
Manda berdiri di sudut ruangan itu. Sang selebgram juga telah menatapnya.
"Sialan, Kak Benz nggak akan panggilanku."
Manda melihat ke daftar kontak, siapa yang bisa membantunya. Dari rekan kantor sudah ia hubungi tapi menolak. Ia hendak menghubungi Abangnya. Tapi, mereka sudah mengenal Abangnya karena Nadia.
Wajah Manda berubah panik dan teman selebgram itu, kembali berbisik kepada Saras.
"Biarkan saja."
"Pasti, dia hanya berbohong."
"Ya, kita lihat saja nanti."
Saras berkata "Teman-teman, mari kita nikmati makan malam ini. Kalian bisa pesan sepuasnya."
Mereka tampak senang dan Nadia hendak menghampiri Manda. Tapi, Manda sudah tampak mengobrol dengan seseorang, dalam panggilan telephone. Akhirnya Nadia tidak jadi mendekat kepadanya.
"Sayang."
Terdengar suara Manda, yang memanggilnya sayang.
"Untunglah. Manda maafkan aku."
Nadia sudah tampak senang, lalu ia berkata "Pacar Manda itu, keren."
"Benarkah?" Saras yang sedang makan dan duduk dihadapan Nadia.
"Sekeren apa?" Tanya yang lain.
Nadia harus mengarang cerita. "Emh, dia sosok yang tampan dan dari kalangan atas."
"Demi apa? Seriusan?" Tanya teman perempuan yang penasaran.
"Iya. Masa aku bohong. Kalian bisa lihat sendiri gaun yang dipakai Manda. Apa itu gaun murahan?"
Nadia yang seakan menebarkan racun. Sang selebgram dan Saras langsung mencari tahu. Ia bahkan memotret Manda, yang tampak belakang.
Setelah tahu, mereka berdua kembali menatap ke arah Nadia.
Saras bertanya "Nadia, kamu sudah bertemu dengannya?"
"Emh, sudah."
"Ya pastinya Nadia sudah bertemu. Mereka calon ipar."
"Bener juga."
Obrolan mereka saling bersautan dan tampak gemas. Ada pula yang ingin bertemu sosok pacar Manda.
"Aku jadi penasaran."
"Idih, mata cowok Manda pasti sudah katarak. Manda yang udik begitu. Mana mungkin bisa tergoda."
"Apa jangan-jangan, Manda simpanan Om-om?"
Tidak lama, Manda kembali dan berkata "Maaf semuanya. Pacarku lagi tidur. Dia nggak bisa kenalan sama kalian semua."
Nadia berkata "Kalian tenang saja. Nanti juga akan bertemu di pernikahanku. Makanya, kalian harus datang ke acara resepsiku. Oke."
Semakin riuh, dan Manda hanya bisa pasrah karena ulah sahabatnya ini.
"Yah, kita padahal ingin kenalan. Biar si bujang ini tenang. Tanpa beban."
"Apasih kalian ini. Aku tuh, cuma ingin tahu aja. Pasti, banyak yang ingin dekat Manda."
"Yuh, yuh, jangan down gitu. Siapa tahu masih ada peluang."
Biibbiib!
Sebuah panggilan telephone
"Tuan??"
Tidak pikir panjang, Manda mengangkat panggilannya.
"Sayang."
"Sayang??"
Shaun bingung, dengan ucapan Manda.
"Amanda Naomi. Kamu dimana?"
"Sayang, masa kamu lupa. Aku lagi di Fresco Restoran."
__ADS_1
"Fresco Restoran?"
"Iya sayang, Fresco Restoran. Reuni."
Shaun yang baru terbangun dari tidurnya. Ia mencoba mengingatnya.
"Owh!"
Kemarin seorang wanita meminta Manda untuk datang ke acara pertemuan teman SMAnya.
Shaun jadi mengerti. Tampak senyum dan ia sedang telanjang dada. Masih berbaring di atas ranjang mewahnya.
"Emh, Amanda Naomi. Aku ingat. Aku baru bangun tidur. Jadi lupa."
Manda sudah memasang speaker di panggilannya. Suara itu terdengar merdu dan mereka yang mendengarnya semakin penasaran.
"Sayang, malam ini aku tidak bisa kesana. Kamu sendiri yang bilang. Aku harus senang-senang bersama temanku."
"Iya. Tapi, besok sore jangan lupa pulang ke apartemen."
"Kenapa? Kamu membutuhkanku?"
"Iya, aku sangat membutuhkan kamu."
"Sayang, udah dulu ya. Nggak enak sama teman-temanku."
"Nanti pulangnya jangan kemaleman."
"Tenang sayang, aku sama Nadia."
"Jangan buat aku kecewa. Jangan macem-macem sama cowok lain." Shaun dalam hatinya ngakak.
"Sayang, mana mungkin aku begitu. Aku setia sama kamu. Setiap hari, aku selalu sama kamu."
"Amanda Naomi. Kamu harus patuh."
"Iya sayang."
"Baguslah. Kalau kamu mengerti."
"Sudah dulu ya."
"Cium aku."
"Mmuuach!"
"Ada-ada saja." Shaun masih melihat ke layar ponselnya.
Manda setelah selesai telephone, ia kembali duduk dan rasanya begitu puas.
"Emh, sepertinya ada yang kasmaran." Ujar Saras.
"Kamu pasti juga pernah merasa begitu."
"Ya, memang. Kita sebagai perempuan. Hal itu lumrah. Asalkan, bisa menjaga harga diri seorang wanita." Saras menyentil.
"Apa yang kamu katakan memang benar. Tapi, kita hidup dijaman modern. Semua bisa terjadi pada siapa saja. Aku memang lagi kasmaran. Dia cinta aku dan aku cinta dia. Tidak masalah, tinggal berdua di apartemen. Apa salah, Guanzila??"
"Kenapa aku dibawa-bawa?"
"Aku tidak bawa-bawa kamu. Aku kerja di dunia tempat kamu mencari cuan. Jadi, aku juga tahu skandal cinta mereka."
"Aku, aku tidak begitu." Guanzila sama saja seperti Yeye.
Nadia berkata "Kita ini sudah dewasa. Sudahlah, jangan seperti anak remaja."
"Sudah, hentikan. Tadi aku tanya Manda itu, cuma ingin tahu. Soalnya, yang aku lihat. Manda selalu sibuk kerja dan foto profilenya juga tidak pernah ganti. Aku pikir. Selama ini, Manda memang tidak punya pacar. Begitu."
Nadia berkata "Makanya, jadi cowok tuh yang tegas."
Manda menyela, "Kenapa kalian jadi pada ribut? Aku memang tinggal bersama kekasihku. Tapi, aku bukan seperti yang kalian bayangkan."
Nadia berbisik, "Kamu serius?"
"Kamu yang membuatnya." Balas Manda dan mereka kembali tersenyum.
"Oke, kita semua harus datang ke acara Nadia, agar bisa bertemu pacar kaya Manda."
Manda berkata "Iya, silakan kalian semua datang ke acara pernikahan Nadia dengan Abangku."
Shaun yang masih telanjang dada, dan duduk bersandar. Masih menatap layar ponselnya. Menurutnya, ini permainan baru yang menyenangkan.
"Amanda Naomi."
"Itu, mau kamu?"
__ADS_1
"Aku akan menyempurnakannya."
Mereka masih lanjut dengan obrolan santai, dan ada yang sedang karaoke.
Sudah lebih dari dua jam mereka bersama dan ingin saling menjatuhkan satu sama yang lain.
Saat Nadia berada di toilet. Ia seperti mendengar, seseorang telah berduaan.
Suara itu, sangat dikenalnya. Nadia tidak berniat menguping, ia lantas berdiam saja di ruang sempit itu.
"Kamu tahu, calon suami Saras itu siapa?"
"Siapa?"
"Direktur barunya MC."
"Bukannya, dia sudah punya istri."
"Memangnya, kalau sudah punya istri. Apa tidak bisa mendua? Seperti kita."
"Bereengsek kamu."
"Tapi, kalau soal Manda. Aku jadi makin penasaran. Siapa kekasihnya?"
"Semoga memang Om-om."
"Aku tidak peduli, mau Om-om atau tidak. Tapi, aku ingin mendekatinya."
"Lalu aku?"
"Apa kamu belum puas sayang?"
Nadia dengan kencang mendorong pintu toiletnya. Mereka berdua yang ada di toilet sebelahnya. Tampak terkaget karena suara pintu itu.
"Sstth." Pria itu membekapnya dan Nadia pergi meninggalkan toilet itu.
Toilet yang berada di halaman belakang restoran, tampak sangat sepi. Karena, jarang sekali ada pengunjung yang memakai toilet itu.
"Mereka berdua sangat jorok!"
Tadinya, Nadia ingin ke toilet khusus perempuan. Sayangnya, disana ada Saras dan selebgram itu. Merasa dirinya tidak sepadan dengan mereka, Nadia berpindah ke toilet belakang.
Mereka berdua tetap pada intinya. Mereka berdua tidak tahu. Kalau Nadia, sudah mendengar apa yang mereka bicarakan.
Aula restoran yang penuh warna. Terlihat beberapa lukisan terpajang di dinding. Manda yang memperhatikan satu persatu lukisan itu.
"Manda, ayo kita pulang."
"Pulang? Bukannya kamu masih ingin bernyanyi?"
"Aku sudah tidak berselera."
Nadia yang sudah muak dan merasa acara malam ini begitu kacau. Dia tidak mengira kalau para temannya, sudah berbeda. Tidak lagi menyenangkan, seperti masa SMA dulu.
"Manda. Apa kamu lupa, acara lamaranku besok pagi."
Manda lantas mengingat akan lamaran Nadia. Pastinya Paman dan Bibinya juga sudah tiba di rumahnya.
"Kamu benar."
Para teman-temannya telah berhenti karaoke. Mereka tampak berkumpul, saat pelayan datang memberikan nota pembayaran.
"Saras, kamu sudah membayar ini?" Tanya Guanliza sang selebgram, kepada sahabatnya Saras. Karena, dia yang hendak membayar tagihannya.
Maklum saja, acara malam ini telah menjadi ajang beken, agar disebut sultan. Sebutan untuk mereka yang punya duit banyak.
"Bukan aku."
Semua teman yang berada di meja itu, tampak terdiam dan sang selebgram masih menatapnya.
"Saras, terus siapa yang bayarin makan kita?" Tanya seorang teman kepada Saras. Karena, Saras yang memesan restoran ini.
Guanliza dan Saras, menatap ke arah Nadia.
"Nadia, apa kamu yang membayar ini?" Tanya Guanliza."
Nadia tampak bersedekap dan tasnya sudah menyelempang di bahunya. Ia berkata "Aku memang mau bayar, makanan yang aku makan. Tapi, tidak semuanya aku yang bayar. Ini aku baru keluarin duitnya."
"Siapa?"
"Siapa yang bayarin kita?"
Manda juga bisa melihat nota pembayaran itu, tertulis jumlah sekian juta dan sudah dibayar lunas. Bahkan, jumlahnya lebih dari 10 juta.
"Ya sudah, anggap saja ini traktiranku."
__ADS_1
"Ye, mana bisa begitu. Aku nggak mau. Aku tetap mau bayar sendiri." Nadia yang ngotot.
"Saya yang membayarnya." Suara pria.