COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Perpisahaan Dengan Segenap Cinta


__ADS_3

Satu minggu setelah makan malam di Hotel Berintang bersama Zenno.


Olivia yang duduk di depan meja riasnya, tampak menulis sebuah surat untuk Zenno.


Setelah berbagai masalah silih berganti menghampiri mereka berdua, dan ini saatnya Olivia harus pergi.


"Aku mencintai kamu." Olivia dengan manis mencium surat itu dan tertera untuk suamiku tercinta.


Saat ini pukul 3 dini hari dan masih gelap, tatapan Olivia ke arah ranjang, lalu melihat sekeliling ruang kamar itu, dia mengingat kembali, saat awal dia menginjakkan kakinya di kamar ini.


"Aku harus pergi." Ucapnya dan mulai menutup pintu kamar itu.


Olivia menoleh ke kamar Zenno yang tampak sepi, dan Zenno malam ini memang tidak ada di rumah. Dia tinggal di Hi Tech, karena harus menyelesaikan pekerjaannya.


"Nona Olivia sudah siap?" Tanya Pak Roni yang sudah menjemputnya.


Olivia hanya mengangguk dan kembali menatap rumah itu, lalu tersenyum "Aku akan kembali lagi."


Setelah duduk di dalam mobil, tampak bersandar dan memandangi jalanan. Begitu sepi, tidak seramai di pagi hari saat dia pergi ke kampus, atau setelah dia pulang dari kampus.


"Aku akan merindukan kota ini." Batinnya dan tersenyum tipis.


Dalam hatinya, Olivia juga risau akan kepergiannya ini. Dia tetap saja masih memikirkan Zenno, bagaimana nantinya, apakah Zenno bisa mengerti dan akan menunggu dia kembali, atau malah akan menjauh dan tidak memaafkan dirinya.


"Nona Olivia, apa Den Zenno sudah tahu?"


"Olivia sudah menulis surat, pasti dia akan membacanya." Olivia tampak sendu dan sepanjang dia menulis surat, air matanya luruh begitu saja.


Pak Roni juga mengerti akan perasaan Olivia saat ini. Tapi dia mencoba untuk tidak bertanya lagi tentang Olivia dan Zenno.


"Pak Roni, apa Bibi Jum sudah tiba di Bandara?"


"Sepertinya mereka masih di jalan, tadi saya sudah menghubungi Mang Ujang."


Olivia mengangguk dan kembali melihat ke arah jalanan.


Olivia memegang ponselnya dan melihat ke layar ponsel, melihat foto dirinya dan Zenno yang begitu manis. Sebelum Zenno ke Hi Tech, dia sempat bertemu Olivia di rumah Mama Virda dan dia memberikan bunga mawar.


Begitu bahagia rasanya dan Olivia sangat menyukainya. Semua perhatian Zenno, begitu berarti untuknya.



"Bee, aku akan merindukan kamu." Batin Olivia yang masih memandangi foto itu.


Sekitar satu jam perjalanan dan Olivia sudah tiba di Bandara Internasional.


Olivia yang turun dari mobil, tampak disambut oleh beberapa pengawal dan ada Bibi Jum yang akan menemaninya selama tinggal di luar negeri.


Olivia tampak mematung, saat melihat Zenno yang berjalan dari arah depan dan tampak melewati barisan pengawal itu.


Pak Roni yang menarik koper Olivia juga terdiam, dan Zenno mendekati Olivia.


"Bisakah kalian semua tinggalkan kita berdua." Ucap Zenno yang terdengar begitu serius.


Pak Roni mengerti dan mengajak pengawal serta Bibi Jum untuk pergi. Setidaknya, Pak Roni bisa mengajak mereka untuk minum kopi, sebelum jam keberangkatan tiba.


Zenno dengan wajahnya yang begitu muram, tapi masih menatap Olivia.

__ADS_1


"Olivia..." Suara itu terdengar sendu.


Olivia tidak berani menatap Zenno dan air matanya tiba-tiba mengalir lembut.


"Olivia, apa kamu akan pergi ninggalin aku?"


Olivia tidak berkata apapun, dia hanya menggangguk dan air matanya semakin deras. Olivia tidak bisa menahan dirinya, dan perpisahan ini membuatnya rapuh.


"Kamu..." Zenno yang sangat sulit untuk bicara, dia menahan sesak dalam dada. Perlahan mulai berusaha untuk tenang.


"Berapa lama kamu disana?"


"Aku tidak tahu." Jawabnya dan dia berusaha untuk mengusap air matanya.


"Baik, kalau kamu tidak mau melihat aku."


Olivia mulai menatapnya dan berkata "Biarkan aku pergi dan jangan sekalipun kamu kesana untuk menemui aku."


"Apa??" Zenno yang semakin geram rasanya ini tidak adil untuknya.


"Bee, aku mohon."


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi." Zenno tampak kesal dan air mata Zenno juga tidak terhindarkan. Rasanya semakin tidak bisa diredam, tapi Zenno juga tidak berniat untuk marah.


Semakin sesak rasanya dan Zenno tidak sanggup melepas kepergian Olivia, apalagi cinta mereka berdua semakin hari semakin bertambah.


Pukul 4 dini hari, Bandara Internasional sudah mulai ramai, ada penerbangan dengan jadwal jam 5 pagi. Begitu pula dengan Olivia, yang akan berangkat jam 5 lewat 10 menit.


"Zenno, aku harus pergi."


Olivia mendekat dan mengecup kening Zenno "Aku harus pergi."


Olivia sudah berpamitan dengan seluruh keluarga dan temannya. Kalau saja Sherryl tidak menghubungi Loudy dan memberitahu tentang keberangkatan Olivia. Zenno tidak akan tahu.


Saat ini Zenno yang menunduk dan tampak menangis.


"Zenno, aku pergi." Ucap Olivia dan melangkahkan kakinya ke depan, hendak melewati Zenno begitu saja.


Tiba-tiba tangan Zenno meraih tangan kanan Olivia dan memeluknya dengan erat.


Zenno berkata "Jangan tinggalin aku."


Olivia semakin resah dan dia tidak bisa seperti ini. Dia tetap harus pergi dan ini yang terbaik.


"Aku harus pergi, kalau kamu cinta aku. Tunggulah sampai aku kembali."


Zenno melepaskan pelukannya dan berkata "Baik, aku akan menunggu kamu."


Zenno melayangkan ciuman perpisahan yang begitu manis, dengan membawa segenap perasaan yang ada saat ini.


Olivia begitu berdebar dan dia turut merasakan hati serta perasaan Zenno saat ini.


Ciuman dengan makna yang dalam, kedua bibir itu menyatu dengan perasaan dan jutaan harapan, kelak mereka bisa kembali bersama lagi.


Ciuman manis berjuta rasa dan rasa sakit di dalam hati, perlahan luluh dan akan menerima dengan perasaan yang terdalam.


__ADS_1


"Aku akan kesana, dan kita bisa bertemu."


Olivia menggeleng dan berkata "Jangan buat aku semakin sulit, tunggulah aku di kota ini. Aku akan kembali untukmu. Aku cinta kamu."


Olivia memeluknya dan perlahan dia melepaskan dirinya, lalu pergi. Zenno hanya bisa mematung dan pasrah dengan keadaan saat ini.


"Baik, aku akan menunggu kamu. Aku akan menunggu cintaku kembali." Zenno tidak melihat lagi ke arah Olivia dan dia mulai terduduk di tempat itu.


Pak Roni mendekati Zenno dan berkata "Den Zenno, tidak perlu cemas. Nona Olivia pasti akan kembali."


"Iya Pak Roni."


Pak Rony yang ikut duduk di tempat itu, lalu berkata "Dulu saya juga begini, saya di Jakarta dan istri saya kuliah di luar negeri. Saya juga merasakan cinta saya pergi, tapi demi masa depan keluarga kecil saya, saya cukup mengerti. Saya tidak lagi memikirkan ego saya. Walau saya hanya seorang sopir, tapi istri saya bekerja di Resort dan dia punya jabatan tinggi. Berkat kepandaiannya, dan tidak ada yang sia-sia. Bahkan anak-anak kita juga bisa hidup layak dan kebutuhan mereka terpenuhi, bahkan kita bisa membantu keluarga yang ada di kampung."


"Iya, Olivia pernah cerita sama Zenno. Kalau Mamanya Revan begitu pandai, dan Oma Sellia akhirnya memberi beasiswa agar kuliah di Singapura."


"Benar Den Zenno. Awalnya, dia juga tidak mau. Tapi, setelah saya rela untuk dia pergi belajar, dia akhirnya setuju untuk belajar lagi. Keadaan saya juga awalnya begitu sulit, bertemu Oma Sellia semua jadi berubah. Bahkan saya sudah 20 tahun mengikutinya sebagai sopir dan sekarang hanya mengawasi keluarganya saja, terutama Nona Olivia."


Zenno mulai tersenyum, lalu berkata "Aku akan seperti jomblo lagi dan bisa bersenang-senang seperti dulu."


"Iya, Den Zenno masih muda. Tidak ada salahnya, menghabiskan waktu bersama temannya. Selagi Nona Olivia pergi, Den Zenno bisa bebas."


"Mungkin liburan bersama Tim FGFC."


"Den Zenno, mau ke puncak?"


"Puncak?"


"Iya, menginap di Resort bersama Tim FGFC. Biar nanti Mamanya Revan yang mengurusnya."


"Boleh juga, sudah lama tidak ke puncak. Nanti bisa di atur."


"Oke, hubungi saya kalau mau kesana. Nanti semuanya beres."


Zenno lalu tersenyum dan Pak Roni juga akan bisa sering bertemu keluarganya. Karena, tugas untuk mengawasi Olivia sepertinya sudah selesai.


Mereka akhirnya pergi dari Bandara itu, dan Zenno kembali ke Hi Tech.


Loudy yang dari tadi menunggu, lalu bertanya "Apa dia pergi?"


Zenno mengangguk dan yang lainnya mendekati Zenno.


"Loe kenapa nggak larang dia." Vino yang sok menegurnya.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Hanya untuk sementara. LDR mungkin yang terbaik. Lagian gue juga masih kuliah. Gue ingin mencapai tujuan gue."


Ken merangkulnya dan berkata "Iya, ini waktunya pembuktian, bahwa loe akan jadi orang hebat suatu saat nanti."


"Bener, loe harus buktiin sama istri loe. Kalau loe bisa sukses dengan kerja keras loe sendiri." sambung Joy yang tampak menyemangati Zenno.


"Iya, kita harus memulainya lagi." Ucap Zenno.


Olivia yang berada di pesawat masih membayangkan hal-hal manis ketika bersama Zenno. Terutama saat berada di rumah.


"Aku pasti akan kembali." Batinnya dengan manis.


Sepertinya kertas putih itu, sudah banyak coretan manis. Mungkin, inilah akhir dari coretan manisnya itu atau akan menjadi awalan baru.

__ADS_1


__ADS_2