
Sejauh mana kedua kaki ini melangkah pergi, pastinya akan kembali karena panggilan cinta dari seorang Mommy.
Memejamkan kedua mata dan duduk bersandar. Mengingat akan kejadian semalam, yang membuat perasaannya hancur.
Cinta yang ia jaga selama setahun ini, ternyata hanya melukai hatinya.
"Kamu harus segera pulang atau Mommy yang datang kesana." Suara sang Mommy masih terngiang jelas dalam benaknya.
Sang Mommy yang sangat cerewet padanya, namun apa yang dikatakan sang Mommy benar terbukti. Bahwa gadis yang ia cintai, tidak seperti gadis baik-baik. Meskipun begitu, Shaun telah menaruh hati padanya dan tidak bisa melupakan cintanya begitu saja.
"Freya, aku tidak bisa melupakan cinta kita."
Namun, laki-laki rupawan ini sangat jijik bila mengingat akan kejadian semalam. Bagaimana bisa, kekasihnya bercumbu mesra dengan kesadaran yang ada. Laki-laki rupawan ini bisa melihat jelas kekasihnya, yang sangat menikmati belaian pria lain.
Kedua tangannya mengepal kesal dan ingin sekali menghajar pria itu, namun sayangnya ia memilih pergi. Karena, tidak sampai hati mengingat akan cintanya yang tulus untuk kekasihnya.
"Perasaan Mommy tidak enak. Kamu jaga diri baik-baik." Sang Mommy juga selalu mengatakan tentang itu, bila putra tampannya bersama kekasihnya.
Kehidupan di luar negeri sangat bebas, apalagi dirinya tinggal jauh dari keluarga.
Namun, laki-laki rupawan ini selalu ingat akan suara cerewet sang Mommy. Yang membuat dirinya cukup menahan diri, bila sedang berduaan dengan kekasihnya.
Pernah suatu hari, dirinya yang hampir menerkam kekasihnya hidup-hidup, tapi ia kembali ingat akan pesan sang Mommy.
Tetaplah, restu sang Mommy masih dia harapkan bila bersanding bersama kekasih hati.
Sepertinya, bayangan akan melangkah ke pelaminan sudah tidak ada dalam benaknya. Ketika kedua matanya itu melihat sendiri, bagaimana sifat asli kekasihnya.
"Brreengseek!!" Kesalnya dalam hati dan memukul sandaran kursi.
Dia yang saat ini berada di pesawat dan akan segera kembali ke kota tercinta.
Shaun Brata Perwira, putra tunggal Olivia dan Zenno. Sosok tuan muda yang sangat rupawan dan dia juga penerus perusahaan sang Mommy.
Dulunya, Shaun yang digadang-gadang akan meneruskan perusahaan sang Daddy. Sayangnya, perusahaan itu sudah tidak memiliki nama dan redup dimakan usia.
Sang Mommy memiliki perusahaan sendiri setelah menyerahkan MC Global kepada Dinda. Seiring berjalannya waktu perusahaan ini semakin berkembang pesat.
Meski usianya tak lagi muda, Mommy Olivia semakin berkharisma dan menawan. Ternyata, sudah banyak jebolan ajang pencari bakat, dan akhirnya menjadi artis terkenal dibawah naungan perusahaannya.
Starlight One, dikenal dengan sebutan S.O. milik Madam Olivia Sada Amarta.
Setibanya di bandara internasional. Saat ini sudah pukul 9 malam dan ia kembali merasakan udara kota ini.
Setelah 5 tahun, berada jauh di benua Amerika.
"Aku kembali."
Shaun laki-laki yang berusia 24 tahun. Sosok tampan nan rupawan. Memiliki tinggi badan 180 centimeter dan berat badan ideal dengan dada bidang yang kekar tampak lengan tangan yang berotot.
Selalu berpakaian rapi dan wangi, model rambut yang selalu tertata rapi dan dia selalu menjaga kebersihan dirinya. Sangat berbeda jauh dengan masa muda sang Daddy, yang selalu apa adanya.
"Tuan Muda." Seorang sopir yang menjemputnya dan Shaun tampak wajah datar.
"Kunci mobil." Ucapnya begitu dingin, dengan mengadahkan tangan kirinya.
Sopir ini sangat tahu, apa yang diminta Shaun, dengan segera ia memberikan kepada Shaun.
__ADS_1
"Bawa koper saya ke rumah Paman." Ucapnya, lantas pergi.
"Paman??" Sopir ini tampak bingung. Ada banyak paman yang dimiliki Shaun. Paman yang mana, tapi sopir itu tidak tahu. Shaun sudah pergi dengan mobil BMW hitam dan melaju begitu saja.
Sopir muda itu, baru kali ini menjemput Shaun. Lalu, ia menghubungi sopir lama dan bertanya tentang rumah Paman yang akan dituju Shaun nantinya.
Paman Erick, Paman Deffo, Paman Ken, Paman Vino, Paman Joy atau Paman Loudy. Semuanya dipanggil Paman. Lalu, rumah Paman mana yang akan dituju Shaun nantinya? Sopir itu masih bingung saat bertanya sopir pribadi Madam Olivia.
Para Paman itu juga hanya memiliki putra. Setiap mereka berkumpul, yang selalu jadi obrolan. Kenapa anak mereka semua laki-laki? Tidak ada anak perempuan.
Kecuali, Chilla sang putri kecantikan. Putri asuhan Dinda dan Erick. Karena, hanya dia satu-satunya anak perempuan. Chilla juga telah menikah dengan putra angkatnya Deffo. Bahkan, sudah memiliki bayi mungil yang dipanggilnya Boy. Jelas sudah, tidak ada cucu, maupun cicit perempuan di keluarga Amarta maupun keluarga Perwira.
Bersiul manis dan mengendarai mobil itu dengan santai. Shaun telah berjanji dalam hatinya. Kalau dirinya akan membuka hatinya setelah kembali ke negeri tercinta.
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Ponselnya telah berdering, seolah sang Mommy memiliki telepati yang kuat. Sang putra tampan ini, lalu menekan earphone yang dari tadi telah terpasang ditelinga kanannya.
"Mommy."
"Sayang, kamu sudah tiba di Bandara?"
"Iya."
"Pak Yus sudah menjemput kamu?"
"Sudah."
"Untuk apa Shaun bohong, kalau Mommy lebih tahu."
"Pulanglah ke rumah. Mommy rindu."
Sang Mommy sudah tahu, saat sopirnya mengatakan ini dan itu. Sang Mommy yang berada di kantor sangat bahagia, mendengar putranya sudah kembali.
"Iya."
"Mommy tidak akan memaksamu untuk pulang ke rumah."
"Daddy??"
"Seperti biasa." Jawabnya dan Shaun sangat tahu. Pastinya Daddy sibuk di FT Global.
Setelahnya, panggilan itu terputus karena sang Mommy masih ada kesibukan di kantornya.
"Huf!" Hembusan nafas kasar.
Shaun sebenarnya ingin membantu sang Daddy membangkitkan nama perusahaannya.
"Daddy, i'm sorry."
Karena itulah, Shaun ingin pulang ke rumah Pamannya. Setidaknya, ia tidak melihat kegalauan sang Daddy dan tidak melihat kesibukan sang Mommy.
"Untuk apa aku pulang." Memutar setir mobilnya dan berbalik arah.
__ADS_1
1 jam kemudian.
Shaun hanya ingin memutari jalanan kota. Sesaat dirinya bisa lupa, akan kejadian semalam.
Duugh!!
Mobil yang melaju santai, tetiba ada motor nyosor cantik sampai mengenai bumper belakang mobil itu.
Shaun seketika berhenti, melihat dari kaca spionnya. Motor yang nyosor cantik itu tergeletak dibelakangnya.
"Apa ini??" Shaun yang menggeleng dan perlahan meminggirkan mobilnya. Jalanan yang tidak ramai dan ini sudah malam.
Shaun yang hendak turun, namun ia melihat lagi kalau sang pengendara motor sudah berjalan mendekat.
Tok tok
Tok tok
Pengendara motor itu, mengetuk pelan kaca mobilnya.
Shaun hanya menatapnya dan tidak segera membuaka kaca mobilnya.
Tok tok
"Tolong keluar." Ucapnya.
Shaun perlahan menurunkan kaca mobilnya.
"Akhirnya." Gumam pengendara motor, setelah kaca mobil itu terlihat turun.
Pikiran cemas, sempat terbersit dalam benaknya. Dirinya khawatir akan di keroyok orang bila keluar dari mobil dan menghadapi pengendara itu. Meskipun, dirinya tidak menabraknya. Malahan, mobilnya yang telah menjadi korban.
Menyodorkan kartu namanya, berkata "Ini kartu nama saya. Saya akan mengganti biaya kerusakan mobil anda." .
Tertera mana perempuan dan ia lantas pergi. Shaun hanya menerima kartu itu, tanpa berkata sepatah kata padanya.
"Malamku yang sial." Gumamnya dan ia menuntun motornya ke pinggir jalan. Lantas, ia duduk berselanjar di trotoar dan menatap motornya.
Shaun juga tidak beranjak pergi, ia masih melihat pengendara itu dari dalam mobil.
"Mommy. Aku harus gimana?" Benak Shaun yang berfikir.
Ingin menolong, namun ia juga mencemaskan dirinya sendiri. Apalagi, jalananan ini begitu sepi. Bagaimana kalau dirinya ditikam dan dikeroyok orang yang tak dikenal. Bisa jadi, hanya sebuah jebakan, atau hanya ingin mengelabuhinya.
Pengendara itu, tampak menunduk. Perlahan terdengar suara tangisannya.
"Dia menangis. Pasti ini jebakan." Shaun lantas memakai sabuk pengaman dan ia segera menyalakan mesin mobilnya.
Sekali lagi Shaun melihat dari kaca spion mobilnya "Apa dia kesakitan?"
Shaun masih mendengar suara tangisnya.
Shaun paling tidak bisa melihat orang yang menangis. Dirinya juga memiliki hati dan perasaan.
Ia akhirnya mematikan mesin mobilnya. Memberanikan diri untuk keluar dari mobilnya.
Berjalan dengan gagahnya, tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Hanya fokus menatap pengendara motor itu.
__ADS_1
"Kamu terluka?"