COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Bujuk Rayu Sang Cucu Tidak Mempan


__ADS_3

Hari demi hari berganti dan masalah pasangan muda itu belum berhenti begitu saja.


Saat Bella mengancam untuk mengakhiri hidupnya, ketika polisi mendatanginya. Bella jadi hilang kendali dan histeris.


Olivia sudah berusaha untuk mencegah keluarganya, dan mengakhiri masalah itu secara damai. Tapi, Oma Sellia tetap bersikukuh untuk membawa Bella beserta dayangnya ke pengadilan. Bukan hanya mereka, ada juga penyebar hoax yang membuat para penggemar Zenno jadi menghujat Olivia. Mereka juga sudah ditangani pihak berwajib.


"Oma,...." Olivia dengan wajahnya yang begitu muram dan terus memohon kepada sang Oma, agar memaafkan orang-orang yang menyebar berita itu.


Oma yang bersedekap dan memandang bukit dari balik jendela kamarnya.


"Oma sayang sama Olivia?"


Oma tampak diam, dan enggan berbicara dengan Olivia. Olivia mendekat dan memeluk sang Oma.


"Oma, kalau Oma sayang Olivia. Olivia mohon sama Oma. Lepaskan mereka semua. Mereka masih labil dan tidak bisa berfikir jernih, apalagi masalah hukum. Ini terlalu berat untuk mereka."


"Mereka sudah dewasa, salah mereka berbuat ulah dan tidak memikirkan resikonya. Semua ini ada aturan hukumnya."


"Olivia ngerti perasaan Oma. Tapi, beri mereka kesempatan, jangan jadikan masa muda mereka hanya dalam jeruji besi dan tidak bisa kuliah lagi. Kasih mereka kesempatan untuk berubah."


Oma menatap Olivia dan memegang kedua lengan Olivia, lalu berkata "Kamu jangan jadi seperti Mama kamu, yang mengalah demi orang yang menyakiti dirinya, bahkan hatinya."


"Oma, Olivia baik-baik saja. Olivia tidak merasa tersakiti. Apa Oma lupa siapa Olivia. Olivia tidak takut dengan siapapun kalau memang Olivia tidak bersalah. Hanya saja, Olivia takut, mereka akan menyimpan dendam, bukannya mereka sadar, tapi akan lebih menyakiti kita semua. Bukan hanya ke Olivia, bisa saja Oma, Kak Dinda atau Papa."


Oma melepaskan tangannya dan mulai berjalan, dia kembali melihat ke arah bukit itu. Lalu bertanya kepada Olivia "Lalu, apa yang akan membuat mereka jera?"


"Oma, mereka masih diberi waktu oleh pihak kampus untuk memperbaiki diri mereka. Kalau mereka sampai ditahan, pasti tidak ada waktu untuk mereka berubah baik."


Oma mencoba berfikir dengan tenang, lalu bertanya "Kalau mereka menyakiti kamu lagi bagaimana?"


Olivia tersenyum dan memegang telapak tangan sang Oma. "Olivia bisa jaga diri Olivia. Oma juga bisa mengenal mereka semua. Sesekali, Oma undang saja mereka ke resort dan mengajari mereka untuk menjadi gadis yang baik."


Oma lalu berjalan ke tempat lain dan itu adalah ruang bermain saat Olivia masih kecil. Ruangan itu dibuat setelah Olivia lahir, dan masih ada box bayi berwarna putih, tenda mainan dan juga berbagai boneka ada disitu. Kalau Dinda memang tidak begitu suka dengan boneka, dia lebih suka koleksi mobil-mobilan seperti RC.


Oma duduk di karpet dan memegang sebuah boneka bayi cantik, begitu lucu dan bibirnya imut. Oma tampak sedang mengelus rambut boneka itu, Olivia hanya memperhatikan sang Oma.


"Oma, Olivia sedang serius. Kenapa Oma malah mainan boneka ini?" Olivia yang gemas, lalu duduk disebelah Oma.


"Olivia, Oma kesepian." Ucapnya dan memandangi boneka itu.


"Ada Tante Julia."


"Kamu disini saja, temani Oma."


"Oma, Olivia kuliah."


"Tidak perlu kuliah."


"Oma...." Olivia memegang lengan kiri sang Oma dan tampak manyun gemas.


Oma lalu menatap Olivia dengan tatapan sendu "Oma sudah tua, tapi kalian semua ninggalin Oma."


"Oma ngomong apa sih?! Suka pindah topik pembicaraan."


Olivia mulai kesal dan sang Oma bangkit dari duduknya, lalu menuju ke box bayi yang terbuat dari kayu dengan cat warna putih.


"Dulu kamu tidur disini, kalau Mama kamu pergi, Oma yang jagain kamu sama Bibi. Oma yang gantiin popok kamu. Olivia, Oma rindu masa kecil kamu."


Olivia memegang punggung tangan sang Oma, karena Oma sedang mengelus box bayi itu.


"Oma, Olivia harus kuliah, Olivia juga sudah menikah. Bagaimana bisa, Olivia tinggal disini?" Olivia juga merasa tidak senang saat jauh dari Oma. Tapi, Oma juga yang menyuruh Olivia untuk kuliah di Jakarta.


"Benar..." Oma dengan rasa tidak senang.


"Oma, tadi pembicaraan kita itu, soal tuntutan Oma, tentang kasus Olivia." Ucap Olivia yang bingung, kadang Oma memang pandai berakting di depan Olivia.


"Oma sudah tua. Oma lupa."


Olivia melotot dan cemberut, "Oma selalu begitu, Oma pura-pura kan? Apa maunya Oma? Olivia tahu, Oma cuma akting."


Olivia begitu kesal dan Oma tersenyum, lalu mengelus rambut Olivia. Oma berkata "Emh, Oma bisa melepaskan mereka semua, asalkan kamu kabulkan permintaan Oma."


"Nah, bener. Pasti ada sesuatu." Olivia dengan tatapan gemas.


Oma lalu keluar dari ruangan itu dan Olivia masih mengikuti sang Oma.


"Oma... Dari tadi muter-muter terus." Olivia yang masih mengejar sang Oma, yang berjalan ke arah kolam ikan.


Oma duduk santai di saung dan menatap ikan-ikan air tawar.


"Ya udah, apa permintaan Oma? Selama Olivia bisa nurutin kemauan Oma. Olivia siap mengabulkan keinginan Oma."

__ADS_1


Oma masih pura-pura dan tidak menghiraukan Olivia.


"Oma,... Udah dong. Jangan pura-pura lagi."


"Apa permintaan Oma? Olivia akan berusaha untuk menuruti Oma."


"Beneran, kamu mau menuruti Oma?" Oma berdiri dan memberi makan ikan-ikan yang ada di kolam.


"Iya, apa permintaan Oma?"


"Oma, ingin segera memiliki buyut." Ucapnya dan menoleh ke arah Olivia.


Olivia jadi batuk-batuk dan rasanya hal ini mengejutkan dirinya.


"Buyut?"


"Iya, bayi mungil dari kamu dan Zenno."


Olivia tampak gerah, dia langsung menguncir rambutnya kebelakang dan langsung berkipas-kipas dengan tangannya.


"Oma. Apa nggak bisa yang lainnya?"


"Emh, Oma sudah punya semuanya, Oma hanya ingin bayi mungil, Oma ingin memiliki buyut dari kalian."


Olivia mendekat dan berkata "Oma, Olivia masih kuliah, usia Olivia juga belum genap 19 tahun."


"Bulan depan usia kamu 19 tahun."


"Oma, Olivia baru masuk kuliah. Nanti gimana, kalau hamil, terus mual, perut Olivia buncit, kan malu."


"Berarti kamu menolak permintaan Oma. Ya sudah, Oma tetap akan pada keputusan Oma."


"Oma, masih ada Kak Dinda. Dia udah lulus S2. Oma bisa minta sama Kak Dinda dan Kak Erick."


"Oma juga sudah meminta sama mereka. Setiap hari Oma sudah telepon mereka."


"Ya udah, Kak Dinda aja ya Oma. Soalnya Olivia belum bisa mengurus bayi." Terlihat nyengir dan begitu gemas kepada sang Oma.


"Tapi, Oma juga mau dari kamu. Oma bisa meminta Bibi untuk mengurus bayi kamu."


Olivia menggeleng dan berkata "Tidak untuk saat ini."


"Pokoknya, Oma mau itu. Kalau tidak, jangan paksa Oma lagi."


"Iya, Oma serius." Oma lalu pergi dan Olivia merasa kesal, dia terduduk di saung, rasanya begitu lemas kalau melawan sang Oma.


"Aku bisa melawan Papa. Tapi kenapa begitu susah kalau berhadapan sama Oma."


"Punya Oma mantan bintang film, memang susah diajak negosisasi." Keluhnya dan menyandarkan kepalanya.



Oma Sellia


Tidak heran dulu punya menantu dari rumah produksi, lalu membuat sebuah perusahaan iklan bersama sang suami. Di era-90an, dulu Oma masih eksis dan setelah itu hanya menikmati hasil kerja kerasnya, lalu memilih untuk membangun sebuah resort.


Setelah Olivia lahir, Oma sering kali di rumah dan menikmati hari-harinya bersama kedua cucunya.


Karena, cucunya dari anak pertama tinggal di Belanda bersama istrinya. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, cucu laki-lakinya itu kuliah ke negeri kincir angin dan sampai sekarang masih tinggal disana. Hanya dikala liburan kerja, sang cucu laki-lakinya menjenguk Omanya, bersama istri dan juga anaknya.


"Oma. Apa nggak ada permintaan yang lain apa? Mana bisa Olivia punya bayi?" Wajahnya berubah pasrah. Sepertinya memang susah merayu sang Oma.


Olivia membayangkan, kalau dirinya punya anak dan di kampus jadi banyak yang melihat ke arahnya, body akan berubah dan pasti banyak cewek yang akan merayu Zenno.


"Aaaaa..." Jeritnya saat itu juga dan Oma yang melihat dari jendela kamarnya, tampak tertawa gemas.


"Olivia, Olivia." Omanya tampak senang.


Olivia berlari ke wastafel yang tidak jauh dari kolam ikan itu.


"Gue, nggak mau jadi mommy muda." Olivia mencuci wajahnya dan membuat dirinya sadar dari lamunan itu.


"Oma,...." Olivia yang merengek dan tampak kembali membasahi wajahnya.


Pak Roni, dan Julia yang mendengar Olivia yang menjerit, mereka mendekat. Setelah mendengar keluh kesah Olivia. Mereka berdua tersenyum.


"Pak Roni, sepertinya Olivia kita sudah banyak berubah."


"Benar, Mrs. Julia." Balas Pak Roni yang masih menatap ke arah Olivia.


Olivia yang seperti tuan putri di kala di rumah Omanya, sekarang tampil apa adanya. Boro-boro mengguyur wajah di wastafel luar. Semuanya serba dilayani dan dia benar-benar feminine di kala sang Mama masih ada dan tinggal di rumah Oma. Setelah tinggal di rumah Zenno, tidak lagi jadi sosok tuan putri.

__ADS_1


"Mrs. Julia, sepertinya Nona Olivia harus segera pulang.".


"Apa tidak menginap disini?"


"Tidak, tadi Nona buru-buru mengajak saya kesini. Sepertinya tidak pamit dengan suaminya."


Julia mengangguk, lalu bertanya "Pak Roni tidak pulang ke rumah?"


"Tadi saya sudah bertemu Revan, tapi Mamanya Revan sibuk di resort."


"Iya, ada tamu penting di resort. Jadi dia tidak pulang. Saya juga akan segera kesana."


Olivia mendekati mereka "Apa kalian mendengar perkataan Olivia?"


Mereka berdua tampak menggeleng.


"Apa kalian juga akan seperti Oma yang menginginkan bayi?"


Mereka berdua menggeleng lagi.


"Aaaa, Oma...." Olivia berlari melewati mereka berdua.


Pak Roni dan Julia tampak heran, lalu dengan kompak mereka bertanya, "Bayi??"


Olivia menggetuk pintu kamar sang Oma dan tidak dibuka juga pintunya.


"Oma, ayolah. Jangan kekanakan."


"Olivia tahu, Oma mantan bintang film."


"Olivia tahu Oma hanya berakting."


"Please dong Oma, buka pintunya."


"Oma..."


Julia mendekati Olivia, dan bertanya "Kenapa dengan Mama? Bayi? Apa maksudnya?"


"Oma ingin bayi."


"Mama ingin bayi?" Julia yang masih heran.


Olivia menatap Julia dan berkata "Oma mau, Olivia punya bayi. Kalau tidak, Oma tetap akan membawa kasus itu ke pengadilan."


Julia mengerti, dan berkata "Ya sudah, berikan saja bayi untuk Mama. Beres!"


Ekspresi Julia begitu biasa saja, dan Olivia merasa lebih kesal. Karena tidak ada yang mengerti dirinya.


Bibi yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum saja dan Pak Roni juga melihat hal itu.


"Tante Julia. Gimana bisa Olivia punya bayi dalam sekejab? Olivia berarti harus hamil dulu, sedangkan Olivia masih kuliah."


Julia tampak memegang kedua pipi Olivia, lalu berkata "Emh, bisa juga kuliah tapi hamil dan punya bayi. Mereka nggak masalah. Itu dulu, istrinya Pak Roni juga."


"Dulu Mamanya Revan kan sudah dewasa, tadinya lulusan SMA, karena disuruh ngurus resort jadinya dikuliahin sama Oma. Usianya juga udah diatas 20. Ini Olivia belum genap 19 tahun." Ekspresi yang begitu kalah. Rasanya benar-benar susah untuk menjelaskan ke Oma dan Tantenya.


Julia lalu merangkulnya, dan berkata "Emh, gimana kalau kita bujuk Dinda."


"Kata Oma, Kak Dinda udah ditelepon Oma terus. Bahkan tiap hari minta itu sama Kak Dinda."


Julia berkata lagi "Ya sudah, nggak ada harapan lagi. Kamu ikuti saja maunya Mama."


Julia berjalan pergi "Olivia, semoga kamu berhasil." Dan memberikan kiss bye, hal itu membuat Olivia semakin kesal.



Tante Julia


"Kalian sama saja. Nggak mau ngertiin Olivia."


Olivia masih berusaha untuk merayu sang Oma. Tapi tetap saja, Oma tidak membuka pintu kamarnya.


Pak Roni mendekat dan berkata "Nona Olivia, sebaiknya kita kembali ke Jakarta."


"Pak Roni, tolong bantu Olivia bujuk Oma."


Pak Roni hanya menggeleng.


Olivia juga mengerti, dia saja tidak bisa membujuk Omanya sendiri, apalagi yang lainnya. Biasanya, semua yang Olivia minta pasti bisa tercapai, tapi kali ini sang Oma memiliki permintaan dan itu tidak mudah untuk Olivia.


"Oma, Olivia pergi dulu." Dia sudah mulai menyerah dan Oma yang di dalam kamar tersenyum.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Olivia memikirkan permintaan sang Oma. Dia juga memikirkan satu teman Bella yang begitu memohon agar dia tetap bisa berkuliah. Karena kedua orang tuanya, sudah bersusah payah bekerja agar dia bisa belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi kalau sampai dia ditahan, pasti orang tuanya akan kecewa.


"Aku harus gimana lagi? Oma begitu susah untuk dibujuk. Malah meminta bayi." Batin Olivia.


__ADS_2