
Siang dengan terik matahari yang menyengat. Berjalan dari gedung ekonomi ke kantin kampus. Olivia menatap heran, Sherryl tampak senyum-senyum sendiri.
"Kemarin gimana?" Tanya Olivia yang penasaran. Karena dari tadi, Sherryl hanya menebar senyuman manis.
"Olivia. Akhirnya gue jadian sama Loudy." Senyuman Sherryl begitu merekah.
"Hah..Secepat itu?" Olivia yang terheran.
"Ya kita chat lover udah lama sih, tapi gue baru tahu kalau itu Loudy setelah pertandingan CFF yang di Tech Media. Makanya, dia kemarin ngajak ketemuan gitu. Awalnya gue diam aja, pura-pura aja nggak kenal Loudy FGFC. Gue anggap dia teman chat biasa. Tapi, kemarin gue nembak dia, gue ungkapin aja gue suka sama dia. Eh, akhirnya kita jadian."
Sherryl memang sedang berbunga-bunga. Olivia menggeleng atas ceritanya itu, tapi Olivia ikut bahagia melihat temannya yang sudah jadian.
"Berarti, loe harus traktir gue." Olivia yang menggoda.
"Soal itu, nggak perlu loe minta." Sherryl yang masih baper.
"Emh, kalau orang jatuh cinta, jadi berubah maksimal." Olivia bercanda.
"Aah... Udah, jangan godain gue."
Olivia dan Sherryl yang sedang jatuh cinta. Olivia juga begitu, tapi dia masih bisa menutupi apa yang ada dalam hatinya, tidak seperti Sherryl yang begitu jelas terlihat, karena memang sedang dilanda asmara.
Siang ini kantin begitu ramai, entah kenapa Olivia sulit mendapatkan tempat duduk. Yang tersisa hanya di depan Kevin, dan Sherryl menyuruhnya ke meja itu, lantas Sherryl memesan makanan.
"Kevin, gue gabung disini ya." Ucap Olivia dan Kevin hanya mengangguk.
Olivia meletakan tasnya, lalu melihat sekitar ruangan kantin itu, tidak melihat Zenno dan juga yang lainnya.
"Tumben mereka nggak disini, apa di kantin lain?" Batin Olivia, karena di kampus itu ada 4 kantin. Jarak terdekat dari kelasnya hanya kantin ini.
"Hai Kevin." Sherryl yang sudah membawa nampan.
"Ini buat loe." Ucap Sherryl yang meletakan makanan untuk Olivia.
"Hemms, cuma ini?"
"Gue takut loe jadi gemuk."
"Oke, tapi besok lagi." Ucap Olivia yang menggoda dan segera makan bakso yang dibelikan Sherryl.
Kevin hanya diam setelah membuka ponselnya dan semua mahasiswa yang ada di kantin itu menatap ke arah Olivia.
Sherryl dan Olivia belum sadar akan hal itu, Olivia tampak menikmati baksonya.
Setelah Olivia selesai makan, Kevin menatap Olivia, dan berkata "Olivia, coba cek forum kampus."
Olivia bertanya "Kenapa? Ada apa?" Lalu meminum jus jeruknya.
Sherryl mendengar itu, lalu membuka ponselnya lebih dulu. Karena dia mulai mendengar tentang Olivia dari mahasiswa yang duduk di sebelah kirinya.
"Olivia... Ini loe?"
Baru mau membuka ponselnya, Olivia menatap ke layar ponsel Sherryl.
Olivia terdiam, dan melihat ke sekitarnya, semua mahasiswa telah menatapnya.
"Olivia, ini beneran loe sama Zenno?"
Olivia mulai membuka ponselnya dan Zenno yang masih di ruang komputer bersama Tim FGFC, juga melihat itu. Mereka langsung berlari mengikuti Zenno, yang keluar dari ruangan itu.
"Iya, aku di kantin timur." Jawabnya dan itu telepon dari Zenno.
Olivia masih belum ingin membuktikan dirinya tidak bersalah, dan memang dia sudah menikah dengan Zenno. Tapi berita itu begitu menjatuhkan dirinya.
Dayangnya Bella datang ke kantin itu, dan berhadapan langsung dengan Olivia.
"Owh, jadi Elo si Nona X itu." Ucapnya dan Olivia masih menahan dirinya.
Kevin mencoba membela, tapi Olivia menggeleng padanya.
Sherryl mulai takut, dan semua mata tertuju ke meja itu.
__ADS_1
"Em, Elo mahasiswa baru. Pandai juga menggaet cowok." Ucapnya dan berkacak pinggang.
"Elo, udah buat sahabat gue nangis seharian dan dia sampai sakit."
Olivia mulai berdiri, menatapnya tajam "Dia sakit, itu salahnya sendiri."
Beberapa orang merekam kejadian itu.
"Elo bilang apa? Salah sahabat gue?!"
Olivia merapikan rambutnya dan menguncir kebelakang. Menatap para teman Bella dengan tatapan berani.
"Iya, salah sahabat loe. Yang suka ngejar-ngejar cowok. Zenno, suami gue. Bella datang ke rumah Zenno, gue juga ada disana."
Mereka tampak mengepal dan masih menantang Olivia. Lalu ada yang berkata "Tapi Bella memang cinta sama Zenno, nggak seperti Elo yang memanfaatkan Zenno."
"Gue? Manfaatin Zenno?" Olivia seperti menunjuk ke dirinya sendiri.
"Iya, kita semua tahu rumah Elo, dan kita tahu seberapa harga diri loe. Paling ingin jadi kaya. Karena keluarga Zenno tajir."
Sherryl menarik Olivia dan Kevin mendekatinya, lalu berkata "Olivia, sudahlah. Nggak usah dengarkan mereka."
Olivia melepaskan tangan Sherryl, bahkan dia tampak menyingsingkan lengan jaketnya.
"Iya, gue sadar Zenno serba bisa. Tapi gue. Gue nggak manfaatin dia."
"Munafik loe."
"Apa munafik? Kalau loe tahu gue siapa? Apa loe masih berani sama gue?"
"Siapa Elo, kita nggak takut."
"Baik, gue akan catat nama kalian semua. Gue akan ingat sepanjang kalian kuliah disini."
Tidak lama Zenno datang dan semua Tim FGFC. Para pria tampan, yang jadi idaman wanita. Mereka datang dan melewati dayangnya Bella.
Zenno yang mendekati Olivia "Baby, kamu nggak apa-apa?"
Vino, Joy dan Ken berhadapan dengan para dayangnya Bella. Loudy mendekati Sherryl dan teman Bella juga melihatnya, Loudy yang mengelus rambut Sherryl. Semakin membuatnya panas.
"Zenno, gue tahu loe udah menikahi dia. Tapi buka mata loe, dia cuma berniat buruk sama loe."
Zenno mendengar itu, lalu berkata "Gue suaminya, gue lebih tahu segalanya dibanding kalian semua."
Semua yang ada disitu tampak terdiam.
"Zenno, loe udah dibutakan sama dia. Lihat para fans loe, yang merasa disakiti."
"Gue nggak butuh fans, gue juga nggak minta mereka suka sama gue. Yang jelas, gue sudah menikah dan gue nggak akan segan menghukum siapapun yang menyakiti istri gue." Zenno dengan tatapan tajam.
Pihak kampus mendengar hal itu dan dugaan Mama Virda jadi kenyataan.
Tidak lama para pengawal Olivia datang menjemput. Karena mereka sebenarnya selalu bersiaga di sekitar kampus dan menyamar sebagai mahasiswa. Lalu 4 orang berseragam hitam itu datang mendekati Olivia.
"Nona Olivia. Maafkan kami terlambat." Ucapnya dan semua orang menatapnya.
Para teman Bella, tadinya menghasut beberapa mahasiswa, sekarang juga tampak ketakutan.
"Den Zenno, kami akan membawa Nona pulang."
"Olivia, pulanglah. Aku akan mengurusnya."
"Aku baik-baik saja."
"Baby, jadilah penurut."
Olivia mengangguk dan dikawal 4 orang pengawal tampan suruhan Pak Roni. Lebih tepatnya suruhan Oma Sellia. Setelah tahu dari Dinda, kalau Olivia dikenal sebagai mahasiswa biasa.
Olivia memeluk Zenno, lalu berkata "Aku tunggu di rumah. Kamu jangan berantem."
Zenno berkata "Aku tidak akan berlaku kejam."
__ADS_1
Olivia mengambil tasnya dan mulai pergi bersama keempat pengawal tampan.
Olivia yang berjalan dan melewati teman Bella begitu saja.
Teman Bella tampak terdiam dan Zenno berkata "Kalau kalian tidak tahu apa-apa, lebih baik diam. Kalau kalian masih mau berbuat masalah. Mending kita ke pengadilan. Gue akan tuntut kalian atas pencemaran nama baik. Kalau kalian tahu siapa Olivia, kalian pasti akan terkejut."
"Loudy, ajak Sherryl dan Kevin ke Rektorat. Mereka adalah saksi."
"Gue akan tunggu kalian semua di persidangan kampus."
Zenno lantas pergi dan yang lain masih menatap dayangnya Bella.
"Makanya, jadi orang nggak usah sok tahu." Ucap Vino lalu mengikuti Zenno.
"Kalian yang sok kaya. Preet...." Joy yang mengejek.
"Gue harap kalian nggak pingsan, apalagi kejang-kejang. Weeek!" Ken yang tidak mau kalah.
Dayangnya Bella lalu berteriak ke mahasiswa yang masih menatap ke arahnya, "Udah pada bubar."
"Apa lihat-lihat. Sana pergi."
"Guys kita yang harus pergi. Sepertinya ada yang aneh."
"Bener, mending kita pergi sebelum dipanggil ke Rektor."
Bella tidak menceritakan siapa Olivia sebenarnya, dia hanya bilang kalau Olivia adalah Nona X. Bukan hanya itu, mereka juga melihat sebuah foto dari seorang penggemar yang di pajang dalam aplikasi khusus. Lalu mereka memanfaatkan foto itu dan membuat berita yang menjatuhkan nama Olivia. Bahkan foto kontrakan rumah Pak Roni juga terpampang dalam artikel itu.
Olivia ternyata masih di mobil dan belum ingin pergi dari kampus. Dia melihat Zenno yang berjalan ke arah Rektorat bersama yang lainnya.
Olivia keluar dari mobil dan mengejar Zenno yang berjalan begitu cepat, bahkan masih emosi.
"Zenno..." Panggilnya dan dia menoleh ke arah Olivia. Tim FGFC, Kevin dan juga Sherryl melihat ke arah Olivia.
Olivia berlari ke arahnya dan Zenno juga berlari ke arah Olivia.
"Baby, kamu pulang aja."
"Bee, nggak usah diperpanjang lagi."
"Biar mereka jera, dan nggak bikin onar terus."
"Mungkin Bella nggak cerita sama mereka siapa aku. Padahal Bella udah tahu siapa aku sebenarnya."
Zenno lalu berkata "Meskipun aku nggak lapor, Mama juga sudah meminta pihak kampus untuk membantu kamu, bila ada berita yang negatif tentang kamu."
"Iya, aku tahu. Ya sudah, terserah kamu. Aku cuma nggak mau, nantinya mereka akan bertindak lebih karena dendam."
"Kamu nggak perlu cemas. Aku yang akan mengurusnya. Lebih baik kamu pulang."
"Iya, aku akan pulang ke rumah Mama. Nanti kamu jemput aku."
"Iya, aku akan menjemput kamu."
Zenno mencium kening Olivia, lalu Olivia pergi.
Sherryl berkata "Ada masalah aja, mereka berdua tetap uwu."
Loudy merangkul bahunya "Lalu kita?"
"Emmh, entahlah. Aku belum merasakan hal itu." Jawabnya tapi berdebar.
Joy, Ken, Vino yang kompak bersedekap dan menggeleng. Lalu mengangkat tangan kanan dan berkata "Hidup Jomblo. Hidup. Hidup Jomblo. Hidup."
Kevin yang ada di sebelah mereka hanya tampak tertawa melihat trio jomblo itu. Lalu Vino berkata "Kevin, loe harus ikutan kita kaum jomblo."
"Emh nggaklah, gue besok juga mau kencan." Balas Kevin dengan senyuman, padahal dia belum ada gebetan.
Suasana berubah menjadi baper, dan Zenno masih menatap ke arah mobil alphard putih, yang mulai pergi meninggalkan area kampus.
__ADS_1
Bagaimana, masih mau lanjut tidak? 🤗