
Suasana malam beribu bintang dan Olivia menatap langit malam ini. Dari kaca jendela kamarnya, dia banyak berfikir tentang perasaannya saat ini.
Olivia yang masih belum memastikan apa ini cinta atau bukan. Atau hanya perasaannya saja yang tidak menentu.
"Zenno, kenapa aku jadi begini?" Tanyanya dalam hati yang terdalam.
Di kala Olivia memikirkan akan perasaan antara dirinya dengan Zenno. Di tempat lain ada Dinda yang sedang menata perasaannya. Dinda yang duduk sendirian di kursi taman dan tidak jauh dari apartemennya.
"Hai, kamu kenapa menangis?" Tanya Dinda, saat melihat gadis kecil yang duduk di kursi taman sebelahnya dan dia tampak menangis. Usianya sekitar 5 tahun dan hanya menangis.
"Mama kamu dimana?" Tanyanya, sambil mengelus rambut gadis kecil itu.
Gadis kecil itu hanya menggeleng dan merasakan kesedihan. Dia memegang boneka kesayangannya dan tas troly bergambar hellokitty ada di sampingnya.
"Sudah, jangan menangis. Rumah kamu dimana?" Tanya Dinda, lalu anak itu mulai berkata "Di apartemen sana." Dia menunjuk apartemen yang sama dengan apartemennya.
"Di nomor berapa?"
"Chilla nggak mau pulang." Jawabnya.
"Nama kamu Chilla?"
"Iya."
"Chilla anak yang cantik, sini cerita sama Kakak."
"Chilla nggak ada Mama, nggak ada Papa."
"Terus Chilla tinggal sama siapa?" Dinda berusaha menenangkan dia dan mengelus rambutnya.
"Chilla tinggal sama Om."
"Om?" Dinda masih menatapnya dengan manis.
"Iya, Om. Chilla nggak suka. Om Erick kalau pulang malam-malam. Disini nggak ada teman, nggak seperti di rumah Chilla yang lama."
"Erick." Dinda merasa tidak asing dengan nama itu, lalu berfikir kalau yang bernama Erick pasti banyak, bukan Erick yang semalam itu.
"Chilla nggak punya teman." Sesenggukan.
"Terus kamu pergi sendirian begini?"
Gadis kecil itu mengangguk dan Dinda memeluknya. Lalu Dinda berkata "Kita pulang yuk, rumah Kakak juga disana. Nanti, kamu bisa main sama Kakak. Kakak juga nggak ada teman."
"Benarkah?"
"Iya, nanti kita bisa main boneka bareng. Kita bisa mainan hellokitty. Kakak juga punya boneka hellokitty."
"Beneran?"
"Iya,.. Tapi Chilla harus pulang dulu. Bilang sama Om Erick dulu. Nanti Omnya nyariin Chilla."
Dinda begitu manis saat merayu gadis kecil itu. Awalnya Chilla masih menolak, lalu Dinda tidak menyerah, berbagai cara bujuk rayunya sudah dilakukan. Setelah, Dinda bercerita tentang dirinya yang dulu suka bermain dengan Adiknya, lalu Chilla setuju untuk pulang.
"Apa Chilla nanti juga punya adik?"
"Em, iya. Punya."
Dinda menggandeng Chilla sambil membawakan tas trolly itu. Mereka tampak manis. Sepanjang berjalan, Dinda tidak henti bercerita dan Chilla tampak begitu senang saat mendengar cerita dari Dinda.
Sesampainya di lobby apartemen.
"Chilla."
Ternyata sudah banyak orang yang mencarinya, bahkan suster dan Omnya juga melaporkan kepada petugas keamanan apartemen.
Dinda melepaskan tangannya, saat bertemu Erick Fernando.
__ADS_1
"Chilla sayang, Bibi nyariin kamu kemana-mana." Suara yang terdengar medok dan Bibi itu usianya sekitar 45 tahun.
"Saya tadi bertemu Chilla di Taman Golden City. Dia menangis dan bilang kalau tempat tinggalnya disini." Ucap Dinda.
"Chilla, kenapa kamu pergi sendirian? Kamu bisa bilang sama Om Erick kalau mau main." Erick begitu tampak tidak nyaman dan hampir saja dia kehilangan keponakannya. Erick memeluknya erat-erat.
"Ini tasnya Chilla." Dinda memberikan kepada Bibi yang mengasuh Chilla.
Erick berkata "Chilla pulang dulu sama Bibi ya." Chilla tampak menggeleng. Petugas keamanan juga masih menatap Chilla dan Erick.
"Chilla mau main sama Kak Dinda."
Dinda tersenyum, lalu berkata "Chilla, ini sudah malam. Chilla pulang dulu ya."
"Tapi, tadi Kak Dinda sudah janji sama Chilla, kalau kita mau main boneka."
"Iya, Kak Dinda janji. Tapi, Chilla bobok dulu ya. Besok pagi, Kak Dinda jemput Chilla, terus kita bisa mainan bareng." Dinda mengelus rambutnya.
Chilla tampak menggeleng dan Dinda memeluknya, Erick membiarkan Dinda bersikap begitu, karena dia juga bingung kalau mengurus anak kecil. Bahkan, sudah hampir satu tahun, dia sama sekali belum bisa mengambil hati Chilla.
"Pak Erick, ini baru jam 8 malam. Apa boleh saya mengajak Chilla ke tempat saya? Saya di G9 no. 14. Bibi juga bisa ikut saya."
"Nanti Chilla akan merepotkan Nona Dinda."
"Tidak apa-apa, lagian saya juga tinggal sendiri. Nanti kalau Chilla sudah tidur. Bibi bisa mengajaknya pulang."
"Baiklah, silakan."
"Mari Bibi ikut saya. Saya tinggal di lantai 9."
"Baik Bu Dinda." Bibi itu membawa tasnya Chilla.
Lalu Erick ke petugas keamanan, dan membatalkan pengaduan tadi. Erick yang tadi masih di kantor, buru-buru pulang. Saat ini, dia juga masih berpakaian formal dengan jas dan dasi.
Sesampainya di apartemen Dinda.
"Iya, ini rumah Kak Dinda. Chilla mau minum apa?"
Chilla menggeleng dan Dinda bertanya "Chilla mau melihat hellokitty Kak Dinda?" Chilla mengangguk dan Dinda menuju ke kamar Olivia.
Bibi juga mengikuti mereka berdua.
"Wah cantik. Chilla suka."
"Ya udah, Chilla main disini dulu. Kak Dinda mau ambil minum."
Dinda melihat ke arah Bibi itu, "Bibi nggak perlu sungkan. Anggap saja sama seperti di tempat Pak Erick."
"Baik Bu Dinda."
Dinda tersenyum dan membiarkan Chilla bermain di kamar Olivia, Bibi juga bisa melihat kalau Chilla tampak senang.
"Chilla suka main disini?"
"Iya Bi, Chilla suka."
Bibi Rini, bekerja dari Chilla usia bayi sampai sekarang. Walaupun tuan dan nyonya sudah tiada. Bibi Rini masih ingin merawat Chilla.
Kedua orang tua Chilla, mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Akhirnya, Ericklah yang harus merawat Chilla. Karena, dia Adik dari Papanya Chilla. Bahkan, Erick juga yang meneruskan perusahaan Papanya Chilla.
"Bibi, minumannya disini ya Bi."
"Bu Dinda kenapa repot. Saya jadi tidak enak."
"Tidak apa-apa Bi. Hanya minuman."
"Chilla suka minum susu tidak?"
__ADS_1
"Chilla suka susu coklat."
"Ini, Kak Dinda punya susu coklat."
"Yeye... Chilla suka."
Bibi berkata "Chilla harus bilang apa sama Kak Dinda"
"Terima kasih Kak Dinda."
"Iya Chilla sayang. Nah, Chilla minum susunya dulu ya."
Sekitar satu jam Chilla bermain disana, dan Dinda tampak mendongeng sebuah cerita. Perlahan Chilla tidur di samping Dinda.
"Bu Dinda, Chilla sudah tidur. Saya akan membawanya pulang."
"Iya Bi. Sepertinya sudah nyenyak. Saya akan antar Bibi."
"Tidak perlu Bu Dinda."
"Saya juga ingin mengantar Chilla." Dinda tersenyum manis.
Dinda akhirnya mengantar Bibi sampai di tempat Erick. Di lantai G7 no 9.
"Pak Erick, saya tahu tentang Chilla. Anda harus bisa mengajaknya bermain dan bersenang-senang."
"Saya tidak ada waktu. Mungkin dia hanya rindu Mamanya."
"Bisa saja seperti itu, karena dia paling sering bersama Mamanya. Mungkin, Papanya dulu juga sibuk bekerja."
"Terima kasih sudah mau berteman dengan Chilla. Saya akan usahakan untuk mengajaknya bermain."
"Tidak ada salahnya, dihari minggu ke taman bermain, mengantar dia ke sekolah dan mencari tahu apa kesukaan dia. Pasti anda bisa dekat dengan Chilla. Terutama hati anda. Anda harus ikhlas saat merawatnya."
Erick merasa dinasehati oleh Dinda, lalu dia berkata "Iya. Akan saya coba."
"Sudah malam, saya permisi dulu."
"Sekali lagi, terima kasih."
"Terima kasih, tadi malam anda juga sudah menolong saya." Dinda tersenyum.
Dinda lalu pergi, karena mereka hanya mengobrol di depan apartemen Erick.
"Nona Dinda tunggu sebentar."
"Iya, ada apa?"
"Saya minta nomor ponsel anda. Sewaktu-waktu saya butuh anda."
"Maksud anda?"
"Soal Chilla, saya tidak bisa seperti anda. Kalau, saya minta tolong."
"Owh, Bibi sudah menyimpan nomor saya."
Erick lalu mengangguk, dan Dinda pergi.
"Ternyata, Dinda begitu dewasa."
Erick yang suka traveling dan tidak memikirkan tentang keluarganya. Tahun lalu, takdir sudah merubahnya, dia harus bertanggung jawab atas anak Kakaknya dan meneruskan kerja keras Kakaknya. Baginya, ini cukup sulit. Tapi, demi keponakannya, dia harus berusaha.
Terima kasih untuk jempolnya 🤗
__ADS_1