COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Hanya Karena Telur Dadar


__ADS_3

Membuka tirai, melihat mentari mulai menyapa dari ufuk timur. Pagi ini Dinda akan pulang ke apartemen dan Zenno juga telah menjemput Olivia.


Dinda bersama Pak Roni dan Olivia masih menatap mobil yang berlalu itu.


"Ayo kita pulang." Ucap Zenno dan Olivia hanya mengangguk.


Dalam perjalanan ke rumah Zenno, Olivia hanya diam. Dia masih memikirkan tentang masalah sang Kakak.


Zenno melihat ke arah Olivia dan bertanya "Kamu kenapa? Tumben diam aja."


"Entahlah, aku bingung."


"Bingung?"


"Iya,..."


Zenno hanya merasa suasana jadi canggung ketika hening. Bahkan Olivia dari tadi bertemu di rumah sakit, dia cenderung diam, tidak seperti tadi malam waktu bertemu.


"O iya, semalam chat. Kamu butuh bantuan apa?"


"Iya, aku butuh bantuan kamu."


"Selama aku bisa bantu, akan aku bantu kamu."


"Tolong cari tahu soal Marcella Hermawan. Kamu pandai bidang IT, pasti bisa mencari tahu soal dia."


"Apa hubungannya IT sama info soal orang."


Olivia menoleh ke arah Zenno dan menghela nafasnya, lalu berkata "Ya bantu cari info dari media, aplikasi atau apapun itu. Yang jelas, aku mau tahu semuanya tentang dia."


"Kenapa harus cari tahu soal dia? Ada apa kalau boleh tahu?"


Olivia masih belum ingin cerita, dan hanya menjawab "Cari tahu dulu, nanti aku jelasin sama kamu. Aku ngantuk, mau tidur."


Olivia mulai bersandar dan memalingkan wajahnya. Tampak memejamkan matanya. Zenno hanya mengerutkan dahi dan menggeleng saja, dia hanya merasa ada hal aneh pada Olivia.


Sudah tiba di rumah, tapi Olivia masih tidur pulas. Zenno memandangi dia dan tanpa sadar, Olivia mulai membuka matanya.


Zenno tampak kikuk dan berkata "Kita udah sampai rumah."


Olivia masih mengucek matanya dan masih mengantuk berat. Tapi, Olivia juga merasa kalau mobilnya sudah berhenti.


"Iya..." Balasnya dan berusaha untuk melepas sabuk pengamannya.


Zenno keluar lebih dulu dan membuka pintu rumah, Olivia yang keluar dari mobil, tapi masih merasa mengantuk.


Zenno yang melihat cara berjalan Olivia hanya tersenyum dan sangat tidak menyangka, kalau Olivia tidak jaim sedikitpun.


"Olivia... Olivia. Baiklah, aku akan cari info tentang Marcella Hermawan."


Zenno mulai menutup pintu pagar rumahnya dan langsung menuju ke ruang bawah. Ada satu kamar yang dipakai untuk dia bermain game dan berselancar di dunia maya. Dekat ruang makan, dan ruangan itu selalu dikunci.


Olivia yang mencuci muka di kamar mandi, dia merasa perutnya lapar. Pagi ini dia sudah bisa makan, karena program diet mingguan sudah selesai. Satu minggu sudah dia diet dan harus sarapan pagi.


Setelah berganti baju dan tadi hanya cuci muka serta gosok gigi, Olivia menuju dapur yang ada di lantai bawah.

__ADS_1


"Zenno kemana lagi?" Ucapnya dan menuju ke kulkas. Melihat isian kulkas cukup lengkap, tapi dia tidak bisa memasak.


"Apa yang harus aku perbuat?"


"Ada telur dan sayuran." Olivia lalu mengambil 2 telur, bawang daun, wortel dan sosis.


"Gimana cara membuat omelet?" Saat memegang kedua telur itu, dia juga bingung cara memecah telurnya.


Beberapa hari di rumah Zenno, dia hanya makan salad buah atau sayuran. Dan semua itu tidak perlu di masak, dia hanya mengupas dan memotongnya saja, itupun juga awalnya dibantu oleh Zenno.


"Zenno!" Teriaknya dan tak ada yang menyahut.


"Zenno kamu dimana?" Tadi dia melihat pintu kamarnya terbuka dan berfikir dia tidak di kamar.


"Aah... kemana lagi? Aku sudah lapar."


Akhirnya dia mengambil mangkok dan memecahkan telur itu ke dalam mangkok "Ya, kok jadi begini?"


Kulit telurnya jadi masuk ke dalam mangkok, suara merengek Olivia "Bibi, ini gimana?"


Seolah ini bukan dunianya, bahkan pertama kali mencuci gelas dan piring, dia sudah memecahkan satu gelas. Tapi dia tetap berusaha untuk bisa sendiri, tanpa harus Zenno yang melayani dia.


"Zenno....." Rengekan itu begitu keras dan perlahan Zenno membuka headset yang dia kenakan.


Zenno keluar dari ruangan pribadinya, lalu melihat Olivia yang berada di dapur dan tampak merengek tidak jelas.


"Kamu kenapa?"


"Ini gimana telurnya?" Suara rengekan, tangis seperti anak kecil yang melakukan kesalahan.


"Kamu belajar atraksi?"


"Apa maksud kamu? Aku mau masak, tapi nggak bisa." Suara rengekan itu semakin menjadi dan menangislah.


"Hems, mau makan? Mau telur?"


Olivia mengangguk, lalu berkata "Omelet." Tampak seperti anak kecil yang menggemaskan.


"Ya udah, aku buatin. Cuci tangan kamu. Nanti aku bersihin bekas telurnya."


Olivia masih tertunduk di depan telur yang jatuh itu dan hanya menggeleng. "Ayo bangun, cuci tangan kamu. Aku aja yang masak."


"Aku mau belajar masak." Ucapnya seraya merayu.


"Ya udah, kalau gitu ambil tisue, bersihin dulu. Terus, cuci tangan kamu."


Olivia mengangguk dan Zenno tampak gemas atas kejadian ini.


"Tuan putri memang tuan putri." Zenno hanya bisa menahan jengkelnya, tapi dia tetap peduli. Bagaimanapun Olivia adalah calon istrinya.


Tidak berselang lama Olivia sudah siap memasak, Zenno cukup mengomel saat memberikan contoh, tapi Olivia tidak pantang menyerah. Hanya belajar memecah cangkang telur saja, sudah 5 kali gagal. Tapi dia tetap percaya diri dan tidak marah saat Zenno tampak mulai geram.


"Mungkin lain kali kamu tidak perlu ke dapur."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Dapurku bisa hancur."


"Kok gitu sih ngomongnya."


"Aku menyerah."


"Terus aku gimana?"


"Duduk sana, aku saja yang buat telur dadar."


Olivia mulai cemberut dan sepertinya Zenno tidak mau memberi arahan lagi.


"Zenno..."


"Olivia, sana duduk saja. 5 menit beres."


"Zenno, aku sungguh-sungguh belajarnya."


"Nggak akan!"


Akhirnya Olivia melepas celemeknya dan hanya melihat Zenno memasak dari dekat. Dia tidak mau mengganggu Zenno.


Tak butuh waktu lama Olivia mulai tersenyum saat melihat Omelet yang ada di teflon akan segera matang.


"Kamu hebat, bisa segalanya."


"Tidak juga."


"Buktinya kamu bisa buat Omelet."


"Ini cuma telur dadar, apa susahnya."


Olivia tersenyum gemas dan dia bersiap ke meja makan. Zenno cukup terampil kalau hanya membuat telur dadar.


"Olivia, Olivia, semua jadi bau telur." keluhnya dan mengantarkan Omelet buatannya ke ruang makan.


"Silakan Nona Olivia."


"Emh, terima kasih." Olivia tampak girang, berkat Zenno dia bisa makan telur dadar.


Zenno juga mengambilkan jus dan Olivia merasa seperti di rumah Oma. Mungkin memang harus terbiasa, jadi Olivia sangat cepat untuk beradaptasi di rumah Zenno.


"Zenno, kamu tidak makan?"


"Aku sudah sarapan sebelum jemput kamu."


Zenno akhirnya harus membersihkan dapurnya yang kotor dan bau amis karena pecahan telur.


"Nanti harus ada pembantu." Desisnya, dan cukup menggeleng atas apa yang terjadi tadi.


"Masakan Zenno, enak juga." Ucapnya dan merasa senang.


Olivia menikmati makan paginya, disisi lain Zenno harus meredam dirinya, dia sebenarnya malas bersih-bersih. Karena Olivia, dia harus membersihkan dapurnya itu.


"Lain kali tidak akan aku biarkan Olivia ke dapur." Batin Zenno kesal dan dia sibuk mengepel lantai dapur serta masih membersihkan meja dapur yang lengket karena pecahan telur.

__ADS_1



__ADS_2