juga mau."


"Ibu, aku ini terlihat tampan. Pastinya, mereka itu langsung tertarik sama anakmu ini." Benz yang membuat canda dan ibunya semakin senang.


"Ayah, apa tidak sebaiknya. Kita kasih kesempatan untuk anak kita. Biar dia juga belajar melihat lapangan. Cara team itu seperti apa dan bisa untuk laporan magangnya." Ibu satu ini, tampak membela anak tampannya.


"Ayah bilang tidak, ya tidak."


Melihat akan raut wajah itu. Manda berkata "Ya sudah, kalau Paman tidak kasih ijin. Manda akan pulang. Sudah malam."


"Iya. Sana pulang. Nanti hari minggu kita juga mau kesana. Untuk acara lamaran Ariel."


"Paman sudah tahu?"


"Sudah. Minggu lalu Ariel sama calonnya datang kemari."


"Sialan Bang Ariel. Paman malah udah dikasih tahu duluan, dari pada adiknya."


Manda lantas berkata "Iya Paman. Kalau gitu, Manda mau pulang dulu."


Bibinya berkata "Manda, kenapa buru-buru pulang?"


"Habisnya Paman nggak kasih ijin sama Kak Benz. Disini Manda itu kerja, kalau Kak Benz nggak bisa. Ya Manda harus cari aktor lain dan harus berhari-hari lembur."


"Ayah, kasian Manda. Manda sampai kurus begitu." Ucap Ibunya Benz.


Benz berkata "Ibu, Manda emang lembur tiap hari. Manda kalau di rumah juga nyiapin keperluan Benz."


Ibunya Benz menjewer telinganya dan berkata "Anak nakal, kasian adikmu. Sudah apa-apa sendiri, kamu malah nyusahin dia."


Ayah Benz menatap Manda. Dari ujung atas ke bawah. Memang benar, Manda yang sekarang tampak kurusan dan tidak terawat.


Manda yang berdiri dan mendekati sang Paman, ia berkata "Paman, Manda mau pulang dulu. Manda masih banyak pekerjaan."


"Iya, jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai sakit."


"Ini beneran, Paman nggak kasih ijin?"


"Baik, Paman menyerah. Terserah kamu saja." Raut wajah Paman yang tampak kalah atau mengalah. Membuat Manda jadi tersenyum.


Manda anak perempuan satu-satunya, ketiga anaknya laki-laki. Hanya Manda yang sudah dianggapnya seperti putri dalam keluarganya. Ayahnya Manda adalah adiknya satu-satunya dan sudah lama tiada.


"Paman cuma bisa bilang, titip Benny. Walaupun dia anak laki-laki. Tapi, hati dan perasaan Benny lebih lembut. Kamu harus sabar kalau menghadapi Benny."


"Paman tidak perlu cemas. Setiap di rumah. Manda juga memperhatikan Kak Benz."


Manda lantas bersimpuh di hadapan sang Paman, dan mencium kedua tangan Paman itu. Perasaan bahagia dan ia telah menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Paman, terima kasih."


Tangan kanan sang Paman mengelus kepala Manda, dan berkata "Kamu juga harus bisa menjaga diri kamu dengan baik. Kalau nantinya, ada laki-laki yang hendak meminang kamu. Kamu harus bilang sama Paman."


"Iya Paman. Manda pasti akan bilang sama Paman."


Paman berbisik, "Manda apa dia itu kekasih kamu?"


"Bukan Paman. Dia bosnya Manda."


"Entah kenapa, perasaan Paman bilang begitu."


Manda tersenyum, lantas berkata "Paman, Manda sekarang cuma fokus sama pekerjaan. Nanti kalau Manda sudah sukses. Manda akan selalu ingat sama Paman dan Bibi."


"Iya, iya. Paman akan menunggu dan akan melihat rumah mewah kamu."


Manda tampak senang, saat melihat wajah Pamannya ini, mengingatkan akan sosok Ayahnya. Sangat mirip dan senyuman Paman itu, sama miripnya.


"Ayah." Batin Manda yang merindukan Ayahnya.


Setelah makan malam, Manda dan Shaun berpamitan untuk pulang. Benz sementara akan tinggal dan sabtu nanti Benz bersama kedua orang tuanya akan di jemput sopir.


"Kenapa Ayah kasih ijin sama Manda?" Tanya Benz.


"Kamu mau jadi aktor. Masa iya Ayah tolak."


"Palingan Ayah kasian sama Manda."


Sang Ayah menepuk bahu Benz, lantas berkata "Jadilah aktor yang baik dan jangan berbuat ulah. Kalau bisa, mobil kamu harus seperti orang tadi."


"Siapa? Mobil Tuan Shaun?"


"Iya, itu bos kamu."


"Oke Ayah, apapun yang Ayah mau. Nanti Benz belikan buat Ayah."


Ayah Benz tersenyum dan ia berkata "Tapi, kamu jangan kecewakan harapan Ayah. Kuliah tetap yang utama. Kalau perlu, nanti kamu harus ambil S2."


"Iya Ayah. Benz selama ini juga selalu patuh perintah Ayah."


Ibunya mendekat, lantas berkata "Anak ibu mau jadi Tuan Muda. Ibu demen. Itu kayak di TV."


"Ibu, Ibu. Benz nanti nggak peran kayak gitu."


"Kata Manda tadi begitu. Ibu lihat kamu pakai jas terus dikawal bodyguard."


"Iya, Ibu. Peran Benz nanti banyak. Nggak sama terus."


"Nanti kalau filmya udah tayang. Ibu mau pamer sama orang-orang."


Ayah menyela obrolan "Ibu, pamer itu nggak baik."


"Iya Ayah."


"Ibu, Ayah, kalau bisa Bang Hanz sama Bang Romi jangan dikasih tahu dulu."


Ibu bertanya "Kenapa begitu?"


Ayah menjawab "Rahasia perusahaan. Itu tadi ada di kontrak kerja perusahaan. Sebelum Benz jadi pemain film. Kita nggak boleh gembar-gembor dulu sama orang-orang."


"Bener juga. Ibu akan diem."


Kedua anaknya yang lain, sudah menikah dan terpisah rumah.


Yang berada di perjalanan. Manda sedang memandangi wajah Shaun, terlihat mata lelah dan wajah lesu tidak bergairah.


"Tuan capek?"

__ADS_1


"Iya."


"Tahu begitu, kita tadi menginap saja."


"Besok pagi, kita masih ada pekerjaan penting. Aku juga nggak bisa nginep di sembarang tempat."


Manda hanya mengangguk saja dan Shaun menganggap Manda mengerti keadaannya.


Sudah satu jam perjalanan, dan mata itu semakin redup. Shaun tidak kuat lagi untuk melajukan kendaraannya. Ia berhenti di sebuah Villa. Tertulis, ada persewaan kamar di Villa Putih.


"Villa?" Batin Manda yang gelisah dan Shaun telah memarkirkan mobilnya.


Dari rumah Benz, ke pusat kota daerah itu, sudah memakan waktu 1 jam. Nantinya, masih ada 3 jam perjalanan melalui jalan tol.


"Manda, aku mau kita tidur dulu."


"Kita??"


"Iya, aku lelah."


"Baik Tuan."


Manda juga bisa melihat, dari tadi dia hanya duduk manis dan Tuan Muda yang sibuk mengendarai mobil sendirian.


"Selamat malam. Selamat datang di Villa putih."


"Malam. Saya pesan dua kamar."


"Maaf. Disini, bukan penyewaan kamar."


"Owh, iya. Maksud saya Villa."


"Hanya tersisa satu Villa dan itu di ujung. Soalnya, yang lain sudah di tempati para tamu."


"Ya sudah, saya mau Villa yang itu."


Shaun lantas menerima kunci Villa itu dan Manda hanya mengikutinya saja.


Shaun kembali melajukan mobilnya dan menuju ke villa yang telah di sewanya.


"Tadi bilangnya, besok pagi ada kerjaan penting. Tapi malah menginap di Villa."


"Manda, aku cuma ingin tidur. Jangan pikir yang macem-macem."


Seolah, Tuan Muda itu bisa membaca bantinya.


"Idih, siapa juga yang mikir macem-macem." Batin Manda.


"Manda, kita sudah sampai. Kamu mau masuk ke Villa atau tidak, itu terserah kamu. Yang jelas, aku mau tidur."


"Baik Tuan. Saya mengerti."


"Baguslah. Kamu harus terbiasa begini."


"Enak aja, harus terbiasa."


Setelah masuk ke dalam Villa, Shaun lantas merebahkan dirinya di atas sofa yang ada di ruang tamu.


Manda melihat ke sekitar Villa itu, ada dua kamar yang tampak bersebelahan dan satu kamar mandi di antara dua kamar itu. Lalu, terlihat dapur bersih disertai minibar.


"Aku harus tidur di kamar ini."


Manda yang tidak lagi mempedulikan Tuan Mudanya, ia telah merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.


"Enak juga kasurnya. Aku juga harus tidur." Manda merasa nyaman dan perlahan ia terlelap.


Suasana malam yang dingin, terasa damai dalam kenyamanan. Rasa lelah akan segera terobati dan membawa semangat baru untuknya.

__ADS_1


"Amanda Naomi!!"


__ADS_2