COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Tidak Mau Menjadi Penerus


__ADS_3

"36 juta."


"36 juta."


"36 juta."


Wajah itu jelas terlihat dan tersentak dalam ketakutan.


Amanda Naomi terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk telah ia alami. Bahkan, suara itu terdengar jelas di kedua telinganya.


"Huh!"


"Aku sampai mimpi."


Wajah kucel dengan kaos big size warna putih. Rambut panjangnya sangat berantakan dan ia melihat ke arah jam dinding.


"Jam 6."


Berlari ke kamar mandi dan tidak peduli siapa yang ada di dalam.


Duaar


"Amanda!!" Kesalnya Benz ketika mandi, seketika menarik handuknya, melilitkan ke pinggang.


"Keluar!!" Manda yang mendorongnya pergi.


Benz yang masih memakai shampo, ia pergi ke tempat cucian. Menyalakan air dari kran yang ada di sebelah mesin cuci.


"Manda bener-bener." Desis Benz dan masih memakai handuk pada pinggang. Lantas mengguyur kepalanya.


"Kenapa mandi disini?" Tanya Ariel.


"Manda mengusirku dari kamar mandi."


Ariel berkata "Kak Benz, tumben bangun pagi."


"Aku penempatan praktek lapangan. Aku harus ke perusahaan StarLight One."


"Satu kantor sama Manda?"


"Iya."


"Baguslah, kalian bisa berangkat bareng."


"Aku hanya magang 3 bulan. Nantinya, aku kerja di lapangan. Bukan di kantor."


"Setidaknya, hari ini Manda bisa berangkat sama Kak Benz."


"Benar juga. Aku bisa minta uang bensin ke Manda."


Abang Ariel sebenarnya juga sudah jengkel sama Benz, yang telah menumpang hidup pada mereka.


Tapi, mau gimana lagi. Karena, dulu orang tua Benz yang menyekolahkan Manda. Sampai jenjang perguruan tinggi. Balas budi Manda kepada orang tuanya Benz, berganti menampung Benz, sampai nanti Benz lulus kuliah.


Ariel sendiri hanya pekerja di bengkel. Ia tidak sampai kuliah, hanya lulusan STM. Setelah itu, bekerja serabutan dan pada akhirnya bekerja di bengkel ternama. Menjadi pekerja tetap di bengkel itu. Setidaknya, dirinya tidak menganggur.


Sebenarnya, dirinya mengumpulkan uang untuk modal usahanya sendiri. Membuka bengkel sendiri adalah salah satu impiannya. Namun, Ariel telah mencintai seorang gadis dan ingin segera menikahinya.


Setelah 20 menit berlalu, dan Benz telah bersiap untuk berangkat. Manda yang tidak tahu kalau Benz hendak ke kantornya. Manda berangkat lebih dulu.


Manda yang berjalan kaki dengan cepat. Lagi-lagi dirinya harus naik bus. Karena, motor kesayangan masih dalam perbaikan.


"Manda, hayuk." Benz yang menghentikan motornya.


"Kemana?"


"Ke kantor kamu."


"Aku pakai rok. Mana bisa naik motor kamu."


"Ya sudah. Aku berangkat duluan. Sampai bertemu di kantor."


Manda menatap motor gagah yang melaju pergi "Kak Benz. Kenapa nggak bilang dari awal. Ngeselin!!"


Ingin sekali menimpuknya, dengan sendal yang ia kenakan.


Setiap berjalan ia masih memakai sendal. Lantas sesampainya di halte dekat gedung kantornya, Manda langsung memakai sepatu hak tinggi warna hitam. Meskipun, tampak gaya kuno dan tidak seperti Mariska yang lebih melek gaya. Setidaknya, Manda memakai pakaian sopan dan tidak berlebihan.


"Aku terlambat lagi." Setelah menaiki bus kota dan merasakan kemacetan yang ada.


Setibanya di halaman gedung, ia berjalan cepat.


Tap


Tap


Tap

__ADS_1


Sampai di lobby gedung dengan wajah yang sudah berkeringat. Pesan Mariska membuat dirinya setengah berlari cepat.


Seandainya saja, ia mengenakan celana panjang. Pastinya sudah berlari cepat, dan sudah tiba di ruang kerjanya.


"Huf!"


Mengatur nafasnya dan akhirnya ia tiba di lantai 5. Tempat dimana, penerimaan mahasiswa yang akan magang di perusahaan tersebut.


"Kamu terlambat lagi." Ucap Mariska.


"Kenapa harus ada penyambutan begini?"


"Aku juga tidak tahu."


Madam Olivia telah menyambut para mahasiswa pilihan, yang akan magang di perusahaannya.


Setelah acara penyambutan mahasiswa pilihan. Madam Olivia tersenyum, ia sedikit bercerita tentang putra tampan, yang 5 tahun terpisah darinya.


Madam Olivia memanggilnya "Shaun."


Shaun dengan perasaannya yang sedikit malu, ia hanya menuruti kemauan sang Mommy.


Lantas ia berdiri dan menyapa dengan menangkupkan kedua tangannya, kepada para staff yang ada di ruangan itu. Tidak lupa senyuman tipis ia sematkan.


"Shaun, kemarilah."


Tangan itu berkata tidak, tapi sang Mommy tetap ingin Shaun berdiri di samping sang Mommy.


"Mommy." Suaranya begitu pelan.


"Sebentar saja." Bisik sang Mommy.


Manda yang sibuk akan layar ponselnya, tidak memperhatikan wajah rupawan yang dikenalnya.


"Manda, dia putranya Madam."


"Hems?"


"Itu di depan. Shaun. Putranya Madam Olivia."


Manda melihat ke depan, lantas berkata "Dia?"


Secepatnya menutup mulut, seketika orang disekitarnya cukup terganggu akan suaranya.


"Dia? Kamu mengenalnya?" Tanya Mariska.


"Terus? Kenapa kamu kaget begitu?" Mariska yang sudah mulai kepo.


"Emh, kemarin aku disuruh Bu Franda buatin kopi buat tamu. Iya. Dia orangnya."


"Owh, jadi tamu specialnya itu putranya Madam Olivia." Mariska kembali menatap ke sosok tampan itu.


"Tampan, kaya, dan sempurna."


Batin para staff yang ada di ruangan itu, termasuk Mariska.


Manda hanya berpura-pura tidak melihatnya. Ia memilih menyibukan wajahnya dengan menatap layar ponsel.


Tatapan Shaun, jatuh ke pada sosok perempuan yang mengenakan kemeja panjang warna biru muda dan asyik pada layar ponselnya. Tampak rambut panjang kecoklatan dan poni tipis menutup dahi.


"Amanda Naomi."


"Shaun?"


"Yes Mom."


"Jadilah penerus perusahaan Mommy."


Shaun berkata "Tidak."


Lanjut menggeleng, seolah berkata tidak kepada Madam Olivia.


Madam Olivia tersenyum, dengan tawa ia kembali bercerita akan kerja kerasnya ini.


Sayangnya, saat tadi menanyakan hal tersebut, beberapa staff mendengar dengan jelas. Kalau Shaun berkata tidak, untuk menjadi penerus perusahaan Madam Olivia.


Setelah acara penyambutan, Shaun berada di ruangan sang Mommy.


"Kenapa kamu tidak mau membantu Mommy?"


Shaun berkata "Aku punya pilihan hidup sendiri Mom."


"Lalu, kamu mau berkerja dimana?"


"Ya ada."


"Shaun?"

__ADS_1


"Mom, aku nggak suka mengawal orang dan menjadikannya bintang. Untuk apa menghasilkan banyak uang dari sibuk mengatur kehidupan mereka."


"Kamu bilang mengatur?"


"Mom sudahlah. Tidak enak di dengar karyawan Mommy."


Sang Mommy meredam sesaat pikirannya, lantas bertanya "Kamu ingin seperti Daddy?"


"Mom."


"Shaun, kamu hidup dari kerja keras Mommy."


"Mommy, bukan begitu maksud aku."


"Shaun?" Sang Mommy yang tidak terima begitu saja.


"Yang jelas, aku punya jalan sendiri. Aku sendiri nggak suka diatur. Bagaimana bisa aku mengatur kehidupan orang lain."


"Shaun, kamu tidak mengerti. Mereka seorang bintang. Bukan berarti kita mengatur jalan hidup mereka."


"Mom, seperti Anna contohnya. Dari pagi sampai malam, shuting. Belum nantinya ada jadwal pemotretan dan iklan. Terus, kalau ada jadwal kuliah. Belum lagi ada gosip dan menyuruhnya diet agar bisa tampil maksimal. Bla bla. bla."


Melihat wajah sang Mommy, Shaun jadi susah menjelaskan. Yang pasti ia bisa melihat saat karantina idol dan saat pelatihan. Para idol yang bekerja keras untuk menggapai impian dan demi menjadi seorang bintang. Namun, ada yang sampai lupa akan batas dan kemampuannya. Bahkan, lupa akan jalan hidup yang selalu berbeda arah dan tujuan.


"Jadi, kamu menganggap Mommy salah?"


"Bukan begitu."


"Apa Daddy kamu tidak bersalah. Mengajari anak-anak muda untuk bermain game."


"Mom, kita tidak perlu bahas Daddy."


"Lalu, apa mau kamu? Bekerja sama Paman Deffo? Sama Paman Erick? Atau sama Loudy di bengkelnya?"


"Mom, bisa nggak sih. Kita nggak usah bahas yang lainnya."


Sang Mommy lantas terdiam.


Shaun mendekat, lalu berkata "Mommy tidak perlu mencemaskan siapa yang akan meneruskan perusahaan Mommy."


"Anak Mommy cuma kamu." Sang Mommy yang tidak bersemangat.


"Mommy bisa percayakan sama orang. Yang sekiranya, orang itu paham dan mengerti soal perusahaan ini."


Sang Mommy memeluk Shaun, dan mengelus punggungnya, berkata "Kamu sudah dewasa. Mommy bangga sama kamu."


"Mommy. Perkerjaan itu dari hati. Kalau dari awal aku nggak yakin. Gimana kalau, perusahaan Mommy hancur ditanganku? Apa Mommy tidak akan menyesal nantinya?? Seperti perusahaan Daddy contohnya."


"Iya, Mommy mengerti."


"Mommy. Aku juga punya tujuan sendiri."


"Iya, Mommy ngerti. Terserah kamu."


"Mommy. Shaun sayang Mommy."


Shaun tersenyum dan memeluk erat sang Mommy.


"Ajak Daddy pulang. Kita bisa berkumpul di rumah. Nanti Mommy masak menu kesukaan kamu."


"Oke Mom. Aku akan mengajak Daddy pulang ke rumah.


Tujuan Shaun, hanya ingin keluarganya bersatu dan kembali harmonis seperti dulu.


Masa balitanya yang jauh dari sang Daddy. Lantas, masa remaja beralih dewasa, Shaun pergi dan jauh dari kedua orang tua.


Sesekali sang Mommy dan Daddy, menjenguknya kesana. Hanya untuk melepas kerinduan mereka, terhadap sang putra tercinta.


Tok tok,


"Masuklah"


Madam Olivia tampak menyeka air mata dan Shaun sudah duduk di sofa.


"Permisi."


"Iya. Letakan saja disini." Ucap Shaun.


Madam Olivia memutar kursinya, dan susah untuk menyeka air mata itu. Tetap saja luruh begitu saja, saat mengingat suaminya.


"Tuan ini."


"Apa ini?"


"Cicilan pertama."


"Cicilan??"

__ADS_1


"Uang saya belum cukup. Hanya ada ini." Ungkapnya.


__ADS_2