
Pengendara motor itu masih dalam isak tangisnya. Nasibnya yang malang, telah membuat dirinya kecewa.
Sesaat sebelum menabrak mobil yang Shaun kendarai. Dirinya telah makan malam bersama rekan-rekan kerjanya. Sayangnya, laki-laki yang dia incar dari lama, akan menikah dengan rekan kerjanya. Bahkan, rekan kerjanya itu satu ruang kerja dengan dirinya.
"Aku harus bagaimana? Aku sudah terlanjur cinta." Gumamnya dan Shaun bisa mendengar jelas kata itu. Hampir seperti dirinya, yang terluka tapi tidak terlihat oleh mata.
Shaun menghembuskan nafas lega. Shaun yang masih berdiri melihat ke sekitar. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Namun, sekitar trotoar memang sangat sepi dan tidak seramai di kala pagi.
Shaun mencoba duduk di sebelahnya, dan pengendara motor masih menangis.
"Kamu patah hati. Aku juga seperti kamu." Shaun yang bergeming sendiri.
Seandainya ia mendengar kata itu, pasti langsung berucap. "Aku nggak tanya kamu."
Shaun kembali berkata "Cinta memang begitu. Ada kalanya kita gelap mata karena cinta dan pada akhirnya akan merasa terluka."
"Aku bahkan melihat sendiri. Dengan kedua mataku ini. Kekasihku, bermain cinta dibelakangku."
"Aku mengerti, apa yang kamu rasakan."
Entah kenapa, Shaun malah menceritakan nasib cintanya yang kandas begitu saja. Tanpa ada kata berpisah, lantas pergi meninggalkannya.
Pengendara motor cantik. Bergerak melepas helm bogo yang ia kenakan. Melihat ke wajah tampan nan rupawan.
"Sudah selesai curhatnya?" Seolah, ia tidak ingin mendengar apapun dari mulut yang pandai bicara.
Shaun yang menatapnya hanya mengangguk saja.
Tatapan tajam namun membuat nyaman. Tampak bola mata yang cantik dengan bulu mata nan lentik. Bibir imut yang tampak merah muda nan menggoda. Hidung yang mancung, kedua pipi gemas tampak memerah. Rambut panjang kecoklatan dengan poni tipis menutupi dahi.
Perlahan wajah juteknya telah menyapu tatapan Shaun saat ini. Dia yang tidak suka dengan pria yang pandai berkata.
"Untuk apa kamu kemari? Kamu ingin curcol? Apa ingin memperburuk keadaanku?"
Shaun menjawab "Aku hanya ingin memastikan."
"Memastikan?!" Suara yang galak dan Shaun baru kali ini berhadapan dengan wanita yang bersuara jutek.
"Iya, aku hanya memastikan kalau kamu tidak terluka."
Shaun beralih melihat ke bumber mobil dan juga motor matic yang terparkir di hadapannya.
"Aku baik-baik saja. Mobil kamu yang terluka. Aku akan mengganti biaya perbaikannya."
Shaun beranjak ke motor itu, setelah melihat hanya sedikit goresan pada mobilnya. Malahan, motor pengendara itu yang lumayan parah.
"Kenapa ini bisa begini??" Gumannya dan menatap dekat motor matic warna putih itu.
Gadis itu mendekat, ia berkata "Tadi aku sudah ditabrak motor."
Shaun yang terheran. Sudah kecelakaan tetap nekat mengendarai motornya dan akhirnya malah menabrak mobil.
"Kamu tidak terluka?"
Gadis itu berkata "Hanya Ini."
Ia memperlihatkan lengan kirinya yang tergores parah. Sampai jaket yang ia kenakan tampak sudah sobek.
__ADS_1
Shaun berkata "Cepatlah ke rumah sakit. Siapa tahu ada yang patah."
"Kamu mendo'akan aku patah tulang?"
"Bukan begitu." Shaun yang melihat kalau gadis ini memang jutek. Percuma juga menyarankan hal baik, yang ada hanya batahan saja.
Ia kembali memakai helmnya dan menaiki motor maticnya. Lalu berkata "Sudah larut. Aku harus pulang."
"Silakan." Shaun dengan tangan kanan yang mempersilakan dia untuk melewatinya.
"Pria aneh." Desisnya dan Shaun masih bisa mendengar ucapan itu.
Shaun yang berkacak pinggang "Kamu juga gadis yang aneh."
Shaun yang melihat ke sekitar dan sudah sangat sepi. Ia yang ketakutan, secepatnya masuk ke mobil.
"Hii, serem juga tempat ini." Shaun yang merasa merinding. Secepatnya tancap gas pergi meninggalkan jalanan itu.
20 menit berlalu, pengendara motor itu tiba di rumah minimalis dan ia langsung memarkirkan motornya.
Bangunan rumah yang terlihat kecil dan tampak pagar berkarat. Ada dua motor gagah yang sudah lebih dulu terparkir di carport minimalis.
"Aku capek." Berjalannya yang tampak sempoyongan membuka pintu rumah. Menuju ke sebuah sofa dah langsung menjatuhkan badannya begitu saja.
"Kenapa aku mengalami nasib sial?" Keluhnya dan seseorang mendekat.
"Kamu kenapa?" Tanya dia dan tampak membawa secangkir kopi.
"Aku stress." Jawaban spontan dan tidak peduli.
Abang ganteng berkata "Makanya kamu berubah, jangan muka wajan."
"Iya, harusnya kamu seperti Nadia. Nadia semakin cantik."
Dengan kesalnya ia menimpukan bantal sofa ke wajah Kakaknya. "Jelaskan, kenapa Abang bilang begitu? Tumben amat Abang meperhatikan Nadia."
Senyuman tipis nan misteri, lalu duduk di sebelahnya. Si Abang berkata "Aku ingin menikahi Nadia."
Mata yang membulat sempurna dan seolah akan keluar dari kelopak matanya. Bibirnya sudah terlihat lancip dan seolah ingin segera mengatakan kalau dirinya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Nadia manis. Abang suka."
"Hah??" Dia yang seketika mual melihat wajah si Abang ganteng ini. Sudah lama sekali mengenal Abangnya dan juga Nadia. Tapi, dirinya sampai tidak tahu kalau Abangnya telah menaruh hati pada sahabatnya.
"Abang sangat serius. Abang akan segera ke rumahnya."
"Jangan!!" Menolak hal itu dan ia berdiri dengan tegas.
Wajah Abang ganteng yang berubah, "Kamu kenapa? Kamu tidak suka sama Nadia? Kamu tidak mau kalau Nadia jadi Kakak iparmu? Bukannya kalian dekat?"
Badan itu perlahan lemas dan tertunduk dihadapan si Abang ganteng, ia berkata "Nadia."
"Nadia??" Abangnya penasaran.
"Nadia sedang jatuh cinta. Tapi aku juga belum tahu siapa dia." Ulasnya dan si Abang tersenyum tipis.
Menikmati aroma kopi hitamnya dan lanjut menonton acara di layar televisi.
__ADS_1
"Kamu harus bertindak sebagai waliku. Aku akan menyiapkan semuanya."
"Abang secepat ini? Kalau Nadia menolak Abang gimana?" Ia sudah membayangkan betapa malunya dirinya bila di tolak oleh sahabatnya sendiri. Apalagi, dirinya sangat mengenal dekat orang tua Nadia.
Memegang bahu adiknya, lalu berkata "Kamu tenang saja. Kamu cukup menemani aku untuk melamar Nadia."
Melihat keseriusan wajah Abangnya, ia akhirnya menyerah. Lantas si Abang melihat jaketnya yang robek dan ada bekas darah menempel pada jaket itu.
"Kamu jatuh?"
"Iya."
"Sana istirahat."
"He'em."
"Benz sudah tidur. Dia sedang patah hati."
"Kak Benz patah hati. Kalau Abang ditolak Nadia. Pasti juga patah hati. Kenapa orang-orang di rumah ini semuanya patah hati." Batinnya yang merasakan nasib sialnya ini.
Sepupu tampan yang bernama Benny Mahardika. Biasa dipanggil Benz, dan usianya baru 20 tahun. Saat ini sedang berkuliah di universitas swasta yang ada di kota ini.
Abang ganteng ini sosok wali dalam keluarga. Semenjak kedua orang tuanya tiada. Hanya Abang ganteng yang bisa menjaganya dan melindunginya.
Huuh, itu hanya dalam cerita, seorang Abang yang sempurna dimata adiknya. Sayangnya, ini tidak berlaku baginya. Yang ada, si adik ini yang harus menjaga dan menyiapkan semua kebutuhannya.
Ariel Yoshizawa, si abang ganteng berusia 27 tahun. Tampang ganteng, berkulit sawo matang. Mata yang sedikit sipit dengan alis mata tebal. Rambut hitam lebat dan tampak jambang. Pancaran mata yang bisa menyentuh perasaan wanita. Luluh sudah bila berhadapan dengannya.
Abang ganteng, keturunan Jepang. Memiliki tinggi badan 180, dengan tubuh yang kekar dan terlihat sangat menawan.
Saudara perempuan ini, hanya bisa membanggakan fisiknya, tidak untuk sikap dan tingkah lakunya.
"Bilangnya. Sana istirahat." Dia yang mendumel sambil mencuci piring. Lantas memunguti baju-baju kotor yang ada di kamar mandi. Padahal, sudah di sediakan kantong baju kotor. Tinggal memasukannya saja para bujang di rumah ini begitu pemalas. Dirinya tetap membiarkan Benz tinggal di rumah ini, hanya sebagai bentuk balas budi kepada orang tua Benz. Yang pernah membantu biaya sekolahnya dulu.
"Huf!" Setelah dirinya selesai beberes.
Merebahkan badannya dan menatap langit-langit kamarnya. Dirinya yang merasa kepenatan dalam pikirannya.
"Mariska memang gadis yang cantik." Ia yang bergeming. Akan gadis pilihan cowok yang diincernya.
"Edo sangat serasi, bersanding dengan Mariska."
Ia membayangkan, betapa cantiknya Mariska yang akan mengenakan gaun putih yang indah dan bersanding dengan Edo di atas pelaminan.
"Aku memang tidak sepadan dengan Edo."
Lantas, ia melihat telapak tangannya sendiri. Sangat berbeda dengan Mariska yang memiliki telapak tangan yang halus. Bahkan, Mariska sangat menjaga gaya dan penampilannya. Tidak seperti dirinya yang apa adanya.
"Apa aku harus berubah?" Seolah dirinya ingin segera make-over dirinya sendiri.
Amanda Naomi, dan sering dipanggil dengan Manda. Dirinya yang menatap pada layar ponselnya. Tampak melihat wajahnya sendiri.
"Aku cantik. Hanya saja."
Amanda Naomi, gadis kelahiran Jepang.
Setelah kepergian Ibunya, saat melahirkan dirinya. Manda dan Ariel dibawa pergi Ayahnya ke kota ini.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian berdua."
Menutup matanya dan ingin bermimpi indah.