COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Manda Menyuapi Tuan Muda


__ADS_3

Siang menjelang sore hari, udara yang terasa panas dan berjalan di sebuah lapangan bola.


Kali ini, Shaun telah mendatangi seorang bintang yang sedang melakukan shuting sinetron kejar tayang.


"Keren."


Jempol Shaun berikan kepada pria berusia 35 tahun. Yang telah selesai melakukan adegan di tengah lapangan bola. Sang bintang yang berperan sebagai pelatih bola. Dia juga bintang utama di sinetron kejar tayang ini.


"Shaun, apa kabar?"


"Kabar baik, Kak Martin."


"Aku dengar kamu akan jadi penerus S.O."


Shaun tersenyum, lalu berkata "Kakak pasti sudah lebih tahu kemauan Mommy."


Sang Bintang menepuk bahu Shaun, lantas berkata "Putra Madam Olivia cuma kamu. Lalu siapa lagi yang akan meneruskan usahanya."


"Menurut Kakak. S.O. yang sekarang seperti apa?"


Martin, salah satu idol pertama yang masuk ke S. O. Dulunya berkarier dari sebuah Boy Band dan terpecah karena usia. Namun, Martin tetap bertahan di S. O. dan sampai sekarang menjadi aktor.


"S.O. Yang sekarang lebih maju dan sangat berkembang pesat."


"Asam garam dari S.O dulu. Kita sudah lalui."


"Mommy kamu selalu bekerja keras untuk para idolnya."


"Kita semua, bangga sama Mommy kamu. Kita semua tidak pernah sepi Job. Gimana caranya, semua idol harus tetap bekerja dan Mommy kamu selalu mencari peluang untuk idol baru. Tidak ada yang dibedakan. Semua mendapat fasilitas yang sama. Bahkan, semasa di gedung lama. Kita latihan, di tungguin sampai larut malam. Dulu, kamu pernah dibawa ke tempat karantina. Untuk melihat para idol yang sedang berlatih. Kamu pasti juga ingat masa itu."


Kedua tangan Shaun seperti biasa, masuk ke dalam saku dan ia tampak mengingat awal mula S. O. terbentuk.


"Iya. Aku masih mengingat masa itu."


"Shaun, jangan sia-siakan kerja keras Mommy kamu."


"Iya Kak Martin. Aku mengerti."


"Aku mau ganti baju. Nanti masih ada scene lagi. Kamu lama disini?"


"Kakak tidak perlu sungkan. Aku cuma ingin melihat Kakak."


"Baguslah. Aku tinggal ya. Kamu bisa menemui James. Dia juga ada di lokasi ini."


"Iya Kak."


Amanda Naomi hanya mendengarkan obrolan mereka. Manda juga sangat menyukai para aktor ini. Apalagi Abang Ariel, setiap malam menonton sinetron kejar tayang ini. Setiap adegan bola masuk ke gawang. Abang Ariel berteriak histeris, seperti menyaksikan pertandingan bola sungguhan.


"Amanda Naomi."


"Iya Tuan."


"Kamu sudah mendengar semuanya?"


"Iya Tuan."


"Baguslah, kamu harus banyak belajar."


"Saya Tuan?"


"Iya, kamu asisten pribadiku. Jadi, kamu yang harus bekerja. Bukan aku."


Manda berkata "Baik Tuan."


Manda lantas mengikuti langkah kaki sang Tuan Muda. Sudah sore dan sang senja akan segera menyapa. Berdiri di parkiran stadion utama.


Shaun menatap Manda, ia bertanya "Amanda Naomi. Kamu bisa menyetir mobil?"


Manda tampak menggeleng.


Shaun berkata "Setidaknya, kamu harus bisa mengemudikan mobil. Mulai besok, kamu harus belajar."


"Untuk apa belajar mengemudikan mobil?"


Shaun yang telah berada di kursi kemudi. Manda duduk di sebelahnya dan memakai sabuk pengaman.


"Pokoknya. Mulai besok. Kamu harus belajar mengemudikan mobil. Oke."


"Baik."


"Setidaknya, kalau aku capek. Kamu bisa menyetir mobil."


"Bukannya Tuan ada sopir pribadi, kenapa harus saya?"


"Kamu membatah perintahku?"


"Bukan begitu maksud saya. Tapi, kalau saya harus belajar mengemudikan mobil. Lalu pekerjaan saya gimana?"


"Pagi sampai sore kamu bekerja sama saya. Malam nanti kamu bebas. Kamu bisa belajar sama sopirku. Nanti sopirku biar ajarin kamu."

__ADS_1


"Tuan."


"Apalagi?"


"Saya masih ada pekerjaan lain."


"Soal keuangan?"


"Bukan."


"Terus?"


"Pekerjaan rumah." Jawaban polos.


Manda sudah tampak lelah. Seharian di perintah ini dan itu. Nanti malam setibanya di rumah, harus jadi asisten dua bujang.


"Aaaa... Aku bisa gila." Batin Manda yang sudah tidak sanggup lagi, dua bujang di rumah sudah membuatnya stress, dan sekarang ada Tuan Muda yang seenak sendiri bila memerintah dirinya.


"Gimana? Kamu sanggup?"


"Tuan."


"Calon penerus tidak boleh menyerah."


"Calon penerus?"


"Ya, kamu masih muda. Kamu ini juga penerus masa depan. Harus kuat dan semangat."


"Emangnya dia, yang tinggal perintah ini dan itu. Sedangkan aku, apa-apa harus sendiri." Batinnya yang sudah mulai merintih dengan sedihnya. Meratapi nasib yang telah menghampirinya.


"Amanda Naomi."


"Tuan, panggil saja saya Manda. Manda. M-A-N-D-A."


"Nama kamu, Amanda Naomi. Terserah aku, mau panggil kamu apa." Dengan wajah ngeselin dan Manda semakin kesal.


Menyandarkan kepalanya ke sisi kaca sebelah kiri, semakin meratapi nasib yang telah menimpa dirinya. Sungguh malang nasibnya saat ini.


Sudah satu jam perjalanan dan mobil itu hanya terdiam tak bergerak. Mau jalan susah, mau mundur sudah dipepet mobil belakang. Perutnya, mulai bernyanyi, karena tadi hanya makan mie instan. Padahal, jam makan siang. Manda sudah memanggilnya untuk beristirahat. Eh, malah mengajak pergi begitu saja.


"Kamu lapar."


"Sepertinya, Tuan kelaperan."


"Kita mampir saja ke mini market beli mie instan."


"Hems, Tuan tadi sudah makan mie instan."


"Nanti depan, ada perempatan ke kiri. Ada tempat makan enak."


"Beneran?"


"Iya."


Waktu yang lumayan lama, akhirnya mobil itu bisa berjalan lagi dan mulai mengikuti panduan dari sang asisten pribadi.


Sesampainya di tempat makan, tampak meja dan duduk lesahan. Shaun yang tidak terbiasa duduk lesahan. Rada binggung saat hendak duduk, ia melihat cara Manda duduk dan melihat ke sekitarnya.


Manda sudah memilih beberapa menu dan Tuan Muda ini masih melihat ke sekitar. Cara makan orang disekitarnya dan hanya memakai tangan kosong. Tidak ada sendok maupun garpu.


Tidak menunggu waktu lama, semua menu yang dipilih Manda, sudah tampak dihidangkan di meja. Shaun sangat terkejut saat melihatnya.


"Amanda Naomi. Ini tempat apa?" Bisiknya dan Manda tampak tersenyum.


"Ini rumah makan lesehan."


"Harusnya tadi kamu bilang dulu."


"Tuan tadi sudah kelaperan. Makanya saya ajak kemari."


"Tapi, aku tidak bisa makan ikan yang masih utuh begini."


"Tuan tidak suka ikan?"


"Aku suka. Tapi, aku tidak tahu caranya memilah durinya."


Manda semakin senang, ia akhirnya tahu kelemahan sang Tuan Muda. "Saya akan mengajari Tuan."


"Aku nggak mau. Kamu saja yang makan."


"Tuan. Ini enak." Manda yang mengambilkan dan menyodorkan ke mulutnya.


"Aku terbiasa makan salmon."


"Di coba dulu."


Karena perutnya semakin mengoceh tidak jelas. Akhirnya sang Tuan Muda ini membuka mulutnya dan Manda telah menyuapi dirinya.


"Gimana? Enak?"

__ADS_1


Shaun hanya mengangguk dan Manda seolah ingin mengerjainya.


"Tuan mau ini?"


"Apa itu?"


"Jengki goreng. Rasanya sedap."


"Jangan bohongi aku."


"Beneran Tuan. Ini enak banget."


Manda yang tidak menyerah, dan akhirnya Shaun juga menerima Jengkol goreng dengan cocolan sambel.


Sedikit kepedesan, Manda langsung memberikan teh hangat padanya.


"Kamu mau membunuhku?"


"Maaf Tuan. Pedas ya?"


"Iya, aku nggak suka pedas."


Manda lantas memberikan ayam goreng dan menyuruh Tuan Muda ini, makan memakai tangan kanannya.


"Kamu serius??"


"Tuan, saya juga harus makan. Nanti keburu malam. Saya bisa tertinggal bus."


"Aku akan menyuruh sopirku."


"Tidak Tuan. Saya terbiasa naik bus."


"Tapi, ini gimana? Aku harus cuci tangan."


Manda memberikan kobokan dan Tuan Muda ini semakin bingung. Lalu dia melihat ada orang yang mencuci tangan di wastafel.


"Sialan. Manda sudah mengerjai aku."


"Itu ada wastafel."


"Mau makan pakai ini saja. Ada jeruk nipisnya. Higienis. Kalau selesai makan baru ke wastafel." Ulasnya yang tidak mau disalahkan.


Tuan Muda akhirnya bisa makan sendiri, dan Manda senang melihat watak asli sang Tuan Muda.


"Tuan mau nambah lagi?"


"Tidak."


"Ini nasi tutug oncom. Tuan sudah pernah coba belum?"


"Jangan coba-coba!!"


"Tuan, saya hanya bertanya. Soalnya ini enak banget."


"Terserah kamu. Aku mau cuci tangan."


"Aem, nyam-nyam-nyam." Manda yang menggoda dan Tuan Muda menatapnya.


"Apa enaknya?"


"Coba dulu. Pasti nanti ketagihan."


Manda memang jagonya, membuat orang lain kepingin makan. Padahal, perutnya sudah cukup makan seporsi nasi dengan ayam goreng. Tapi, saat melihat Manda yang lahab makan Shaun jadi tertarik.


"Suapi aku."


"Tuan mau??"


Masih ada satu bungkus, dengan segera Manda membuka dan menyuapi Tuan Muda ini.


"Gimana rasanya?"


"Enak."


Shaun, merasa dirinya diperlakukan dengan baik oleh Amanda Naomi. Meskipun sudah pernah memiliki kekasih, dia belum pernah diperhatikan seperti saat ini.


"Sudah cukup. Aku kenyang."


"Tinggal dua suap lagi." Manda yang seolah baby sister yang menyuapi bayinya.


Tuan Muda yang cukup penurut dimata Amanda Naomi. Mereka terlihat cukup akrab saat makan bersama.


Dua jam kemudian, sang Mommy telah menyiapkan menu makan malam dan Daddy sudah tampak duduk di kursi meja makan.


Daddy berkata "Shaun, kita sudah menunggu kamu."


Shaun menjawab "Daddy, aku sudah kenyang. Daddy saja yang menghabiskan masakan Mommy."


Mommy bertanya "Shaun kamu sudah makan? Kamu makan dimana? Kamu makan apa?"

__ADS_1


"Tutug oncom." Sembari berlajan menuju kamarnya.


Orang tua terheran. "Tutug oncom??"


__ADS_2