
Suasana pagi di StarLight One, duduk menunggu di sebuah ruangan khusus.
Shaun telah melihat beberapa profile para staf dan pekerja perusahaan sang Mommy.
Mengenal satu persatu nama mereka dan melihat foto profile mereka.
"Amanda Naomi."
"Usianya 23 tahun."
"Lulusan sarjana akuntansi dari universitas swasta."
"Emh, ternyata ada juga kesamaan kita berdua."
Shaun lantas bergumam "Untuk apa aku melihat ini semua?"
Lalu beralih ke sosok cantik Mariska dan melihat data diri yang tertera pada layar proyektor.
Tok tok
"Masuklah." Suara yang terdengar santai.
Kedua tangan bersedekap dan masih menatap ke layar itu.
"Mariska?" Batin Manda, saat melihat Shaun yang menatap foto Mariska.
"Tuan memanggil saya?" Manda yang menghadap Tuan Muda ini.
Shaun menyernyitkan dahi, lantas ia mendekat. Berkata "Buatkan kopi robusta."
"Saya?"
"Iya. Siapa lagi kalau bukan kamu."
"Dari kemarin aku terus yang buat. Memangnya aku ini apa?" Batinnya yang menggurutu sendiri.
"Padahal ada OB, kenapa masih nyuruh aku? Huh!" Ingin sekali berkata tidak mau.
"Baik." Lantas ia membalikan badan.
"Tunggu sebentar."
"Iya."
"Aku juga belum sarapan. Aku lihat kamu suka membuat mie instan. Aku juga mau dibuatkan itu."
Senyuman misteri Shaun saat ini, membuat Manda semakin kesal.
"Baik Tuan. Apa ada lagi yang lain?"
"Itu saja."
Kedua tangan masuk ke dalam saku celana bahan, yang ia kenakan saat ini.
Pandangan yang menyudutkan mata Manda. Sangat tidak nyaman dan Manda lekas pergi meninggalkan ruang khusus Tuan Muda.
"Huh, baru 10 menit yang lalu. Aku sudah rindu ruang kerjaku."
Saat Manda tahu, kalau dirinya yang terpilih menjadi asisten Tuan Muda.
Beberapa saat kemudian.
"Tuan."
"Iya." Shaun memutar kursinya. Menatap wajah asisten barunya.
"Ini kopi robusta. Ini mie instan yang Tuan minta."
Raut wajah kekanakan, tampak tidak senang "Tadi aku bilang, mie yang seperti kamu makan di."
Shaun yang lupa dan enggan berkata lagi. Manda bertanya "Di? Maksud Tuan?"
"Ah, sudahlah. Letakan saja disana."
Shaun waktu malam itu, membuntuti Manda. Melihat Manda yang tampak menikmati mie cup yang di senduh langsung di mini market dan terlihat nikmat sekali saat memakannya. Shaun saja sampai kepingin dan ia hanya menatapnya saja.
"Amanda Naomi." Panggilnya dan setelah mencoba mie instan yang barusan Manda buat.
Manda yang langsung masuk ke ruangan, lalu bertanya "Ada apa Tuan panggil saya?"
"Mulai besok, kamu siapkan makanan untuk saya."
Wajah yang terkejut, "Saya Tuan??!"
"Iya. Kamu. Siapa lagi asisten pribadiku."
"Asisten pribadi?"
"Tuan, asisten kantor berbeda dengan asisten pribadi."
__ADS_1
"Saya tahu."
"Tapi Tuan. Saya.." Nada suara itu dan Shaun menatap lekat wajah Manda.
"Emh, memangnya kenapa dengan asisten pribadi? Kamu keberatan? Kamu juga masih ada hutang sama aku."
Manda yang tidak habis pikir, dengan kelakuan orang kaya satu ini.
"Tuan, saya masih ada pekerjaan dengan Bu Franda."
Sepertinya, Manda salah bicara dan membuat Shaun berkata "Aku tidak peduli dengan masalah pekerjaanmu dengan yang lainnya. Bukannya, Mommyku. Maksud aku. Madam Olivia sudah menempatkan kamu disini. Jadi, semua perintahku. Kamu harus bisa mengerjakannya."
"Baik Tuan. Saya minta maaf, saya lancang."
"Bagus kalau kamu mengerti. Nanti siang aku mau lihat pemotretan Anna. Kamu, harus ikut bersamaku."
"Baik Tuan."
Manda yang sudah pasrah akan dirinya, dan Shaun semakin senang. Ia tampak menikmati mie instan buatan Manda.
Manda yang kesal mengayak rambut dan duduk di kursinya. Ada satu meja di luar ruangan khusus itu, dan di gunakan Manda untuk menyelesaikan tugas kerjanya. Semalam sudah selesai, tapi masih ada hal penting yang harus dia kerjakan.
Shaun sudah memintanya untuk tetap di ruangan khusus itu, sayangnya Manda tidak suka satu ruangan dengan Tuan Muda ini.
Setelah siang tiba, Shaun dan Manda pergi ke lokasi pemotretan Anna.
Anna salah satu idola dari StarLight One. Usianya baru 20 tahun dan ia masih kuliah di universitas swasta ternama yang ada di kota ini.
Anna yang melakukan pemotretan di sebuah gedung tua. Bangunan lama dan sudah tampak tua. Sesi foto untuk film horor yang dibintangi oleh Anna.
"Kak Shaun."
"Anna. Lama kita tidak bertemu."
"Kak Shaun semakin menawan."
"Kamu juga, semakin terkenal."
"Kak Shaun bisa saja."
Melihat keakraban ini, Manda tampak mundur dan memalingkan pandangan ke wajah Benz.
Benz ternyata membantu Manager Anna. Untuk menyiapkan busana dan segala sesuatu yang diperlukan Anna.
"Kak Benz rajin juga." Gumamnya.
Ternyata Shaun sudah menatapnya, bertanya "Siapa yang rajin??"
Setelah menyapa dan bertanya kabar kepada Anna. Shaun melihat-lihat ke sekitar bangunan gedung ini. Manda mengikuti saja, setiap langkah Tuan Muda ini.
"Kamu sepertinya tidak senang, bekerja denganku."
"Saya?"
"Iya, kamu. Siapa lagi."
"Saya senang bekerja dengan Tuan Muda." Jawab Manda dan ia tampak menunduk saja.
Shaun membalikan badan dan Manda menabrak dada bidang nan kekar itu.
Dugh!
"Au." Manda yang tersentak karena kaget.
"Kamu tidak melihatku?"
Perlahan mendongak ke wajah Tuan Muda, berkata "Maaf Tuan Muda. Saya tidak melihat anda."
"Aku tidak senang melihat kamu begini. Kamu memang punya dua kepribadian."
Manda yang mengepalkan kedua tangannya dan ingin sekali menonjok wajah Tuan Muda ini.
Shoot!!
Gubrrak!
Shaun yang tadinya takut ditonjok, ia bergeser. Eh malah terpeleset dan jatuh di tumpukan kardus besar.
"Tuan. Saya hanya mau mengambil ini." Dengan wajah menyengir senang melihat sang Tuan Muda jatuh.
Manda mengambil laba-laba besar dari bahu sebelah kanan dan sekarang masih memegangnya.
"Bantu aku."
"Lucu juga" Batin Manda yang mulai senang.
"Tuan tidak apa-apa?" Manda yang ingin menertawakannya, hanya bisa menahan tawanya dalam hati.
"Sudah tahu aku jatuh. Malah peduli sama laba-laba." Shaun mengibas setelan jasnya dan sangat kesal.
__ADS_1
Jas abu-abu muda, tampak mewah dan sangat cocok dikenakan oleh Tuan Muda yang satu ini.
"Tuan baik-baik saja?"
Shaun menatap tajam, berkata "Kamu masih berani tanya aku baik-baik saja?"
"Tapi, sepertinya Tuan Muda tidak kesakitan.".
"Apa aku harus menangis dihadapanmu?"
"Bukan begitu maksud saya." Berasa jadi serba salah.
"Papah aku ke mobil."
"Hah?"
"Ayo, ini juga salah satu tugas kamu."
"Wah, gila. Benar-benar sudah gila." Batinnya yang menolak.
"Silakan Tuan Muda jalan sendiri." Balasnya dan ia berjalan pergi meninggalkan Tuan Muda itu.
Shaun menatap punggung itu. Manda yang tampak memakai kemeja wanita berwarna ungu muda dan celana bahan warna hitam. Tampak menggendong ransel kecil di punggung, dan tangan kirinya memegang sebuah map.
"Akhinya punya nyali juga. Baguslah, aku tidak perlu mengejarimu untuk melawan musuh."
Batinnya "Apa aku ini musuhnya?"
"Bicara apa aku ini." Sambil memegang bibir yang cerewet itu, lantas berjalan mengikuti arah Manda yang berjalan pergi lebih dulu.
Manda yang berpapasan dengan Benz. Memegang name taq yang Benz pakai saat ini.
"Widih, gantengnya Kakakku ini."
"Apasih?"
"Galak amat." Manda yang mengelus pipi Benz dengan gemas dan masih saja menganggap Benz seperti anak remaja.
"Eh, kamu ngapain disini?" Tanya Benz.
"Aku ada kerjaan."
"Kerjaan?"
"Iya."
Ternyata saat bersama Benz, dari tadi mata tajam Shaun sudah menatapnya. Sayangnya, Manda tidak bisa melihat mata elang itu.
"Manda."
"Iya, ada apa?"
Benz lantas berbisik dan Manda juga tampak mendengarkan, lalu Manda berkata "Kak Benz, mereka para artis punya privasi. Jadi, kita tidak boleh memotret dan memberitakan kepada orang lain, tentang pribadi mereka."
"Jadi, aku salah?"
"Iya."
"Terus, aku harus bagaimana?"
"Aku tidak tahu."
Shaun mendekat dan menyela obrolan mereka "Kamu harus kembali bekerja dan tetaplah menuruti semua kemauan Anna."
Benz melihat ke wajah yang dikenalnya saat acara penyambutan. Lalu Benz berkata "Tuan. Saya sudah berbuat salah."
"Anna sangat suka bila dipuji. Perlahan dia tidak akan marah lagi sama kamu."
"Owh begitu." Batin Benz, dan hanya mendengarkan ucapan Shaun.
"Jangan kamu tanyakan soal Anna sama Asistenku. Dia tidak mengerti apapun tentang Anna."
Manda melirik wajah Shaun dengan jutek. "Sialan."
"Manda asistennya Tuan Shaun?" Batin Benz yang tidak mengerti.
"Baik Tuan Shaun. Terima kasih atas sarannya. Saya permisi dulu." Ucap Benz lantas pergi ke ruang ganti, untuk menyiapkan keperluan Anna di sesi pemotretan selanjutnya.
"Amanda Naomi." Ucapan tegas dan Manda melihat ke wajahnya.
"Kamu asisten pribadiku. Harusnya kamu mengikuti langkah gerakku. Bukannya mengobrol dengan orang lain."
Manda berkata "Maaf, Tuan."
"Ayo kita ke tempat selanjutnya."
"Ke tempat selanjutnya?"
"Bukannya, kamu sudah membaca jadwalku."
__ADS_1
"Iya, Tuan Muda." Manda lantas mengingat agenda Tuan Muda selanjutnya.