
"Zenno, ngapain dia datang lagi?" Batin Olivia dan Dinda hanya tersenyum saat melihat yang datang adalah calon adik iparnya.
"Malam Kak Dinda." Sapa Zenno dan dia membawakan bunga serta parcel kue.
"Iya, malam." Balas Dinda dan dia masih bersandar, karena mendengar suara pintu, dia tidak jadi berbaring.
"Aku pikir Kak Dinda udah tidur." Zenno yang tidak bisa basa-basi dan dia sebenarnya juga ingin menemui Olivia.
"Tadi udah tidur, terus kebangun." Balasnya dan Dinda juga berfikir kalau Zenno ingin menemui Olivia.
Olivia meletakan ponselnya ke dalam tas dan mendekati Zenno yang masih saja berdiri di samping ranjang.
"Kenapa datang malam-malam?" Tanya Olivia yang hanya ingin memastikan, untuk apa Zenno datang lagi.
"Mau mastiin keadaan Kak Dinda." Jawabnya dan Dinda melirik ke arah Olivia.
"Kak Dinda baik-baik aja. Udah malam, kamu pulang sana." Olivia tampak tidak nyaman dan Dinda semakin gemas melihat tingkah adiknya.
"Aku mau disini, aku juga mau mastiin keadaan kamu." Bisiknya dan Olivia menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Iiih, aku kenapa emangnya. Udah sana pergi, udah malam. Kak Dinda mau istirahat, aku juga mau tidur." Balasnya dengan suara yang berbisik.
"Ya udah, kamu tidur aja. Aku juga temani disini." Zenno semakin gemas dan entah apa tujuannya itu.
Olivia bingung, dan dia mengambil parcel yang dibawakan Zenno. "Kak Dinda, aku bukain kue dari Zenno."
Dinda merasa kalau Olivia memang salah tingkah karena Zenno.
"Zenno, terima kasih."
"Sama-sama Kak."
Olivia sudah menyiapkan kuenya dan menyuapi Dinda. Zenno tampak diam saja dan Olivia hanya meliriknya.
"Zenno, ini sudah malam." Ucap Dinda.
"Iya Kak, besok pagi Zenno akan jemput Olivia."
Dinda tersenyum dan Olivia hanya bicara dalam hati "Sok perhatian, buktinya aku ke kampus aja naik taxi."
Olivia hanya memasang senyum palsu di depan Dinda dan Zenno.
"Kalau gitu, Zenno pamit Kak. Kak Dinda cepat sembuh." Ucapnya dan Dinda mengangguk.
"Ya udah sana pulang."
"Iya, ini mau pulang."
"Besok pagi jam 7 jemput aku."
Zenno tersenyum dan berkata "Oke."
Dinda melihat tingkah keduanya membuatnya tersenyum.
Zenno akhirnya pergi dan Dinda bertanya "Gimana? Hati kamu masih mengelak?"
"Aaah... Kak Dinda. Udah deh." Balasnya.
"Zenno perhatian, dia juga pemuda yang keren, dia juga mahasiswa teladan." Lugas Dinda yang memuji Zenno.
__ADS_1
"Perhatian apanya, aku apa-apa juga sendiri. Di depan Kak Dinda aja dia begitu, kalau aku disana juga dicuekin."
Dinda tersenyum, dan bertanya "Kamu di rumah Zenno hanya berdua??" Dinda sangat penasaran akan hal itu.
Olivia hanya mengangguk dan malas untuk bercerita. Dinda semakin kepo dan bertanya "Terus kalian udah jadian?"
"Apasih Kakak, jadian apaan. Kita biasa aja. Kenal dia juga baru aja, awal-awal kita cuma chat, itupun beda banget sama pas ketemu."
"Masa sih? Yang Kak Dinda lihat, dia suka sama kamu. Buktinya ini dan barusan tadi."
"Iya, tapi nggak seperti bayangan Kakak. Kita di kampus juga jaga jarak. Emh, kalau nanti di kampus. Kakak pura-pura aja nggak kenal Olivia."
"Kenapa? Kamu adiknya Kakak."
"Olivia udah terlanjur bohong sama teman. Olivia cuma ingin, orang lihatnya Olivia bukan putri Pak Direktur."
"Jadi Zenno pura-pura nggak kenal kamu, terus Kakak juga begitu?"
"Iya gitulah, untuk sementara aja. Lagian Kakak udah mau wisuda, jadi nggak masalah."
Dinda hanya tampak menggeleng dengan apa yang didengarnya.
"Oke, Kakak akan pura-pura. Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
"Kapan-kapan, temani Kakak ke rumah Papa."
"Nggak mau."
"Kenapa nggak mau?"
"Please! Sekali aja."
"Nggak mau."
"Kalau nggak mau, Kakak akan samperin kamu ke kelas. Semua akan tahu, kalau kamu putri Direktur Dion."
Olivia menggeleng dan Dinda tersenyum manis, dia mulai berbaring dan menutup wajahnya dengan selimut. Olivia sepertinya kalah telak, atas perkataan Dinda itu.
"Huft, Kakak gitu sama Olivia." Olivia kembali duduk di sofa dan mengambil ponselnya. Ternyata tadi, ada rentetan pesan dari Zenno, walaupun banyak emoticon yang dia kirim, Olivia cukup terhibur. "Dasar, kurang kerjaan."
Selama menunggu sang Kakak, Olivia tidak bisa tidur nyenyak, hanya sebentar sudah terbangun kembali. Dia rindu sang Mama, baru rasanya seolah dia bertemu sang Mama. Satu tahun lalu, sang Mama pergi untuk selamanya, karena penyakit kanker yang dideritanya. Tapi saat itu, sang Papa sudah sering tinggal di tempat istri mudanya. Karena itu, Olivia sangat malas bila bertemu Monica.
"Mama..."
Monica seorang model terkenal dan dia juga model iklan yang sering menerima tawaran dari perusahaan sang Papa. Dari situ, lima tahun yang lalu Monica mengenal dekat Papanya, dan akhirnya mereka menikah tanpa sepengetahuan sang Mama. Tahu-tahu sudah punya anak dan itu dari infotaiment. Itu sangat mengejutkan keluarga Amarta, dan sang Mama. Bahkan Olivia pernah mendiamkan sang Papa dalam waktu yang lama. Berkat sang Mama, Olivia baru mulai membuka hatinya untuk sang Papa.
Papanya dan Monica mempunyai anak laki-laki, baru berusia 4 tahun. Tapi Olivia belum mau menggapnya sebagai adik, begitu juga dengan Dinda yang sama sekali tidak peduli dengan keluarga baru Papanya.
"Oliv, kamu tidak tidur?"
"Kakak terbangun, Kakak mau minum?"
Dinda mengangguk dan rasanya sekujur badannya merasa tidak nyaman.
Olivia dengan cepat mengambilkan minum "Kakak, minum dulu."
Dinda mulai merasa lemas, keringat dingin bercucuran. Olivia mengambil tisue dan mengelap keringat yang mengalir di kening, pelipis dan lehernya.
__ADS_1
"Kakak kenapa?"
"Nggak apa-apa, Kakak cuma bermimpi."
"Mimpi?"
"Hems, tadi Kakak seperti bertemu Mama. Kakak seperti anak SMA yang dijemput sama Mama."
"Olivia juga rindu Mama."
Olivia memeluk sang Kakak dan Dinda mulai meneteskan air matanya, lalu berkata "Kakak terlalu memikirkan diri Kakak sendiri, dan tidak ingin mengerti perasaan Mama."
"Kakak kok ngomongnya gitu. Udah Kak, Mama udah bahagia di surga."
"Tetap saja, Kakak sekarang tahu gimana rasanya sakit dan terluka karena cinta."
Olivia mendengar hal itu dan mulai menatap sang Kakak. Air mata Dinda semakin luruh dan dadanya terasa sesak.
"Cinta?"
"Hem, karena Gery."
"Dia kenapa? Apa yang dia perbuat?"
"Entah, Kakak juga tidak mengerti. Yang jelas, Kakak tidak ingin menikah dengan Gery."
"Kakak cerita dong, sebenarnya ada apa?"
Olivia semakin penasaran, dadanya juga berdebar akan masalah apa yang terjadi saat ini.
"Kakak menerima video tak senonoh dari Marcella. Dan dia, mereka itu, Gery dan Marcella."
"Marcella? Adiknya Monica?"
Dinda mengangguk dan air matanya semakin deras. Olivia menjadi geram dan ingin menguntuk Gery, tapi dia tidak berdaya.
"Kakak, mereka yang buat Kakak jadi sakit begini?"
"Emh,.. Bukan begitu."
"Kakak kenapa baru cerita, aku akan buat perhitungan sama Kak Gery."
"Sudah, kamu nggak perlu begitu. Yang jelas, Kakak udah cerita sama Oma dan pernikahan akan dibatalkan."
"Apa Papa udah tahu masalah ini?"
Dinda hanya menggeleng dan Olivia memeluk Kakaknya dengan erat "Kakak jangan sedih, masih banyak orang yang sayang sama Kakak. Gery akan mendapatkan balasannya, dia nggak berhak menerima cinta dari Kakak."
"Iya, kamu benar."
Mereka berdua saling menyayangi, dan Olivia berusaha menguatkan sang Kakak. Olivia berkecambuk dan dia ingin sekali bertemu Gery untuk memakinya.
"Oliv, Kakak nggak betah disini. Kakak ingin pulang."
"Iya, besok pagi Olivia akan bilang sama dokter. Sekarang, Kakak tidur dulu."
Sudah jam 2 dini hari, dan Olivia masih berusaha membuat Kakaknya untuk tenang. Setelah beberapa waktu, sang Kakak mulai tertidur lagi. Olivia ke sofa dan mengambil ponselnya.
[Aku butuh bantuanmu.]
__ADS_1