COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Flashdisk Yang Begitu Penting


__ADS_3

Setelah pertandingan selesai, Zenno dan teman-temannya sedang berada di ruang ganti. Tampak wajah kusut karena kekalahan mereka saat melawan tim dari jurusan Management Bisnis.


Pertandingan tetap sportif dan tidak masalah. Menang atau kalah, ini hanya permainan. Mereka juga pernah kalah saat bertanding CFF. Jadi itu hal wajar, tapi kali ini membawa nama baik jurusannya, bukan seperti FGFC.


"Kalian semua, ayo gue traktir ke resto dekat kampus."


"Seriusan loe?" Tanya seorang teman satu jurusan.


"Iya, hari ini gue lagi baik. Apa aja kalian pesan, bebas. Ayo buruan ganti baju." Zenno berusaha untuk menyenangkan semua teman satu Tim. Dia bukan ketua basketnya, tapi tetap disegani oleh teman satu jurusannya.


[Udah makan belum? Mau ikut gabung sama temen-temanku nggak?]


Olivia yang sudah berada di kantin kampus bersama Sherryl, dia tampak belum merespon chat dari Zenno. Malahan sibuk membaca pesan dari Dinda.


"Kak Dinda mau pulang bareng Kevin. Aku di suruh bawa mobil dia." Batinnya dan kembali meminum jusnya, dia belum membuka pesan dari Zenno.


"Olivia, nanti masih ada pertandingan basket. Mau nonton lagi nggak?"


Olivia menggeleng, lalu berkata "Gue capek, semalam gue jagain Kakak gue. Jadi kurang tidur. Habis ini, gue mau pulang aja."


"Gue boleh ikut nggak ke apartemen saudara loe?"


"Nggak bisa, gue mau istirahat. Kapan-kapan aja mainnya."


"Padahal gue kesepian. Masih malas pulang ke rumah."


Olivia berusaha untuk mengerti Sherryl, tapi apa katanya nanti kalau melihat Olivia bawa mobil Dinda dan semua yang ditutupi bisa terbongkar.


"Sorry banget, nanti aja kalau gue nggak sibuk. Gue janji, bakalan ajak ke apartemen saudara gue."


Sherryl mengerti dan tampak melihat kalau memang Olivia sudah tampak lelah.


[Tikus kecil, kenapa tidak dijawab?]


"Zenno, apa lagi sih?!"


Setelah membaca pesan Zenno, lalu dia tampak menggeleng dan cemberut.


[Kamu mau bongkar identitasku?]


Zenno tampak tersenyum, lalu berkata "Nggak ada yang tahu kali."


[Nggak akan ada yang tahu soal Tuan Putri.]


[Bentar lagi aku balik ke apartemen Kak Dinda. Nanti malam jemput aku. Aku mau tidur dulu, capek. Semalam Kak Dinda pingsan lagi, aku harus jagain dia. ]


[Kenapa nggak bilang kalau Kak Dinda sakit?]


[Aku nggak mau gangguin kamu. Udah ya, ini masih di kantin sama Sherryl.]


Zenno, lalu berkata lagi "Dasar, tikus kecil."


Tapi tidak ada mendengarnya, semua sedang berganti baju. Dia menyuruh teman-temannya untuk berganti baju, malahan dia sibuk sendiri.


Bergegas ke loker dan mengambil baju, lalu dia teringat akan flashdisk penting.


"Kenapa nggak ada di loker?"


Dia mengambil tas ranselnya, dan dia juga nggak melihatnya. Tasnya sudah di cek, nggak ada.


"Siapa yang ambil flashdisk itu?" Zenno masih mencari, lalu Loudy dan Joy datang.


"Loe kenapa belum ganti baju?"


"Eh, Loud. Flashdisknya udah gue kasih ke loe belum?"


"Belum, gue belum terima." Jawab Loudy.


"Apa di ambil orang?" Joy sempat curiga.


"Ya udah, nanti gue cari lagi. Kalian bantu nyari. Gue mau ganti baju."

__ADS_1


Joy mencari di loker Zenno, dan Loudy juga mengobrak-abrik lokernya sendiri. Bahkan tasnya juga. Tidak ketemu juga. Flashdisk itu berisi tentang demo game yang akan didaftarkan, dari situ akan ada penyisihan dan penilaian tersendiri, sebelum nanti pertandingan CFF yang akan di gelar bulan depan di gedung Tech Media.


"Gimana Loud, ketemu nggak?" Tanya Joy.


Loudy hanya menggeleng dan mereka harus kerja keras lagi. Padahal semalam cukup sulit untuk menaikkan level dan melawan grup baru.


"Kalau nggak ketemu, kita harus ngulang dari awal."


"Iya. Tapi nggak ada waktu lagi. Selesai makan nanti, kita harus ke Tech Media." Ucap Joy.


"Benar juga."


Setelah berkumpul, mereka semua pergi ke restaurant dan wajah Zenno tetap bersemangat. Karena dia terlanjur janji kepada teman satu tim basket untuk makan nikmat tanpa memikirkan masalah.


Loudy dan Joy tampak terdiam. Dia tidak menceritakan kepada Vino dan Ken. Kalau Vino tahu, bisa-bisa dia tidak akan nafsu makan.


"Zenno, loe coba ingat-ingat lagi."


"Em, iya. Biar kita semua selesai makan dulu. Lihat itu Vino dan lainnya."


"Emh, iya." Ucap Joy, dan Loudy tampak biasa saja di depan rekannya.


Sherryl dan Olivia berpisah di depan kantin. Dia masih menatap Sherryl yang berjalan sendirian. Sebenarnya, Olivia tidak tega dengan teman baiknya. Tapi apa boleh buat. Saat ini, dia masih ingin dikenal sebagai sosok yang biasa. Bukan Olivia putri dari Direktur Dion.


Olivia menuju ke parkiran mobil, dan dia ingin mengetahui, apa Dinda sudah tiba di apartemen atau masih bersama Kevin. Apalagi kalau sampai bertemu Kevin di apartemen, nantinya juga akan jadi masalah buat dirinya.


Olivia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan ke Dinda.


[Kak Dinda? Udah di apartemen? Apa masih sama Kevin?]


[Oliv, Kakak udah di apartemen. Barusan Kevin pulang.]


[Oke, aku mau pulang.]


[Hati-hati. Kakak mau bobo cantik.]


Olivia tersenyum, ternyata Kevin sudah pergi. Dia bisa pulang ke tempat sang Kakak tanpa gangguan.


"Tadi pagi jelas-jelas di tangan gue. Berarti bukan di base camp." Dia yang masih mencoba untuk mengingat.


"Hoodie." Ucapnya dan Loudy mendengar itu.


Teman-temannya yang lain sudah pergi, hanya tinggal Zenno dan teman FGFC yang masih di restaurant itu.


"Loudy, gue ingat. Flashdisknya, ada di hoodie. Tapi,.... Calon bini gue yang pakai hoodienya waktu basket tadi."


"Ya udah, suruh kesini apa susahnya. Kita nggak ada waktu."


Zenno mencoba untuk menghubungi Olivia. Loudy kembali ke meja dan memberitahu teman-temannya. Kalau Flashdisknya sudah ketemu. Vino bisa merasa lega, karena dia punya harapan besar dalam pertandingan nanti.


Olivia yang baru masuk dalam mobil dan menerima panggilan dari Zenno.


"Hallo, Olivia."


"Hem, Zenno. Ada apa?"


"Oliv, coba cek di hoodie ada flashdisk nggak?"


"Owh itu, iya ada. Tadi waktu ganti baju ada itu, aku simpan di tas."


"Ya udah, aku minta tolong di anter ke restaurant jepang dekat kampus."


"Emh, aku mau pulang."


"Dari kampus dekat. Itu Flashdisknya penting, temanku bisa sakit kalau itu sampai hilang."


"Apa maksud kamu?"


"Flashdisk itu penting banget buat dia. Buruan, aku tunggu di restaurant jepang, dari gerbang kampus ke kanan, nanti nggak sampai perempatan, sebelah kanan jalan itu ada Ginza. Tahu kan?"


"Owh, di Ginza. Iya tahu, sekalian lewat. Ya udah, tunggu di depan aja ya."

__ADS_1


"Oke."


Zenno merasa lega dan kembali bersama teman-temannya.


"Udah beres. Kita tunggu depan aja. Dia mau otw."


"Siapa?" Vino dengan wajah yang masih kusut.


"Yang bawa Flashdisk."


"Beneran ketemu?"


"Iya, ada sama dia."


Vino langsung bangkit dari kursinya dan Loudy tampak tersenyum melihat wajah Vino yang sudah mulai bersemangat. Karena Vino, hanya bisa berharap dari pertandingan nanti. Apalagi kalau menang, dan itu akan bisa membantu Ibunya yang sedang membutuhkan uang untuk berobat.


"Vino, sorry. Gue yang lalai." Ucap Zenno dan Vino memeluknya.


Persahabatan memang unik, FGFC bukan hanya sebuah grup atau tim pemain CFF, tapi mereka sahabat dan sudah seperti saudara.


"Ya udah, ayo kita semua ke mobil." Ucap Zenno.


Ken, Joy, dan Vino tampak bersemangat dan mereka berjalan lebih dulu. Loudy masih menunggu Zenno yang membayar tagihan restaurant.


Olivia rupanya sudah tiba di parkiran dan melihat mobil Zenno. Ken, Joy dan Vino tampak mendekati mobil Zenno.


"Emh, itu mereka ada disini. Zenno dimana?" Olivia yang tidak keluar dari mobil, lalu menghubungi Zenno.


"Dimana?"


"Bentar, baru bayar tagihan."


Zenno tersenyum saat kasir mengucapkan terima kasih. Dia masih menempelkan ponselnya di telinga kiri.


"Aku keluar." Ucapnya dan Loudy di sampingnya.


Setelah di luar, Zenno tidak melihat Olivia.


"Hemss, aku di mobil Kakak. Ferrari merah."


"Owh, iya. Aku kesitu."


Loudy mengerti dan dia menuju ke teman-temannya.


"Zenno kenapa jalan kesana?" Tanya Vino.


"Yang penting Flashdisknya ketemu." Jawab Loudy.


Olivia hanya dari dalam mobil, para temennya hanya melihat sekilas gadis yang memakai topi dan masker, bahkan tampak mengendarai mobil sport.


"Ini, Flashdisknya." Ucap Olivia dan hanya melalui jendela mobil.


"Kamu mau pulang?"


"Iya, aku capek."


"Ya udah, hati-hati. Nanti malam aku jemput."


"He'em, kamu juga hati-hati."


Zenno tampak melambaikan tangannya dan Olivia melakukan hal yang sama, lalu Olivia melajukan mobil sport merah itu dengan santai.


Zenno yang sudah berjalan menuju temannya dan menunjukan Flashdisk yang ada ditangannya, lalu mereka jadi penasaran.


"Dia tadi siapanya Zenno?" Vino yang penasaran.


"Entahlah." Jawab Ken yang bersandar mobil.


"Mungkin benar, dia punya calon istri." Ucap Joy.


Zenno mendekat dan berkata, "Ayo kita berangkat."

__ADS_1


Loudy yang sudah memegang helm, dia langsung ke motor kebanggaannya. Mereka yang berada di mobil hanya diam, dan tidak bertanya soal gadis yang mengantarkan Flashdisk itu.


__ADS_2