
Sore hari duduk di antara penumpang yang lain. Manda yang tampak duduk di sebuah bus. Ia memasang earphone di kedua telinganya. Mendengarkan lagu tentang romansa cinta.
"Eh, bukannya itu Manda."
"Iya. Dia Manda."
Dua gadis yang tampak duduk di sebuah mobil. Menoleh ke arah bus yang berhenti. Kedua kendaraan itu tampak bersebelahan di kemacetan sore ini.
Jalanan pusat kota, sudah tampak macet. Mobil merah nan cantik, tipe wanita masa kini. Body mengkilap dan bukan kaleng-kaleng. Bahkan, dua gadis yang menaiki mobil itu. Juga, bukan gadis biasa.
Mereka berdua itu, selebgram yang telah viral dan mereka berdua adalah teman SMA Manda.
"Aku udah foto dia."
"Kirim ke Saras."
"Jangan, kirim ke grup aja."
"Nanti dilihat Nadia. Dia CSnya Manda."
"Biarin aja."
"Jangan! Kita bilang Saras aja, biar bikin grup baru. Khusus kita-kita."
"Ide bagus."
Kedua wanita itu masih menatap ke arah Manda.
Waktu SMA, Manda salah satu murid yang populer di sekolah. Mendapat beasiswa karena pandai dan kecantikan Manda mendapat nilai sempurna, dari para murid laki-laki.
"Sekarang, kita yang lebih populer. Bukan dia."
"Iya. Tapi, dia sebenarnya cantik. Malah lebih cantik dia dari pada Saras."
Saras Erwinda. Teman SMA Manda yang memang lebih ke paras model. Tubuh sexy, tinggi semampai, bak gitar spanyol yang meliuk-liuk di bagian pinggulnya.
Meski terlihat glowing dan cantik, namun dibagian hidungnya sudah pernah oplas, karena ingin memiliki hidung mancung. Terlihat sulaman alis dan sambung bulu mata.
"Iya, kalau Saras sudah dipermak."
"Coba saja Manda jadi selebgram. Pasti dia sudah banyak duit."
"Biarkan saja."
"Kenapa? Kamu takut kesaing?"
"Ember."
Kedua gadis yang berinisial Y dan G. Mereka, memang cantik karena gaya dan penampilannya yang selalu keren.
Salah satu dari mereka, ada skandal dengan aktor terkenal dan sampai sekarang masih diberitakan.
"Kamu besok datang?"
"Nggak. Aku lagi malas."
"Tapi aku ingin datang."
"Kamu datang aja bareng Saras."
"Oke."
Yang tidak ingin datang, Y. Karena gosip dirinya masih berhembus kencang. Bila dia tampil di depan umum. Bisa lain ceritanya.
Mobil yang berhimpitan dengan mobil lainnya. Bus kota itu kembali melaju. Manda yang tidak tahu menahu, dia tetap santai dan tidak peduli akan sekitarnya.
"Abang lagi di rumah Nadia." Setelah membaca pesan dari sang Abang ganteng.
"Emh, Kak Benz juga nggak di rumah."
"Tahu gitu, aku tadi nggak usah pulang. Lebih baik, aku di apartemen."
Manda dengan senyumannya dan ia merasa nyaman di apartemen itu.
Meski hanya sekitar dua jam dirinya tidur di kamar barunya. Sangat terasa nyenyak. Sedikit lupa akan pekerjaan yang telah menanti. Benar-benar beda bila tidur di kasur yang mahal. Itulah yang ada dalam benak Manda.
Sudah beberapa tahun, kasur di rumahnya tidak diganti. Tapi, Manda tetap bersyukur akan hal itu. Dia juga tidak merengek manja kepada Abang gantengnya. Malahan, semuanya serba sendiri.
__ADS_1
2 jam kemudian
Seorang pria tampan, yang memakai setelan jas hitam dan duduk di sebuah kursi.
"Hadiah untuk kamu."
Shaun yang membuka sebuah amplop dan ia melihat dua foto tentang dirinya.
"Sangat manis. Aku ingin seperti itu."
Shaun yang tampak duduk dan tanpa mengucap kata. Dia yang berjalan, memegang bahu Shaun, lantas mencoba mengecup leher Shaun.
"Aku rindu."
Shaun yang membeku dan sosok itu tampak tersenyum manis, setelah mengecup leher itu. Lantas duduk di atas paha Shaun.
"Aku sangat merindukanmu."
Wajah itu tampak begitu dekat, Shaun bisa merasakan aroma yang keluar dari bibir manisnya.
Kedua tangannya yang mencengkeram lembut kepala Shaun. Lantas, bibir itu semakin mendekat, saat ia hendak memberikan kecupan manisnya, Shaun lebih dulu memalingkan wajahnya.
"Sialan!"
Ia mengerti dan beranjak kembali ke tempat duduknya.
Shaun lantas menatapnya tajam dan dari sorot mata itu, sebenarnya ia sudah tahu akan kemarahan Shaun padanya.
"Kenapa?"
"Aku hanya rindu. Aku ini kekasihmu. Biasanya kita juga begitu."
Shaun bertanya "Untuk apa kamu datang kemari?"
"Aku rindu, aku ingin bersamamu."
"Aku tidak melihatmu lagi."
"Tapi, aku sudah disini."
"Aku sudah pergi dan tidak ingin kembali."
Shaun terdiam dan tak lagi berkata.
"Shaun, darling, baby."
"Kamu memilih gadis itu?"
Tatapan Shaun begitu tajam, dan suara itu terdengar pelan "Gadis itu?"
"Itu, foto kalian tidur berdua."
"Aku tahu, itu rekayasa kamu."
"Emh, kamu tahu. Baguslah, kalau kamu sudah tahu."
"Aku sempat berfikir. Itu ulah Anna. Tidak sangka kamu terbang kesini. Hanya untuk berbuat ini."
Gadis yang ada dihadapan Shaun saat ini adalah Freya Clarissa. Putri tiri dari pemilik Hotel Clarissa, dimana acara pesta Anna di gelar malam itu.
"Kamu takut? Percuma kamu ninggalin aku."
"Freya, kita sudah putus. Aku tidak sudi mencintai kamu lagi."
"Tidak sudi? Baiklah, kalau kamu tidak sudi. Akan aku sebar foto itu di S. O. Lalu, apa yang akan terjadi??"
Shaun mengepalkan tangannya dan sangat tidak senang. Dirinya sedang dipermainkan.
"Shaun, kamu bilang putus. Tapi, aku tidak menjawab iya. Apa kamu ingat dulu, kamu yang bilang aku cinta kamu, lantas aku menjawabnya dan saat ini, aku belum menyetujui perkataan kamu."
"Shaun, kamu janji akan menikahi aku. Aku sudah bilang sama Mama dan Papa. Kalau, kamu akan segera melamar aku."
"Kamu ingin putus? Aku akan coba memikirkannya. Emh, satu lagi. Kamu pasti sudah melihat aku dengan Nicho. Baguslah, aku tidak perlu cerita lagi soal itu."
"Sebentar."
Freya lantas mengambil amplop itu dan menghancurkannya di depan Shaun.
__ADS_1
"Kita bisa putus baik-baik. Asalkan. Kamu bisa menuruti kemauanku."
"Atau?"
Shaun menatapnya dingin dan sangat malas berdebat dengan Freya.
"Gadis ini yang akan jadi korbannya."
"Upss."
"Si gadis staff, menggoda putra pemilik perusahaan. Wah, sangat hot. Pasti dia langsung terkenal seperti Anna."
"Wah, ternyata putra pemilik perusahaan S. O. Jago menggoda staffnya, bahkan mengajaknya bercumbu di hotel."
"Duarr!! Hancur sudah perusahaan yang dirintis Mommy kamu."
Setelah selesai merobek-robek foto itu, ia memegang bahu Shuan dan ia akan berbisik.
"Kamu pilih aku? Atau egomu?"
"Jaman sudah berubah, jangan kolot."
Shaun yang telah mati kutu, dia sudah pernah diperingatkan oleh sang Mommy mengenai Freya. Sayangnya, Shaun tidak mendengarkan.
Demi nama baik keluarganya, Freya telah meraih hati Shaun. Putra pemilik S. O. Apapun Freya lakukan, hanya untuk mendapatkan Shaun.
Shaun yang merasa tertantang, ia juga tidak memikirkan orang lain. Tidak peduli akan sosok staffnya, apalagi perusahaan sang Mommy. Ia berdiri menghempaskan setiap sentuhan Freya.
"Menjijikan."
Shaun hendak beranjak pergi dari tempat khusus itu, ia melihat ke kertas yang berserakan itu.
"Itu tidak penting buatku."
Shaun lantas pergi begitu saja.
Bibirnya yang menirukan gaya bicara Freya, seperti orang komat-kamit.
Saat ini, Shaun tampak mengendarai mobil sport warna hitam. Menyalakan musik kesukaannya dan ia melaju dengan santai. Dirinya sambil bergoyang mengikuti irama musik.
"Freya, Freya."
"Kamu mau sebar foto itu, aku nggak peduli."
"Mau kamu ancam aku. Terserah apa maumu."
"Bodo amat. Aku bilang putus ya putus. Untuk apa aku ngikutin kemauan kamu."
"Bla. Bla. Bla."
Shaun dengan gaya bawelnya dan ia hanya ingin menikmati masa mudanya.
"Bullshit."
"Aku cinta kamu. Emangnya aku dulu bilang begitu."
Shaun tampak menertawakan Freya.
Sepanjang perjalanan, Shaun telah menikmati gemerlap malam di pusat kota itu.
"Malam yang indah. Aku ingin bersenang-senang."
"Ye ye ye.." Tetap bergoyang dengan gayanya yang menawan.
"Amanda Naomi."
"Aku tidak peduli."
"Freya, ancamanmu tidak berguna."
Tertawa terbahak-bahak dan tidak peduli akan perkataan Freya tadi.
Shaun hendak menyenangkan dirinya bersama teman-teman.
Di club malam yang asyik. Tidak masalah bagi dirinya dan ini sudah terbiasa.
"Aku ingin bersenang-senang."
__ADS_1
Sepertinya, Tuan Muda kembali berulah.